Fenomena “Ghost Writer” dalam Sastra Milenial

oleh -1618 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Muakhor Zakaria

Dalam dunia politik, kita mengenal intelektual-intelektual tukang yang mudah saja dibeli, tergantung seberapa besar tawarannya kepada pihak politisi. Tak beda jauh dengan istilah “kutu loncat” yang pada musim hujan memihak partai A, sementara di musim kemarau tiba-tiba berada di kubu B. Tampaknya para politisi akan peka dan jeli memandang ideologi seorang ghost writer, karena mereka akan mengukur seberapa kritis dan bodohnya seorang ghost writer yang akan dipekerjakan, hingga dimungkinkan akan tunduk dan taat pada ideologi macam apa yang akan mereka bangun.

Seorang politisi yang berhaluan konservatif dan moderat, tidak mungkin memberikan amanat kepada penulis yang berhaluan liberal-sosialis. Begitu pun seorang pemimpin sosialis yang berjiwa kerakyatan, tak mungkin memberikan amanat kepada penulis yang berjiwa liberal dan kapitalistik. Untuk meneliti dan mengukur track record tersebut, biasanya seorang tokoh rajin mengamati wacana dan opini yang setiap hari ditampilkan di media luring maupun daring, apakah si penulis memiliki idealisme yang mumpuni, ataukah masih bisa diputar-balik (plin plan) dalam haluan berpikirnya.

Tentu saja penulis yang plin-plan bukannya tak bisa diandalkan, tapi selagi mampu mengemas bahasa yang cenderung estetis dan menarik, juga banyak peminatnya, dapat juga menjadi target tersendiri bagi seorang politikus agar menyuarakan obsesi dan melancarkan agendanya (seabsurd apapun). Sebaliknya, dari sisi religiositas, ada makna keikhlasan yang disumbangkan seorang ghost writer, karena ia rela berdiri di belakang layar, tanpa pembaca mengetahui siapakah sang kreator yang sebenarnya. Para penulis yang menyuarakan pesan-pesan keislaman, kerap menyantumkan namanya sebagai “hamba Allah”.

Penulis hantu

Film berjudul “Penulis Hantu” (The Ghost Writer) yang disutradari Roman Polanski pada 2010 lalu, sontak mendapat sambutan publik di Inggris dan negeri-negeri Eropa secara luas. Cerita dimulai dengan kematian seorang penulis biografi bagi para politisi Inggris, yang kemudian memunculkan tokoh utama yang dimanfaatkan sang Perdana Menteri (Pierce Brosnan) agar menuliskan pengalaman hidupnya dalam bentuk historical memory.

Selama menjalin hubungan dengan perdana menteri, para staf dan koleganya, sang penulis semakin mengenal seluk-beluk keseharian para politisi Inggris, termasuk kegemaran istri dan keluarganya yang berlindung di balik kemegahan dan hedonisme di kalangan pemerintahan. Saat itu, profesi ghost writer di kalangan akademisi Eropa sudah termasuk profesi yang banyak diminati.

Beda dengan sekretaris maupun penerjemah, pekerjaan ghost writer adalah mengolah kata dan kalimat yang inti pesannya bersumber dari pengarang (narasumber utama). Penulis meramu bahan-bahan untuk menyelaraskan gagasan hingga gaya bahasa. Setelah disepakati oleh narasumber, karya tulis kemudian diolah secara lebih cermat untuk dipublikasikan.

Di zaman kenabian Muhammad, pernah ada surat yang ditujukan kepada Rasulullah, kemudian Rasul pun menyampaikannya kepada beberapa sahabat, lalu beliau bertanya, “Siapa di antara kalian yang mau membalas surat ini atas nama saya?”

Setelah para sahabat saling menengok ke kiri dan kanan, tiba-tiba Abdullah bin Arqam mengangkat tangan, “Saya, ya Rasulullah.”

Lalu, balasan surat itu didiktekan, dan Abdullah menyusun kembali redaksinya sesuai pesan utama yang diamanatkan Rasulullah. Ketika surat itu dibacakan kembali di hadapan Rasulullah, justru Rasulullah terkagum-kagum pada susunan redaksi yang dibuat Abdullah bin Arqam tersebut.

Jadi, penyusun redaksinya adalah ghost writer, meskipun inti pesannya telah direstui oleh Rasulullah. Untuk itu, dalam istilah jurnalistik, peramu bahan tulisan bisa disebut sebagai penulis, sedangkan pencipta bahan tulisan dapat disebut pengarang atau penganggit. Di dunia sastra, seperti banyak dilakoni prosaik milenial akhir-akhir ini, seumumnya pengarang menghasilkan karya-karya fiksi seperti cerpen maupun novel. Meskipun, belakangan banyak kreator-kreator muda yang tidak membatasi diri pada ketentuan itu, hingga muncullah istilah “prosa yang puitis” atau “puisi esaistik”. Namun sejatinya, karya puisi lebih mengandalkan kedalaman estetika yang bahan diksinya tersimpan dalam memori dan imajinasi penyair, yang tak lepas dari pengaruh kedaerahan sebagai bahasa ibunya.

Lompatan perubahan 

Sebenarnya, fenomena ghost writer atau penulis anonim akhir-akhir ini, dari perspektif tertentu adalah wajar dan lumrah saja. Banyak generasi milenial yang belum memahami dinamika jurnalistik dan kesusastraan di masa lalu, justru akan disirami keberkahan untuk menyelami filsosofi dan psikologi manusia-manusia langka sejenis ghost writer. Boleh dibilang, sebagai gerakan dan terobosan di tengah minimnya karya sastra berikut apresiasinya, terlebih selentingan sebagian intelektual muda perihal adanya karya-karya sastra yang lahir dari pikiran-pikiran tertutup.

Terkait dengan ini, kita bisa memahami, seakan dunia sastra dan jurnalistik sedang membutuhkan antitesis demi memastikan pembaharuan yang mampu menciptakan lompatan, hingga sanggup menggapai jurang ketertinggalan.

Terlebih di tengah kebutuhan kolaborasi dan koordinasi intensif dengan unsur dan pihak lain, termasuk dengan intelektual dan budayawan dari daerah dan negeri lain.

Dalam iklim yang demokratis, memang diniscayakan perang intelektual bahkan kritik sastra yang tajam dan pedas sekalipun, semisal yang ditujukan kepada novel Pikiran Orang Indonesia. Arah kemajuan sastra kita, yang diinisiasi generasi milenial perlu dipahami sebagai lompatan perubahan, akibat melejitnya pola berpikir kaum muda akhir-akhir ini.

Sastra Indonesia yang “mati suri”, memang harus digerakkan dengan tenaga superbesar. Perlu adanya kolaborasi dan orkestrasi banyak pihak dengan syarat utama harus menyarungkan ego-ego pribadi, keangkuhan intelektual, termasuk post power syndrome dari genitnya kaum senior yang harus bersikap legawa dalam menyikapi generasi milenial. Kolaborasi itu diniscayakan ketika kita memerlukan energi untuk mengangkat dan menggerakkan kapal besar budaya dan peradaban manusia Indonesia.

Kini, semua mata lebih terbuka betapa seni dan jurnalistik kita masih berada jauh di bawah negara-negara lain. Dan selama ini, belum ada solusi konkret dari campur-tangan pemerintah untuk mengentaskannya. Belum lagi, kualitas pelajar dan mahasiswa jurusan sastra dan jurnalistik yang belum ketahuan jejak-langkahnya. Tidak jarang mereka terkungkung dalam pakem dan kebiasaan lama, ditambah dengan nostalgia dari sastrawan status quo yang seakan berhenti di jalan buntu (stuck in the middle). Akibatnya, hasil yang diperoleh sudah bisa ditebak. Karya sastra yang cenderung mempertahankan status quo, seakan merasa terancam dengan kemunculan karya milenial yang sanggup mendongkrak kualitas sastra mutakhir Indonesia.

Dalam hal apapun, tak terkecuali sastra dan jurnalistik, jika kita ingin melakukan lompatan perubahan, kita harus berani berdiri di luar ring (outside the box) atau membebaskan diri dari bayang-bayang masa lalu, kecuali jika kita ingin terus-menerus terpuruk dalam ketertinggalan. **

Penulis adalah Peneliti sastra milenial Indonesia, penulis prosa dan esai di kompas.id, kabarmadura.id, ruangsastra.com, Jurnal Toddoppuli, NU Online, Ahmad Tohari’s Web, Radar Banten, Radar Mojokerto, Tangsel Pos dan lain-lain.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.