Oleh: Chudori Sukra
Pengasuh pesantren modern Al-Bayan di Rangkasbitung, Banten, K.H. Eeng Nurhaeni seringkali menganalogikan para santri yang menuntut ilmu, tak ubahnya tiga orang buta yang sedang memegang tubuh gajah. Ketika ditanya oleh orang yang terang matanya, bagaimanakah bentuk gajah tersebut? Orang buta yang memegang belalai gajah menyatakan bahwa gajah itu seperti sebuah selang yang besar, dan bisa dipakai untuk menyedot air.
Sementara, si buta yang memegang kuping gajah menyatakan bahwa gajah itu seperti kipas angin yang lunak dan bergerak-gerak ke kiri dan kanan. Si buta terakhir yang memegang ekornya menyatakan bahwa gajah itu seperti pecut yang bisa dipakai untuk mencambuk agar seekor binatang dapat berlari dengan kencang.
Ketiga pendapat itu tak bisa dinyatakan salah sepenuhnya, tapi belum juga bisa dinyatakan benar secara keseluruhan. Karena bagaimanapun, ketiganya punya perspektif sesuai dengan apa yang telah disentuhnya. Namun, jika mereka dibiarkan untuk membaca setiap bagian dari tubuh gajah secara merata, lambat laun mereka akan memahami keseluruhan bentuk gajah yang sebenarnya.
Demikian halnya dengan ilmu pengetahuan yang dibagi-bagi menjadi berbagai bidang mata pelajaran atau mata kuliah di lembaga pendidikan. Biasanya seorang santri menguasai bidang tertentu di lingkungan pesantren, sebagaimana mahasiswa memilih jurusan yang diminati di bangku kuliah mereka. Begitupun dai atau penceramah agama, tak perlu sok-sokan menguasai segala bidang keilmuan dalam keislaman. Sebab, ajaran Islam itu begitu kompleks. Ada yang menguasai bidang fiqih (faqih), ada muhaddis, ada ahli hikmah dan tasawuf, bahkan ada yang kemampuanya hanya di bidang nahwu, tajwid atau faraid (ilmu tentang warisan).
Untuk itu, sebenarnya Islam adalah agama pengetahuan. Menurut cendekiawan muslim, Ulil Abshar Abdalla (akrab disapa Gus Ulil): “Ke mana pun agama Islam disebarkan ke seluruh dunia, bersamaan itu pula tumbuh pengetahuan. Karena itu, penyebaran Islam beriringan dengan persebaran pengetahuan,” ungkapnya.
Di sisi lain, kuatnya keimanan seseorang bersandar pada kokohnya ilmu pengetahuan. Hafis Azhari, novelis dan cendekiawan asal Banten menyatakan, bahwa keimanan tanpa didukung ilmu yang kuat, akan mudah menggelincirkan orang pada kesesatan (al-dlallun), tapi sebaliknya kekayaan ilmu tanpa keimanan yang baik, akan membuat orang dimurkai Tuhan (al-magdlub). Pernyataan ini selaras dengan tokoh Arif dalam narasi yang tertuang pada novel Pikiran Orang Indonesia.
Begitupun, terbagi-baginya jurusan dan fakultas di perguruan tinggi, selayaknya para mahasiswa dan akademisi Indonesia tidak hanya menguasai bidang yang dipelajarinya di kelas maupun kampus, namun harus bereksplorasi menjangkau berbagai bidang keilmuan.
Jadi, walaupun pengetahuan itu dibagi-bagi ke dalam fakultas yang berbeda-beda, sejatinya seorang penuntut ilmu harus memahami dasar pengetahuan yang menyeluruh (integralistik).
Ada gambar besar pengetahuan yang harus dipahami, sebagaimana orang buta yang telah menyentuh setiap bagian dari tubuh gajah, sehingga dapat mendefinisikan arti gajah yang sebenarnya. Ketika orang menguasai ilmu kecil, maka gambar besarnya perlu dikuasai, sehingga melalui tubuh gajah, ia akan terampil dan cekatan untuk dapat memahami hewan-hewan lainnya sebagai makhluk ciptaan Tuhan.
“Jika gambar besarnya dikuasai, Anda dapat menjadi leader, tokoh masyarakat, maupun pemimpin yang bermaslahat bagi segenap rakyat,” demikian ujar Ulil Abshar.
Pada prinsipnya, menguasai gambar besar pengetahuan, dapat mengarahkan seseorang menjadi terbuka, berwawasan luas, kreatif, berpikir out of the box, serta mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan negara. Ini bukan berarti seorang mahasiswa (akademisi) mudah terjebak ke dalam arena politik praktis. Meskipun tidak sedikit dari intelektual, tokoh masyarakat, kiai pesantren dan ulama NU (Nahdlatul Ulama) yang tidak tergoda untuk ikut ke dalam arus politik dukung-mendukung.
Memang saat ini, telah terjadi banyak disrupsi di berbagai bidang, tak terkecuali dalam kehidupan berdemokrasi. Tentu harus ada sosok-sosok cendekiawan maupun agamawan yang berfungsi selaku “perekat” untuk dapat menyatukan kekuatan-kekuatan yang tercerai-berai oleh kekuatan disruptif tadi.
Menurut Kiai Eeng Nurhaeni, kekuatan politik yang mengotak-ngotak ruang pendidikan maupun tempat-tempat ibadah, tak lain sebagai upaya pendangkalan dari proses pencerdasan dan kedewasaan masyarakat. Ruang-ruang itu harus mampu menjalankan fungsinya sebagai sanctuary atau perlindungan kepada semua pihak. Sebagaimana prinsip pendidikan pesantren Al-Bayan yang diasuhnya, ia telah sanggup berdiri tegak di atas semua golongan, dan untuk kepentingan semua golongan. (*)
Penulis adalah Pengasuh pesantren salafi Riyadlul Fikar, Serang, Banten, anggota Mufakat Budaya Indonesia (MBI).







