Di Mana Tuhan Saat Bom Jatuh? Membaca Perang Israel–Iran dengan Kaca Mata Epicurianisme

oleh -633 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Matheus Tnopo

Perang selalu membawa satu pertanyaan tua yang terus menghantui nurani manusia: di manakah Tuhan ketika manusia saling membunuh? Pertanyaan itu kembali bergema ketika konflik antara Israel dan Iran memanas pada tahun 2026. Serangan udara, balasan rudal, serta keterlibatan kekuatan global telah menjadikan konflik ini bukan sekadar perang regional, melainkan krisis kemanusiaan yang mengguncang dunia.

Serangan udara Israel terhadap target di Iran dan Lebanon, serta balasan Iran melalui rudal dan drone, menunjukkan bahwa konflik ini semakin luas dan kompleks. Korban jiwa terus meningkat dan ribuan warga sipil terpaksa meninggalkan rumah mereka.

Perang ini bahkan memicu keadaan darurat di Israel, mobilisasi militer besar-besaran, serta gangguan ekonomi dan aktivitas sosial masyarakat.

Di tengah suara sirene dan ledakan bom, pertanyaan teologis yang paling mendasar muncul kembali: jika Tuhan mahakuasa dan mahabaik, mengapa Ia membiarkan perang terjadi? Filsafat pernah mengajukan pertanyaan ini jauh sebelum dunia modern mengenal bom pintar dan rudal balistik.

Filsuf Yunani kuno Epicurus merumuskan sebuah paradoks yang terkenal: jika Tuhan ingin mencegah kejahatan tetapi tidak mampu, maka Ia tidak mahakuasa; jika Ia mampu tetapi tidak mau, maka Ia tidak baik.
Paradoks Epicurus ini dikenal sebagai problem of evil, persoalan tentang bagaimana memahami keberadaan kejahatan dan penderitaan dalam dunia yang diyakini berada di bawah kuasa Tuhan.

Namun Epicurus memberikan jawaban yang radikal. Menurutnya, para dewa jika mereka ada tidak mencampuri urusan manusia. Para dewa hidup dalam ketenangan sempurna, jauh dari konflik dunia. Dengan kata lain, perang bukanlah kehendak ilahi, melainkan hasil dari pilihan manusia sendiri.

Jika refleksi Epicurus diterapkan pada konflik Israel–Iran, maka perang ini bukanlah drama kosmik antara kebaikan dan kejahatan yang diarahkan oleh Tuhan. Ia adalah tragedi politik manusia. Keputusan politik, ketakutan geopolitik, serta perebutan kekuasaanlah yang menciptakan penderitaan tersebut.

Sejarah konflik ini sendiri berakar pada ketegangan panjang mengenai program nuklir Iran, keamanan Israel, serta rivalitas geopolitik di Timur Tengah. Serangan militer besar yang dimulai pada Februari 2026 melibatkan Israel dan Amerika Serikat terhadap target di Iran, yang kemudian memicu serangan balasan terhadap pangkalan militer dan wilayah Israel.

Dari sudut pandang Epicurianisme, konflik semacam ini menunjukkan satu fakta pahit: manusia sering menggunakan Tuhan sebagai legitimasi moral untuk perang yang sebenarnya bersumber dari kepentingan politik. Dalam banyak konflik sepanjang sejarah, kedua pihak sering merasa bahwa mereka berada di pihak Tuhan. Namun jika kedua pihak sama-sama mengklaim kebenaran ilahi, maka pertanyaan yang muncul adalah: apakah Tuhan benar-benar berpihak, atau manusia hanya meminjam nama Tuhan untuk membenarkan kekerasan?

Epicurus justru membebaskan manusia dari ketakutan religius semacam itu. Baginya, penderitaan manusia tidak berasal dari hukuman ilahi atau rencana kosmik, tetapi dari tindakan manusia sendiri. Dunia berjalan menurut hukum alam, bukan menurut skenario moral yang dirancang para dewa.
Dengan demikian, pertanyaan “di mana Tuhan saat bom jatuh?” mungkin salah alamat. Tuhan tidak berada di ruang komando militer, tidak juga di balik tombol peluncur rudal. Yang ada di sana adalah manusia dengan segala ambisi, ketakutan, dan kepentingannya.

Ironisnya, peradaban modern yang mengklaim dirinya rasional justru menghasilkan teknologi perang yang semakin canggih. Konflik Israel–Iran tidak hanya berlangsung di udara melalui serangan militer, tetapi juga di dunia digital melalui perang siber yang melumpuhkan sistem komunikasi dan infrastruktur.

Peradaban manusia berhasil menciptakan teknologi yang mampu menghancurkan kota dalam hitungan menit, tetapi belum mampu menciptakan kesadaran moral yang cukup kuat untuk mencegah perang itu sendiri.

Di sinilah filsafat Epicurus menawarkan refleksi yang penting. Tujuan hidup manusia, menurut Epicurus, adalah mencapai ataraxia, yaitu ketenangan batin dan kebebasan dari ketakutan. Perang justru menciptakan kebalikan dari kondisi itu: kecemasan, penderitaan, dan kehancuran.

Jika manusia benar-benar rasional, maka perang seharusnya menjadi pilihan terakhir bahkan mungkin tidak pernah menjadi pilihan sama sekali.

Karena itu, ada beberapa refleksi moral yang perlu dipikirkan oleh dunia modern.

Pertama, agama tidak boleh dijadikan legitimasi konflik politik. Ketika Tuhan dipakai sebagai simbol kemenangan militer, agama kehilangan makna kemanusiaannya.

Kedua, konflik geopolitik harus diselesaikan melalui diplomasi global yang serius. Perang modern tidak lagi berdampak lokal; ia mempengaruhi ekonomi dunia, jalur energi global, dan stabilitas internasional.

Ketiga, masyarakat global harus kembali menempatkan martabat manusia sebagai pusat politik internasional. Anak-anak yang tewas dalam perang tidak pernah memilih konflik tersebut.

Pada akhirnya, refleksi Epicurianisme membawa kita pada kesimpulan yang sederhana namun mengguncang: mungkin Tuhan tidak diam. Mungkin justru manusia yang terlalu sibuk berperang sehingga tidak lagi mendengar suara nurani.

Bom tidak jatuh karena Tuhan menghendakinya. Bom jatuh karena manusia memutuskan untuk menjatuhkannya. Dan selama manusia masih mencari kemenangan melalui kehancuran sesamanya, pertanyaan “di mana Tuhan?” akan terus bergema di antara puing-puing kota yang hancur.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.