Claret dan Orang-Orang Kecil

oleh -96 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Alfred Lanang

Seorang pemimpin adalah pribadi yang tidak duduk diam di kursi kepemimpinan semata tetapi juga dengan kerendahan hati, berani turun dan menyapa semua orang. Mandat yang dipercayakan banyak orang kepadanya harus memantik jabatannya untuk bertanya pada diri sendiri dengan meminjam kata-kata dari tuan Karls Jasper di dalam buku karya Fritz Meko berjudul “Kepada Yang Terhormat” berbunyi, “Aku ini siapa, apa yang dapat saya ketahui dan apakah yang harus saya lakukan?”. Dari pertanyaan ini, seorang pemimpin tidak hanya duduk diam sekedar berkata saja (No Action, Talk Only), atau sebatas memantau dari rumah ternyamannya tetapi mau turun dan bergandeng tangan dengan Yang Lain.

Sekilas tentang Claret

Salah satu Santo di dalam Gereja Katolik yang memiliki jabatan pemimpin sekaligus memiliki jiwa kepemimpinan dengan berjalan menjumpai realitas sambil berbuat baik ialah Santo Antonius Maria Claret. Sang Santo yang diberi mandat khusus sebagai Misionaris Apostolik oleh Tahta Suci sekaligus dijuluki sebagai Rasul Pers oleh Gereja ini lahir di Barcelona tepatnya di desa Sallent pada 23 Desember 1807. Ketika beranjak dewasa, Claret perlahan mulai meninggalkan kehidupan lamanya sebagai seorang anak dari ayahnya yang memiliki pabrikasi tekstil terkenal dan mulai menjalani panggilannya di seminari hingga akhirnya Ia ditahbiskan menjadi imam pada 13 Juni 1835. Pada 16 Juli 1849, Pater Claret mendirikan kongregasi Putera-Putera Hati Tak Bernoda Maria atau yang biasa dikenal dengan kongregasi Para Misionaris Claretian.

Dalam usia kongregasi yang masih muda, Pater Claret kemudian diangkat menjadi uskup, dan ditahbiskan menjadi uskup agung Kuba pada tanggal 6 Oktober 1850. Di sinilah perjalanan sang pemimpin dimulai. Ia menjadi pemimpin yang sungguh menghayati belaskasih dan kerahiman Allah, tidak pada taraf bualan kata-kalimat dari mulutnya melainkan lebih menonjolkan pada aksi Melihat dan Menanggapi secara tepat sasaran dengan menggunakan semua sarana yang mungkin.

Sejak awal, Claret telah menyadari bahwa keterpanggilannya sebagai uskup misionaris di Kuba bukan sekedar menjalankan tugas-tugas administratif atau pelayanan sakramental semata tetapi yang terutama ialah menjadi pelayan Sabda Allah yang mewartakan kabar baik kepada orang-orang kecil (periferi), sederhana, miskin dan tersingkirkan. Di sinilah jiwa kepemimpinannya bergema dengan lantang dan terjangkau oleh semua umat bahkan yang belum pernah tersentuh sama sekali oleh para imam.

Ada beberapa hal menarik dari Santo Antonius Maria Claret yang berani meninggalkan kemewahan dan kemudian menjadi pemimpin yang menyentuh realitas sosial pada waktu itu.

Pertama ialah, berbelarasa dan bersolider terhadap korban bencana alam. Saat menjadi uskup agung di Santiago Kuba, Claret harus menghadapi banyak tantangan besar, salah satunya ialah gempa bumi dashyat ditambah penyakit wabah kolera. Situasi ini tentu saja menimbulkan kerugian fisik yang sangat besar sekaligus muncul ketakutan dan dukacita yang dialami oleh para korban bencana alam.

“Kerusakan yang diakibatkan oleh gempa-gempa bumi di Cuba sungguh ngeri. Orang sangat ketakutan dan Vikaris Jenderal saya memanggil saya untuk datang ke Santiago karena saya dibutuhkan di sana….” (Auto. 529). Di sini, Claret terlibat langsung dengan berbagai cara untuk membantu korban gempa bumi dan penyakit kolera. Dia menyadari bahwa, dalam situasi duka dan sulit demikian, kehadirannya sebagai seorang uskup sekaligus pemimpin begitu amat penting. Claret berani meninggalkan misinya di tempat lain dan rela datang jauh-jauh demi menjumpai umatnya yang sudah miskin ditimpah gempa dan kolera yang hebat.

“…Kehancuran besar sekali dan perbaikan untuk saya mahal sekali. Perbaikan katedral harganya 24.000 duros, perbaikan seminari 7000 duros, perbaikan istana uskup 5000 duros (Auto. 533). Tak hanya itu, tetapi Claret juga berusaha memberikan bantuan berupa pendirian kamp-kamp serta mensubsidi hal lainnya kepada para korban. Bukan cuman memberikan bantuan, Claret pun turut hadir langsung di tengah-tengah umat untuk menemani dan meneguhkan mereka. Tentu saja Claret tidak hanya mendukung dengan bantuan jasmani, tetapi ia juga menguatkan umatnya dengan pelayan rohani. “Selama wabah kolera, semua klerus berlaku dengan sangat baik, siang malam. Saya dan semua berada berada selalu di antara orang-orang sakit, dengan memperhatikan kebutuhan rohani jasmani mereka…” (Auto. 537).

Kedua, menyentuh kehidupan orang miskin. Claret sungguh menyadari kekecilannya di hadapan Tuhan dan untuk itu, ia selalu terlihat sederhana dan berani berpihak pada mereka yang miskin sepanjang perjalanan hidupnya. Ketika menjadi uskup agung dan tiba di Kuba, realitas kemiskinan yang dialami orang-orang kecil dan terpinggirkan menggugah hatinya untuk melakukan sesuatu. Berbagai persoalan yang dialami umat di Kuba seperti, kemiskinan, pengangguran, diskriminasi dan rasisme, situasi politik yang kacau dan ketidakadilan, kekerasan pada budak, serta akses pendidikan, kesehatan, transportasi yang sangat minim menjadi satu alarm yang membangunkan Claret untuk Melihat dan Bertindak. “Dengan bantuan Tuhan, saya memperhatikan kebutuhan-kebutuhan orang-orang miskin……Mereka tahu bahwa saya sangat mencintai mereka; Tuhan telah memberikan saya kasih yang mengharukan kepada orang-orang miskin” (Auto. 562).

Berhadapan dengan realitas kemiskinan dan sosial yang ambruk, Claret tidak memilih tidur atau duduk di kursi empuknya. Justru, Claret merasa menderita ketika melihat gembalaannya yang juga sedang menderita, merintih menangisi nasib. Ada beberapa aksi tanggap cepat yang dilakukan oleh Claret seperti, membangun sekolah-sekolah, membeli perkebunan besar untuk orang miskin (Auto. 563), pembangunan rumah, mendirikan La Caja de Ahorros (Tabungan Penyimpanan) (Auto. 569), mengunjungi orang-orang tahanan di penjara (Auto. 570), mengunjungi pasien-pasien miskin di rumah sakit serta memberikan bantuan kepada merka yang sudah sembuh (Auto. 571), dan urusan administratif, Claret mempermudah urusan pemberesan perkawinan juga pendaftaran permandian (Auto. 572), serta masih banyak lagi yang diusahakan demi kebaikan dan kesejahteraan orang miskin.

Pada akhirnya, Claret menunjukkan bahwa menjadi seorang pemimpin bukanlah tentang seberapa tinggi tahta yang diduduki, atau seberapa besar pangkat jabatan, atau seberapa banyak kata-kata untuk melantunkan visi misi semata. Tugas kepemimpinan yang diemban justru akan menemukan makna yang luar biasa dikala pemimpin mau dan berani turun dari zona nyamannya untuk melihat relitas secara langsung dengan mata telanjang, demi menyentuh penderitaan orang lain dengan penuh belas kasih dengan aksi nyata yang tepat sasaran.

Dalam perjalanan kepemimpinan Claret sebagai uskup agung di Santiago Kuba, ia tidak menjadikan jabatannya menjadi tembok yang memisahkan dirinya dengan umat, melainkan ia dipanggil untuk menjadi pemimpin yang semakin dekat, mendengarkan dengan rendah hati, dan melayani Sabda Allah dengan tindakan nyata kepada orang-orang kecil dan menderita. Claret berusaha untuk menunjukkan belas kasih Allah dengan mencari jalan dan tindakan konkret. Dalam hal ini, Claret juga tidak berhenti pada kata-kata indah dan sebatas perasaan emosional saja tetapi di saat bersamaan ia dipanggil untuk mewujudkan misi-misi Injil seperti juga yang dilakukan oleh Yesus semasa hidupnya.

Teladan kepemimpinan Claret menjadi alarm dan teguran bagi setiap pemimpin bahwa jabatan yang diemban bukan untuk urusan yang tidak penting atau kenyamanan pribadi melainkan untuk berani berbaur dan mengambil bagian bersama penderitaan dan kehidupan orang-orang kecil.

Sumber : Autobigrafi Santo Antonius Maria Claret

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.