Oleh: Dwison Andresco Renleeuw
Dalam bentang bahasa Indonesia, pembalikan dua kata dapat menciptakan jurang makna yang sangat dalam, sebagaimana yang terjadi pada istilah cinta suasana dan suasana cinta. Cinta suasana pada hakikatnya adalah sebuah bentuk penaklukan subjek oleh lingkungan eksternal. Di sini, cinta tidak lahir dari pengenalan mendalam terhadap jiwa orang lain, melainkan muncul sebagai respons terhadap estetika ruang, kenyamanan sesaat, atau euforia yang ditawarkan oleh sebuah koordinat geografis.
Seseorang yang terjebak dalam cinta suasana cenderung menjadi seorang “nomaden emosional” yang membiarkan perasaannya mekar hanya karena didukung oleh latar tempat yang tepat. Akibatnya, ketika kaki berpindah ke tempat yang berbeda, perasaan itu layu dan kemudian mencari persemaian baru pada subjek yang berbeda pula, sejauh tempat tersebut mampu memberikan stimulus yang sama atau bahkan lebih segar.
Fenomena mencintai orang yang berbeda di tempat yang berbeda ini menunjukkan bahwa cinta telah tereduksi menjadi sekadar komoditas pengalaman. Dalam kacamata ini, orang lain bukan lagi dipandang sebagai pribadi yang unik dan tak tergantikan, melainkan hanya sebagai pelengkap dekorasi dari sebuah fragmen kehidupan. Perasaan ini sangat dekat dengan apa yang disebut sebagai hawa nafsu dalam pengertian yang lebih luas, yakni dorongan untuk memuaskan ego melalui konsumsi sensasi.
Nafsu di sini bukan semata-mata dorongan raga, melainkan “nafsu eksistensial” untuk terus-menerus merasa jatuh cinta demi menghindari kebosanan atau kesepian. Subjek yang dicintai hanyalah instrumen yang digunakan untuk memvalidasi perasaan diri sendiri, sehingga ketika konteks ruangnya hilang, maka hilang pulalah urgensi untuk mencintai orang tersebut.
Ketergantungan pada lokus atau tempat ini mencerminkan kerapuhan dalam mengenali hakikat “Yang Lain”. Ketika seseorang terjatuh dalam cinta suasana secara berulang, ia sebenarnya sedang terjebak dalam lingkaran estetis yang dangkal, di mana ia mencintai pantulan emosinya sendiri yang dipicu oleh keindahan lingkungan. Dalam filsafat pertemuan, relasi semacam ini sering kali gagal mencapai derajat “Aku-Engkau” yang sejati karena keberadaan orang lain tersebut masih dianggap sebagai “Benda” atau bagian dari fasilitas suasana. Ketidakmampuan untuk membawa perasaan melampaui batas geografis menandakan bahwa tidak ada akar yang tertancap dalam tanah komitmen; yang ada hanyalah benalu perasaan yang menempel pada indahnya batang pohon situasi yang kebetulan sedang dilewati.
Sebaliknya, suasana cinta berdiri di atas fondasi yang jauh lebih kokoh dan transenden. Dalam kondisi ini, cinta adalah subjek penggerak yang tidak bergantung pada kemegahan tempat atau keunikan situasi. Suasana cinta justru lahir dari kehadiran dua pribadi yang saling mengikatkan diri dalam komitmen yang melampaui batas-batas fisik.
Kehangatan, kedamaian, dan rasa aman yang tercipta bukan karena tempatnya yang indah, melainkan karena pancaran kasih yang tulus dari dalam diri mereka. Di mana pun mereka berada, baik di tengah hiruk-pikuk kota yang asing maupun di kesunyian ruang yang sempit, suasana cinta itu akan selalu ikut terbawa karena sumbernya bersifat internal dan personal. Cinta jenis ini tidak mengenal “kedaluwarsa geografis” karena ia tidak berpijak pada apa yang terlihat oleh mata, melainkan pada apa yang dihayati oleh jiwa.
Ketegangan antara kedua istilah ini pada akhirnya bermuara pada pertanyaan tentang kesetiaan terhadap makna. Suasana cinta menuntut sebuah keberanian untuk tetap mengasihi meskipun suasana di sekitar berubah menjadi pahit, gersang, atau membosankan. Ia adalah sebuah kerja keras untuk terus menghadirkan “hasrat surgawi” di tengah realitas dunia yang sering kali tidak ideal.
Jika cinta suasana adalah tentang bagaimana lingkungan memanjakan perasaan kita, maka suasana cinta adalah tentang bagaimana perasaan kita sanggup mengubah lingkungan yang paling dingin sekalipun menjadi hangat. Di sinilah letak kedewasaan spiritual dan emosional, di mana seseorang berhenti mencari objek baru untuk memuaskan dahaga suasananya dan mulai membangun sebuah kedalaman bersama satu subjek yang ia pilih secara sadar.
Pada akhirnya, diskursus antara cinta suasana dan suasana cinta adalah sebuah ajakan untuk merefleksikan kembali posisi kita sebagai manusia dalam menjalin relasi. Apakah kita hanya menjadi penikmat “panggung” yang terus berganti aktor, ataukah kita adalah pembangun “rumah” yang mampu menciptakan kehangatan di mana pun kita berpijak? Memilih cinta suasana berarti membiarkan diri kita diperbudak oleh situasi dan hawa nafsu yang tak pernah kenyang akan kebaruan.
Sementara itu, mengusahakan suasana cinta berarti belajar untuk setia pada hakikat pribadi yang kita cintai, mengatasi godaan estetika ruang, dan menjadikan kasih sebagai atmosfer yang menetap, bukan sekadar persinggahan yang sementara. Cinta yang sejati tidak membutuhkan paspor atau koordinat GPS baru untuk tetap hidup. Ia hanya membutuhkan hati yang telah selesai dengan pencarian semu dan berani untuk menetap.
Penulis adalah Mahasiswa Prodi Ilmu Filsafat Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang







