Oleh: Wensislaus Jandi
Beberapa waktu lalu, beredar sebuah video di media sosial yang memperlihatkan seorang ibu marah di sebuah rumah sakit. Dalam video tersebut, ibu itu terlihat berteriak kepada petugas rumah sakit dan membanting komputer di meja administrasi, karena merasa anaknya tidak segera dilayani. Menurut keterangan saksi, ibu itu marah karena merasa anaknya diabaikan hanya karena menggunakan BPJS. Ketidaksabaran dan kepanikan karena kondisi anak membuat ibu itu kehilangan kendali emosi. Kejadian itu sontak menarik perhatian banyak orang di media sosial.
Peristiwa ini mengundang beragam tanggapan dari netizen. Sebagian orang memahami kemarahan ibu tersebut sebagai bentuk kepanikan dan rasa cinta seorang ibu terhadap anaknya. Namun, banyak juga yang menilai tindakannya tidak pantas karena merusak fasilitas umum dan memperlakukan petugas secara kasar. Dalam konteks peristiwa ibu yang marah di rumah sakit tersebut, terlihat bahwa prosedur administrasi (sistem) lebih dominan daripada empati terhadap penderitaan manusia dalam hal ini nyawa anak dari ibu tersebut.
Administrasi pada dasarnya diciptakan untuk menjamin mutu dan keselamatan pelayanan. Namun prakteknya di lapangan justru melenceng jauh dari tujuan itu sendiri. Atau dengan kata lain administrasi adalah alat bantu klinis dan manajerial untuk memastikan bahwa setiap pasien mendapatkan pelayanan yang aman, efektif dan konsisten dan bukan dokumen dianggap bukti utama keberhasilan. di satu sisi petugas rumah sakit lebih fokus memenuhi target laporan bulanan dari pada menganalisis apakah prosedur mereka benar-benar menurunkan risiko pasien atau pada takut salah administrasi dari pada salah tindakan. Inilah yang membuat pelayanan kesehatan terasa kaku, birokratis, dan kehilangan sentuhan manusia.
Sementara di satu sisi bukan karena pihak medis tidak peduli tapi mereka terjebak dalam sistem yang menganggap kertas lebih penting daripada nyawa manusia. Meskipun demikian seharusnya sebagai manusia yang mempunyai kesadaran moral yang mengetahui mana pasien yang penyakitnya ringan dan darurat, atau kebutuhan dari pasien yang paling urgen yang harus ditangani terlebih dahulu.
Misalnya kasus dari ibu yang membanting monitor tersebut yang merasa bahwa anaknya harus cepat ditangani. Sudah jelas bahwa ibu tersebut telah melakukan persyaratan rumah sakit dengan menggunakan kartu BPJS rumah sakit. Kartu BPJS Kesehatan adalah kartu jaminan kesehatan bagi warga Indonesia yang biasanya ditanggung olehย pemerintah.
Dalam perspektif filsafat humanisme, manusia dipandang sebagai pusat nilai moral sekaligus tujuan dari setiap tatanan sosial, sehingga seluruh sistem termasuk pelayanan kesehatan harus berfungsi untuk melayani kebutuhan dan martabat manusia. Peristiwa ibu yang membanting monitor di rumah sakit menunjukan kegagalan sistem dalam menghidupi prinsip tersebut, karena prosedur dan administrasi justru lebih dominan daripada kepekaan terhadap penderitaan.
Ketika aturan menjadi lebih penting daripada manusia yang dilayani, sistem itu dapat dikatakan kehilangan jiwanya. Sehingga humanisme menegaskan bahwa teknis, regulasi, dan standar operasional hanya memiliki makna sejauh mereka membantu menghadirkan pelayanan yang manusiawi. Jika tidak, mereka berubah menjadi struktur kaku yang mengabaikan nilai-nilai dasar kemanusiaan.
Tindakan dari ibu tersebut dinilai secara moral adalah suatu tindakan yang kurang bermoral karena telah merusak fasilitas umum. Tetapi di satu sisi, tindakannya dapat dianggap rasional karena ia tahu bahwa keselamatan anaknya jauh lebih penting dari sekadar persyaratan administratif.
Sebagaimana dari pandangan eksistensialisme yang menekankan bahwa: sistem tidak boleh membunuh kemanusiaan melainkan manusia harus berani memilih tindakan yang benar secara moral, dan melawan tindakan yang tidak benar secara moral, sebab nilai tertinggi kehidupan adalah kehidupan manusia itu sendiri. Pada kenyataannya bahwa pasien mencari pertolongan medis karena ia percaya bahwa dokter mempunyai keahlian untuk memecahkan problem kesehatan yang dihadapinya. Pasien tidak mempunyai alternatif selain percaya pada kemampuan dokter sebagai penyelamat dalam situasi gawat itu.
Dalam buku-buku pegangan tentang etika biomedis yang membahas tentang keutamaan perofesi kedokteran, misalnya B. Brody dan H.T Engelhadt dalam buku Bioetics -Readings and Cases menyebut beberapa keutamaan: compasion, courage, hanesty, integrity. Penulis tambah catatan yang menarik bahwa dari empat keutamaan tersebut hanya kompession yaneg memiliki oleh para dokter dan petugas rumah sakit.
Sedangakan tiga keutaman yang disebut terakhir harus dimiliki juga oleh para pasien. Kompassion (belas kasih atau kepedulian) dalam bahasa Latin: compassio sebenarnya berarti turut menderita (awalan com-berarti โdengan/bersama/turutโ) atau membuka diri untuk penderitaan orang lain. Dengan demikian compassion atau belas kasih meliputi baik empati maupun simpati:mengetahui atau memahami apa yang dirasakan oleh orang lain dan sekaligus merasa tergerak karena penderitaanya.
Hal inilah yang seharusnya juga dimiliki oleh dokter dan pihak petugas administrasi di rumah sakit tanpa secara mutlak mempertahnkan institusi medis sehingga mengabaikan nilai kemanusiaan. Jadi, Kasus ibu yang marah di rumah sakit menunjukkan benturan antara prosedur administrasi dan nilai kemanusiaan dalam pelayanan kesehatan. Meskipun administrasi penting untuk memastikan pelayanan yang aman, fokus yang berlebihan pada birokrasi sering kali mengabaikan aspek kemanusiaan, seperti empati dan perhatian terhadap kondisi darurat pasien.
Idealnya, sistem kesehatan harus mampu menempatkan manusia, bukan dokumen, sebagai prioritas utama, dengan mempertimbangkan kebutuhan mendesak pasien dan menunjukkan belas kasih dalam pengambilan keputusan medis. Sebuah pendekatan yang lebih manusiawi dapat membantu menciptakan pelayanan kesehatan yang lebih efektif dan empatik.
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang








