Anak-Anak yang Kehilangan Rasa Takjub

oleh -90 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Heri Isnaini

Suatu pagi, saya membawa sebuah puisi ke ruang kelas. Tidak ada yang istimewa. Hanya selembar kertas berisi beberapa bait tentang hujan, pohon, dan seseorang yang sedang mencari makna dari perjalanan hidupnya. Saya meminta mahasiswa membacanya perlahan. Tidak perlu dianalisis. Tidak perlu dicari majasnya. Tidak perlu dibuatkan presentasi. “Saya hanya ingin kalian tinggal sebentar bersama puisi ini,” kata saya. Mereka saling berpandangan. Beberapa menit berlalu. Lalu seorang mahasiswa mengangkat tangan. “Pak, tugasnya apa?”

Pertanyaan itu sederhana, tetapi entah mengapa membuat saya diam sejenak. Mungkin karena pertanyaan itu bukan hanya tentang tugas. Ia seperti cermin kecil yang memantulkan sesuatu yang lebih besar: kita telah begitu terbiasa hidup dalam dunia yang selalu meminta hasil, sampai lupa bahwa ada pengalaman yang justru kehilangan makna ketika buru-buru diberi tujuan.

Membaca puisi bukan selalu tentang menemukan jawaban. Kadang-kadang ia hanya mengajarkan kita untuk berhenti. Ketika saya masih kecil, hujan adalah sebuah peristiwa. Ia bukan sekadar air yang turun dari langit. Hujan adalah aroma tanah yang tiba-tiba berubah, suara genting yang seperti memiliki bahasa sendiri, sungai kecil di halaman rumah, dan kesempatan untuk duduk di beranda sambil menunggu dunia menjadi lebih tenang.

Saya pernah bertanya kepada ibu mengapa hujan selalu datang setelah awan gelap. Ibu tidak menjelaskan tentang proses kondensasi. Ia hanya berkata, “Mungkin langit sedang belajar berbicara kepada bumi.” Jawaban itu secara ilmiah tidak lengkap. Namun sebagai seorang anak, saya menemukan sesuatu yang jauh lebih penting, yaitu rasa takjub.

Bertahun-tahun kemudian, ketika saya mengenal ilmu pengetahuan, saya memahami bagaimana hujan terbentuk. Saya belajar tentang siklus air, atmosfer, dan perubahan suhu. Pengetahuan itu membuat saya semakin memahami hujan. Tetapi anehnya, semakin dewasa, manusia sering kehilangan kemampuan untuk terpesona. Kita mengetahui banyak hal, tetapi semakin sedikit yang membuat kita berhenti dan memiliki rasa takjub itu.

Aristoteles pernah mengatakan bahwa filsafat bermula dari rasa takjub (thaumazein). Manusia mulai berpikir bukan karena ia telah mengetahui segalanya, melainkan karena ia berhadapan dengan sesuatu yang membuatnya bertanya.

Mengapa langit demikian luas? Mengapa manusia mencari makna? Mengapa sesuatu yang indah sering kali membuat kita diam? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu adalah pintu pertama menuju pengetahuan. Namun, zaman kita perlahan mengubah cara manusia berhubungan dengan dunia.

Anak-anak hari ini tumbuh di tengah limpahan informasi. Mereka dapat mengetahui nama-nama planet melalui layar, melihat keindahan alam melalui video beresolusi tinggi, bahkan meminta kecerdasan buatan menjelaskan hampir semua hal dalam hitungan detik.
Tetapi mengetahui sesuatu tidak selalu berarti mengalami sesuatu. Melihat gambar gunung tidak sama dengan berdiri di hadapan gunung. Membaca tentang laut tidak sama dengan mendengar ombak pada malam hari.

Mengetahui definisi cinta tidak sama dengan merasakan kehilangan seseorang yang dicintai. Ada jarak yang tidak dapat dijembatani oleh informasi. Jarak itu bernama pengalaman. Saya sering berpikir, mungkin salah satu persoalan terbesar pendidikan hari ini bukan karena peserta didik kekurangan pengetahuan, melainkan karena mereka kehilangan kesempatan untuk bertanya dengan penuh ketakjuban.

Kita terlalu cepat mengajarkan anak-anak cara menjawab. Namun, sering lupa mengajarkan mereka cara bertanya. Kita bangga ketika mereka mampu menyelesaikan soal sulit. Namun, jarang bertanya apakah mereka masih memiliki rasa ingin tahu setelah semua soal selesai.

Padahal ilmu pengetahuan selalu tumbuh dari kegelisahan. Newton tidak menemukan gravitasi karena ia sekadar menghafal hukum fisika. Ia melihat sesuatu yang bagi orang lain mungkin biasa, yakni sebuah apel yang jatuh. Para ilmuwan besar tidak berbeda dengan anak kecil dalam satu hal: “mereka masih memiliki kemampuan terpesona.” Mereka melihat dunia sebagai sesuatu yang belum selesai dibaca. Dalam tradisi Islam, alam bukan sekadar benda yang berada di luar manusia. Alam adalah tanda. Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia memperhatikan langit, bumi, pergantian siang dan malam, perjalanan awan, hingga penciptaan manusia itu sendiri. Semua itu disebut sebagai ayat (sign), sebagai tanda-tanda yang mengundang pembacaan.

Menariknya, membaca dalam konteks ini bukan sekadar aktivitas intelektual. Ia adalah laku batin. Seseorang tidak hanya melihat hujan sebagai fenomena meteorologi, tetapi juga sebagai pengingat tentang rahmat. Tidak hanya melihat pohon sebagai organisme biologis, tetapi sebagai pelajaran tentang kesabaran: tumbuh perlahan, memberi tanpa meminta kembali.

Mungkin itulah yang disebut para sufi sebagai kemampuan membaca makna di balik bentuk. Dunia tidak kehilangan keajaiban. Kitalah yang sering kehilangan cara melihatnya.

Saya teringat pada tulisan Rachel Carson (1907–1964), seorang ahli biologi kelautan, penulis, dan pelopor gerakan lingkungan hidup modern asal Amerika Serikat, tentang sense of wonder. Ia mengingatkan bahwa salah satu hal paling berharga yang dapat diwariskan kepada anak bukanlah sekadar pengetahuan, melainkan kemampuan untuk tetap memiliki rasa kagum terhadap dunia.

Sebab manusia yang kehilangan rasa takjub akan mudah berubah menjadi manusia yang hanya menghitung. Ia melihat hutan sebagai jumlah pohon. Melihat sungai sebagai sumber daya. Melihat manusia sebagai data. Melihat pendidikan sebagai angka.

Padahal kehidupan selalu lebih luas daripada sesuatu yang dapat dihitung. Sastra hadir untuk mengingatkan itu. Ketika Sapardi Djoko Damono menulis tentang hujan, ia tidak sedang menjelaskan cuaca. Ia sedang membuka ruang ingatan manusia. Ketika Kuntowijoyo menghadirkan tokoh-tokoh sederhana dalam cerpennya, ia tidak hanya bercerita tentang masyarakat, tetapi mengajak kita melihat lapisan batin manusia yang sering tersembunyi.

Sastra mengajarkan satu hal penting, yaitu jangan terburu-buru menyelesaikan dunia. Biarkan sebagian darinya tetap menjadi rahasia. Barangkali inilah tantangan terbesar pendidikan hari ini. Bukan hanya bagaimana membuat peserta didik menjadi lebih pintar, tetapi bagaimana menjaga agar kepintaran itu tidak membunuh rasa ingin tahu.

Sebab orang yang merasa sudah mengetahui segalanya akan berhenti bertanya. Dan ketika manusia berhenti bertanya, ia mulai kehilangan perjalanan. Artificial Intelligence dapat membantu manusia menemukan banyak jawaban. Teknologi dapat mempercepat berbagai proses belajar. Namun tidak ada mesin yang dapat memberikan manusia rasa takjub.

Mesin dapat menjelaskan mengapa bunga mekar. Tetapi hanya manusia yang dapat berhenti di depan bunga itu dan merasa bahwa dunia ternyata masih menyimpan keindahan. Mesin dapat menjelaskan bagaimana seorang ibu mencintai anaknya. Tetapi hanya manusia yang dapat menangis ketika mengingat pelukan ibunya.

Di situlah letak rahasia keberadaan manusia. Kita bukan hanya makhluk yang berpikir. Kita adalah makhluk yang mampu terdiam di hadapan sesuatu yang lebih besar daripada diri kita sendiri.

Suatu hari, setelah kelas itu selesai, seorang mahasiswa menghampiri saya. Ia membawa kembali puisi yang saya berikan pagi tadi. “Pak,” katanya, “saya membaca ulang puisi ini tadi malam.” Saya bertanya, “Lalu apa yang kamu temukan?” Ia tersenyum. “Entahlah, Pak. Mungkin tidak menemukan apa-apa. Tapi saya merasa lebih tenang.”

Saya tersenyum. Mungkin justru di situlah puisi bekerja. Ia tidak selalu memberi jawaban. Kadang ia hanya mengembalikan sesuatu yang diam-diam hilang dari manusia: kemampuan untuk berhenti, mendengar, dan merasa.

Di luar kelas, langit sore mulai berubah warna. Mahasiswa berjalan menuju tempat masing-masing. Kendaraan bergerak, layar menyala, notifikasi berdatangan. Dunia terus berlari.
Namun saya membayangkan, di suatu sudut kecil dalam diri mereka, masih ada seorang anak yang memandang hujan untuk pertama kalinya. Anak itu belum hilang. Ia hanya terlalu lama menunggu dipanggil pulang.

Penulis adalah Dosen Sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Menjadi kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.