Agustus: Anamnesis Peristiwa Kelahiran

oleh -3090 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Agustinus S. Sasmita

Kelahiran selalu menjadi momen yang dinantikan –sebuah adventus yang disambut dengan sukacita. Ia bukan sekadar peristiwa kebetulan yang terjadi begitu saja, melainkan sebuah kehadiran atau keniscayaan yang sarat makna. Kata “kebetulan” sendiri sering kita gunakan untuk menunjuk sesuatu yang terjadi di luar bayangan, bahkan di luar jangkauan imajinasi. Namun, kelahiran dapat pula dinilai sebagai peristiwa etis yang membawa seseorang pada ruang pedagogi, yakni kehidupan.

Hannah Arendt seorang filsuf politik, dalam konsepnya mengenai natalitas menjelaskan bahwa setiap manusia mengawali sebuah perjalanan kehidupan yang dimulai dengan kelahiran dan memulai sesuatu yang baru sekaligus menakjubkan. Kelahiran dinilai sebagai suatu kejadian yang tak terpikirkan sebelumnya oleh yang mengalami kelahiran tersebut. Namun, yang bersangkutan merasa seperti “diterjunkan” ke dalam dunia yang baginya asing.

Dalam bahasa, kita mengenal “kejadian” yang berasal dari kata ex-venio yang berarti “datang dari”, dan “peristiwa” yang berakar pada kata ad-venio berarti “datang kepada”. Keduanya seolah mengisyaratkan bahwa hidup merupakan serangkaian kehadiran yang tak sepenuhnya dapat kita ramalkan.

Namun, di balik semua yang tampak acak ini, ada sesuatu yang lebih dalam; sebuah misteri yang merayap di tepian kesadaran kita. Kelahiran dalam segala keajaibannya, mungkin merupakan pintu yang membawa kita pada makna di baliknya atau bahkan membaut kita lebih dekat pada Sang Misteri.

Kelahiran sering kali direduksi menjadi sekadar rangkaian proses biologis –sebuah konsekuensi alami setelah masa kehamilan. Bahkan perayaanyapun kerap terjebak dalam rutinitas seremonial; hitungan matematis usia, kue, lilin, atau ucapan selamat yang diulang setiap tahun. Dalam euforia ini, kita seringkali terlena. Waktu seolah memudar dan tanpa sadar kita terpapar amnesia temporal –lupa bahwa kelahiran bukan sebatas bertambahnya angka, melainkan sebuah peristiwa eksistensial yang memantik pertanyaan-pertanyaan besar.

Dari mana kita datang? Mengapa kita dilahirkan? Apa tanggung jawab kita atas fakta bahwa kita terlanjur ada di dunia ini? Dan ke mana hidup membawa kita setelah semua ini berakhir? Pertanyaan-pertanyaan itu seharusnya menggema sekaligus menganggu kenyamanan kita. Pertanyaan tersebut mengingatkan kita bahwa kelahiran merupakan pintu masuk ke sebuah perjalanan yang jauh lebih dalam daripada sekadar perhitungan waktu. Namun, di tengah hingar-bingar perayaan, pertanyaan-pertanyaan serupa itu yang paling sering dilupakan.

Bulan Agustus selalu datang dengan gemanya sendiri. Suasana terasa berbeda –lebih khusyuk dan membara. Di jalan-jalan, bendera merah-putih berkibar di setiap sudut, ditemani baliho wajah-wajah pendiri bangsa yang seolah mengawasi kita dari balik zaman. Media sosial ramai dengan kutipan-kutipan provokatif yang mencoba membangkitkan semangat nasionalisme, meski terkadang hanya sekadar riuh rendah tanpa makna.
Namun, di balik segala kemeriahan itu, Agustus bukan hanya tentang dekorasi dan euforia kosong.

Agustus merupakan bulan di mana seharusnya kita berhenti sejenak, merenung dan mengingatkan kembali detik-detik kelahiran bangsa ini. Seperti seorang anak yang menoleh ke belakang untuk memahami asal-usulnya, kita pun perlu melakukan anamnesis (mengingat kembali), untuk memanggil kembali memori kolektif tentang perjuangan, pengorbanan, dan janji kemerdekaan yang dulu diperjuangkan dengan darah dan air mata.

Merayakan hari kelahiran negara bukanlah ritual tahunan. Momen ini merupakan waktu jeda yang sakral, waktu untuk kita mengoreksi diri: Sudah sejauh mana kita berjalan? Apa yang masih harus diperbaiki? Dan ke mana lagi arah bangsa kita harus berjalan? Agustus mengingatkan kita bahwa kemerdekaan bukanlah garis finis, melainkan sebuah permulaan –sebuah janji yang harus terus diperbaharui dengan tidakan nyata.

Menyadari hal ini merupakan langkah progresif sekaligus sebuah inisiatif etis dengan berlandaskan pada kesadaran bahwa kita adalah spesies yang dituntut untuk terus memperbaharui diri ke fase yang lebih baik.

Penulis adalah Alumnus Fakultas Filsafat Universtas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.