Oleh: Seran Sebho
Stunting atau kondisi kekurangan gizi kronis masih menjadi salah satu persoalan serius yang dihadapi Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Selama ini, penanganan stunting sering kali hanya berfokus pada pemberian makanan kepada anak yang dikemas dalam bingkai program Makan Bergizi Gratis (MBG). Meski demikian, daerah yang dikenal terdepan, terluar dan tertinggal (3T) pun belum banyak yang memperoleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) secara merata. Padahal, daerah 3T menjadi prioritas program ini.
Stunting yang dicegah pun kerap berfokus pada pemberian makanan bergizi. Padahal, persoalan stunting jauh lebih luas dari sekadar apa yang dimakan seorang anak. Anak yang mendapatkan makanan bergizi hari ini belum tentu terbebas dari stunting jika program MBG mangkrak dan persoalan lain yang memengaruhi tumbuh kembangnya tidak ikut diperhatikan. Lalu, pertanyaannya adalah apakah stunting hanya masalah gizi dan kesehatan? Atau, sebenarnya stunting adalah masalah kita bersama?
Pertanyaan tersebut patut direnungkan bersama karena stunting bukan hanya berkaitan dengan kondisi kesehatan anak, tetapi juga berhubungan dengan persoalan pembangunan sumber daya manusia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, prevalensi balita stunting di NTT masih mencapai 20,07 persen, atau sekitar 66.195 balita. Di sisi lain, persoalan stunting juga tidak dapat dipisahkan dari kondisi ekonomi keluarga. Persentase penduduk miskin pada September 2025 tercatat sebesar 17,50 persen. Angka ini memang mengalami penurunan sebesar 1,10 persen poin dibandingkan Maret 2025 dan 1,52 persen poin dibandingkan September 2024. Namun, angka tersebut menunjukkan bahwa kemiskinan masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian serius.
Stunting dan Kemiskinan
Berbicara tentang stunting berarti juga berbicara tentang kemiskinan. Keduanya merupakan persoalan yang saling berkaitan. Keluarga yang hidup dalam kondisi ekonomi terbatas, pasti mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan gizi, memperoleh layanan kesehatan yang memadai, serta menyediakan lingkungan yang sehat bagi tumbuh kembang anak. Karena itu, upaya mencegah stunting tidak cukup hanya dengan memberikan makanan kepada anak. Perlu ada perhatian terhadap kondisi keluarga dan lingkungan tempat anak tumbuh.
Dari situasi ini, penulis berpandangan bahwa stunting bukan hanya urusan pemerintah atau tenaga kesehatan. Stunting adalah masalah kita bersama. Pemerintah memiliki tanggung jawab dalam menyediakan kebijakan dan layanan publik yang memadai.
Tenaga kesehatan memiliki peran dalam memberikan pelayanan dan edukasi. Masyarakat dan keluarga memiliki tanggung jawab dalam menerapkan pola hidup dan pola asuh yang sehat. Sementara itu, perguruan tinggi juga memiliki tanggung jawab untuk ikut berkontribusi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Kampus tidak seharusnya hanya menjadi tempat belajar teori. Mahasiswa dari setiap perguruan tinggi perlu hadir di tengah masyarakat untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi daerah. Ilmu pengetahuan yang diperoleh mahasiswa di ruang kuliah perlu diterapkan dan diuji dalam kehidupan nyata. Dengan kata lain, kampus tidak hanya menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan akademik, tetapi juga generasi yang memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial di sekitarnya.
Inisiatif yang Diapresiasi
Salah satu langkah yang patut diapresiasi adalah inisiatif Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XV melalui Program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Gerakan NTT Tuntas Stunting dan Kemiskinan Ekstrem (GENTASKIN). Program ini dirancang dengan melibatkan perguruan tinggi sebagai mitra akademis dan pemerintah daerah sebagai mitra strategis. Inisiatif ini bertujuan memberdayakan mahasiswa sebagai agen perubahan dalam mendukung penurunan stunting dan pengentasan kemiskinan ekstrem di NTT melalui KKN Tematik kolaboratif.
Program GENTASKIN menunjukkan bahwa penyelesaian persoalan pembangunan membutuhkan kolaborasi. Ada 41 perguruan tinggi, yang terdiri atas 37 perguruan tinggi di NTT dan 4 perguruan tinggi dari luar NTT, bekerja sama mengirimkan mahasiswa ke 100 desa yang tersebar di 13 kabupaten, yaitu Sumba Barat Daya, Sumba Barat, Sumba Timur, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Kabupaten Kupang, Belu, Alor, Malaka, Flores Timur, Ngada, Nagekeo, dan Manggarai Timur.
Kolaborasi seperti ini menjadi salah satu kekuatan utama dari program ini, dimana ada keterlibatan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Mahasiswa dari bidang kesehatan, farmasi, keperawatan, administrasi publik, hukum, teknik, pendidikan, peternakan, dan berbagai bidang lainnya bekerja dalam satu tim. Setiap mahasiswa membawa pengetahuan sesuai dengan bidang keilmuannya, tetapi memiliki tujuan yang sama, yaitu membantu masyarakat menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi.
Kolaborasi lintas disiplin seperti ini sangat penting karena stunting bukan persoalan yang dapat diselesaikan oleh satu bidang ilmu saja. Mahasiswa kesehatan dapat memberikan edukasi mengenai gizi serta kesehatan ibu dan anak. Mahasiswa Administrasi Publik dapat membantu melihat persoalan dari sisi tata kelola dan koordinasi program di tingkat desa. Sedangkan mahasiswa dari bidang lain dapat memberikan kontribusi sesuai dengan kompetensinya. Dengan cara ini, persoalan stunting dapat dilihat secara lebih menyeluruh.
Program GENTASKIN juga memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu yang dipelajari di bangku kuliah. Mahasiswa tidak hanya belajar memahami teori, tetapi juga belajar mendengarkan masyarakat, bekerja sama dengan pemerintah desa, tenaga kesehatan, dan kader posyandu. Mahasiswa tidak hanya datang untuk memenuhi kewajiban akademik atau menyelesaikan SKS, tetapi juga belajar hidup bersama masyarakat dan memahami persoalan mereka secara langsung.
Salah satu contoh pelaksanaan program tersebut dapat dilihat di Desa Netpala, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Mahasiswa KKNT GENTASKIN memberikan edukasi kepada ibu hamil dan ibu yang memiliki balita mengenai pentingnya pemenuhan gizi sejak masa kehamilan, pemantauan tumbuh kembang anak, imunisasi, serta pola hidup sehat. Kegiatan ini juga melibatkan bidan, pemerintah desa, dan masyarakat sehingga edukasi yang diberikan dapat diterima dengan baik.
Kegiatan seperti ini mungkin terlihat sederhana, terlebih pelaksanaannya berlangsung dalam waktu sekitar dua bulan. Namun, edukasi dapat memberikan dampak yang lebih panjang. Pengetahuan yang dimiliki orang tua akan memengaruhi cara mereka merawat dan memenuhi kebutuhan anak. Ketika seorang ibu memahami pentingnya gizi seimbang, pemeriksaan kehamilan secara rutin, pemberian ASI eksklusif, serta aktif membawa anak ke posyandu, maka risiko terjadinya stunting dapat dikurangi. Dengan demikian, edukasi bukan sekadar kegiatan penyampaian informasi, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas generasi mendatang.
Kolaborasi Lintas Sektor
Pada prinsipnya keberhasilan program seperti ini tidak boleh berhenti ketika masa KKN selesai. Pemerintah daerah, pemerintah desa, puskesmas, kader posyandu, perguruan tinggi, dan masyarakat perlu terus bekerja sama. Kolaborasi yang sudah dibangun perlu dilanjutkan agar perubahan yang diharapkan benar-benar dirasakan oleh masyarakat. Program juga perlu didukung dengan sarana dan prasarana kesehatan yang memadai.
Kuliah Kerja Nyata Tematik seperti GENTASKIN perlu dilaksanakan secara berkelanjutan. Jika memungkinkan, kegiatan tidak hanya dilakukan di desa yang berbeda setiap tahun, tetapi juga dapat dilanjutkan di lokasi yang sama untuk memastikan program yang telah dimulai dapat terus berkembang. Dengan begitu, program tidak terputus setelah mahasiswa menyelesaikan masa pengabdiannya, tetapi dapat menjadi gerakan bersama yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, pertanyaan apakah stunting merupakan masalah gizi atau masalah kita memiliki jawaban yang jelas, yaitu stunting adalah masalah kita bersama. Stunting memang berkaitan erat dengan gizi, tetapi persoalan ini juga menyentuh kemiskinan, kesehatan, pendidikan, pola asuh, lingkungan, dan tata kelola pembangunan. Karena itu, penanganannya membutuhkan kerja sama semua pihak.
Inisiatif LLDIKTI Wilayah XV melalui Program GENTASKIN menunjukkan bahwa ketika perguruan tinggi, pemerintah, tenaga kesehatan, mahasiswa, dan masyarakat bergerak bersama, persoalan yang selama ini dianggap sulit perlahan dapat diatasi. Penulis meyakini bahwa jika semangat kolaborasi ini terus dijaga dan dilakukan secara berkelanjutan, bukan tidak mungkin harapan untuk mewujudkan generasi NTT yang sehat, cerdas, dan bebas stunting dapat tercapai. Sebab, pada akhirnya, mencegah stunting bukan hanya tentang menyelamatkan anak-anak hari ini, tetapi juga tentang menyiapkan masa depan NTT.
Penulis adalah Mahasiswa Administrasi Publik, UNWIRA Kupang dan Ketua Organisasi Astria Initia







