RADARNTT, Kupang – Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan daerah kering dengan 3-4 bulan basah dan 8-9 bulan kering. Puncak kemarau terjadi pada bulan September dan Oktober setiap tahun. Kondisi ini semakin diperparah topografi wilayah yang kepulauan ada 1000 lebih pulau kecil dan tiga pulau besar yakni Timor, Flores dan Sumba.
NTT memiliki sekitar tiga juta hektar lahan kering iklim kering. Lahan kering di NTT memiliki potensi yang lebih besar dibandingkan lahan sawah.
Kondisi iklim yang relatif kering dimana musim hujan hanya berlangsung 3-4 bulan dan sebagian besar, yaitu 8-9 bulan kemarau menjadikan wilayah NTT mengalami permasalahan Sumber Daya Air (SDA) yang sangat serius, bahkan wilayah tersebut di nobatkan menjadi salah satu provinsi terkering di Indonesia.
Berdasarkan penelitian dari Resilience Development Initiative (RDI) yakni sebuah institusi peneliti berbasis inisiatif di Bandung, Indonesia yang berfokus pada perubahan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan menjelaskan perubahan iklim di provinsi ini ditandai oleh anomali suhu dan curah hujan dalam beberapa dekade terakhir yang mengakibatkan meningkatnya intensitas bencana, kegagalan panen, dan kondisi iklim ekstrem.
Salah satu peneliti RDI Edy Riawan menjelaskan berbeda dengan provinsi lain, di Nusa Tenggara Timur intensitas curah hujan yang turun tergolong sangat rendah, sehingga pasokan air yang bisa disimpan oleh masyarakat hanya bertahan sekitar 3-4 bulan.
“Oleh karena itu manajemen air di periode ini, akan sangat berpengaruh pada kondisi ketersediaan air di periode kering ini,” ungkapnya, dilansir RRI.
Edy melanjutkan, wilayah yang berpotensi cukup rawan mengalami kekeringan yakni di wilayah Alor dan Pulau Timor. Namun disisi lain, terdapat wilayah yang intensitas curah hujan tinggi yakni di Kabupaten Kupang, hal itu diakibatkan oleh siklon tropis.
Bahkan, terhitung sejak 20 tahun terakhir total siklon tropis di Nusa Tenggara Timur sebanyak sembilan siklon. Dari hasil kajian pihaknya, pada bulan Maret-April 2024, wilayah Nusa Tenggara Timur masih berkaitan dengan aktivitas siklon tropis. Adapun bencana yang berpotensi terjadi dan perlu diwaspadai oleh masyarakat meliputi, kekeringan, hujan ekstrem, siklon tropis dan banjir.
“Jumlah yang sangat banyak, kalau di rata-rata kan kurang lebih dalam satu tahun terjadi dua kali siklon yang lewat di sekitar NTT, dan dari hasil analisis kami siklon tersebut merupakan siklon seroja,” ungkap Edy.
Pihaknya kemudian membuat beberapa aksi adaptasi agar kekeringan di NTT bisa diatasi anatara lain pembuatan sumur bor, pembuatan tanggul, perbaikan pola tanam, pengadaan dana desa, bantuan sosial, hingga pembuatan drainase dan lain sebagainya.
Bakal calon Gubernur NTT Simon Petrus Kamlasi pun terpanggil untuk memberi fokus pada masalah air dan pertanian lahan kering yang masih banyak lahan tidur karena keterbatasan air hanya berharap pada musim hujan yang berlangsung singkat hanya 3-4 bulan.
Simon Petrus Kamlasi yang terlahir di atas tanah kering Timor, sudah berbuat banyak kerja nyata dalam penyediaan air untuk masyarakat. Sudah membangun sekira 400 pompa hidram dan sumur bor di desa-desa seluruh NTT, yang akan terus digalakkan untuk membangun potensi air bersih dan irigasi pertanian lahan kering yang sangat potensial.
Simon Petrus Kamlasi memberikan fokus perhatian pada pembangunan infrastruktur air bersih dan irigasi pertanian untuk menghidupkan 5 jutaan masyarakat NTT, pertanian masih menjadi sektor yang memberi kontribusi paling besar terhadap PDRB provinsi NTT. Pada triwulan II-2024, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih mendominasi struktur ekonomi NTT dengan kontribusi sebesar 29,67 persen. Pada triwulan I-2024, ekonomi NTT tumbuh sebesar 3,61 persen.
Melalui program air bersih dan air irigasi pertanian yang tersedia bagi rakyat, Simon Petrus Kamlasi berkeyakinan masyarakat petani NTT bisa menanam dua kali setahun di lahan kering yang selama ini menjadi lahan tidur yang tidak produktif.
Di hadapan pendukung dan relawan, di Atambua pada Kamis (19/9/2024, Jenderal bintang satu itu memberi harapan terutama bagi para petani yang selama ini hanya menanam pada musim hujan.
Ia menegaskan, ke depan para petani di NTT tidak bisa lagi menganggur sebab pertanian lahan kering harus digalakkan setelah dibuat titik-titik air dengan teknologi Pompa Hidram.
โSelama ini saya sudah membuat 400 titik air di seluruh pelosok NTT dengan teknologi pompa hidram. Di titik-titik itu, pertanian lahan kering bisa digalakkan dan ke depan kita akan perbanyak. Saya pikir lahan tidur kita terlalu luas dan hanya bangun pada saat musim hujan saja, lalu petani tidak menanam pada musim kemarau. Saya pikir, lahan kita tidak perlu tidur lagi. Saatnya kita bersama-sama membangunkan lahan-lahan kita. Semua itu kunci utamanya ada di air,โ kata Simon Petrus Kamlasi yang meraih rekor MURI di bidang air ini.
Putra asli Timor Tengah Selatan yang lahir di Desa Sunu ini meminta masyarakat tidak usah ragu. Sebab selama dirinya menjadi tentara sudah melakukan banyak hal untuk membantu petani. Semua potensi air yang ada di lembah dan sungai akan dipompa ke tempat yang tinggi lalu dialirkan ke kebun masyarakat. Teknologi saat ini sudah semakin canggih di bidang pertanian dan bisa dilakukan untuk meningkatkan hasil pertanian masyarakat.
โLewat Pompa Hidram yang kita buat ini, kita gunakan lagi teknologi yang hemat air. Jadi hanya jagung saja yang hidup tapi rumput tidak bisa hidup karena panas matahari yang luar biasa di wilayah kita. Teknologi hemat air itu adalah irigasi tetes. Kita juga akan bangun banyak embung untuk menampung air hujan. Diupayakan ketika hujan yang sedikit itu, kita tahan di darat lewat embung dan jebakan air. Saya pikir, ikan di laut tidak butuh air tawar,โ ujarnya. (TIM/RN)







