Pemilihan Kardinal Robert Francis Prevost sebagai Paus Leo XIV pada Mei 2025 adalah momen yang melampaui sekadar pergantian kepemimpinan di Takhta Suci. Ia bukan hanya Paus pertama yang lahir di Amerika Serikat, tetapi juga seorang gembala yang ditempa dalam ladang misi Amerika Latin—khususnya di Peru. Di balik sosok yang tampak tenang dan bersahaja ini, tersembunyi kekuatan moral yang dibentuk oleh dekade pelayanan di antara umat kecil dan terlupakan.
Selama lebih dari dua puluh tahun sebagai misionaris dan Uskup Chiclayo, Prevost hidup di tengah realitas keras masyarakat Peru: kemiskinan, ketimpangan, dan pencarian akan makna. Di sanalah ia menempa imannya bukan di ruang-ruang konferensi, tetapi di dusun-dusun terpencil dan altar-altar sederhana. Maka tak heran, ketika ia terpilih sebagai Paus, ia membawa serta roh Amerika Latin—roh yang berakar pada keadilan sosial, kasih terhadap kaum kecil, dan kepercayaan bahwa Gereja harus menjadi “rumah terbuka” bagi semua.
Di sepanjang sejarah Gereja, banyak Paus yang datang dari dunia yang penuh dengan keistimewaan—dari kota-kota besar dan lembaga-lembaga tinggi yang penuh pengaruh. Namun, Paus Leo XIV hadir dari tempat yang berbeda. Dengan latar belakang misi, ia tidak hanya memahami realitas kehidupan mereka yang berada di pusat kekuasaan, tetapi juga mereka yang terpinggirkan dan terlupakan. Ia adalah seorang Paus yang menjunjung tinggi nilai-nilai sederhana, tetapi dalam kedalaman kesederhanaannya, ia menemukan sumber kekuatan yang luar biasa.
Dalam pidato publik perdananya, Leo XIV menegaskan pentingnya persatuan, cinta, dan keberpihakan kepada mereka yang terpinggirkan. “Kita semua adalah anak-anak dari rahmat yang sama,” katanya. Pernyataan ini tidak lahir dari wacana, tetapi dari pengalaman. Ia tahu bahwa dunia saat ini dipenuhi dinding—fisik maupun mental—yang memisahkan manusia satu sama lain. Sebagai Paus, ia ingin menjadi jembatan, bukan benteng.
Pilihan nama “Leo” menyiratkan warisan spiritual dan moral yang panjang: dari Paus Leo I yang tegas melindungi iman, hingga Paus Leo XIII yang memperjuangkan martabat kaum buruh. Dalam Leo XIV, keduanya berpadu dalam semangat pastoral yang menyapa dunia kontemporer—dunia yang haus akan belas kasih dan kebenaran yang membebaskan.
Namun, tak hanya warisan spiritual yang diusung oleh Leo XIV. Dalam banyak wawancaranya, ia kerap menyebutkan pengalamannya di Peru sebagai sumber inspirasi utama dalam kepemimpinan gerejawi. “Saya telah melihat bagaimana kekuatan iman dapat menggerakkan rakyat, bahkan dalam kemiskinan yang paling ekstrem,” ungkapnya dalam sebuah wawancara. Iman yang dimilikinya, yang teruji oleh kehidupan masyarakat sederhana dan penuh tantangan, mencerminkan keyakinannya bahwa Gereja harus benar-benar hadir di tengah masyarakat, memberikan kasih tanpa syarat, dan memperjuangkan keadilan sosial.
Ke depan, tantangan Paus Leo XIV tidak kecil: menyatukan Gereja yang terbelah, merespons krisis moral dan ekologis global, serta menghidupkan kembali harapan di tengah dunia yang sering kali sinis terhadap agama. Gereja yang Ia pimpin kini menghadapi perpecahan ideologis, dengan beberapa kelompok yang lebih mengutamakan kekuasaan dan prestise daripada melayani umat dengan kasih dan keadilan. Tantangan besar lainnya adalah ketegangan antara tradisi dan inovasi, antara kebutuhan untuk melestarikan ajaran-ajaran yang telah lama ada dengan tuntutan zaman yang bergerak cepat.
Namun dengan akar kuat di bumi misi dan hati yang terbuka bagi seluruh umat manusia, ia hadir sebagai simbol baru: bahwa wajah Gereja masa depan mungkin bukan berasal dari pusat kekuasaan, tetapi dari pinggiran dunia—dari hati Amerika Latin yang kini berdetak di pusat Gereja universal. Inilah yang membuat Paus Leo XIV istimewa. Ia bukan sekadar pemimpin, tetapi juga simbol dari perubahan yang diperlukan oleh Gereja dalam menghadapi tantangan zaman.
Apa yang dapat kita harapkan dari Paus Leo XIV adalah sebuah Gereja yang lebih inklusif, lebih peduli pada masalah-masalah sosial, dan lebih terbuka terhadap dialog antaragama dan budaya. Tidak hanya berbicara tentang kasih dan perdamaian, tetapi juga bertindak untuk menciptakan kedamaian sejati melalui keadilan sosial dan kemanusiaan. Kita melihat seorang Paus yang tak hanya berbicara tentang kasih Tuhan, tetapi juga mewujudkan kasih tersebut dalam tindakan nyata kepada mereka yang terpinggirkan, terutama di dunia ketiga yang masih menghadapi banyak masalah kemiskinan, ketidakadilan, dan penindasan.
Berkat pengalaman hidupnya yang kaya di dunia misi dan pendalaman spiritualitas yang dalam, Paus Leo XIV diharapkan akan menjadi jembatan bagi umat manusia, menghubungkan Gereja dengan dunia yang penuh perpecahan, menguatkan kembali semangat kasih dalam Gereja, dan memperjuangkan masa depan yang lebih adil bagi semua umat manusia.
Oleh: Vitalis Wolo, Pegiat Sosial tinggal di Kupang








