Cerita Esther Meilany Siregar dari Rinhat

oleh -1801 Dilihat
banner 468x60

Dari sekian rangkaian kunjungan Tim Siaga ke desa-desa di Kabupaten Belu dan Malaka, desa Alala, Kecamatan Rinhat, Kabupaten Malaka yang menjadi perhatianku yang amat sangat mendalam di hatiku. Desa Alala adalah salah satu dari sekian desa yang tertinggal dan terisolir di NTT.

Ketika Tim Siaga ke sana untuk menyapa mereka. Terlihat mereka begitu senang dan antusias sekali karena hampir tidak ada orang yang datang ke tempat ini. Hati ini rasanya ingin menangis melihat keluhan warga di sana bahwa mereka sangat kesulitan air. Mereka harus membayar sekitar Rp300.000 untuk membeli air agar dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Jalan rusak namun listrik sudah masuk. Ketika mereka ditanya Gereja/Kapela terdekat, mereka bersahut-sahutan menjelaskan bahwa mereka harus berjalan sejauh 5 kilometer untuk beribadah. Kemudian ditanya jam berapa mereka berangkat menuju Gereja/Kapela? Ada yang menjawab jam 05.00 pagi mereka sudah jalan bagi mereka yang tidak punya kendaraan. Bagi yang punya kendaraan bisa berangkat sekitar jam 06.00 pagi.

Luar biasa perjuangan warga di desa ini, mau kemana-mana serba jauh dan hidup susah air. Aku sangat sedih sekali melihat kesulitan hidup yang mereka jalani. Oh Tuhan seandainya suamiku, Simon Petrus Kamlasi terpilih menjadi NTT 1. Rasa-rasanya kita harus perjuangkan desa-desa tertinggal ini dulu untuk pengadaan air di desa-desa mereka. Bayangkan membeli air Rp300.000 entah untuk bertahan berapa hari. Bagaimana mereka mau sejahtera ? Ya Tuhan kasihanilah, kami.

Sabtu, 16 November 2024

Oleh: Esther Meilany Siregar, istri Simon Petrus Kamlasi

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.