Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Setiap daerah memiliki adat istiadat dan tradisi yang berbeda, satu aturan di suatu daerah bisa berbeda dengan aturan di daerah lain.
Orang Rote punya bahasa makian, umpatan atau ejekan tersendiri. Prof James Fox pernah menulis tentang umpatan dalam bahasa Rote. Judulnya: “The Anger of the Father : Kidʹs Talk and the Mockery of Animals”. Tulisan ini adalah bagian dari Festschrift untuk ulang tahun ke-75 dari Etnograper Stephen Tyler, yang berjudul: “Astonishment and Evocation” diterbitkan di Jerman tahun 2007.
Menurut Fox, kosa kata yang paling umum dalam bahasa ejekan orang Rote ada tiga yaitu:
Pertama, ungkapan tentang kondisi (bau, bentuk atau penampakan) dari alat genital laki-laki atau perempuan.
Kedua, perbandingan yang menyakitkan dengan hewan -anjing, kucing, kambing, kuda kerbau, monyet.
Ketiga, menyumpahi kematian secara tidak wajar terhadap seseorang seperti: ditanduk kerbau, diterkam buaya atau disambar petir.
Khusus untuk frasa menyangkut hewan, tujuannya sama: mengharapkan kematian pada hewan tertentu. Oleh karena itu biasanya disebut suatu bentuk kematian hewan tersebut.
Jadi misalnya ketika kita memaki seseorang, kita tidak langsung memaki orang tersebut tetapi dengan memperbandingkan orang tersebut dengan bentuk kematian hewan tertentu.
Misalnya kita menyebut seseorang: “alu na’ak” artinya kita memperbandingkan seseorang dengan cara matinya seekor anjing. Alu na’ak artinya “dimakan alu” “makanan alu” karena anjing umumnya dibunuh dengan dipukuli dengan alu.
Atau ungkapan “nisi ti’i” (gigi terlihat) adalah perbandingan terhadap anjing yang dimasak dimana giginya kelihatan. Dan masih banyak lagi umpatan yang biasa digunakan orang Rote.
Namun bukan saja umpatan atau makian yang menunjuk kepada hewan, peribahasa pun kadang demikian. Ada satu peribahasa yang biasa digunakan jika mereka ingin mengatakan bahwa “sifat dan karakter asli seseorang sulit disembunyikan” maka mereka akan menggunakan peribahasa ini:
“Kode pepei aon o, lole koden a mahanik. Ma Nafi aoli aon o, lada nafi mahanik“
Arti harfiahnya:
“Kera berhias diri bagaimanapun, rupanya tetap kera. Dan Teripang dibumbui bagaimanapun, tetap rasanya teripang.”
Rupanya monyet ya tetap saja monyet, rasanya amis ya tetap saja amis. Oleh karena itu jadilah diri sendiri, tak usah terlalu banyak polesan.
Ungkapan ini bisa digunakan secara berganda. Bisa digunakan kepada orang lain, tetapi bisa juga digunakan untuk diri sendiri sebagai ungkapan merendah diri.
Saya ingat ketika saya gunakan syair ini dalam sebuah acara pinangan di depan hotel Chrystal Kota Kupang, ibu-ibu orang-orang Rote yang hadir tertawa riuh.
Oleh: Ato Messakh, Peneliti Sejarah tinggal di Kupang







