Friedrich Schiller, penyair dan filsuf Jerman abad ke-18, pernah menulis: “Hidup yang tak pernah dipertaruhkan tak akan pernah dimenangkan.” Dalam dunia politik, kalimat ini mengandung pesan mendasar: kemenangan sejati bukanlah hasil dari kalkulasi kekuasaan, melainkan buah dari keberanian menanggung risiko demi nilai yang diyakini benar. Dalam konteks Nusa Tenggara Timur (NTT), semangat itu menemukan wujudnya dalam sosok Alexander Take Ofong, S. Fil — politisi yang berusaha menempuh jalan politik dengan sikap tenang, jernih, dan bermartabat.
Sebagai salah satu figur penting di tubuh Partai NasDem NTT, Alex Ofong demikian sapaanya dikenal sebagai politisi yang reflektif. Ia pernah menjabat Wakil Ketua DPRD NTT (2014–2019), dan berperan strategis sebagai Sekretaris DPW NasDem NTT serta Ketua Bappilu. Dalam posisinya itu, ia menegaskan prinsip partai: tidak ada mahar bagi calon legislatif dan calon kepala daerah. Prinsip ini sederhana, tetapi menjadi sikap moral yang tegas di tengah praktik politik transaksional yang sering menggerus kepercayaan publik terhadap demokrasi lokal.
Schiller mengingatkan bahwa manusia tidak hanya digerakkan oleh rasio, tetapi juga oleh etika. Dalam politik, keseimbangan keduanya penting: mengelola kekuasaan dengan akal sehat tanpa kehilangan hati nurani. Alex tampaknya memahami hal itu. Ia menjaga disiplin organisasi partai, namun tetap berpijak pada pandangan bahwa politik pada akhirnya harus berpihak pada manusia — terutama mereka yang lemah dan mudah terpinggirkan dari akses kekuasaan.
Ketika muncul polemik tentang kenaikan tunjangan DPRD, Alex tampil dengan sikap terbuka. Ia menyampaikan secara publik bahwa DPRD tidak pernah meminta kenaikan tunjangan, dan justru menyerahkan sepenuhnya pada mekanisme evaluasi pemerintah sesuai regulasi. Sikap ini menunjukkan kejujuran politik yang jarang terlihat. Di tengah tekanan opini publik yang mudah menyala, ia memilih berbicara bukan untuk membela diri, tetapi untuk menjaga kredibilitas lembaga legislatif. Di situlah “pertaruhan” yang dimaksud Schiller menemukan maknanya: berani mengambil risiko demi kejelasan nilai.
Latar belakang filsafat membantu Alex membawa kepekaan moral ke dalam kerja politik. Ia memahami bahwa kekuasaan bukan sekadar alat mengatur, melainkan ruang untuk melayani. Dalam semangat itu, pandangan Sutan Syahrir menjadi relevan: “Banyak orang cuma tahu menggunakan alat-alat kekuasaan, tetapi tidak menjiwai kekuasaan.” Alex berusaha menjiwai kekuasaan dengan kesadaran, bukan dengan kerakusan. Ia menggunakan peran politiknya untuk menumbuhkan cara berpikir masyarakat yang lebih kritis dan partisipatif.
Pemikiran Ignas Kleden memperkuat pandangan itu: “Tugas politik bukan hanya mengatur, tetapi mendidik.” Dalam kerangka ini, politik bagi Alex bukanlah arena transaksi, melainkan ruang pembelajaran sosial. Ia memandang partai sebagai tempat pembentukan karakter publik, di mana nilai seperti kejujuran, kesetiaan, dan tanggung jawab ditanamkan lewat tindakan nyata, bukan slogan.
Namun mempertahankan nilai dalam politik tidak pernah mudah. Di NTT, dengan realitas sosial yang masih diwarnai kemiskinan, ketimpangan, dan keterbatasan infrastruktur, godaan untuk menyerah pada pragmatisme selalu besar. Di titik itulah kutipan Schiller kembali relevan: hidup — termasuk hidup politik — memperoleh makna sejati ketika seseorang berani mempertaruhkan kenyamanan demi integritas.
Alex Ofong masih menjalani proses itu. Ia bukan tanpa kritik, tetapi kehadirannya menjadi pengingat bahwa politik daerah dapat dijalankan dengan kesadaran moral. Dalam perannya sebagai penghubung antara gerakan partai dan ruang legislatif, ia menegaskan bahwa konsistensi lebih penting daripada sensasi, dan bahwa keberpihakan pada rakyat tidak harus ditunjukkan dengan retorika keras, melainkan dengan keputusan dan sikap yang jujur.
Schiller benar: hidup yang tak pernah dipertaruhkan tak akan pernah dimenangkan. Melalui sikap dan cara berpikirnya, Alex Ofong menunjukkan bahwa dalam politik, kemenangan sejati bukan soal kursi atau jabatan, melainkan tentang menjaga nurani tetap utuh. Dengan kesetiaan pada nilai dan keberanian mengambil risiko demi kebenaran, ia menghadirkan pelajaran penting bagi politik di NTT: di tengah arus kepentingan, masih mungkin berjalan dengan kepala tegak dan hati yang jujur.
Dan mungkin di situlah inti dari politik yang tidak hanya memerintah, tetapi juga mendidik manusia — sebagaimana diingatkan Ignas Kleden.
Tim Redaksi







