Pernyataan CELIOS, “Ciri-ciri negara miskin adalah tidak mengakui penduduknya miskin, dan ciri-ciri itu ada di Indonesia,” harus dipahami sebagai kritik keras terhadap rendahnya kesadaran diri (self-awareness) pemerintah dalam melihat kenyataan. Orang cerdas berani mengakui kelemahannya. Organisasi yang cerdas juga melakukan hal yang sama. Negara yang cerdas tidak menyembunyikan kemiskinan melalui definisi yang terlalu sempit, data yang tidak mutakhir, atau metode statistik yang sulit diuji oleh masyarakat.
Pengakuan terhadap kelemahan bukanlah penghinaan terhadap negara. Pengakuan justru menjadi titik awal perbaikan. Kelemahan merupakan big opportunity for improvement—peluang besar untuk melakukan perbaikan. Pemerintah tidak mungkin mengurangi kemiskinan secara tepat apabila pemerintah terlebih dahulu memperkecil, menyangkal, atau mengaburkan jumlah penduduk yang benar-benar mengalami kesulitan ekonomi.
Masalah utama bukan terletak pada penggunaan desil itu sendiri. Desil hanya mengurutkan penduduk dari kelompok yang relatif paling tidak sejahtera sampai kelompok paling sejahtera. Desil tidak otomatis menetapkan seseorang sebagai miskin atau tidak miskin. Pemerintah memang memerlukan pemeringkatan karena anggaran bantuan sosial terbatas. Namun, persoalan serius muncul ketika data dasarnya tidak akurat, tidak mutakhir, tidak transparan, atau tidak mampu menangkap keadaan nyata rumah tangga. BPS sendiri mengakui bahwa model statistik tetap memiliki kemungkinan kesalahan dan harus terus diperbaiki. Pemerintah juga mengakui adanya potensi exclusion error, yaitu penduduk yang sesungguhnya membutuhkan bantuan tetapi tidak tercatat atau tidak terpilih sebagai penerima.
Kritik CELIOS menjadi relevan ketika hasil klasifikasi statistik bertentangan dengan kenyataan di lapangan. Sebuah keluarga mungkin memiliki rumah, sepeda motor, atau barang elektronik, tetapi keluarga tersebut juga dapat menanggung utang, biaya kesehatan, biaya pendidikan, kehilangan pekerjaan, dan pendapatan yang tidak menentu. Kepemilikan aset tidak selalu menunjukkan kemampuan ekonomi aktual. CELIOS karena itu mengusulkan penggunaan disposable income, yaitu pendapatan yang benar-benar tersisa setelah kewajiban dan beban pokok diperhitungkan.
Pemerintah tidak boleh menggunakan kecanggihan metodologi sebagai benteng untuk menolak kritik. Model statistika yang rumit tetap menghasilkan keputusan yang keliru apabila data masukannya buruk—garbage in, garbage out, low output. Kesalahan data kemiskinan bukan sekadar kesalahan administratif. Kesalahan tersebut dapat menghilangkan hak masyarakat miskin atas bantuan pangan, pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial. CELIOS juga mengkritik ketertutupan rincian penghitungan desil karena keadaan tersebut menimbulkan kecurigaan bahwa perubahan klasifikasi dapat digunakan untuk mengurangi jumlah penerima bantuan sosial. Kecurigaan itu harus dijawab melalui keterbukaan metodologi, audit independen, dan mekanisme koreksi yang mudah diakses masyarakat.
Namun, kritik juga harus tetap adil. Pernyataan bahwa Indonesia “tidak mengakui penduduknya miskin” merupakan peringatan retoris, bukan kesimpulan bahwa seluruh data pemerintah pasti palsu. Desil tetap diperlukan untuk menetapkan prioritas ketika jumlah penduduk yang membutuhkan bantuan lebih besar daripada kapasitas program. Pemerintah bahkan menyatakan bahwa penggunaan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional telah memasukkan lebih dari 4,3 juta keluarga baru pada desil 1–4 ke dalam program bantuan. Fakta ini menunjukkan adanya upaya perbaikan, tetapi upaya tersebut belum boleh dianggap selesai.
Sikap pemerintah yang benar bukan membantah kritik secara defensif, melainkan menunjukkan self-awareness institusional. Pemerintah harus berkata secara jujur: data kita belum sempurna, masih terdapat penduduk miskin yang tidak teridentifikasi, masih terjadi salah sasaran, dan sistem harus diperbaiki. Pengakuan tersebut kemudian harus diikuti tindakan: membuka metodologi, memperbarui data secara berkala, menyediakan hak sanggah, melakukan verifikasi lapangan, mengukur kemiskinan secara multidimensional, dan mengaudit dampak keputusan terhadap masyarakat.
Intinya sangat tegas: negara tidak menjadi miskin karena mengakui banyak penduduknya masih miskin. Negara justru menunjukkan kecerdasan dan kekuatannya ketika berani mengakui kenyataan. Negara menjadi lemah apabila lebih sibuk memperindah angka daripada memperbaiki kehidupan rakyat. Data yang memperkecil masalah mungkin membuat laporan terlihat baik, tetapi tidak membuat rakyat menjadi lebih sejahtera. Kemiskinan tidak hilang karena definisinya dipersempit. Kemiskinan hanya berkurang apabila negara berani melihat kelemahannya, memperbaiki sistemnya, dan membuktikan hasilnya dalam kehidupan nyata masyarakat.
Salam SUCCESS Cerdas Finansial!
Oleh: Vincent Gaspersz, (Orang Gagal & Bodoh yang Anti Kebodohan dan Kemiskinan)









