Mengapa Investor Disarankan Membeli Saham dan Aset Saat Resesi

oleh -834 Dilihat
banner 468x60

Di tengah atau menjelang resesi, harga banyak aset seperti saham dan properti cenderung menurun, menjadikannya lebih terjangkau. Kondisi ini seringkali disebabkan oleh sentimen pasar yang negatif, di mana investor menjual aset mereka karena ketakutan akan kerugian lebih lanjut, sehingga meningkatkan penawaran dan menurunkan harga (berlaku hukum permintaan dan penawaran dalam ilmu ekonomi manajerial, teori ekonomi mikro dan teori ekonomi makro).

Mekanisme Kerja Investasi di Masa Resesi

  1. Pembelian di Harga Rendah: Dalam resesi, karena banyak investor menarik uang mereka dari pasar, harga aset sering turun ke level yang lebih rendah dari nilai intrinsiknya. Hal ini menciptakan peluang bagi investor yang berani untuk membeli saham atau properti dengan harga diskon.
  2. Pemulihan Pasar: Sejarah telah menunjukkan bahwa pasar cenderung pulih setelah resesi. Ketika ekonomi mulai membaik, nilai aset tersebut biasanya naik, terkadang secara signifikan, memberikan keuntungan kapital yang besar bagi mereka yang membeli pada saat harga rendah.
  3. Investasi Jangka Panjang: Saham dan properti adalah investasi jangka panjang. Membeli ketika harga rendah dan memegang aset tersebut hingga pasar pulih dapat memberikan keuntungan substansial ketika harga kembali normal atau lebih tinggi.
  4. Pembayaran Dividen: Untuk saham, bahkan selama resesi, banyak perusahaan yang dikelola dengan manajemen yang baik tetap memperoleh keuntungan sehingga dapat terus membayar dividen, memberikan pendapatan pasif kepada investor meskipun nilai pasar sahamnya turun.

Aset Lain yang Disarankan untuk Dibeli Selama Resesi

Selain saham dan properti, ada beberapa aset lain yang sering disarankan untuk dibeli selama periode ekonomi yang tidak menentu:

  1. Obligasi Pemerintah: Dianggap sebagai investasi yang sangat aman, obligasi pemerintah sering kali menarik selama resesi. Mereka menyediakan arus kas tetap dan umumnya dijamin oleh pemerintah. Saat ini obligasi pemerintah memberikan hasil per tahun jauh lebih besar daripada interest rate bank komersial. Yield dari obligasi pemerintah mencapai 6,43 persen dengan pajak final hanya 10 persen dibandingkan deposito yang hanya memberikan bunga 3,25 persen dengan pajak deposito 20 persen.
  2. Emas dan Logam Mulia Lainnya: Emas secara tradisional dianggap sebagai penyimpan nilai yang aman saat ketidakpastian ekonomi. Emas tidak hanya menawarkan perlindungan terhadap inflasi tetapi juga cenderung naik nilainya selama ketidakstabilan pasar finansial.
  3. Reksadana: Untuk diversifikasi yang lebih besar dengan risiko yang lebih rendah dibandingkan membeli saham individu, Reksadana memungkinkan investor untuk membeli portofolio yang diversifikasi dengan berbagai saham, obligasi, atau aset keuangan lainnya dalam satu produk investasi. Ini membantu mengurangi risiko karena tidak semua investasi dalam portofolio akan berkinerja buruk pada saat yang sama.

Kesimpulan

Membeli aset selama resesi bisa menjadi strategi yang sangat menguntungkan jika dilakukan dengan bijaksana dan sabar. Penting untuk melakukan penelitian yang menyeluruh dan mempertimbangkan toleransi risiko serta horison waktu investasi sebelum membuat keputusan investasi.

Melalui pendekatan yang terinformasi secara lengkap dan disiplin, resesi dapat menjadi kesempatan untuk memperkuat portofolio investasi dan membangun kekayaan jangka panjang. Inilah alasan mengapa sering disebutkan dalam situasi perekonomian yang tidak stabil, justru “Orang Kaya yang Cerdas Finansial akan Semakin Kaya”.

Oleh: Vincent Gaspersz

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.