Aku melihatmu berdiri, manatapmu dari jeruji besi ini
Kulihat kau tersenyum meski aku tak mengerti, senyum bermakna apa
Kau tertawa sendiri meski aku tahu, bahwa itu bukanlah lelucon bagiku
Aku paham bahwa kau hanya butuh beberapa hari, untuk mendapatkan cinta yang menjadi idamanmu
Meski aku harus sanggup menahan derita cinta dan rindu, dalam keremangan sel yang sempit ini
Dalam kesendirian aku merenungkan sebuah cerita, seperti yang kualami ini
Aku pernah membaca kisahnya dengan teliti
Meski aku tak pernah menyukai akhir dari ceritanya
Barangkali aku bukanlah pulau idamanmu, yang pantas kau bersandar dan berlabuh di dermaganya
Tak ada yang layak dipertahankan, juga tak pantas aku berharap banyak kepadamu dari tempat terpencil ini
Ya, aku pernah membaca novel mengenai ini, meski aku tak pernah menyukai akhir dari ceritanya
Aku bisa melihatmu tersenyum bahkan tertawa, meski aku tak pernah memahami tawa bermakna apa
Aku yakin kau dapat menggapai peluang kedua, ketiga, bahkan keseribu kalinya
Kutatap mata indahmu sore itu, melambaikan salam perpisahan dari kejauhan
Tetapi aku merasakannya sebagai penghinaan yang sangat menyakitkan
Karena aku tak pernah memahami makna di balik senyum indahmu
Ketika aku balik menatapmu di kejauhan, melangkah begitu indah gemulai
Justru menambah hatiku semakin terluka
Kau teramat menawan dalam penglihatanku sore itu, di kala matahari terbenam meninggalkan terang
Ya, aku pernah melihat film tentang ini, meski sama sekali aku tak menyukai akhir dari ceritanya
Kuingat kau mengatakan bahwa diriku bukanlah segalanya dan aku pun menyadari bahwa diriku bukanlah urusanmu lagi
Tapi, bukankah kau adalah mahkotaku, pujaan hatiku,
Namun mengapa kita memutuskan berpisah,
Maka siapa lagi yang akan kau sakiti esok hari?
Aku ingat ketika kau keluar dari pintu samping
Dan selama ini kita memang mengahadapi hari-hari bagaikan hidup di ujung tanduk
Identitas keseharian kita bagaikan kartu-kartu domino atau tanggul-tanggul yang keropos
Atau bahkan sumbu-sumbu yang terus menyala hingga mencapai akhir dari ledakannya
Saat ini, menangis dapat aku lakukan dalam kesendirian menggoreskan pena dalam keremangan malam
Tanpa kehadiranmu di sisiku
Kuingat ketika kau berkali-kali memberi tanda dan sinyal
Meski aku tak pernah menangkap tanda-tanda yang kau berikan
Berkali-kali kau katakan bahwa aku tak peka dalam memahami tanda-tanda
Ya, aku pernah membaca tentang ini dalam kisah terdahulu, meski aku tak pernah menyukai akhir dari ceritanya
Barangkali kau benar bahwa aku tak pernah mau belajar membaca isi pikiranmu
Aku tak pernah belajar menciptakan sesuatu yang menyejukkan
Berkali-kali kau memberi peringatan tentang pentingnya hal-hal kecil dan sederhana
Tetapi aku tak dapat menangkap maksud perkataanmu
Begitu banyak peringatan, begitu banyak tanda-tanda dan benar apa yang kau katakan bahwa aku tak pernah mampu menangkap tanda-tanda itu
Kini aku menangis lagi dalam keremangan malam
Di ruang sel sempit dalam kesendirian, tanpa kehadiranmu di sisiku
Kini aku harus mulai mampu membaca diri memahami kekurangan dan ketidakberdayaanku
Agar sanggup membalikkan keadaan di kemudian hari
Aku harus mampu membaca dan memahami tanda-tanda yang pernah kau berikan, dalam kesendirianku
Di tengah ruang dan waktu sepertiga malam ini
Ya, aku pernah mendengar lagu tentang ini
Semoga akan berakhir indah bersamamu…
Dalam lindungan Sang Maha Cinta…
Dan Maha Penolong atas kelemahan dan kekhilafan hamba-hambaNya…. (*)
Oleh: Supadilah Iskandar







