Seniman dan Mantan Istrinya

oleh -1159 Dilihat
banner 468x60

Aku melihatmu berdiri, manatapmu dari jeruji besi ini

Kulihat kau tersenyum meski aku tak mengerti, senyum bermakna apa

Kau tertawa sendiri meski aku tahu, bahwa itu bukanlah lelucon bagiku

Aku paham bahwa kau hanya butuh beberapa hari, untuk mendapatkan cinta yang menjadi idamanmu

Meski aku harus sanggup menahan derita cinta dan rindu, dalam keremangan sel yang sempit ini

Dalam kesendirian aku merenungkan sebuah cerita, seperti yang kualami ini

Aku pernah membaca kisahnya dengan teliti

Meski aku tak pernah menyukai akhir dari ceritanya

Barangkali aku bukanlah pulau idamanmu, yang pantas kau bersandar dan berlabuh di dermaganya

Tak ada yang layak dipertahankan, juga tak pantas aku berharap banyak kepadamu dari tempat terpencil ini

Ya, aku pernah membaca novel mengenai ini, meski aku tak pernah menyukai akhir dari ceritanya

Aku bisa melihatmu tersenyum bahkan tertawa, meski aku tak pernah memahami tawa bermakna apa

Aku yakin kau dapat menggapai peluang kedua, ketiga, bahkan keseribu kalinya

Kutatap mata indahmu sore itu, melambaikan salam perpisahan dari kejauhan

Tetapi aku merasakannya sebagai penghinaan yang sangat menyakitkan

Karena aku tak pernah memahami makna di balik senyum indahmu

Ketika aku balik menatapmu di kejauhan, melangkah begitu indah gemulai

Justru menambah hatiku semakin terluka

Kau teramat menawan dalam penglihatanku sore itu, di kala matahari terbenam meninggalkan terang

Ya, aku pernah melihat film tentang ini, meski sama sekali aku tak menyukai akhir dari ceritanya

Kuingat kau mengatakan bahwa diriku bukanlah segalanya dan aku pun menyadari bahwa diriku bukanlah urusanmu lagi

Tapi, bukankah kau adalah mahkotaku, pujaan hatiku,

Namun mengapa kita memutuskan berpisah,

Maka siapa lagi yang akan kau sakiti esok hari?

Aku ingat ketika kau keluar dari pintu samping

Dan selama ini kita memang mengahadapi hari-hari bagaikan hidup di ujung tanduk

Identitas keseharian kita bagaikan kartu-kartu domino atau tanggul-tanggul yang keropos

Atau bahkan sumbu-sumbu yang terus menyala hingga mencapai akhir dari ledakannya

Saat ini, menangis dapat aku lakukan dalam kesendirian menggoreskan pena dalam keremangan malam

Tanpa kehadiranmu di sisiku

Kuingat ketika kau berkali-kali memberi tanda dan sinyal

Meski aku tak pernah menangkap tanda-tanda yang kau berikan

Berkali-kali kau katakan bahwa aku tak peka dalam memahami tanda-tanda

Ya, aku pernah membaca tentang ini dalam kisah terdahulu, meski aku tak pernah menyukai akhir dari ceritanya

Barangkali kau benar bahwa aku tak pernah mau belajar membaca isi pikiranmu

Aku tak pernah belajar menciptakan sesuatu yang menyejukkan

Berkali-kali kau memberi peringatan tentang pentingnya hal-hal kecil dan sederhana

Tetapi aku tak dapat menangkap maksud perkataanmu

Begitu banyak peringatan, begitu banyak tanda-tanda dan benar apa yang kau katakan bahwa aku tak pernah mampu menangkap tanda-tanda itu

Kini aku menangis lagi dalam keremangan malam

Di ruang sel sempit dalam kesendirian, tanpa kehadiranmu di sisiku

Kini aku harus mulai mampu membaca diri memahami kekurangan dan ketidakberdayaanku

Agar sanggup membalikkan keadaan di kemudian hari

Aku harus mampu membaca dan memahami tanda-tanda yang pernah kau berikan, dalam kesendirianku

Di tengah ruang dan waktu sepertiga malam ini

Ya, aku pernah mendengar lagu tentang ini

Semoga akan berakhir indah bersamamu…

Dalam lindungan Sang Maha Cinta…

Dan Maha Penolong atas kelemahan dan kekhilafan hamba-hambaNya…. (*)

Oleh: Supadilah Iskandar

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.