Perkuat Batas Selatan NKRI, Simon Petrus Kamlasi Dirikan Pabrik Amunisi di NTT

oleh -1826 Dilihat
banner 468x60

RADARNTT, Kupang – Membangun pertahanan wilayah perbatasan bagian selatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Calon Gubernur NTT nomor urut 3, Simon Petrus Kamlasi mengusulkan pembangunan pabrik amunisi di NTT.

“Pabrik amunisi cukup sederhana bisa dikerjakan masyarakat biasa tanpa butuh keahlian khusus yaitu mengisikan bubuk mesiu kedalam selongsong peluru. Seperti mengisi tembakau dalam linting rokok di pabrik rokok,” jelasnya dalam jumpa pers di Kupang belum lama ini.

Selain menyediakan amunisi bagi TNI, kata Simon Petrus Kamlasi, pabrik amunisi juga akan menyerap banyak tenaga kerja lokal yang tidak butuh banyak keahlian sehingga bisa dikerjakan oleh masyarakat umum.

“Kita harap pabrik ini bisa menyerap banyak masyarakat sebagai tenaga kerja,” kata Jenderal bintang satu berpengalaman di bidang logistik dan peralatan militer di TNI AD itu.

Hal ini, kata Simon Petrus Kamlasi, akan diusulkan kepada Presiden melalui Menteri Pertahanan RI karena Indonesia baru saja memiliki PT Sapta Inti Perkasa, sebagai pabrik amunisi pertama di Indonesia yang menjadi lini produksi amunisi terintegrasi.

Keberadaannya secara resmi di bawah pelatihan Kementerian Pertahanan RI, sesuai penetapan sebagai Industri Pertahanan Swasta dengan Nomor Surat: SP/14/IV/2020/DJPOT. Serta Izin Pemberian Produksi dengan Nomor Surat: SIPROD/11/V/2020/DJPOT

Secara terintegrasi, Sapta Inti Perkasa akan memproses penyediaan bahan baku (CoilStrip) CuZn28 dan CuZn10, Brass Cup, pembuatan selongsong, proses assembling amunisi, quality control hingga proses packing.

Kehadiran PT. Sapta Inti Perkasa berkontribusi dalam membangun kemandirian dan kekuatan pertahanan Indonesia melalui industri pertahanan swasta yang mandiri, solid dan berdaya saing tinggi.

Saat ini telah berhasil memproduksi brass cup dan selongsong kaliber 5.56 mm dan kaliber 9 mm dengan target produksi masing-masing 100 juta amunisi per tahun untuk kaliber 5.56 mm dan 100 juta amunisi per tahun untuk kaliber 9 mm yang kemudian akan ditingkatkan secara bertahap hingga mencapai 500 juta amunisi per tahun.

Berdasarkan data BPS, pada pertengahan tahun 2023, Indonesia mengimpor senjata dan amunisi serta bagiannya sebesar 202,73 juta dolar AS atau setara Rp 3,52 triliun. Angka tersebut diperkirakan terus meningkat pada tahun 2024 dan 2025. Jika nilai tersebut dapat dialihkan ke dalam negeri, akan memberikan multiplier effect perekonomian yang besar bagi perekonomian dan kesejahteraan rakyat.

Indonesia perlu belajar dari Turki, yang dalam dua dekade terakhir telah mampu melepaskan sekitar 70 persen ketergantungan atas pasokan alat perlindungan impor. Beberapa industri pertahanan milik swasta di Turki bahkan telah masuk 100 besar dunia. Seperti Alesan, Turkish Aerospace Industry, dan Roketsan. Pencapaian tersebut tidak lepas dari komitmen pemerintah Turki yang membuka pintu masuknya sektor swasta di industri pertahanan mereka. (TIM/RN)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.