60 Tahun Kesunyian 

oleh -968 Dilihat
banner 468x60

Enampuluh tahun yang lalu, di perbukitan Cibadak, Rangkasbitung, seorang penambang emas yang masih muda bernama Hafiz, berkata kepada tunangannya, Fauziah, sambil tersenyum manis, “Sayangku, di acara pernikahan nanti, kita akan mengundang seluruh teman-teman di pertambangan Cibadak. Semoga Allah memberkati kita, dikaruniai umur panjang, rumah-tangga yang sakinah berkat izin dan ridho Allah Subhanahu Wata’ala.”

Nama keduanya sudah terdaftar di Kantor Urusan Agama (KUA), bahwa acara pernikahan akan dilangsungkan pada hari Senin, 1 Oktober 1963. Beberapa petugas KUA mengucapkan selamat kepada kedua calon pengantin, “Semoga Allah merestui kalian berdua, melapangkan rizkinya, serta dikaruniai anak-anak yang saleh dan salehah…”

“Amiin,” keduanya menyambut seraya mengucapkan terimakasih.

“Semoga acara pernikahannya berjalan lancar, dan tidak ada yang memisahkan kalian berdua, kecuali kematian,” demikian ujar yang lainnya.

Keesokan harinya, lelaki calon pengantin melintasi rumah tunangannya dengan seragam lengkap seorang penambang emas. Fauziah sudah menunggu di depan rumah, tersenyum merekah menyambut keberangkatan Hafiz, sambil membetulkan topi penambangnya yang agak miring ke kiri. Sejak pagi itu, mereka melambaikan tangan dari kejauhan, sampai kemudian tak pernah berjumpa kembali dalam sisa umur mereka.

Hafiz tak pernah kembali dari pertambangan, dan di sepanjang sisa umurnya Fauziah tak pernah melupakannya. Ke mana pun ia pergi, selalu membawa sapu tangan merah yang pernah diberikan kekasihnya. Di rumah, ia meletakkan sapu tangan itu di tempat khusus, pada sebuah kotak kecil antik yang sengaja dibelinya dari Pasar Baru.

Kadang ketika dirundung rasa rindu, ia menangisi sapu tangan itu dalam genggamannya, dan tak seorang pun boleh mengusik kebiasaan itu, seakan sudah menjadi ritual tersendiri baginya.

Sementara itu, tersiarlah kabar mengenai kekisruhan politik di ibukota Jakarta. Pemerintah Soekarno diambil-alih oleh militerisme Orde Baru di bawah kekuasaan Jenderal Soeharto. Indonesia menggalakkan pembangunan dengan biaya utang dari luar negeri. Investor-investor berdatangan silih-berganti. Ekonomi, budaya dan pendidikan berjalan di bawah kepentingan kapitalisme asing. Sampai kemudian memasuki era tahun 1998, para pemuda dan mahasiswa menyerbu kantor DPR/MPR. Presiden Orde Baru tumbang, kredibilitasnya terpuruk lantaran korupsi, kolusi dan nepotisme. Berganti dengan wakilnya Habibie yang mendukung era reformasi.

Presiden Abdurrahman Wahid akhirnya terpilih. tetapi juga tumbang oleh kekuatan elit politik. Lalu, muncullah presiden penggantinya Megawati. Dalam ajang kontestasi pemilu, seorang jenderal militer yang dikenal humanis, Yudhoyono tampil sebagai presiden, lalu terjadi kontestasi pemilu berikutnya, yang dimenangkan oleh Presiden Joko Widodo dan seterusnya.

Di sepanjang dekade terakhir telah terjadi berkali-kali kekisruhan politik, gempa bumi dan tsunami terjadi di Aceh, Sulawesi, hingga meletusnya Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Puluhan dan ratusan ribu manusia Indonesia mati bergelimpangan, tertimbun gempa dan longsor, bahkan ratusan ribu yang tewas akibat virus corona yang mengakibatkan pandemi Covid-19 di sekitar tahun 2020 hingga 2022.

Sejak memasuki era milenial, para selebritas dan politisi saling membuka aib dan kelemahannya masing-masing. Yang satu berkoar-koar membuka aib saudaranya yang dipenjarakan, kemudian pihak terpenjara membuka pula aib saudaranya hingga saling bersinambung satu sama lain. Mereka bagaikan sibuk berlomba menyalakan api, sampai kemudian terbakar oleh api-api yang disulutnya sendiri.

Pada saat yang sama di daerah Baduy, Rangkasbitung, para petani terus menabur dan menuai. Para penggiling di desa-desa terus menumbuk padi dan jagung, para pembuat logam memanggul palu, golok dan cangkul. Para tukang anyaman dan penenun juga rajin menenun dan memintal benang, serta menyelesaikan hasil kreasi mereka. Begitu pun para penambang emas menggali untuk mendapatkan secuil bulir-bulir emas di tempat kerja mereka di bawah tanah.

Kemudian, memasuki tahun 2023, ketika Presiden Jokowi hendak membuka jalur selatan, serta membangun jalan tol puluhan kilometer antara Rangkasbitung, Cibadak, menuju arah laut selatan di daerah Panimbang, para pekerja menggunakan alat-alat berat menggali kembali bekas puing-puing para penambang emas yang sudah tak berfungsi lagi.

Sedalam tujuhpuluh meter di bawah tanah, jasad seorang pemuda terendam vitriol berbesi, tetapi anehnya, jasad itu tidak sedikit pun tersentuh oleh kerusakan dan tidak mengalami perubahan sama sekali. Usianya masih sangat dikenali, sekitar 25 tahun, seolah-olah ia baru meninggal dua atau tiga hari yang lalu.

Ketika para pekerja membawanya ke permukaan, kemudian pihak polisi mengirim jasadnya ke tengah keluarga, hampir semua keluarga dan saudara-kerabatnya sudah meninggal dunia. Ayah-ibunya sudah tidak ada, bahkan teman-teman sepantarannya hanya sedikit yang masih hidup. Tak ada yang mengingat wajahnya yang masih muda belia itu, bahkan tak ada yang mengingat kecelakaan para penambang yang pernah terjadi puluhan tahun silam, bahkan setengah abad lebih.

Sampai kemudian, datanglah seorang wanita tua bongkok sekitar 84 tahun. Ya, dialah Fauziah yang masih tetap mengenali tunangannya 60 tahun lalu, ketika mereka berpisah di pagi hari, tetapi tak lagi pulang ke rumah hingga saat ini. Wanita tua itu betul-betul mengenali wajah Hafiz, yang tampaknya masih sangat muda belia, tidak seperti dirinya yang beruban, keriput dan bongkok. Tampak di wajahnya suatu kebahagiaan daripada rasa duka. Ia mengambil sapu tangan merah dan mengelap bulu mata calon suaminya yang agak basah.

“Namanya Hafiz, dia adalah tunangan saya,” ujar wanita tua itu. “Dan saya merasa telah kehilangan dia selama 60 tahun ini. Hampir setiap hari, bayangan tentang dirinya tak pernah terlupakan dalam ingatan saya. Semoga Allah merahmati tunangan saya ini, serta melapangkan kuburnya.”

Hati orang-orang merasa tersentuh menyaksikan kesedihan nenek tua yang mengingat kembali masa lalunya bersama sang calon pengantin. Meskipun kini ia telah kehilangan kecantikannya, sementara calon pengantin pria masih tetap belia dengan wajah yang segar layaknya pemuda berusia 25 tahun. Kini, bara cinta muda terpercik kembali dalam pikiran dan perasaan sang nenek, meskipun jasad itu tak sanggup lagi membuka mulutnya untuk tersenyum, atau sekadar mengucap, “Sayangku”.

Keesokan harinya, ketika sang mayat harus dikebumikan secara layak, tiba-tiba berdatangan para penambang dari berbagai daerah menuju masjid dan ikut menyolatkan jenazah Hafiz. Mereka berpakaian rapi layaknya menghadiri acara pernikahan sambil mengabadikan gambar-gambar mereka di depan pelaminan.

Mereka turut mengantar sampai ke tempat pemakaman. Nenek Fauziah merasa terharu menyaksikan para pelayat yang bertakziah, dan sesekali mengusap tetes air matanya yang selalu berlinang.

Sambil memercikkan air putih di pusara calon suaminya, Nenek Fauziah berucap pelan: “Calon suamiku ini hanya pekerja biasa yang jujur, orang baik-baik, dan dia bukan seorang koruptor yang menipu dan memakan uang rakyat. Sampai kapan pun, kita layak merindukan manusia-manusia Indonesia seperti ini.”

Beberapa bulan kemudian, Nenek Fauziah dibawa ke rumah sakit, dan menghembuskan nafasnya yang terakhir. Orang-orang berdoa, agar sekiranya Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih merahmati dan melindungi keduanya, serta dipertemukan di alam surga yang telah dijanjikan-Nya bagi orang-orang yang berbuat baik. ***

Oleh: Indah Noviariesta

Penulis adalah Prosais generasi milenial, menulis cerpen dan esai di berbagai media luring dan daring

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.