Mimpi dari Sa Ate Gaikiu Tanawawo

oleh -627 Dilihat
banner 468x60

RADARNTT, Maumere – Fransiskus Randis, seorang guru sekaligus salah satu pendiri SMP Negeri 48 Sa Ate Gaikiu, Desa Bu Utara, Kecamatan Tanawawo, Kabupaten Sikka. Hampir dua tahun sekolah ini berdiri, mereka masih menggunakan satu bangunan rumah dengan satu atap sederhana, berlantai tanah, berdiding bambu dengan dua ruangan kelas.

SMP Negeri 48 Sa Ate Gaikiu berjarak hampir ratusan kilo meter dari pusat kota Maumere, dan bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua dengan memakan waktu selama dua jam. Sepanjang perjalanan, pemandangan Maumere bagian selatan ini cukup memanjakan mata. Namun, akses jalan masih menjadi penghambat paling utama ditambah medan yang cukup terjal.

Belasan kilometer jauhnya, hingga jauh di atas bukit berdiri sebuah rumah sederhana berdinding bambu menghadap ke arah pemandangan lepas. Di belakangnya nampak bukit menjulang nan hijau. Di depan sekolah itu terdapat satu tiang berdera di tengah lapangan yang luas. Sekolah negeri yang dibangun berdasarkan perjuangan dan rasa ingin untuk belajar. SMPK Maria Gunung Karmel Wolofeo, dan SMP Negeri 2 Paga menjadi sekolah yang harus mereka tempuh selama tujuh sampai delapan kilo meter sebelum SMP Negeri Sa Ate berdiri.

Randis berkisah, keinginan untuk membangun sekokah itu, karena ada rasa belas kasihan dengan anak-anak mereka yang harus berjalan kaki puluhan kilo meter untuk mengenyam pendidikan menengah pertama.

“Pikiran kita bahwa kita ingin anak-anak, terutama di wilayah kami ini. Kita mau memberikan layanan pendidikan yang dekat dan terjangkau, dan juga layak bagi anak-anak. Jadi untuk beberapa tahun sampai 2024 itu, anak-anak kami mereka harus berjalan enam sampai delapan kilo meter ke sekolah terdekat bukan karena kendaraan, jadi kami merasakan betul sulitnya menjangkau pendidikan,” kisahnya.

Ia menambahkan, kondisi jalanan yang rusak serta topografi wilayah yang menanjak serta medan yang kurang bagus, menjadi hambatan bagi anak-anak untuk berangkat ke sekolah.

“Betapa kami merasakan betul itu, sulitnya menjangkau pendidikan. Ini baru tingkatan kedua di SMP, tapi sangat sulit sekali. Apalagi dengan topografi dan wilayah kami ini yang cukup jauh, tambah lagi dengan kondisi jalan, terus medan yang kurang bagus juga, itu yang menjadi motivasi awal kami untuk menghadirkan sekolah ini,” tuturnya.

Motivasi yang besar serta dukungan penuh dari masyarakat inilah yang membuat Randis bersama dengan masyarakat sekitar untuk mulai mendirikan sekolah. Di atas tanah tanpa keramik yang mulus, di atas tanah dari hasil donasi dari warga, disinilah SMP Negeri 48 Sa Ate resmi berdiri. Tepat Juli tahun 2024, mereka mulai merintis pendidikan.

Hingga satu setengah tahun berdiri, SMP Negeri 48 Sa Ate Gaikiu masih dalam kondisi seperti awal. Belum ada perubahan. Dinding kayu seolah telah menjadi teman yang setia mendampingi.

Kekurangan buku, fasilitas dan infrastruktur membuat siswa-siswi merasa tidak nyaman. Menurut cerita Randis, terkadang anak-anak harus menjadikan kursi sebagai meja dan tanah sebagai alas duduk, hanya karena kekurangan bangku dan meja.

“Anak-anak itu mereka lebih polos. Secara fasilitias itu kita jauh dari teman-teman lain jadi meja. Bahkan meja juga komite yang belikan, dibiayai kursi juga masih pinjam dari desa. Terkadang mereka tulis di atas kursi lagi, mereka duduk di bawah lantai tanah. terkadang hujan, di tanah kadang airnya masuk, dengan ruang belajar yang sempit, kursi meja yang terbatas, juga kalau hujan sementara belajar air masuk jadi ya kurang nyamanlah,” imbuhnya.

Dalam proses belajar fasilitas penunjang lain seperti buku dan ATK, bagi Randis masih dalam proses penambahan. Beberapa bantuan sempat datang, namun masih ada yang tidak bisa terpakai karena tidak sesuai dengan jenjang pendidikan.

“Soal buku-buku juga untungnya kemarin ada yang bantu dari komunitas dari Jakarta jadi masih bisa dipakai, tapi ada yang tidak bisa terpakai karena ada buku yang dari SMA punya,” ujarnya lirih.

Namun di tengah kekurangan fasilitias serta akses yang tidak mendukung, anak-anak masih menunjukkan semangat belajar cukup tinggi. Di tengah sulitnya akses dan fasilitas serta ruangan terbatas, tak serta merta melemahkan semangat belajar mereka.

“Mereka menunjukkan semangat belajar yang bagus, walaupun dengan fasilitas sekolah yang sangat terbatas. Ada yang harus melewati bukit, jalan dua sampai tiga kilo meter, lewat di kali (Sungai), dan Walaupun hujan mereka setia datang. Jadi sayang kalau kami sebagai guru kalau mereka sudah datang dan kami melewati KBM jadi biar tidak nyaman, kami kondisikan untuk belajar,” tandasnya.

Di balik sekolah yang sederhana dan siswa dan guru yang selalu semangat, tersimpan seribu mimpi dari mereka. Di tengah masa sulitnya, mereka berharap agar bisa mendapatkan fasilitas yang terbaik sama seperti siswa lain pada umumnya.

“Kami punya mimpi besar untuk besar untuk anak-anak dan sekolah ini, kami lihat anak-anak di tempat kami ini bisa mendapat kesempatan yang sama dengan anak-anak di tempat lain, karena melihat kembali apa yang kami alami di masa-masa dan hari-hari sulitnya kami. Untuk kedepannya, kami berharap smp negeri 48 sa ate ini memiliki gedung yang kokoh, juga fasilitas yang lengkap, dan juga lingkungan belajar yang aman,” imbuhnya.

Hingga saat ini, jumlah siswa menjadi dua kelas yaitu kelas tujuh dan delapan berjumlah 52 siswa, 11 guru, 3 tenaga pendidikan, dan 1 penjaga sekolah.

“Sekolah ini tidak hanya hadir secara fisik tapi benar-benar menghadirkan perubahan bagi generasi kami di tempat ini. Kami percaya pendidikan itu bisa merubah sesuatu. Jadi banyak hal yang bisa dirubah dengan pendidikan,” pungkas Randis mengakhiri wawancara hari itu. (RA/RN)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.