Oleh: Eeng Nurhaeni
Di dalam Al-Quran Tuhan berfirman, bagi siapa yang bersyukur akan Ku-tambah nikmat yang ada padanya, tetapi bagi yang kufur (menolak) maka azab-Ku terasa pedih. Ungkapan ini selaras dengan hukum semesta tentang vibrasi dan frekuensi positif, bahwa selayaknya kita berbaik sangka (husnudzan) pada karunia dan anugerah yang dilimpahkan dalam hidup kita, bahkan sejak kita lahir ke muka bumi ini.
Sejak dihembuskan nafas pertama pada usia empat bulan di dalam kandungan, ruh itu menyatu di sekitar tubuh manusia. Mengapa saya katakan “di sekitar”, karena sampai saat ini ilmu pengetahuan secanggih apapun, belum sanggup memaknai hakikat “ruh” yang sebenarnya. Al-Ghazali menyatakan, bahwa ruh itu meliputi jasad manusia, tetapi keberdaannya bukan di dalam, juga bukan di luar jasad manusia. Pada prinsipnya, kitab suci agama apapun belum sanggup mendefinisikan hakikat ruh, sehingga eksistensinya mutlak dalam pengetahuan ilahi.
Ruh atau jiwa manusia termanifestasi ke dalam pikiran dan perbuatan manusia, sedangkan “nafas” masih bisa dirasakan keberadaannya. Tanpa adanya nafas, jasad manusia akan mati, tak bernyawa, demikian pula dengan pikiran dan perbuatannya. Untuk itu, anugerah hidup ini harus disyukuri, tak boleh diingkari atau disia-siakan. Mensyukuri hidup, identik dengan menikmatinya, dalam batas-batas etika dan aturan Tuhan yang mengejawantah ke dalam norma dan hukum semesta. Artinya, demi untuk kebaikan dan keselamatan manusia (dan makhluk Tuhan di muka bumi ini), Tuhan menyampaikan perintah dan larangan agar dilakoni manusia sebagai khalifah, melalui orang-orang pilihan-Nya (Nabi dan Rasul).
Ajaran-ajaran Tuhan yang prinsipil sebenarnya mudah dipahami, karena akan konsisten dan selaras dengan hukum semesta dari ajaran agama dan kepercayaan apa pun. Bagi yang menolak atau menentang, pasti akan dirasakan dampaknya. Bahkan, jika pun penolakan (kufur nikmat) itu dilakukan oleh para leluhur kita, maka para anak-cucu juga akan merasakan dampak negatifnya. Karena itu, di dalam Islam, perintah-perintah untuk mendekatkan diri pada Tuhan Semesta Alam (taqarrub) ditekankan agar terputusnya mata-rantai karma leluhur melalui amalan anak yang baik dan saleh.
Karma leluhur itu semakin diremehkan justru semakin mengikat hidup manusia. Karena itu, di dalam Islam bukannya tak ada konsep “karma leluhur” tetapi ia melekat dalam DNA kepribadian, yang akan terputus mata-rantai itu jika manusia mendekatkan diri pada Sang Khaliq.
DNA kepribadian itu bisa positif dan juga negatif. Ketika leluhur kita minim pendidikan (tak terpelajar) justru DNA kepribadian negatif paling dominan. Untuk itu, selayaknya kita sebagai manusia terpelajar dapat legawa memahami mereka. Dan kita akan mudah memaklumi jika mendalami konsep dasar pendidikan, yakni menekan dan mengikis potensi negatif, juga meningkatkan potensi positif yang sudah ada pada diri kita.
Ihwal musibah
Dalam suatu hadits qudsi, Allah berfirman, “Cintailah yang ada di bumi, niscaya semesta dan penduduk langit akan mencintai kalian.” Di sisi lain, Allah juga berfirman: “Aku akan memposisikan diri-Ku sesuai dengan prasangka hamba-hamba-Ku.”
Secara implisit Tuhan menegaskan, bahwa jika manusia berprasangka baik terhadap pemberian dan anugerah Tuhan (rizki), maka rizki-rizki lainnya akan ditambah dan ditambah dalam keberlimpahan. Tetapi, jika dalam fase tertentu manusia ingkar (kufur nikmat), maka jangan salahkan Tuhan, jika manusia terjatuh ke dalam azab dan ujian hidup yang amat berat (musibah).
Tetapi pada prinsipnya, dalam kehidupan ini, semua manusia akan dihadapkan pada ujian dan cobaan hidup. Tentu saja bagi yang ingkar (kafir) dan bagi yang beriman, akan terlihat dari bagaimana cara menyikapi ujian tersebut. Adakalanya kita melihat orang yang tetap tenang dan sabar dalam menghadapi musibah, namun di sisi lain (jika lemah imannya) seseorang akan mengalami penyesalan dan penderitaan berkepanjangan, hingga merasa skeptis dari rahmat Tuhan.
Trauma menghadapi musibah, dalam kaitannya dengan rizki, sama halnya dengan trauma lantaran hartanya pernah hilang atau ditipu oleh orang lain. Tetapi, seorang yang beriman, akan kembali tenang dan ridho pada ketentuan Tuhan, jika pun dalam perjalanan hidupnya pernah dicurangi atau dikhianati orang lain.
Segala nasib baik maupun buruk, hakikatnya lantaran Allah memberikan izin atas kejadian itu. Musibah yang menimpa manusia, baik disebabkan perilaku orang jahat maupun kejadian alam, juga lantaran Allah memberinya izin. Namun, seringkali manusia bertanya-tanya sambil menyesali hidupnya: “Ya Allah, apa kesalahan saya, hingga tertimpa musibah sebesar ini?”
Ketahuilah, jika manusia memiliki kualitas iman yang baik, bahkan jika kakinya tersandung atau terkena duri sekali pun, dia akan dapat membaca dan mengetahui penyebabnya. Dia takkan melemparkan tuduhan kesalahan pada orang lain, makhluk halus (jin), apalagi sampai menghujat dan bersu’udzan pada Tuhan. Akan tetapi, dia akan bertanggung jawab, bahwa segala penyebab musibah itu, besar maupun kecil, pasti diakibatkan dosa dan kesalahan yang pernah dia lakukan di masa lalu.
Hal ini senada dengan ungkapan dalam Injil Lukas 13:1-9, ketika Yesus dihadapkan oleh pertanyaan mengenai dua kategori musibah, yang satu disebabkan pembunuhan, satunya lagi disebabkan kejadian alam (robohnya Menara Siloam). Yesus menolak anggapan, bahwa mereka yang terkena musibah itu adalah orang-orang yang banyak dosanya, tetapi justru beliau menekankan pentingnya introspeksi diri dan pertobatan bagi seluruh rakyat.
Syukur nafas
Banyak motivasi yang bersifat saintifik maupun spiritual mengenai konsep uang dan rizki. Mereka seakan serempak memaknai hakikat uang atau rizki sebagai energi. Untuk itu, mensyukuri uang sebagai energi sehaluan dengan kewajiban mensyukuri “nafas” yang memberi kehidupan. Karena itu, mensyukuri nikmat hidup selaras dengan mensyukuri rizki yang dianugerahkan Tuhan, bahkan sejak kita berada dalam kandungan.
Jika kita mengabaikan “syukur nafas”, maka apakah bedanya dengan manusia yang mengingkari “syukur nikmat”. Padahal, seringkali seorang muslim Indonesia mengeluh, kenapa yang kaya makin kaya, tetapi yang miskin justru semakin miskin. Lalu, apakah selama ini kita menyadari, bahwa jika bersyukur maka akan ditambah nikmat itu, ataukah hanya mengatakan “syukur” sebatas orasi ceramah di mimbar, tanpa dapat menghayati arti yang sebenarnya?
Mengapa banyak pejabat tinggi yang tetap merasa panik dan galau, bahkan tetap takut miskin, hingga ia terus melakukan korupsi dalam skala milyaran hingga trilyunan? Sebaliknya, mengapa banyak orang miskin merasa takut menjadi kaya, meskipun kekayaan itu berhak diraih, jika diperoleh dengan cara yang halal?
Ketahuilah, bahwa konsep “syukur nikmat” itu hanya selaras dengan vibrasi dan frekuensi positif, yang akan terus menambah keberlimpahan dalam hidup manusia. Sedangkan, frekuensi negatif hanya selaras dengan “kufur nikmat” yang selalu dihantui kepanikan, ketakutan dan kegalauan.
Karena itu, manusia beriman yang syukur nikmat, harus berani menjadi kaya, bahkan juga berani menjadi miskin. Sebab, jika manusia berani kaya, dia akan gigih dan tekun dalam berkreasi dan mencari nafkah, begitu pun sebaliknya, manusia yang berani miskin akan rajin berderma dan bersedekah, hingga nikmat kekayaan itu pasti akan ditambah dan dilipatgandakan secara terus menerus.
Akhirnya, perlu dicamkan di sini, jika manusia Indonesia takut kaya dan takut miskin, maka apakah dampaknya kemudian?
Sesungguhnya, orang yang takut kaya, maka frekuensi negatif akan selalu menyertai hidupnya, hingga ia akan terus kesulitan menjadi kaya. Sebaliknya, jika orang Indonesia takut miskin, niscaya ia akan sibuk menumpuk harta, pelit, bakhil, sampai kemudian harta yang ditimbunnya itu, dituntut pengembalian hutangnya oleh semesta. Terlebih, jika kekayaan yang ditumpuk itu dihasilkan dari korupsi atau illegal logging. Hanya Sang Waktu yang pasti akan menjawabnya.(*)
Penulis adalah Pengasuh Ponpes Al-Bayan, Rangkasbitung, Banten, menulis esai dan opini di berbagai media nasional, di antaranya Kompas, Media Indonesia, NU Online, Bangka Pos, tokoh.id, majalahelipsis, alif.id, ruangsastra.com, dan lain-lain







