RADARNTT, Kupang – Menjembatani peluang bekerja ke Negeri Sakura Jepang bagi tenaga kesehatan (Nakes) Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Musubu melakukan sosialisasi di Politeknik Kesehatan (Potekkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia di Kupang
Direktur Rekrutmen LPK Musubu yang berpusat di Ubud Bali, Yofani Yuki Francis melakukan sosialisasi pada Jumat (23/5/2025) di Aula Cendana Wangi Gedung Direktorat Potekkes Kemenkes Kupang yang dihadiri 100 lebih mahasiswa dari berbagai jurusan, Direktur dan Wakil Direktur III.
Yofani Francis menyampaikan peluang kerja yang sangat menjanjikan di Jepang bagi para Nakes dengan penghasilan yang cukup baik mencapai Rp25 juta per bulan.
Dalam pemaparannya, Yofani Francis juga membeberkan bonus demografi di Indonesia yang sedang terjadi dan mencapai puncaknya pada tahun 2045 akan menjadi peluang atau bencana.
“Bonus demografi yang dimaksud adalah masa di mana penduduk usia produktif (15-64 tahun) akan lebih besar dibanding usia nonproduktif (65 tahun ke atas) dengan proporsi lebih dari 60 persen dari total jumlah penduduk Indonesia. Momentum tersebut tentu saja harus dihadapi dengan perencanaan yang matang,” tegas Yofani
Negara yang sukses mengelola Bonus Demografi adalah Korea Selatan melalui muncul dan berkembangnya Industri kreatif di negara itu yang menyerap banyak tenaga kerja produktif.
Yofani juga menyentil masalah pengangguran di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang cukup tinggi, mencapai 6,6 ribu pada tahun 2024, termasuk didalamnya ada Nakes.
Dalam catatan rata-rata setiap tahun NTT meluluskan 1.000 perawat (sumber PPNI NTT) dan daya serap pemerintah NTT setiap tahunnya adalah 15 – 20 persen.
“Masalahnya, 80 persen lulusan lainnya terserap di sektor pekerjaan apa?,” tegas Yofani.
Hampir 50 persen lulusan setiap tahun tidak bisa terserap di dunia kerja 1 – 3 tahun setelah lulus pendidikan keperawatan (potensi pengangguran intelektual sangat tinggi).
Di sisi lain, kata Yofani, Jepang memerlukan dukungan caregiver asing sebanyak 800.000 – 1.000.000 untuk mendukung kebutuhan caregiver oleh lansia di Jepang untuk 3 – 5 tahun ke depan.
Untuk itu, LPK Musubu menjembatani masalah dan peluang ini dengan merekrut dan melatih para Nakes Indonesia, khususnya NTT untuk dikirim bekerja di Jepang.
“Kerja di Jepang menarik bagi anak muda Indonesia,” tegas Yofani.
Jepang menjadi tempat belajar yang baik sebagai negara maju, budaya kuat dipertahankan, orang Indonesia lebih mudah menyesuaikan diri di Jepang, tingkat keamanan yang tinggi, kepastian hukum dan hak-hak pekerja asing dijamin dengan gaji besar (Rp20 sampai Rp25 juta per bulan).
Yofani juga mendorong anak muda NTT, khususnya Nakes yang sedang studi pada Poltekkes Kemenkes di Kupang agar mempersiapan diri dengan belajar yang giat, meningkatkan kapasitas dan skill yang baik termasuk kemampuan berbahasa asing.
Dia menegaskan bahwa LPK Musubu adalah lembaga resmi yang memiliki izin pelatihan dan pemagangan (SO) dari Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (Binalattas) Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker) RI.
Permintaan pasar Jepang kepada Musubu tahun 2025 untuk Nakes NTT meningkat menjadi 60-80 perawat per tahun dan trend peningkatan akan naik terus.
“Mitra Musubu di Jepang semakin konfident dengan Nakes NTT,” tutur Yofani.
Ia meminta agar kampus dan sekolah keperawatan wajib meningkatkan kualitas pendidikan dan program vokasi yang lebih mendekatkan pada pasar caregiver di Jepang. Dan dukungan pihak ketiga dalam pembiayaan program Nakes ke Jepang sangat deperlukan.
Kerja sama dengan Poltekkes Kemenkes Kupang sudah dimulai dengan penandatangan MoU Tahun 2022. Lulusan perawat kelompok pertama diinterview 20 siswa yang siap berangkat 6 siswa.
“Sampai dengan 2024 sudah 9 siswa Poltekkes yang sudah ditempatkan LPK Musubu dan PT P3MI Solusi Bali Berkarya bekerja di Jepang,” sebut Yofani.
Menurut Yofani, hambatan utama adalah soal ijin orang tua dan masalah pembiayaan ke Jepang. Untuk itu, butuh kepercayaan diri dalam meyakinkan orang tua dengan persiapan diri yang mantap, sementara pembiayaan butuh Rp6 juta untuk sampai di Jepang, maka LPK Musubu juga menyiapkan talangan biaya bagi yang tidak punya biaya akan ditanggung melalui koperasi yang nanti dikembalikan setelah bekerja di Jepang.
Dia mengharapkan dalam setiap wisuda yang dilakukan Poltekkes Kemenkes Kupang ada 10 – 20 perawat bisa terserap untuk bergabung dalam program kerja ke Jepang.
Usai sosialisasi, ada belasan mahasiswa Jurusan Kebidanan yang duduk di Semester VI menyatakan kesediaannya mengikuti interviu dan seleksi oleh LPK Musubu untuk bekerja di Jepang setelah lulus studi di Poltekkes Kemenkes Kupang pada akhir tahun ini.
Yofani Fransis juga berjanji akan datang lagi ke kampus Poltekkes Kemenkes Kupang pada awal Juni mendatang untuk melakukan interviu dengan belasan mahasiswa yang sudah menyatakan kesediaanya.
Dalam waktu dekat LPK Musubu akan melakukan interviu terhadap para mahasiswa Poltekkes Kemenkes di Kupang agar setelah lulus langsung mengikuti pelatihan selama enam bulan di Bali kemudian dikirim ke Jepang.
“Kita akan interviu mereka adik-adik mahasiswa, ada belasan orang yang bersedia diinterviu awal bulan Juni nanti,” kata Yofani.
Selama enam bulan persiapan dan pelatihan di LPK Musubu akan memperkuat bahasa dan budaya Jepang, sistem kerja dan peralatan di Rumah Sakit Jepang. Karena para calon tenaga kerja Nakes akan ditempatkan di Rumah Sakit sebagai pengasuh para lansia. (TIM/RN)








