RADARNTT, Kalabahi – Pagi itu, Kamis 28 Agustus 2025, puncak Ladon menyambut dengan kesejukan khas pegunungan. Kabut tipis yang bergelayut di antara pohon cengkeh, pinang, dan kemiri seakan menjadi saksi bisu ikrar sekelompok petani di Desa Dulolong Barat, Kecamatan Alor Barat Laut. Di bawah rindang pepohonan, lahirlah sebuah tekad bersama: membangun persekutuan perjuangan dalam wadah Kelompok Tani Emas Hijau.
Nama “Emas Hijau” dipilih bukan tanpa makna. Ia lahir dari kesadaran bahwa alam yang menghijau adalah harta tak ternilai. Kehijauan itulah yang menyejukkan mata, menenangkan jiwa, dan sekaligus menjanjikan masa depan yang lebih sejahtera bagi keluarga petani.
Acara pengukuhan kelompok tani yang beranggotakan 20 orang ini berlangsung sederhana, tetapi penuh makna. Tidak ada gemerlap panggung megah atau hiasan mewah, yang ada hanyalah nuansa kekeluargaan di kebun hortikultura. Sawi dan tomat organik yang tumbuh subur di demplot kelompok menjadi simbol kerja keras para petani.
Puluhan masyarakat ikut hadir, mendampingi para anggota kelompok tani yang berstatus pemula itu. Lebih istimewa lagi, sejumlah pejabat dari kabupaten hingga provinsi turut datang. Dari Anggota DPRD Provinsi NTT Alexander Take Ofong, S.Fil, Plt Kadis Pangan Kabupaten Alor, Kadis Pertanian dan Perkebunan, Kadis Sosial, hingga perwakilan Dinas Kehutanan dan penyuluh lapangan.
Kehadiran mereka bukan semata menjalankan tugas protokoler. Ada panggilan moral untuk menghormati petani—mereka yang selama ini menjadi garda terdepan dalam perjuangan pangan.
Kelompok Tani Emas Hijau menggarap sekitar 20 hektar lahan. Usaha mereka beragam: dari tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, hingga kehutanan. Diversifikasi ini bukan sekadar pilihan, melainkan strategi hidup. Sebab bagi petani, tanah adalah ibu yang harus dijaga, sekaligus sumber penghidupan yang harus dikelola bijak.
Pengukuhan itu ditandai dengan penandatanganan berita acara, peresmian papan nama kelompok, hingga panen simbolis tomat dan sawi. Tangan-tangan yang terampil memetik sayuran organik itulah yang menggambarkan mimpi: bahwa pertanian lokal bisa mandiri, sehat, dan menyejahterakan.
Namun, jalan menuju sejahtera tentu tidak semudah memetik tomat matang dari tangkai. Kelompok Tani Emas Hijau membutuhkan banyak dukungan: akses bibit unggul, pupuk, teknologi pascapanen, hingga jaminan pemasaran. Tanpa itu semua, semangat yang baru tumbuh bisa layu sebelum berkembang.
Para petani berharap agar penyuluh, pemerintah kabupaten, provinsi, hingga pusat benar-benar hadir. Bukan hanya saat pengukuhan, tetapi juga dalam pendampingan sehari-hari. Sebab kesejahteraan petani adalah prasyarat utama bagi ketahanan pangan daerah.
Di tengah tantangan zaman, ketika banyak anak muda meninggalkan sawah dan kebun, tekad Kelompok Tani Emas Hijau memberi secercah harapan. Mereka menunjukkan bahwa bertani bukan sekadar pekerjaan tradisional, melainkan perjuangan mulia: menjaga bumi tetap hijau, dan menghadirkan makanan sehat di meja keluarga.
Di kaki puncak Ladon, ikrar itu terucap jelas: menghijaukan kebun, menyejahterakan keluarga. Dari tanah Dulolong Barat, para petani Emas Hijau menanam bukan hanya jagung, sayur, atau cengkeh, tetapi juga mimpi besar—bahwa “emas hijau” dari Ladon kelak akan berkilau, menghidupi banyak orang. (TIM/RN)







