Suaminya Hilang di Pesantren

oleh -650 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Irawaty Nusa

Saya memakai sweater berwarna biru, celana panjang hitam dengan hak sepatu yang agak tinggi. Seragam Polwan tidak saya kenakan, supaya masyarakat lebih leluasa menyampaikan laporan atau keluhannya. Siang itu, saya menuju sebuah pesantren, ditemani anggota Polwan baru yang biasa menyopiri saya untuk keperluan melayani masyarakat. Sesampainya di lokasi, seorang security mengantar kami menuju rumah sederhana, kemudian muncullah seorang wanita paruh baya menyambut kami dan mempersilakan duduk di ruang tamu.

Saya mengambil bolpoin dan buku catatan dari tas yang saya bawa, lalu membiarkan Ibu Endang yang menghubungi saya melalui ponsel, menceritakan tentang kehilangan suaminya seminggu yang lalu.

“Orangnya rajin solat, Bu Polwan, bahkan kalau magrib dan subuh dia selalu solat di masjid pesantren.”

Saya mendengarkan ceritanya sambil mencatat poin-poin penting yang perlu dicatat.

“Dia juga rajin solat malam setelah turun dari tempat tidur, lalu melangkah ke kolam untuk mengambil air wudlu, lalu mengambil handuk kecil untuk mengelap rambut dan jenggotnya yang basah. Setelah itu, dia menggelar sejadah di ruang tengah dan melakukan solat tahajud dalam keadaan gelap…”

“Dalam keadaan gelap?” tanya saya.

“Ya, kecuali kalau dia menonton acara sepakbola di layar teve sampai tengah malam, dia akan biarkan lampu menyala, kemudian sekitar jam dua atau jam tiga pagi, langsung ke kamar dan tidur di samping saya.”

“Enggak solat tahajud?”

“Mungkin dia mengantuk setelah berjam-jam menonton acara teve, dan langsung tidur,” jawabnya sambil tersenyum.

Wanita ini memakai baju jubah dengan kerudung jilbab berwarna abu-abu. Ia melangkah ke belakang, membuatkan dua cangkir teh manis untuk kami, lalu mempersilakan kami minum.

“Pakai baju apa suami Ibu waktu itu?” sambung saya lagi.

“Pakai baju koko warna putih, memakai sarung hijau dan kopiah haji…”

“Kopiah haji seperti apa? Tolong jelaskan.”

“Kopiah yang bentuknya bulat seperti peci Yahudi itu, Bu, tapi warnanya putih. Dia senang sekali pakai peci itu kalau solat magrib, mungkin supaya orang-orang bisa membedakan mana yang belum pernah haji, dan mana yang pernah melakukan ibadah haji, kurang lebih seperti itu, Bu.”

Saya menambahkan poin-poin penting dalam buku catatan: baju koko putih, sarung hijau, dan peci haji putih.

“Jam berapa kejadiannya?”

“Sekitar jam enam, ketika dia berangkat solat magrib. Biasanya setelah solat dia membaca wirid dan zikir sebentar, lalu segera pulang ke rumah, karena jam setengah tujuh, enam orang santri sudah menunggu di serambi untuk diajar mengaji Al-Quran.”

“Hari apa itu?”

“Hari… maaf, sebentar.” Raut mukanya agak gugup, kemudian dia melangkah ke arah tembok untuk melihat kalender. “Hari ini Kamis ya? Berarti kejadiannya hari… o, iya, hari Jumat, sekitar seminggu lalu.”

“Sekarang Ibu ceritakan urutan kejadiannya, sejak suami Ibu berangkat dari rumah ke masjid, sampai kemudian menghilang dan tidak kembali ke rumah.”

Sejak percakapan melalui ponsel hingga saya kunjungi kediamannya, Ibu Endang sama sekali belum menceritakan kronologi kejadiannya. Obrolan kami masih di seputar karakter dan kebiasaan yang dilakukan suaminya sehari-hari.

“Jadi begini, Bu Polwan, keluarga kami tinggal di pesantren ini sejak kami menikah, sekitar delapan tahun lalu. Kami memutuskan tinggal di pesantren karena menurut pertimbangan kami, suasananya tenang dan aman, di tengah-tengah kehidupan para santri yang tinggal di asramanya masing-masing. Kebetulan orang tua saya, terutama Ibu yang masih hidup, tinggal sekitar satu kilometer dari lingkungan pesantren ini. Jadi, kalau sewaktu-waktu Ibu memerlukan bantuan, saya tinggal menyuruh suami saya untuk membantu beberapa pekerjaan yang sulit dilakukan orang tua yang sudah jompo, dan kadang juga lupa ingatan. Sementara, dia hanya ditemani adik bungsu saya yang juga seorang perempuan. Kalau masak di dapur pun kadang saya lebihkan supaya sisanya bisa saya kirim buat mereka, sambil memeriksa kondisi kesehatan Ibu.”

“Ibu Endang sendiri yang mengantarkan masakan itu tiap hari?” tanya saya lagi.

“Enggak setiap hari, Bu Polwan. Kadang-kadang tiga atau empat hari sekali saya perintahkan suami saya mengantarnya sambil mengendarai motor, karena saya sendiri tak bisa mengendarai motor.”

Ia menghela nafasnya dengan pandangan menerawang: “Jadi, hari Jumat lalu, aktivitas di pesantren ini normal seperti biasanya. Siang hari, ratusan anak-anak santri melakukan solat Jumat seperti biasa. Sore harinya mereka belajar di sekitar saung dan asramanya masing-masing. Menjelang azan magrib, suami saya siap-siap berangkat ke masjid. Biasanya, dia mendapat giliran menjadi imam di samping ustaz-ustaz lainnya. Sebelum berangkat ke masjid, dia sempat menyuruh saya membuatkan es teh manis, karena biasanya jam setengah tujuh dia mengajar ngaji enam orang santri yang sudah menunggu di serambi, sementara ustaz-ustaz lainnya juga mengajar sesuai jadwalnya masing-masing. Jadi, sore itu, santri-santri sudah menunggu di depan meja pendek seukuran 40 senti yang biasa dipakai ustaz-ustaz untuk mengajar ngaji. Suami saya juga dipanggil “ustaz” oleh mereka. Lalu, Es teh manis sudah saya siapkan di atas meja itu. Memang setelah delapan tahun pernikahan kami, biasanya dia hanya meminta sedikit gula, supaya aroma teh lebih terasa, dan dia belum pernah mengeluh sakit diabetes, bahkan kondisi lambung dan ginjalnya dinyatakan baik oleh dokter… jadi… sampai di mana saya tadi…”

“Sampai dokter,” kata saya.

“Oo iya, maaf Bu Polwan, saya jadi ngomong ke mana-mana.” Dia tersenyum sambil membetulkan posisi kerudungnya, menggeser duduknya sedikit, dan lanjutnya: “Sore itu, saya tanyakan kepada enam santri yang sedang duduk di serambi rumah, kenapa kalian tidak mengaji. Mereka justru terbengong-bengong karena gurunya tidak hadir. ‘Lho, Bapak ke mana?’ pikir saya, Justru para santri juga saling bersitatap dan bertanya-tanya. Saya pun mendekat ke meja, mengangkat gelas, dan es teh manis sudah mendingin, juga masih penuh. Jadi, sejak berangkat ke masjid sore itu… dia enggak pulang-pulang… dan beberapa kali saya tanyakan Bapak Security Pesantren, dia juga enggak pernah melihat suami saya keluar berjalan kaki, kecuali sambil mengendarai sepeda motor. Tetapi, ternyata sepeda motor masih ada di teras rumah.”

 Saya menunggunya agar melanjutkan ceritanya. Kepalanya tertunduk, tangannya agak gemetar sambil menyeka hidungnya. Saya mengambil tisu yang biasa saya sisipkan di dalam tas, kemudian menyodorkannya. Dia mengamit sehelai yang dia gunakan untuk mengelap mata dan hidungnya.

“Sejam kemudian, persisnya setelah solat isya, apakah Ibu Endang menghubungi Ibu yang tinggal di dekat pesantren ini?” tanya saya dengan hati-hati agar dia tidak bertambah sedih.

Ia memperbaiki kerah baju dan kerudungnya, lalu kepalanya kembali tegak. Orang yang melihat wajahnya tentu tak bisa menebak kalau perempuan ini benar-benar merasa sedih, dan habis menangis.

“Saya menelepon adik saya yang tinggal bersama Ibu, Keesokan harinya saya menghubungi kakak suami saya yang tinggal di Pelabuhan Merak. Kakak suami saya bilang, dua bulan lalu sempat berjumpa dengan suami saya untuk suatu urusan keluarga, setelah itu mereka tak berjumpa lagi.”

Saya mengangguk pelan. Ibu Endang kembali melanjutkan ceritanya, dan sesekali saya menyela, karena jika dibiarkan kadang ia bicara ke mana-mana, hingga kami kehilangan topik utama pembicaraan.

“Berarti hari Jumat sore, menjelang magrib, suami saya hilang dari rumah ini, dalam perjalanan hanya sekitar 300 meter menuju masjid pesantren.”

“Apakah suami Ibu membawa ponsel, kunci motor, atau maaf… dompet?”

“Mana mungkin dia pergi solat membawa-bawa dompet… walaupun biasanya hape sempat dia bawa… tapi kali ini, dia enggak bawa apa-apa. Bahkan, satu-dua teman yang sering dia hubungi lewat WA, juga enggak tahu.” Ia menggeser duduknya, pandangannya menerawang, “Sehari sebelum hilang, dia sempat memotong jenggotnya, karena dia merasa malu kalau jenggotnya kepanjangan. Padahal menurut saya, jenggotnya enggak panjang-panjang amat, biasa-biasa saja. Lantas, kenapa dia minta saya membuatkan teh, kalau memang sore itu mau pergi?”

“Apakah dia pernah pergi tanpa pamit?”

“Wah, ke mana-mana dia selalu bilang, Bu Polwan, bahkan kalau pergi ke rumah sahabatnya hanya beberapa kilo jaraknya, selalu dia bilang mau ke rumah siapa. Dan sahabatnya itu, selalu dia kasih tahu namanya, bahkan sifat dan kebiasaannya. Bahkan, kalau pergi bawa motor untuk suatu keperluan, sementara saya sedang tidur, selalu dia memberi tahu lewat WA. Memang, itu salah satu kesepakatan kami sejak menikah, bahwa setiap kali kami pergi, kami harus saling memberi tahu.”

Dari tadi saya terhanyut mendengar ceritanya. Sampai-sampai saya lupa menuliskan poin penting ke dalam catatan: Es teh manis… security, sahabat dan santri tidak tahu… ponsel, motor dan kuncinya ada di rumah… apa lagi tadi?

Ruangan tiba-tiba hening. Suara angin memasuki ruangan dengan membawa hawa dingin di musim penghujan. Lamat-lamat suara teve di ruang tengah memberitakan adanya banjir dan longsor di wilayah Sumatera. Terdengar sepintas seorang mahasiswa diwawancarai, lalu menjawab tentang konspirasi teori mengenai program depopulasi penduduk oleh tangan-tangan elit global di dunia ini.

“Jadi, Bu Polwan mau menangani kasus saya enggak?” tegur Ibu Endang.

Seketika saya terkesiap, membetulkan posisi duduk, menarik nafas dan berdehem beberapa kali. Saya pura-pura mencatat beberapa poin lagi. Lalu, buku catatan saya tutup, ujung bolpoin saya tekan dengan jempol.

Saya menatap wajah Ibu Endang dengan tatapan meyakinkan, “Baik, Bu, informasi sudah lengkap, dan kami siap menangani kasus ini.”

***

Pesantren itu berdiri di atas lahan seluas tiga hektar lebih. Ada bangunan asrama, kelas-kelas, rumah guru, saung-saung tempat santri istirahat atau membaca kitab dan buku, fasilitas seni dan olahraga, bahkan dilengkapi pula dengan kantin, koperasi, laboratorium komputer, dan tentu saja masjid yang cukup megah. Di lingkungan pesantren tidak ada orang berjualan. Para santri hanya diperbolehkan belanja di ruang kantin atau koperasi. Sedikit berbeda dari pesantren-pesantren salafi yang bersifat tradisional.

Ibu Endang memandu saya menyusuri jalanan sekitar pesantren. Pertama dari depan rumahnya menuju masjid, sekitar 300 meter memang. Hanya melintasi ruang asrama dan beberapa rumah guru. Kebersihan lingkungan pesantren terbilang cukup. Wanita itu mempersilakan saya melepas sepatu untuk mengitari bagian dalam masjid yang cukup terbuka. “Ibu bilang, Bu Endang belum memberi tahu pimpinan pesantren mengenai kehilangan suami Ibu sejak seminggu ini?”

“Betul, saya belum bilang. Bahkan, kepada kelapa Security juga masih saya rahasiakan, supaya para santri dan pimpinan pesantren enggak kaget.”

“Kalau begitu, nanti kalau Security menanyakan kita, Ibu bilang saja kalau saya adalah saudara jauh yang sedang berkunjung.”

“Baik, Bu,” katanya mengangguk.

Hari Minggu pagi saya kembali. Sengaja saya melepas semua aksesoris seragam kepolisian. Datang ke pesantren dengan hanya mengendarai motor matic dan mengenakan kerudung jilbab merah. Ibu Endang sudah menunggu di halaman depan rumah, langsung saya boncengi motor untuk menyusuri sekitar tiga hektar area pesantren, kemudian keluar melalui pintu belakang pesantren. Ternyata, di belakang pesantren itu terdapat kebun sekitar empat hektar milik pesantren, yang ditanami buah-buahan, umbi dan kacang-kacangan. Di bagian selatan kebun terdapat kandang-kandang ayam, serta balong-balong berisi ikan emas, lele, hingga ikan patin.

Masih belum juga menemukan petunjuk, saya mengamit batang pohon yang agak panjang untuk mengukur kadalaman balong-balong, yang ternyata hanya sekitar satu hingga satu setengah meter saja. Saya memarkir motor di sekitar balong. Ibu Endang mengajak saya mengitari sekitar kebun singkong dan jagung, ratusan pohon pepaya dan pisang, namun tidak ada siapa-siapa di situ, termasuk penjaga kebun. Badan saya mulai berkeringat, akhirnya kami memutuskan beristirahat di salah satu saung yang dibangun di sekitar pohon-pohon pepaya. Di atas balai dan tembok-tembok kayu terdapat sebuah cermin besar. Sekilas dari balik cermin wajah saya yang tampak semakin menua dan agak keriput, dengan pipi dan jidat berbulir keringat, serta busana muslim yang tampak lusuh dan basah oleh keringat.

Tak berapa lama, dari arah timur, datanglah seorang kakek tua sekitar 70-an tahun, melangkah pelan ke arah kami. “Permisi, Pak,” sapa saya dari kejauhan.

Saya menjongokkan muka ke arah Ibu Endang, namun dia sendiri rupanya tidak mengenal siapa kakek tua itu. Mungkin penjaga kebun yang baru (katanya).

“Petugas kebun di sini, Pak?” tanya saya setelah menyalami kakek tua itu.

Dia duduk di sudut balai-balai sambil menatap kebun singkong, lalu mengeluarkan sebatang rokok dari kantong bajunya yang kotor, menyulut dan menghisapnya dengan penuh selera.

“Masih suka merokok, Pak?” tanya saya basa-basi.

Sekali lagi, ia mengapit pangkal batang rokok dengan bibirnya, menghisapnya lalu menghembuskan asapnya ke udara. “Sudah lama sebenarnya saya disuruh istri agar berhenti merokok. Tapi, kebiasaan puluhan tahun sepertinya sulit untuk dilepaskan. Mungkin, sudah menjadi catatan takdir saya seperti ini. Bagaimana menurut Ibu?”

Waduh, pertanyaan yang berat bagi saya, karena sepanjang hidup, saya belum pernah menghisap rokok sebatang pun. Saya pun kurang paham, seberapa kuatnya seseorang menggantungkan hidupnya pada sebatang rokok. Setelah menghisap rokoknya sekali lagi, seperti membaca pikiran saya, dia berkata, “Saya enggak bisa membayangkan kalau hidup di dunia ini tanpa ada rokok. Mungkin sehari, sama panjangnya dengan seribu tahun.”

Dalam waktu yang cukup lama kami saling membisu, lalu saya mengamit lengan Ibu Endang, hingga saya pun menghadapkannya pada kakek tua itu, “Kakek kenal Ibu yang tinggal di pesantren ini?”

Ia memicingkan alis matanya, seakan mengingat-ingat sesuatu, kemudian sambung saya lagi, “Ibu ini sedang mencari suaminya, sudah seminggu belum pulang-pulang ke rumah. Apakah Kakek pernah melihat laki-laki, atau seorang ustaz berjalan di sekitar kebun sini?”

Kakek tua itu mengernyitkan dahinya, seperti sedang mengorek masa lalu yang sudah sangat jauh. “Pernah ada dua orang anak muda memancing di balong-balong itu. Tapi saya kurang tahu apakah mereka mengajar di pesantren atau tidak. Yang satu merokok tetapi yang satunya hanya duduk berjam-jam tanpa menghisap rokok sama sekali. Mungkin dia bukan perokok. Salah satu dari mereka mendekati saya di saung ini…”

“Apakah orangnya berjenggot, dan memakai baju koko?” pancing saya.

Dia menggelengkan kepalanya, “Saya kurang tahu persis soal pakaiannya, karena saya kurang memperhatikan orang berpakaian. Dia hanya mengobrol, dan menurut saya orangnya baik-baik saja.” Ia menghisap rokoknya sekali lagi, dengan pandangan menerawang ia manambahkan, “Selama ini saya punya pendirian, selama orang itu bersikap baik kepada saya, tentu saya juga harus bersikap baik kepadanya. Dan menurut saya, kedua orang itu biasa saja, enggak ada yang aneh.”

Ia mengisap rokoknya, menghembuskan asap, lalu menekan ujung rokok yang sudah pendek, pada sebuah batu di samping kaki kirinya. “Ngomong-ngomong, Ibu ini dari mana? Dan Ibu sendiri kenal pada dua anak muda itu?” justru ia balik bertanya.

“Saya hanya saudara dari Ibu Endang ini… sudah satu-dua hari ini saya menemani Ibu ini mencari suaminya,” kata saya berbohong.

“Oh, begitu,” katanya sambil membetulkan posisi duduknya. “Apakah suaminya juga perokok?” tanya kakek tua itu.

Ibu Endang menyahut sambil menggeleng, “Enggak… sama sekali dia enggak pernah merokok.”

“Saya sendiri enggak bisa membayangkan, bagaimana seorang suami bisa bertahan hidup tanpa rokok. Sedangkan, sebagian suami-suami itu rajin dan bisa menikmati ibadah… apakah suami Ibu juga melakukan solat?”

“Dia bahkan rajin melakukan tahajud, solat malam, dan saya enggak membolehkan dia merokok,” tegas Ibu Endang.

“Kenapa? Apakah merokok itu dilarang oleh agama?”

“Pokoknya saya mengharamkan dia merokok,” kata Ibu Endang ketus.

“Hmm,” dia mengakhiri pembicaraan, lalu melangkah pelan ke balik pohon-pohon pisang dan pepaya, kemudian menghilang dari pandangan mata.

***

“Bu Polwan, Bu Polwan, alhamdulillah suami saya sudah ditemukan, Bu!” keesokan harinya, sekitar jam lima sore, tiba-tiba Ibu Endang menelepon saya.

“Di mana?”

“Di stasiun baru Rangkasbitung. Petugas stasiun menemukan dia sedang tertidur di bangku ruang tunggu, tanpa memakai sendal. Sewaktu ditanyakan oleh mereka, dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak bicara apa-apa, hanya satu kata yang pernah dia sampaikan, yaitu nama pesantren kami. Setelah petugas stasiun mencari-cari alamat pesantren, langsung mereka mengantarkan suami saya ke rumah pimpinan pesantren, berjumpa dengan keluarga Kiai, dan langsung dibelikan sandal baru oleh Pak Kiai Pesantren.”

“Hmm, lalu pakaian lainnya?”

“Peci hajinya hilang, tetapi sarung dan baju kokonya masih melekat di badannya. Waduh, Bu, badannya kotor, rambutnya kumal, dan dia kelihatan kurus banget. Karena itu, saya juga heran, kenapa Ibu tak pernah menanyakan soal sandal, dan saya pun lupa untuk menyampaikan soal sendal. Padahal semua jenis alas kaki, baik sandal dan sepatu yang sering dipakainya untuk mengajar, masih utuh, dan semuanya ada di rumah. Kenapa masalah yang sederhana itu hilang dari ingatan kita, Bu?”

“Ya, kenapa masalah sandal ini bisa hilang dari memori kita, ya?” ulang saya menggumam.

“Lalu, apa yang terjadi selama dua minggu dia menghilang? Di mana saja selama ini?”

“Dia sendiri enggak ngerti, hanya terbengong-bengong waktu saya tanyakan. Katanya, isi kepalanya lagi kosong, sepertinya dia tidak ingat apa-apa selama dua minggu ini. Dia hanya ingat kalau dia keluar rumah untuk melakukan solat magrib. Setelah itu, ingatan berikutnya adalah ketika dia dibangunkan oleh petugas stasiun di bangku ruang tunggu penumpang.”

“Baiklah, kalau begitu,” kata saya. “Lalu, apa lagi yang bisa saya bantu sekarang?”

“Saya kira sudah cukup, Bu Polwan. Saya dan keluarga mengucapkan banyak terima kasih. Oya, saya juga ingin mengucapkan salam hormat untuk Ibu Polwan, dari teman-teman saya di grup WA, Facebook dan Instagram. Mereka membayangkan, seandainya semua aparat kepolisian di negeri ini mau betul-betul melayani rakyat kecil, tanpa mempedulikan soal viralitas, kenaikan pangkat maupun penghargaan dari instansi mana pun. Karena itu, saya sebagai pribadi, sekaligus sebagai hamba Tuhan, sekali lagi mengucapkan banyak terima kasih. Saya yakin Allah Maha Melihat, dan seluruh penduduk langit juga turut-serta menyaksikan jerih-payah dan keikhlasan Ibu dalam melayani umat…”

“Oke, baik, terimakasih sama-sama,” segera saya memotong pembicaraan, dan Ibu Endang pun menutup ponselnya.

Saya menghempaskan punggung di kursi, seraya berpikir dalam-dalam. Apa pemicu yang dapat membuat seseorang lupa pada hal-hal sederhana seperti sandal? Apa yang membuat anak-anak milenial banyak mengalami depresi hingga melakukan bunuh diri, baik di Jepang, Korea, hingga di negeri kita tercinta ini? Saya akan terus mencoba menelusuri, dan berupaya keras mencari jawabannya.

Kini, saya membuka lembaran-lembaran dalam buku catatan, dengan berbagai pertanyaan krusial, mengapa banyak orang mengalami lupa ingatan setelah pandemi Covid-19 lalu? Mengapa cuaca-cuaca buruk yang terjadi di Sumatera, tampaknya terjadi juga di wilayah dan negeri-negeri lain seperti Cina, Jamaika, Taiwan, Vietnam, Bangladesh, hingga Malaysia. Mengapa badai Atlantik 2025 ini justru tidak menimpa negeri Amerika Serikat? Apakah benar elit politik global di negeri itu berpendapat serempak, bahwa siapa yang mengendalikan cuaca, dia akan mengendalikan dunia ini? (*)

Penulis adalah Peneliti historical memory Indonesia, juga penulis prosa dan esai di berbagai media luring dan daring, di antaranya Suara Merdeka, Kabar Madura, Radar Mojokerto, Majalah Elipsis, Espos Indonesia, Jurnal Toddoppuli, litera.co.id, janang.idnusantaranews.coradarntt.netruangsastra.com, dan lain-lain

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.