Sinetron Pahlawan Kuming

oleh -1252 Dilihat
banner 468x60

Asyik banget ketika asisten saya menyodorkan ponsel, menunjukkan nomor WA Ibu Presiden Republik Indonesia. Katanya, dia suka sekali pada sinetron garapan tim kami berjudul “Komodo Siluman” yang sudah tayang sebanyak tujuh episode di siaran CTVRI. Sore harinya, seusai syuting untuk penayangan berikutnya, kontan saya menghubungi Ibu Presiden untuk mengucapkan banyak terima kasih. Ia menegaskan pada saya, “Untuk saat ini, tampaknya perlu diperbanyak acara-acara sinetron seperti Komodo Siluman ini. Supaya anak-anak Indonesia punya keberanian yang sesuai dengan semangat juang, agar tercapainya revolusi mental yang sedang kita galakkan bersama. Jadi, kalian para pekerja seni, baik sinetron maupun film harus sanggup mengemban tugas mulia ini, agar tokoh-tokoh pahlawan seperti Kuming dapat menjadi teladan bagi generasi muda kita.”

Sebelum menutup pembicaraan, Ibu Presiden tak lupa menyampaikan kritikannya, bahwa sang pahlawan Kuming mestinya diimbangi dengan sosok komodo yang kelihatan asli, sebab dalam beberapa episode terakhir, tampak ekor dan kepala komodo yang akan menerkam Kuming, terlihat seperti komodo bohongan yang kurang memberi ancaman bagi sang tokoh. “Apakah kalian bisa memperbaiki bagian itu, sehingga pada waktunya nanti, sekretariat presiden bisa mengusulkan kepada pihak CTVRI, agar masuk dalam jajaran nominasi sinetron terbaik di akhir tahun ini.”

Malam harinya, semua kru dan staf saya kumpulkan di ruang rapat, agar kami memperbaiki bagian pertarungan antara tokoh utama Kuming melawan komodo putih, yang harus ditaklukkan. Semuanya bersemangat, karena jika serial ini mampu memenangkan sinetron terbaik, artinya kami harus bersiap-siap membuat “Komodo Siluman” dalam bentuk film atau layar lebar yang boleh jadi akan memboyong Piala Citra.

Mara Sukma tetap kami putuskan sebagai Kuming selaku tokoh utama, karena Ibu Presiden terkesan dengan penampilannya sejak episode pertama. Tapi, yang jadi persoalan adalah komodo putihnya. Kalau kami harus membeli komodo sungguhan, tentu saja harganya tidak murah. Lalu, bagaimana pula kami harus melakukan syuting dengan binatang reptil yang buas itu? Perkara warna kulitnya, kami bisa menyuruh orang untuk mengecat tubuhnya menjadi putih.

Beberapa hari kemudian, saya berhasil mendapatkan surat pengantar dari sekretariat presiden. Bermodalkan surat itu, produser kami bisa meraup bantuan dana dari gubernur, walikota, dan beberapa dinas yang terkait dengan pendidikan dan kebudayaan. Tiga orang saya perintahkan menuju Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Padahal, menurut Undang-undang, kami tak diizinkan memiliki hewan sebagai fauna yang dilindungi, tetapi kami punya izin yang menyatakan bahwa kami memerlukannya untuk kebun binatang di wilayah Jakarta.

Lalu, ketiga utusan kami kembali dengan membawa seekor komodo sepanjang empat meter. Keesokan harinya, saya perintahkan dua orang staf agar mengecat seluruh bagian tubuhnya dengan warna putih.

***

Komodo putih sudah kami kurung dalam kerangkeng yang kami letakkan di belakang kantor kami. Seekor pejantan yang beratnya sekitar 200 kilogram, dengan mata menyorot tajam agak kecokelatan. Sesekali mulutnya menganga sambil menjulurkan lidahnya keluar. Kami disuruh memberinya makan 5 hingga 7 ekor ayam setiap hari. Mara Sukma merasa terkesima dan menatapnya erat-erat. Tapi semua orang tahu, Mara adalah pemuda yang kuat, berotot, tinggi dan berdada bidang. Dia akan merasa bangga jika saya memujinya sebagai aktor pendatang baru yang gagah dan tampan. Beberapa gadis yang menggemari sinetron kami, terang-terangan menyatakan, apabila menatap wajah Kuming di layar teve, jantungnya merasa deg-degan dan tubuhnya serasa digelitik.

Itulah yang saya suka dari Mara Sukma. Ketampanannya tak biasa, mukanya baby-face, dan senyumnya menawan banyak gadis remaja yang menggemarinya. Meskipun, otaknya agak bebal dan bacaannya sebatas komik-komik kacangan, namun pendidikannya lumayan sudah lulus S1. Sehingga, tidak sedikit penggemar dari kalangan mahasiswa, terutama para mahasiswi yang pernah duduk dalam satu perkuliahan dengannya. Selain itu, Mara juga jago silat, karena sejak duduk di bangku SMP dia pernah belajar pencak silat yang diajarkan kakeknya yang berasal dari daerah Banten Utara.

Segeralah kami menggelar syuting dalam cuaca panas dan matahari tampak cerah. Di perkebunan yang ditumbuhi banyak pohon-pohon jati, kami menurunkan kerangkeng, setelah memasang kamera ke tripod, serta menyiapkan adegan dengan lebih dulu mencabuti ilalang dan rumput-rumput tinggi, agar tanah terlihat datar dan terang. Beberapa kru mendekati Mara sambil memakaikan kostum dan riasan. Di dekat kandang berdiri dua orang, masing-masing menyandang senapan bius. Saya mondar-mandir di belakang kamera, sambil menegaskan kepada seluruh kru agar adegan ini tak perlu diulang. “Kalian harus serius melakukan ini pada take pertama, ngerti?” tegas saya. Semuanya mengangguk dan menyatakan siap.

Dua orang petugas medis mengeluarkan kotak P3K dan berdiri sigap di samping kami. Semuanya diam sambil menatap wajah Mara yang tampak berkilauan diterpa sinar matahari. Ketika semuanya telah siap, satu orang mulai menyuntikkan peluru bius ke perut komodo. Sambil mengacungkan telunjuk dan menatap matanya, saya perintahkan Mara agar segera masuk ke karakter. “Ingat, Mara! Setelah masuk adegan, kamu bukan lagi Mara Sukma, ngerti? Kamu adalah Kuming, sang pahlawan dan pendekar sejati! Dan kamu adalah penakluk komodo putih!!”

“Oke, siap!” teriak Mara sambil meninju ke atas. Dia mengenakan bot kulit tinggi dan sebuah tongkat kayu tersampir di punggungnya.

“Apakah semuanya sudah siap?” tanya saya lagi.

“Siap!”

“Baik, oke… action!!”

Pintu kandang diangkat. Komodo putih keluar pelan-pelan. Dia menjulur-julurkan lidahnya. Ia mulai berjalan pelan sambil mengendus tanah, sementara pendekar Kuming dengan langkahnya yang mantap, mulai mendekatinya. Hewan itu melonjakkan kepalanya, tetapi sang pendekar melepas tongkat kayu dari punggungnya dan maju tanpa ragu. Saat jaraknya dua meter dari komodo, hewan karnivora itu melompat ke arahnya sambil mengeluarkan suara dari hidungnya.

Dengan sepenuh tenaga, Kuming menghantamkan tongkat ke kepala komodo. Keprukan itu sedikit melimbungkan komodo. Tetapi, dia cepat pulih dan kembali menerjangnya. Kuming melompat ke samping dan memukul punggung komodo. Hantaman ini membuat si hewan terguling, lalu seketika berbalik dengan pandangan mengancam.

Tongkat kayu retak di bagian tengahnya dan sebagian belahannya terpental. Kuming menjatuhkan bagian yang tersisa. Komodo itu maju ke depan, ingin menerkam kaki Kuming. Lalu, ia berputar ke samping melompati punggungnya serta menyasar tenggorokannya. Sang pendekar meninju bagian kepala hewan itu, tetapi serangannya menggoyahkan keseimbangan Kuming.

“Ayo Kuming! Teruskan pertarungannya!” teriak asisten saya, sambil bersedekap di samping kamera.

Kuming menendang bagian rahang dan tubuh komodo. Hewan itu berguling-guling dan melonjak-lonjakkan tubuhnya. Sekarang biusnya mulai bekerja. Hewan itu agak terhuyung dan terdiam. Matanya menyorot tajam, tetapi dalam beberapa langkah kakinya lunglai dan ambruk di bawah pohon jati.

“Oke, cut!” teriak saya sambil menyuruh dua petugas medis agar segera menolong Kuming yang terduduk kaku di samping komodo yang sudah pingsan.

***

Naskah cerita ini sebenarnya disadur dari cerita rakyat karangan Taufik Ibrahim, berjudul “Pergulatan dengan Makhluk Misterius”. Sastrawan itu sering menulis puisi dan sajak klasik, kecuali jika ada pesanan dari departemen pendidikan dan kebudayaan di masa pemerintah Orde Baru, tiba-tiba berputar haluan menulis novel dan cerita rakyat. Saduran naskah ini sengaja tak dimintakan izin dari penulisnya maupun penerbitnya, lantaran aji mumpung belum adanya undang-undang yang jelas, perihal hak cipta intelektual maupun seniman di negeri ini.

Dalam naskah aslinya, yang sudah dikenal masyarakat luas, ketika komodo putih menyerang Kuming, sang pendekar sempat menaiki pohon jati, melompat dengan gagahnya, lalu menghantam kepalanya dengan pukulan bertubi-tubi sambil menunggangi punggung komodo. Namun, adegan yang sementara direkam belum mencapai titik finalnya, karena itu besok kami harus kembali ke lokasi untuk merekam bagian akhirnya.

Tiba-tiba, pagi harinya saya mendengar kabar bahwa Mara Sukma tak sanggup melanjutkan syuting di hari itu dengan alasan sakit. Bukan main jengkelnya perasaan saya, karena target pencapaian belum terpenuhi. Sore harinya, saya mendengar kabar bahwa beberapa kawan selebriti ikut menjenguk Mara di rumah sakit, di antaranya Rafli, Olga, Perez, Jefri dan lain-lain. Mereka merasa terenyuh menyaksikan Mara melolong-lolong seakan tak sadarkan diri. Tatapan matanya jauh menerawang, lalu tiba-tiba ia terkikik-kikik tertawa sendirian di pembaringan. Pihak dokter menganjurkan agar Mara dibawa ke psikiater, lalu pihak psikiater menyarankan agar dirawat atau diopname dengan hasil akhir diagnosa rumah sakit jiwa, bahwa Mara menderita delusi skizofrenia.

Lalu, bagaimana kelanjutan cerita tentang pergulatan sang pendekar Kuming melawan komodo putih? Seketika saya membuka-buka majalah remaja terbitan Gramedia, berharap sekiranya bisa menemukan pengganti yang mirip dengan wajah Kuming. Meskipun, kebanyakan aktor muda yang saya dapatkan berparas kuyu dan pucat, sangat jarang berperawakan semampai dan flamboyan yang memancarkan semangat seperti seorang pendekar.

Ada yang menyarankan agar menunggu Mara pulih dari rumah sakit. Sementara, kru lainnya mendesak saya agar segera “memakai” Mara kembali, seakan tak peduli dengan risiko nyawa manusia. Yang panting, bagi mereka adalah target waktu yang mendesak, terutama pundi-pundi yang dihasilkan berdasarkan kontrak kesepakatan kerja yang sudah ditandatangani bersama.

Asisten sutradara dan kameramen, yang merasa dirinya sebagai pekerja rendahan, memaki-maki Taufik Ibrahim sebagai penulis novel. Untuk apa dia mengarang-ngarang cerita fiktif yang merepotkan itu. Mustahil ada orang yang berani menunggangi punggung komodo, lalu menghajarnya sampai mati hanya dengan tangan kosong. Kisah menyesatkan itu terus saja dihidup-hidupkan di sepanjang rezim militerisme Orde Baru, berbarengan dengan kisah Malin Kundang, Sangkuriang, Lubang Buaya, Wewe Gombel yang kelakuannya mirip para Politisi Gemblung.

Dikarenakam cemas berlebihan, asisten saya sampai terkena penyakit rabun, keluar bintik-bintik kemerahan di sekitar pelupuk matanya. Ia memakai kacamata hitam dan mendatangi saya sambil berbisik, “Pak, sebaiknya kita harus segera menyelesaikan adegan ini. Sebab, inilah kesempatan yang hanya sekali-kalinya dalam seumur hidup.”

Saya tidak menanggapi. Dalam pikiran saya, masih diselimuti perbincangan kemarin bersama kedua produser, karena mereka tak sanggup lagi membiayai makan komodo untuk jangka waktu lama. Kami mendiskusikan masalah ini dalam rapat para staf dan kru. Jika gagal menemukan pengganti, boleh jadi kami akan memakai Mara Sukma lagi. Saya tegaskan sekali lagi, bahwa kali ini segalanya sudah diperhitungkan dengan cermat. Peluru bius harus diisi dengan dosis rendah supaya komodo tetap bisa berlari-lari dalam waktu yang cukup lama. Tangan dan kakinya harus tetap kokoh ketika Kuming menunggangi punggungnya setelah melompat dari pohon jati.

Kami merasa lega ketika kedua produser mau turun tangan, serta bicara langsung di samping pembaringan Mara. Dengan itu, Mara menyatakan dirinya siap melanjutkan pertarungan dengan fauna yang dikenal sebagai naga purba itu. Katanya, ia akan memuaskan harapan para penggemar yang kadung menjulukinya sebagai sang penakluk komodo. Suaranya lirih dan serak, sorotan matanya tampak berkaca-kaca.

“Semua keluarga menteri menyukai penampilan kamu, Mara. Bahkan presiden sempat mengomentari adegan pada episode terakhir, bahwa kedua puteranya dianjurkan agar meneladani Kuming sebagai pahlawan pemberani, yang boleh jadi kelak akan mengikuti jejak-langkah bapaknya sebagai negarawan yang banyak belajar dari pahlawan penakluk komodo putih,” ujar sang produser bangga.

Maka, kami angkut kembali komodo itu menuju kebun jati keesokan harinya. Cuacanya agak mendung, matahari sesekali mengintip dari balik awan. Saya memastikan titik lokasi yang sama di sekitar pepohonan jati seperti pada adegan pertarungan sebelumnya. Kuming duduk di kursi yang kami sediakan, sambil menenteng tongkat baru yang kami percikkan tinta merah di ujungnya. Penata rias memolesi mukanya, dan petugas medis memijat-mijat pundaknya. Sesudah peluru bius ditembakkan ke perut komodo, Kuming bangkit berdiri dan menghambur di hadapan hewan buas itu.

Komodo itu belum beraksi. Matanya nanar memperhatikan beberapa anak kambing yang berlarian di sekitar kebun jati. Anak-anak kambing itu sedang sibuk merumput, dan angin sepoi-sepoi seakan menghembuskan suara-suara mereka dari kejauhan. Komodo itu bersejingkat sambil mengendus dan menjulurkan lidahnya. Tiba-tiba ia berlari sekencang-kencangnya ke arah anak-anak kambing. Mulutnya terbuka dengan raut beringas. Suaranya menggeram seketika. Anak-anak kambing berpencar dan berlarian ke sana kemari, namun mulut komodo telah berhasil menangkap dan melahap seekor anak kambing, lalu membawanya ke hadapan kami seraya menelan mangsanya di depan para staf dan kru kameramen.

Saya menyaksikan Mara berdiri terpana. Badannya bergidik. Pendekar kita menjatuhkan tongkat di tangannya. Tiba-tiba ia berteriak histeris melihat keganasan komodo yang sudah dikerangkeng berminggu-minggu, dan dalam seminggu terakhir belum mendapat asupan makanan. Ketika komodo itu menguntitnya, Mara segera menghindar dan lari tunggang-langgang ke segala arah, dan bahkan kru kamera meninggalkan begitu saja peralatan mereka. Mara meloncat, merangkul dahan pohon, dan memanjat ke atas. Hewan karnivora itu melompat dan berhasil mengoyak celana Mara, hingga robek di bagian pantatnya.

“Tolong! Tolooong!!” pekiknya keras. Hewan buas itu terus menggeram sambil mengitari pohon jati.

“Tembak dia! Tembak sekali lagi!!” teriak saya yang bersembunyi di balik batang jati.

Peluru bius lainnya mengenai bagian tenggorokan. Segera saja ia terhuyung-huyung, melangkah zig-zag sambil mengoyak daun-daun jati yang berguguran. Tak lama kemudian, komodo itu terkulai ke samping, dan tumbang sambil mengeluarkan air liurnya.

Petugas medis melambai-lambaikan tangannya ke arah Mara. “Ayo, turun ke bawah! Kami akan memeriksa apakah pantat kamu terluka?”

“Enggak mau,” kata Mara merengek.

“Ayo cepat turun, tolol!” seru asisten saya, “komodonya sudah semaput. Apa kamu mau nginep di atas pohon jati?”

“Tolong saya Om, saya takut… takut bangeeet.”

“Turun, goblok!” teriak kru lainnya.

“Tembak dia… tembak sekali lagi…!”

“Komodo itu udah pingsan, bangsat!”

Tak peduli seberapa gigih kami menenangkan dan membujuknya agar turun, tiba-tiba saya mendengar tembakan dari belakang. Sebutir peluru bius dilayangkan ke arah pantat bagian kirinya, hingga seluruh kru dan staf tertawa terpingkal-pingkal ketika Mara merosot ke bawah dan pingsan seketika.

Asisten saya mencengkeram tangan si penembak dan menempelengnya keras-keras. Ia menyuruh menggotong Mara dan memasukkannya ke kerangkeng komodo untuk segera dilarikan ke rumah sakit terdekat.

***

Sekarang apa mau dikata. Tokoh utamanya sudah tidak ada. Kami menyimpulkan bahwa binatang karnivora itu terlalu ganas untuk ditaklukkan dengan tangan kosong. Seseorang menyarankan agar hewan itu dikebiri supaya kekuatannya jadi lebih mirip manusia. Kami mempertimbangkan serta merundingkannya bersama kedua produser kami yang sudah melewati ambang kebangkrutan. Belum lagi, seorang produser kami memberi kabar kegagalannya untuk nyalon anggota DPR dalam kontestasi pemilu tahun ini.

Namun, saya menyimpulkan secara sepihak bahwa problem utamanya terletak pada tokoh utama, dan bukan pada komodo itu sendiri. Tanpa orang yang sepadan dengan perawakan Mara, kami tak akan berhasil, meski menghadapi hewan yang jinak sekalipun. Seorang staf muncul dengan ide mencari kostum kulit komodo untuk dicat putih, lalu dipakaikan kepada seorang aktor pengganti. Dengan kata lain, kembali kami harus mengambil gambar untuk episode terakhir dengan hewan palsu. Tapi, sebagai penata adegan, yang bisa memastikan setiap detail cocok dengan adegan sebelumnya, rasanya akan sulit mendapatkan kulit yang sama persis dengan kulit komodo asli.

Akhirnya, kedua produser kami memutuskan secara kompak namun terkesan mencurigakan, “Kenapa kalian tidak membunuh komodo itu untuk diambil kulitnya, lalu dipakaikan sebagai kostum?”

Asisten saya langsung menyambar, “Saya kira itu gagasan yang mantap, Bos.”

“Lalu, bagaimana dengan pemeran pendekarnya?” tanya seorang produser lagi.

“Saya kira itu tak jadi masalah,” jawab seorang staf, “biarpun dalam keadaan sakit maupun sekarat, sang pendekar dari tokoh bencong juga akan sanggup jika harus bertarung dengan kulit komodo.” Seketika itu, semuanya tertawa terbahak-bahak.

Dua hari kemudian, kami memerintahkan tukang jagal untuk membunuh komodo serta mengambil kulitnya. Saya memperingatkan mereka agar jangan sampai merusak bagian kepalanya. Untuk memastikan tak ada yang terlibat dalam pasar gelap ini, kedua produser kami sepakat untuk menjual seluruh bagian dalam bangkai komodo ke Perusahaan Farmasi milik pengusaha Tionghoa dengan harga 150 juta rupiah. Itu hanya seperempatnya dari harga yang harus kami bayar untuk membelinya hidup-hidup. Namun, sebelum pembayaran lunas, si pengusaha Tionghoa menelepon produser kami dengan menyatakan komplain, karena bagian lambung dan ususnya tidak utuh lantaran bekas tembakan peluru bius. Salah seorang produser kami berusaha meyakinkannya bahwa saat bangkai meninggalkan perusahaan kami, kondisinya masih utuh, segar bugar, dan tak mungkin ada peluru bersarang di organ tubuhnya.

Si pengusaha Tionghoa tak bisa dikibuli begitu saja. Ia berkoar-koar untuk memangkas 50 juta dari harga yang dijanjikan. Kegigihan sang produser untuk bertahan dengan harga semula telah berakhir sia-sia. Setelah menutup ponselnya, ia hanya berteriak-teriak memaki para pengusaha keturunan Tionghoa, memaki-maki seluruh warganegara Cina, bahkan memaki-maki orang-orang komunis.

Konon, jeroan organ tubuh komodo merupakan harta karun, sangat berkhasiat bagi pengobatan Tiongkok, mengobati jantung koroner, gagal ginjal dan rematik, bahkan dapat membuat kehidupan rumah tangga menjadi sakinah mawadah warahmah, seperti yang tergambar dalam tokoh Bi Marfuah pada novel Perasaan Orang Banten.

Kini, saatnya bagi saya untuk membujuk Mara Sukma yang mengurung diri dalam kamar. Begitu saya kabari, bahwa dirinya hanya akan berhadapan dengan tokoh antagonis berupa kulit komodo, Mara merasa senang dan gembira ria. Kedua orang tuanya juga melakukan sujud syukur di hadapan saya, seolah-olah saya ini sosok malaikat Mikail yang membukakan pintu rizki, atau semacam mursyid dan waliullah yang mengabulkan segala permintaan dan doa-doa mujarab.

Dikarenakan syutingnya bisa diulang-ulang, untuk beberapa episode terakhir tak begitu banyak yang perlu disiapkan. Kami segera bertolak ke kebun jati hanya menggunakan satu truk saja. Udara siang itu tampak cerah dan matahari bersinar terang. Namun, sesampainya di tempat tujuan, tiga mobil polisi dari Polda Metro Jaya sudah menunggu kehadiran kami. Sembilan orang polisi turun dari mobil lengkap dengan persenjataan mereka. Dua orang menghampiri saya sambil menyodorkan surat penangkapan atas tuduhan penggelapan, pencurian, dan perdagangan ilegal bagi hewan-hewan terlindungi. Kedua produser kami sudah dibawa ke kantor polisi sejak pagi tadi.

Belum sempat kami menggelar syuting untuk episode terakhir, kini saya, para kru dan staf, tak bisa mengelak dengan alasan apapun, atas keterlibatan kami dalam pembunuhan hewan, yang telah diselundupkan dari Taman Nasional Komodo di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. []

Oleh: Mu’min Roup

Penulis adalah Peneliti dan penikmat sastra milenial Indonesia, menulis prosa dan esai di berbagai media cetak dan online.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.