Sayalah Anwar Komo

oleh -1610 Dilihat
banner 468x60

Banyak orang mengira saya ini mengidap penyakit jiwa. Mereka menganggap saya edan dan kehilangan akal, padahal justru akhir-akhir ini panca indera saya makin tajam setajam pisau belati, terutama pendengaran saya. Banyak suara-suara yang tertangkap oleh pendengaran saya, yang boleh jadi tak terdengar oleh orang-orang pada umumnya. Saya, Anwar Komo, juga sanggup mendengar suara-suara para malaikat, baik di langit maupun di bumi, bahkan suara-suara dari surga firdaus maupun neraka jahannam.

Lalu, apa pula alasan orang-orang menuduh saya gila dan sinting? Kalau kalian tidak percaya, baik akan saya tunjukkan betapa sehat dan warasnya saya menyampaikan kisah ini.

Saya sendiri tidak mengerti mengapa tiba-tiba gagasan ini muncul di kepala saya. Sejak minggu lalu Anda ke sini dan meminta wawancara dengan saya. Karena itu, saya merasa diikuti oleh bisikan-bisikan aneh yang membuat saya tak kuasa menolak wawancara ini. Sekarang, akan saya ceritakan salah satu contoh yang membuat saya membenci orang-orang yang telah saya musnahkan satu persatu, misalnya korban yang paling akhir, yakni kakek tua yang sedang berbaring di rumahnya itu.

Awalnya, saya tak tega untuk menghabisinya. Lagipula dia juga tidak pernah menyakiti ataupun menyinggung perasaan saya. Saya melakukan itu bukan karena hartanya, tapi karena kabar burung yang dihembuskan orang-orang bahwa kakek tua itu termasuk salah satu anggota partai terlarang. Malam itu, jantung saya berdebar-debar dan badan saya berkeringat karena emosi. Presiden Soeharto mengumumkan melalui siaran televisi bahwa orang-orang komunis adalah musuh kita bersama, dan kita harus menumpas sampai ke akar-akarnya.

Oleh karena otoritas yang tinggi sebagai presiden, kontan saya percayai kata-kata itu. Bahkan saya merasa tak perlu mempelajari apa itu komunisme dan marxisme? Saya juga tak perlu membeda-bedakan komunisme sebagai ilmu ataukah sebagai ideologi yang diterapkan untuk sebuah sistem berbangsa dan bernegara. Pokoknya, menurut perkiraan saya, kakek tua itu adalah anggota partai yang dutuduhkan presiden sebagai musuh bersama. Dan dalam ajaran agama saya, yang disebut musuh itu adalah “orang kafir” yang layak dimusnahkan dari muka bumi ini.

Tiba-tiba dalam pandangan saya, sorotan mata kakek tua itu berubah seperti burung hantu. Setiap kali menatap saya, kontan darah saya seperti membeku. Lama kelamaan, saya memutuskan bahwa tetangga saya itu termasuk salah satu korban yang harus dimusnahkan, agar saya terbebas dari sorotan matanya.

Pada tengah malam yang menentukan itu, saya bergerak dengan perlahan-lahan agar tidak mengganggu tidurnya. Butuh waktu satu jam lebih untuk dapat memasukkan seluruh tubuh saya melalui jendela yang saya lepas dari engselnya. Saya melihatnya sedang berbaring di atas ranjang. Dengan hati-hati saya turun dari jendela, kemudian melihatnya bergerak seakan terkejut oleh sesuatu.

Sekarang Anda mungkin berpikir bahwa saya akan lari keluar, tetapi tidak. Sama sekali tidak. Saya sudah bertekad harus mencabut nyawa kakek tua itu. Kamarnya agak gelap dan remang-remang. Barangkali dia tak dapat melihat jendelanya terbuka ketika saya tiarap di bawah ranjang, dengan kawat listrik tergenggam di tangan. Kemudian kakek tua itu terbangun sambil berteriak, “Siapa itu?”

Saya tetap diam dalam posisi tebgkurap. Dia masih duduk di atas ranjangnya, mencoba mendenga sekecil apapun suara-suara di sekitarnya. Seketika saya bangkit dan melompat ke arahnya, membelit lehernya dengan kawat listrik dan mencekiknya sekeras-kerasnya. Terdengarlah suara “Hukkk… hukkk!” Matanya yang jalang seperti burung hantu kemudian terpejam rapat. Sebelum menghembuskan napasnya yang terakhir, kakek tua itu sempat berkata,”Ada yang perlu saya bantu?”

Begitu mudah bagi saya. Begitu enteng menghabisi nyawa kakek tua itu. Dan saya pun melepas kawat listrik itu dari belitan di lehernya.

Tetapi anehnya, setiap malam hari, dan tepat pada tengah malam ketika orang-orang tidur pulas, saya mendengar terus suara itu, “Ada yang perlu saya bantu?” Suara itu mengalir dalam benak saya, dalam pikiran saya. Gaungnya yang mengerikan terus-menerus mengusik dan meneror diri saya. Seringkali saya rasakan apa yang dirasakan kakek tua itu menjelang kematiannya, sehingga mengundang rasa simpati kepadanya, “Ada yang perlu saya bantu.”

Saya membayangkan ketika ia terbangun dan duduk di ranjang. Rasa takut itu membuncah dalam dirinya, meskipun ia terus meyakinkan diri seolah tidak ada suara apa-apa, tetapi ia tak bisa kembali untuk membaringkan tubuhnya di ranjang. Barangkali ia berpikir, hanya bunyi seekor cicak di balik lemari, atau seekor tikus di dapur. Dalam posisi duduknya ia mencoba menenangkan diri, tapi akhirnya semua itu hanya sia-sia belaka.

Ketika sampai pada batas kesabaran saya, melihat ia tak tak sanggup lagi berbaring, saya menarik-narik kawat dengan kedua tangan untuk memastikan apakah ia masih kuat dan kokoh. Saat itu saya masih sempat menatap matanya yang jalang, mata burung hantu, mata seorang komunis yang – menurut Presiden Soeharto – merupakan musuh yang harus ditumpas sampai ke akar-akarnya. Saya merasa mendapat restu dari kepala negara, dari seorang Amir yang kata-katanya menjadi petuah bagi segenap rakyat. Seketika saya merasa jengkel menatap matanya. Badan bergidik, napas memburu tak beraturan. Degupan jantung semakin menggebu-gebu. Dalam keremangan lampu, seberkas cahaya menembak matanya, seakan saya tak melihat bagian tubuh lain selain matanya yang jalang itu.

Tetapi, semuanya itu sudah lewat. Semuanya sudah terjadi. Sekarang tinggal menghadapi hari-hari yang kelam dan kejam. Malam yang selalu membuat saya merasa cemas dan tegang. Suara kakek itu lagi-lagi berhembus di telinga saya, “Ada yang perlu saya bantu?”

Selama beberapa jam kata-kata itu terus menghantui saya. Degupan jantung semakin nyaring, seakan-akan hampir meledak. Saya masih ingat ketika kakek tua itu hampir berteriak, meskipun dengan sigap saya menghalaunya dengan menarik kawat yang membelit leher sekeras-kerasnya. Dalam sekejap mayat saya seret ia ke atas lantai sambil mengangkat kasur untuk menutupi tubuhnya yang bersih tanpa ada setetes darah pun.

Kemudian, saya tersenyum seakan menguakkan senyum kemenangan. Tapi selama beberapa menit, saya masih mendengar degupan jantungnya yang berdetak dengan suara teredam. Seketika saya berpikir, toh suara itu tak bakal menembus dinding, dan dalam beberapa waktu akan menghilang dengan sendirinya. Lalu, saya berusaha memastikan kematiannya dengan meletakkan telapak tangan di dadanya. Kini tak ada lagi degup jantungnya, juga tak ada lagi denyut nadi.

Jadi, kalau masih ada orang yang menganggap saya gila dan sableng, maka akan saya buktikan lagi kewarasan saya, ketika otak saya bekerja dengan cerdas sewaktu menyembunyikan mayat orang komunis itu. Seketika saya teringat kembali pidato Presiden Soeharto yang didampingi para petinggi militer yang mendukung kebijakannya. Saya juga ingat detil-detil film berjudul “Pengkhianatan G30S/PKI” yang disponsori oleh pihak pemerintah, dan diputar ulang menjelang tanggal 30 September setiap tahunnya.

Anak-anak sekolah dan mahasiswa juga menonton. Para akademisi, intelektual dan sejarawan juga menonton. Termasuk para seniman dan budayawan juga menonton. Semuanya menuruti pernyataan presiden, dan pernyataan politik itu yang mengilhami gerak-gerik dan tindak-tanduk mereka. Maka, saya pun harus ambil bagian dari kebijakan itu. Jadi, siapa yang bilang saya gila?

Di tengah larut malam, mayat tetangga saya itu, saya gulirkan melalui jendela. Dengan diam-diam tetapi sangat cerdik dan cekatan. Lubang galian telah saya persiapkan di kebun belakang rumahnya, yang telah saya kerjakan dengan cekatan sekitar pukul 23.00, setelah memastikan semua orang mulai tertidur. Empat papan sudah disediakan untuk menutupi tubuhnya, ditambah pasir dan semen akan lebih memperkokoh timbunan itu. Kemudian ditaburi dengan dedaunan agar tidak kentara sebagai kuburan.

Selang beberapa hari kemudian, suara ketukan pintu menghentakkan saat-saat istirahat saya di siang itu. Jam menunjukkan pukul 13.30. Saya berjalan perlahan untuk membukakan pintu. Masuklah dua orang laki-laki berseragam yang kontan memperkenalkan dirinya sebagai petugas kepolisian. Mereka bersenjata lengkap, bicara dengan ramah, lalu menyatakan bahwa tetangga sebelah telah kehilangan anggota keluarganya. Pihak kepolisian ingin memastikan bahwa tidak ada unsur manapun yang disebut sebagai “penculik”. Bangsa ini bukan bangsa penculik. Tak mungkin suatu organisasi atau suatu partai bersepakat sebagai penculik seperti yang dituduhkan oleh segelintir orang. Meskipun – menurut saya – seorang kepala negara memiliki otoritas untuk menyampaikan pernyataan politik yang merasuki pikiran rakyatnya, hingga setiap warganegara merasa punya legitimasi untuk melakukan tindakan apapun sesuai kebijakannya.

Saya menyambut kedua polisi itu sambil tersenyum. Keduanya menolak ketika saya tawarkan untuk menyediakan dua gelas kopi atau teh. Saya katakan, mungkin kakek tua tetangga saya itu sedang pergi ke rumah salah satu anaknya yang merantau entah di mana. Saya biarkan mereka menggeledah sekitar rumah dengan teliti dan cermat. Saya ajak mereka menuju dapur untuk menggeledah setiap sudutnya. Saya membayangkan kedua polisi itu terheran-heran karena harta dan kekayaan yang dimiliki kakek tua itu masih tetap utuh tersimpan rapi di tempatnya.

Lalu, apa yang diinginkan perampok itu jika ia berkehendak merampok? Dan apa yang dimaui penculik itu jika ia berkehendak untuk menculik seorang kakek tua?

Setelah beberapa jam berlalu, petugas polisi itu merasa puas. Perasaan tenang dan sopan yang saya tunjukkan semakin meyakinkan mereka. Kami berbincang beberapa saat, serta menjawab pertanyaan mereka dengan menunjukkan rasa empati. Tetapi, tak lama kemudian tiba-tiba terdengar suara keras menyambar telinga saya, “Ada yang perlu saya bantu?”

Aduh, saya mengenal jelas suara itu.

Kepala saya tiba-tiba pening. Saya menginginkan agar kedua polisi itu segera keluar dari rumah, tetapi keduanya masih mengajukan beberapa pertanyaan yang tak bisa saya jawab, karena kalah nyaring dengan suara-suara di telinga saya. “Ada yang perlu saya bantu… ada yang perlu saya bantu…!”

Saya merasa diri ini begitu pucat-lesi. Terdengar dengungan di telinga sehingga kepala terasa berat dan sakit. Tetapi, untuk apa kedua petugas itu masih saja duduk di tempatnya. Kini dengungan itu semakin mengeras dan mengeras lagi. Suara-suara itu muncul lagi. Saya bicara sekenanya untuk menghalau perasaan gundah itu. Namun, suara-suara itu terus berlanjut seakan ia datang dari luar diri saya, dan bukan dari kedalaman hati saya sendiri.

Kini, napas saya terasa sesak dan tersengal-sengal. Tapi kedua petugas itu tak bergeming, seakan tak menghiraukan perasaan saya. Saya bicara dan bicara lagi dengan suara yang makin meninggi. Tetapi, suara-suara gaib itu terus menyelimuti diri saya, “Ada yang bisa saya bantu… ada yang bisa saya bantu…!”

Tiba-tiba saya bangkit dari tempat duduk, kontak menghardik kedua petugas polisi itu, “Kenapa kalian belum juga pergi! Keluar kalian dari sini! Apakah kalian seorang komunis? Apakah kalian seorang marxis? Kenapa kalian bersekongkol dengan mereka?!”

Kedua polisi bersenjata itu berusaha menenangkan dengan memegang kedua lengan saya. Saat itu saya mengingau, meracau, mencaci-maki tak keruan. Suara-suara gaib itu terus menyelimuti batin saya, berdengung-dengung di telinga, seakan memerintahkan agar menunjukkan letak kuburan itu. Tiba-tiba saya berjalan sempoyongan ke arah kebun. Kedua petugas polisi itu terus mengikuti saya dari belakang.

Persis di atas kuburan kakek tua itu tiba-tiba saya terhenti, dan jatuh tengkurap.
Ya ampun! Kedua polisi itu pasti curiga! Mereka pasti menertawakan ketakutan dan ketololan saya! Minta ampun! Tak ada yang lebih mengerikan dari peristiwa saat itu! Saya tidak tahan pada kelakuan yang menistakan itu, pada perbuatan saya yang menghinakan itu! Dan saya pun berteriak sekeras-kerasnya:

“Di sinilah letak kuburan itu! Saya tidak sanggup lagi! Saya tidak kuat lagi dengan kebohongan ini! Sayalah penipu itu… sayalah penculik itu! Ya, sayalah si komunis ekstrim itu…! Sekarang, bongkar segera kuburan ini! Saya tak tahan mendengar degupan jantungnya… saya tak tahan mendengar suara-suara dari mulutnya! Bongkar sekarang juga…!!” (*)  

Oleh: Alim Witjaksono
(Peneliti sastra milenial Indonesia, menulis prosa dan esai di berbagai media nasional, cetak dan online).

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.