Satu-satunya Polisi Indonesia

oleh -104 Dilihat
banner 468x60

Sudah tidak asing lagi dalam catatan sejarah, bahwa saya adalah Iblis yang pernah menentang perintah Tuhan agar bersujud kepada Adam yang hanya terbuat dari tanah. Sedangkan saya terbuat dari api yang panas menyala-nyala, tak beda jauh dengan para malaikat yang terbuat dari cahaya yang memancar.

Ya, saya adalah Iblis yang pernah menolak bersujud, hingga Tuhan menghukum saya agar dikeluarkan dari surga, lalu tinggal dan menetap di permukaan bumi ini. Namun, sebelumnya saya meminta pada Tuhan agar diberi kewenangan untuk menggoda dan membujuk anak-cucu Adam. Saya dan keturunan saya menekankan mereka agar tunduk menjadi pengikut kami, sampai menemani kami di alam akhirat kelak. Lalu, Tuhan pun mengabulkan permintaan kami sambil menyatakan, “Kalian takkan sanggup menggoda manusia yang jujur, sabar, dan berjiwa ikhlas.”

Biarlah saya menerima takdir hidup untuk menggoda manusia, seraya mengerahkan ribuan anak-cucu saya untuk mengelabui anak-cucu Adam. Kemudian pada waktunya nanti, saya tinggal duduk manis di atas singgasana sambil menunggu hasil-hasil kerja mereka. Namun sebelumnya, supaya tidak ada kesalahpahaman, izinkan saya berterus terang bahwa kelak saya tak mau bertanggung jawab atas banjirnya kejahatan dan rusaknya tatanan moral yang melanda umat manusia hingga akhir zaman nanti.

Bagaimana pun, segala inovasi dari anak-cucu saya, telah melampaui inovasi para generasi Iblis sebelumnya. Ya, sejak dahulu kala, seni menggoda telah menyita perhatian saya, ketika menghadapkan segala tipu muslihat dan sihir-sihir kami, dalam upaya menjerat umat manusia di seluruh permukaan bumi ini.

Namun saat ini, di suatu era yang dinamakan “modern”, saya tinggal menonton saja ketika anak-cucu saya bertebaran di mana-mana, menjerat dan menjatuhkan umat manusia hingga terpuruk ke dalam jurang dosa dan kemaksiatan. Kebanyakan mereka tenggelam berjamaah ke dalam lumpur dosa dan kejahatan, lalu saya menunggu hasil-hasil kerja para kaki-tangan saya. Mereka paham bahwa kelak bangsa jin (Iblis) akan berlepas tangan, karena tugas kami semata-mata menggoda manusia, tanpa terlibat penuh dalam kesalahan dan kekhilafan yang telah mereka pilih dan perbuat.

Setelah melewati masa ribuan tahun kami sanggup menggoda manusia agar menjadi pengikut yang setia, namun kemudian saya mendapatkan suatu negeri yang melahirkan anak bangsa yang sanggup menegakkan prinsip kebenaran dan keadilan. Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Dari mana timbulnya segala kekacauan dalam benak dan pikiran saya ini?

Sekarang, saya harus mengakui bahwa zaman semakin berubah. Setiap hari terjadi keajaiban dan keanehan baru di muka bumi, terutama sejak tampilnya laki-laki jujur yang saya sebutkan di atas. Lalu, saya pun harus memutar otak, untuk mengerahkan para kaki-tangan agar mendalami ilmu politik dan ekonomi, termasuk sains dan teknologi, hingga budaya dan kepercayaan agama-agama di seluruh muka bumi ini.

Dunia Iblis harus berpacu sebagai setan-setan bergentayangan, di samping setan-setan manusia yang ikut menjadi kaki-tangan kami, dengan mengubah pola pemikiran lama yang rigid dan kaku. Dikhawatirkan dunia Iblis akan kehilangan satu-satunya alasan keberadaannya sebagai makhluk penggoda, hingga kemudian akan kehilangan pamor dan jejak sejarahnya sebagai makhluk pertama yang memberontak pada perintah Tuhan.

Sebagai panglima Iblis, saat ini saya dihadapkan pada situasi yang sangat dilematis. Kadang saya merasa frustasi, terutama sejak tampilnya pria jujur yang kemudian berkiprah sebagai polisi di Republik Indonesia. Secara bertahap dia menaiki tangga jabatan sebagai jenderal polisi, hingga menduduki Kepala Kepolisian RI (Kapolri). Lelaki satu itu sering dijuluki masyarakat sebagai oase di tengah gurun sahara. Ia menjabat Kapolri pada periode 1968 hingga 1971, yang mengantarkannya sebagai simbol integritas, kejujuran, dan kesederhanaan. Ia dinilai sebagai role model bagi setiap anggota kepolisian, dari pangkat terendah hingga tertinggi.

Orang itu lahir di Pekalongan pada tahun 1921, serta mengawali karir akademiknya di dunia hukum dan pengadilan. Ia tampak berbeda dengan kebanyakan keluarga polisi yang sering dikaitkan dengan kemewahan dan fasilitas. Tetapi, pria satu ini dikenal dengan gaya hidupnya yang bersahaja. Ia menentang segala bentuk korupsi, gratifikasi, hingga kemudahan yang seharusnya bisa ia peroleh di dunia kepolisian.

Sekarang banyak kisah legendaris yang menggambarkan betapa teguhnya ia memegang prinsip kejujuran dan keadilan. Salah satunya adalah ketika ia menolak hadiah karangan bunga yang datang ke rumah dinasnya, karena merasa hal itu adalah bentuk gratifikasi.

***

Segera saya kerahkan kaki-tangan khusus yang cerdas dan terampil agar senantiasa mengamat-amati pria satu ini. Ia tinggal bersama istri dan tiga anaknya di sebuah rumah sederhana. Meskipun begitu, rumah itu dipandang sebagai anugerah Tuhan yang membawa keberkahan, di tengah kebanyakan keluarga polisi sejak masa Orde Baru yang berlomba-lomba menumpuk harta dan bersaing pangkat dan kedudukan tinggi.

Prinsip anti korupsi yang dilontarkannya bukan hanya retorika, melainkan tindakan nyata. Ia selalu mengedepankan “bersih-bersih” di institusi yang dipimpinnya. Setiap kali ia dipindahkan ke pos baru, baik sebagai Kepala Jawatan Imigrasi, Menteri Iuran Negara, bahkan Kapolri, hal pertama yang dilakukannya adalah menata ulang sistem dan menindak tegas praktik-praktik kotor para anggotanya. Ia tidak segan memecat atau memutasi pejabat yang terindikasi melakukan penyelewengan, tanpa pandang bulu. Baginya, kepercayaan publik adalah modal utama institusi penegak hukum, dan kepercayaan itu hanya bisa diraih melalui integritas tanpa kompromi.

Selain itu, Kapolri satu ini juga dikenal sebagai sosok yang sangat peduli terhadap kesejahteraan anggotanya, namun dengan cara-cara yang fair dan jujur. Ia percaya bahwa polisi harus digaji secara layak agar tidak tergoda melakukan praktik-praktik ilegal. Seringkali ia pergi naik bus ke kantor kepolisian. Ia dikenal rajin mengawali tugasnya sesuai jadwal, karena paham betul akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pelayan masyarakat.

Secara keseluruhan, rumah tangganya dinaungi dengan hawa kesederhanaan yang nyata, baik dalam hal sikap, pakaian, bahkan dalam hal makanan. Meskipun begitu, istrinya menanggung semua beban itu dengan penuh kesabaran.

Tentu saja, berkat kelihaian dan kecerdikan anak-anak buah saya sebagai Iblis, sesekali istrinya atau salah seorang anaknya memprotes dan rewel menuntut fasilitas mewah, bahkan sesekali salah satu di antara mereka mengeluh sambil mengutuk zaman.

Tetapi, beginilah jawab sang Bapak: “Semua gaji sudah saya berikan kepada Ibu kalian. Sebagai kepala kepolisian, bagaimana pun saya ini manusia biasa, tak mampu mengubah loyang menjadi emas. Keluarga kita tak boleh menyandang biaya hidup tinggi, karena saya dan kita semua harus menjadi teladan bagi rakyat. Sampai kapan pun saya tak mau menggadaikan jiwa saya untuk sesuatu yang dilarang oleh Allah.”

Perkataan itu membuat kepala saya terpukul keras. Godaan-godaan yang mengepungnya dari segala arah, telah berhasil ditepisnya. Kini, segala daya upaya harus dikerahkan seoptimal mungkin. Saya harus turun lapangan untuk terus membujuk istri dan ketiga anaknya, saat mereka sedang berkumpul di ruang keluarga.

“Sekarang zaman sudah lain. Bapak harus mengerti kebutuhan saya sebagai anak perempuan!” teriak salah seorang anaknya.

Lalu, saya pun membujuk anak lainnya hingga berceloteh, “Apakah kita yang hidup serba kekurangan, hanya karena kita selalu berbuat baik kepada rakyat?”

“Ya, kenapa orang baik harus selalu berada di bawah?” demikian tegas sang istri.

Suaminya membalas dengan lugas, “Biarlah orang mengatakan zaman ini edan, tetapi kita tak usah menjadi gila dan serakah karenanya.”

“Tetapi, semua orang mencuri. Saya kira semua orang menjadi koruptor di zaman sekarang ini?”

“Walaupun semua orang korupsi dan menjadi pencuri, tetapi kita harus punya martabat dan harga diri,” tandas sang usami. “Bagaimana pun saya ini pelayan masyarakat. Apakah tidak malu sebagai pelayan yang digaji dari uang rakyat, tiba-tiba salah seorang anggota keluarganya menjatuhkan pilihan untuk hidup mewah dan glamor?”

Saya merasa kapok dan frustasi menghadapi pria aneh ini. Lebih baik saya memfokuskan diri untuk terus menggoda anak dan istrinya. Saya mengerahkan kaki-tangan yang cerdas untuk mencari titik kelemahan keluarga ini sekecil apa pun.

Kami harus menempatkan perangkap yang paling jitu dan ampuh. Segala daya-upaya dikerahkan sekuat mungkin. Kami harus mencari celah-celah keteledoran hidup mereka, bahkan hingga ke detik-detik menentukan pada saat mereka lengah dan melupakan Tuhan Yang Maha Esa.

***

Berbulan dan bertahun-tahun saya telah gagal mengirim utusan guna memperdayakan pria satu ini. Rumah-tangganya justru semakin kokoh, meskipun sudah saya perlihatkan kepada anak-anaknya agar menjulurkan kepala di jendela, melongok tetangga kiri dan kanan ketika mereka membeli perabot dan fasilitas rumah-tangga dengan merek dan model terbaru.

Seringkali dia mengutip pernyataan yang menjadi kegemarannya: “Baik atau buruknya kepolisian Indonesia, tergantung dari pemimpinnya. Kalau pemimpinnya baik, dapat dipastikan para bawahannya akan menjadi baik.”

“Tetapi istri Kapolri tidak sepantasnya berdandan seperti gembel,” ujar istrinya.

“Jangan berlebihan, Bu,” tegas sang suami, “saya kira standar hidup keluarga kita sudah layak disebut cukup.”

Kata-kata “hidup secukupnya” bukan semata ucapan dan retorika politis, melainkan cerminan dari filosofi kepemimpinannya. Semakin lama, ia semakin menjadi teladan bagi ribuan polisi di bawahnya. Di era modern yang serba cepat dan penuh godaan, karakter Kapolri ini menjadi semakin relevan. Ketika institusi kepolisian dituntut agar lebih transparan dan profesional, nilai-nilai yang diembannya justru integritas, kejujuran, dan kesederhanaan. Keberaniannya menindak korupsi adalah cermin dan teladan yang sangat dibutuhkan.

Mengingat sejarah hidupnya yang unik dan langka, ia layak menjadi suri teladan bagi ribuan aparat hingga saat ini. Mereka rela dan ikhlas mengabdikan hidupnya bagi kepentingan rakyat, di atas kepentingan pribadi, keluarga maupun instansinya semata.

Tak habis pikir, para kaki-tangan yang saya kerahkan merasa frustasi. Ide-ide di kepala para Iblis seakan dilumpuhkan sama sekali. Saya merasa malu terhadap diri sendiri, bahkan dipermalukan oleh anak-anak buah yang barangkali mengolok-olok kemampuan saya di belakang layar.

Kegagalan yang telak ini membuat keraguan tersendiri dalam hati saya, sampai akhirnya saya memutuskan mundur dan angkat tangan. Sebab, nafsu apa pun yang saya miliki untuk bertempur, justru semakin membawa saya ke ranah keterpurukan yang memalukan.

Sampai suatu hari, ketika kami mendengar kabar kematiannya pada 14 Juli 2004, justru membuat kami para Iblis merasa iri dan cemburu dibuatnya. Kematiannya justru semakin dielu-elukan banyak orang, bahkan tidak sedikit kepolisian RI berupaya untuk menjadikannya role model dan suri teladan. Untuk itu, momentum setelah kematiannya harus saya jadikan ajang perjuangan untuk memanipulasi sejarah hidupnya agar segera dilupakan, atau setidaknya “dihilangkan” dalam memori rakyat Indonesia.

Ya, dia harus ditenggelamkan dari sejarah, karena tak memiliki prestasi yang memadai, disebabkan hidup miskin dan tak memiliki warisan yang melimpah bagi keluarga yang ditinggalkannya.

Tetapi, tampaknya kemiskinan dan hidup seadanya justru membuat para pejabat dan aparat kepolisian semakin bermakna ketulusan pengabdiannya pada negara. Semakin banyak cendekiawan dan intelektual Indonesia yang berjibaku menulis jejak langkah dan sejarah hidupnya.

Sebagai sesepuh Iblis, saya mengerahkan kaki-tangan untuk segera memprovokasi generasi muda agar jangan membeli bukunya, serta jangan mengakses sejarah hidupnya melalui jejaring internet. Kami perdayakan generasi muda agar tidak berempati kepadanya, serta berupaya sekeras mungkin agar menghilangkan teladan hidupnya dalam jejak memori dan ingatan mereka.

Tetapi, apa pun yang terjadi, serta kegagalan apa pun yang kami alami dalam upaya menjebak dan menggoda pria satu ini, bagaimana pun saya akan bersaksi di hadapan Tuhan di alam akhirat nanti. Ya, bagaimana pun harus saya akui, bahwa seorang polisi dari suatu negeri bernama Republik Indonesia, telah berhasil membuat Iblis frustasi dalam melancarkan agenda dan rencananya. (*)

Oleh: Chudori Sukra

Penulis adalah Anggota Mufakat Budaya Indonesia (MBI), penulis prosa dan esai untuk media-media nasional, seperti Koran Tempo, Kompas, Republika dan lain-lain

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.