Malam dingin di bulan Desember. Asep Kurniawan sedang jalan-jalan menembus keheningan malam. Ia melangkah di atas lapisan tanah yang basah oleh hujan tadi sore. Seperti biasa, ia akan berhenti sebentar di tikungan perempatan jalan, menimbang-nimbang ke arah mana kaki hendak melangkah. Ia nampak sendirian di malam itu, ditemani sebuah buku di tangannya, pada tahun 2045 Masehi, seratus tahun setelah bangsa Indonesia merebut kemerdekaannya.
Ia mengenakan topi yang tersambung di belakang jaket, memeluk bagian depan jaket bagaikan orang berkemul karena menahan rasa dingin. Sekarang, arah jalan telah dipilih. Ia melangkah ke arah timur, menyusuri sepanjang jalan yang ditempuhnya, kadang selama berjam-jam dalam jarak beberapa kilometer.
Sebenarnya ia sedang mengalami flu dan pilek. Hanya ada beberapa lampu jalan yang menyala, mengingatkan dirinya pada pesan pemerintah dalam program penghematan energi dan bahan bakar. Ia pun melihat suasana rumah penduduk yang sepi dan lengang. Hanya ada beberapa lampu yang menyala di dalam rumah-rumah mereka.
Kelap-kelip samar terlihat di balik jendela-jendelanya, dengan cahaya redup dan sunyi bagai di tengah pekuburan. Tak terdengar suara dari langkahnya, karena beberapa waktu lalu telah membeli model sepatu dengan hak yang agak empuk. Ia tidak suka mendengar suara anjing yang sewaktu-waktu berpatroli dan menggonggong di keheningan malam.
Tekanan sepatu empuknya teredam dedaunan musim dingin yang terhempas sepoi-sepoi angin. Kadang dia memetik sehelai daun yang agak menjorok ke trotoar jalan. “Halo, yang di dalam rumah sana,” bisiknya pada setiap penghuni rumah yang ia lewati. “Apa yang sedang kalian tonton di layar kaca? Apakah sinetron dalam negeri, yang suka menampilkan adegan teriak-teriak atau menangis sesenggukan? Ataukah film-film Hollywood, kuis-kuis berhadiah jutaan dan milyaran, ataukah ceramah-ceraman da’i kondang?”
Tak ada suara balasan. Begitu sepi dan lengang. Ia terbatuk-batuk, dan suara batuknya seakan menggema di kejauhan. Selain dedaunan, satu-satunya yang bergerak adalah bayangannya sendiri. Apabila dia menutup matanya dan berdiri tenang, tegak, dia dapat membayangkan dirinya berada di atas perbukitan, yang terhampar di depannya ngarai dan jurang yang teramat terjal dan curam.
Kini, ia telah sampai di sebuah jembatan yang membisu. Ada sebuah lampu jalan yang terang menyinari taman, dan biasanya ia duduk berjam-jam sambil membaca novel, kumcer atau buku-buku sejarah di sekitar taman itu. Tapi, malam itu ia memutuskan untuk terus melangkah sambil menenteng buku di tangannya, hingga sampai di persimpangan dua jalan utama yang memotong kota. Sepanjang hari jalanan itu dilalui oleh gemuruh gelombang kendaraan, laksana serangga besar serupa kumbang dan kunang-kunang yang tanpa henti berebut posisi.
Di sebuah pom bensin, nampak para pengemudi mengisi bensin sendiri, setelah memasukkan kartu dan memencet beberapa digit pada mesin di sebelahnya. Samar-samar aroma harum tercium dari restoran yang hanya melayani pembayaran dengan kartu juga. Di tempat-tempat semacam itu, uang kertas sudah tak berlaku lagi untuk bertransaksi.
Setelah berputar balik, Asep merasa kehausan. Ia mencari warung di samping jalan, untuk membeli sebotol air mineral yang kemasannya mengandung peringatan keras, agar membuang botol kemasan pada tempat sampah non-organik. Bagi pelanggarnya akan dikenakan sangsi dan denda dengan nominal rupiah yang sangat tinggi.
Ketika Asep menyusuri jalan menuju pulang ke rumah itulah, tiba-tiba sebuah kendaraan menyergap di depannya. Lalu, muncul sorotan lampu menyilaukan dari arah mobil tersebut, kemudian serta-merta suara bentakan menyambar telinganya:
“Jangan bergerak! Tetap di tempat!”
Ia terkesiap dan terbengong-bengong, mencari-cari sumber suara. Ia tak menemukan seorang pun di sekitar itu. Suara itu terdengar seperti suara mesin yang memekakkan telinga.
“Angkat tangan!” ia membentak lagi. “Buka topi Anda!”
“Siapa?” kata Asep menengok kiri-kanan.
“Benda apa yang ada di tangan Anda itu?”
“Buku,” jawabnya ragu-ragu, dengan mata berkaca-kaca. Dan ia pun membuka topinya.
“Tunjukkan pada kami, buku apa itu?” tiba-tiba lampu mobil menyorot tajam ke arah buku itu.
“Siapa?” tanya Asep gugup, “Tunjukkan pada siapa?”
“Angkat ke atas!”
Ia pun mengangkat buku tersebut, dan menunjukkan covernya. Sorot lampu berpindah, terfokus pada jilid buku tersebut.
“Sekarang, tangan di atas!”
“Kenapa? Ada apa?”
“Tangan ke atas, atau kami tembak!”
Aneh sekali, tidak biasanya. Di tengah kota yang dihuni oleh empat juta penduduk, namun hanya ada satu mobil polisi yang berpatroli. Tapi, benarkah ini mobil polisi? Di mana pengemudinya? Ia memang pernah mendengar, sejak pemilu tahun 2043 lalu, mobil-mobil polisi telah dikurangi dari empat menjadi satu. Orang-orang takut melakukan kejahatan, tenaga polisi seakan tak dibutuhkan lagi.
“Nama Anda?” tanya suara metalik dari mobil tersebut. Dia mengamati dengan seksama, adakah orang di dalamnya.
“Asep,” jawabnya ragu.
“Nama lengkap?”
“Asep Kurniawan.”
Ia terdiam sejenak, dan katanya lagi, “Pekerjaan?”
“Sebut saja penulis atau apalah. Orang-orang bilang sastrawan.”
“Bicara yang jelas?”
“Penulis,” katanya sambil berdehem dan terbatuk-batuk lagi.
“Apa yang Anda katakan?”
“Saya tidak bicara apa-apa, hanya batuk,” jawabnya kesal.
Mobil polisi itu seolah berkata pada dirinya sendiri. “Penulis? Penulis? Pekarjaan macam apa itu?”
Cahaya memancang ke seluruh tubuhnya, dari kepala hingga ujung kaki. Bagai sorotan lampu kamera dari para wartawan yang mencecar pengakuan atas kejahatan seorang kriminal.
“Apa itu penulis?” tanya suara metalik lagi.
“Semacam mengarang sebuah cerita atau kisah yang dibukukan oleh penerbit untuk dipasarkan dan dibaca orang-orang…”
“Wartawan atau jurnalis?”
“Ya semacam itulah,” kata Asep kesal.
Sebenarnya, sudah bertahun-tahun ia mengalami writer’s block, tidak lagi menulis setelah perjumpaannya dengan penulis asal Banten yang menceritakan tragedi politik Indonesia di tahun 1965. Setelah itu, ia banyak merenung dan mengendapkan pikirannya, serta menganggap karya-karyanya di masalalu hanyalah karya sampah yang tidak layak baca. Ia juga pernah mendengar uraian seorang sejarawan, bahwa peristiwa politik pasca 1965 adalah tragedi kemanusiaan terbesar dalam sepanjang sejarah Indonesia dan negeri-negeri Asia. Ia akan terus hidup dalam memori kolektif bangsa Indonesia, hingga seratus tahun ke depan.
“Sekarang, apa yang sedang Anda kerjakan di sini?” suara fonograf itu mendesiskan peringatan tegas.
“Hanya jalan-jalan,” jawab Asep.
“Hanya jalan-jalan?” katanya mengulang.
“Ya, sekadar jalan-jalan,” ucapnya enteng.
“Jalan-jalan… apa maksudnya, jalan-jalan?”
“Emang kenapa?” katanya agak jengkel.
“Jalan-jalan di mana? Untuk apa?”
“Jalan-jalan untuk mencari suasana dan udara segar. Atau membaca buku di sekitar taman selama berjam-jam…”
“Alamat!”
“Jalan Ahmad Yani, nomor 14.”
“Di sekitar rumah Anda kan ada udara segar, Pak Asep?”
“Ya.”
“Juga di rumah Anda ada layar yang bisa ditonton?”
“Memang.”
“Juga ada layar yang pantas dibaca. Kenapa Anda masih membaca buku?”
Ia tidak menjawab. Keheningan semakin mencekam, seakan mengandung ancaman dari arah mobil tersebut. Asep terbatuk lagi, kemudian bersin-bersin hingga mengeluarkan ingus dari hidungnya, lalu menyeka dengan telapak tangannya.
“Diam! Tangan di tempat! Apa yang Anda lakukan?”
“Saya tidak melakukan apa-apa, hanya membuang ingus! Sejak kapan membuang ingus dilarang?” katanya jengkel.
“Apakah Anda menikah dan punya anak, Pak Asep?”
“Sekarang tidak lagi, dan belum punya anak.”
“Apa maksudnya?”
“Tidak menikah.”
“Tidak menikah,” ujar suara mobil itu, yang sepertinya keluar di sekitar sorot lampunya.
“Sekarang belum ada perempuan yang menginginkan saya,” sambungnya dengan tersenyum.
“Jangan asal bicara, kecuali diperintah!”
Asep terdiam dalam waktu yang cukup lama, kemudian terdengar lagi suara mesin, seperti menggumam, “Asep Kurniawan… jalan-jalan… Ahmad Yani 14… tidak menikah… buku terlarang… sekarang Anda belum menjelaskan tujuan Anda jalan-jalan…”
“Tadi sudah bilang, mencari udara segar…”
“Jelaskan!” bentak mobil tersebut.
Dengan rasa kesal, Asep menjelaskan panjang-lebar, “Saya ini penulis, perlu suasana dan udara segar untuk mendapatkan ide dan gagasan yang baik. Kemudian gagasan itu dituangkan dari pikiran ke dalam kertas, diolah menjadi karya sastra yang dapat mengena dalam imajinasi publik. Saya tidak mau menulis seenaknya dengan dalih kebebasan berekspresi, sementara bangsa dan negeri ini masih hidup dalam tempurung penjajahan gaya baru yang terus-menerus menjalankan eksploitasi manusia oleh manusia lain…”
“Anda bilang tadi wartawan, apakah benar?”
“Ya wartawan ya penulis sama saja! Jadi, saya tak mau berkarya seperti dulu lagi, yang tak ada hubungannya dengan nasib bangsa yang terjajah mental dan pikirannya ini, lalu saya menganggap karya sastra saya yang pernah terbit, hanyalah comberan dan sampah-sampah doang! Mau penjelasan apa lagi?”
“Sejak kapan Anda melakukan jalan-jalan?”
Asep menghela napas, dan katanya ketus, “Sejak tahun-tahun lalu, atau sejak sebelum masa pandemi Covid-19 ini…”
“Persisnya sejak kapan? Tahun berapa?”
“Baik,” ia menarik napas, terbatuk lagi, dan lanjutnya, “sejak beberapa tahun lalu, ketika statosfer bumi belum mengalami kerusakan parah hingga mencapai 60 kilometer, gara-gara pencemaran udara, sampah rumah-tangga yang membuat laut tercemar, pembakaran hutan, asap kendaraan bermotor hingga polusi dari pabrik-pabrik raksasa yang membuat panas matahari terperangkap bersama gas rumah kaca… yang membuat kualitas oksigen menjadi buruk, hingga penduduk bumi kesulitan bernapas… terserang virus, sakit pernafasan dan paru-paru… mau apa lagi?”
Mobil polisi itu tak bergeming di samping jalan. Pita suaranya yang terdengar seperti gelombang radio menderum lirih. “Baiklah, Pak Asep Kurniawan.”
“Baiklah apanya?”
“Sekarang sudah selesai.”
Tiba-tiba terdengar seperti suara letupan. Pintu depan terbuka, seketika muncul perintah, “Lemparkan buku Anda melalui pintu depan!”
“Kenapa? Apakah saya tidak boleh membaca buku ini?”
“Ya, tepat sekali. Buku itu berjudul Pikiran Orang Indonesia, ia telah masuk dalam jajaran buku-buku terlarang di negeri ini. Cepat, lemparkan!”
Ia pun melemparkan buku itu melalui pintu depan. Setelah pintu tertutup secara otomatis, tiba-tiba pintu belakang terbuka sendiri, dan terdengar lagi seperti suara letupan, “Masuk!”
“Nanti dulu, apa yang saya lakukan… apa kesalahan saya?” mulut Asep gemetar.
“Masuk! Cepat!”
“Nanti dulu, saya perlu…”
“Pak Asep Kurniawan!”
Langkahnya mendadak gontai. Asep melewati jendela depan mobil, lalu ia mengintip ke bagian dalam. Ah, benar sekali dugaannya. Tidak ada seorang pun di dalam mobil patroli itu.
“Ayo, masuk, cepat! Atau kami mengambil tindakan tegas sekarang juga?!”
Asep segera masuk melalui pintu belakang yang terbuka. Setelah duduk, tiba-tiba pintu menutup sendiri. Dia memandang sekeliling yang berupa sel kecil. Bagaikan penjara berjeruji yang gelap dan sempit. Bau antiseptik begitu menyengat, di sana sini dipenuhi mesin, kabel, dan alat-alat serupa logam yang cukup keras.
“Ke mana Anda mau membawa saya?” tanya Asep kesal.
Mobil itu tak menjawab. Ia terus saja meluncur ke arah barat. Terdengar deru yang samar, seolah di suatu tempat informasi sedang diolah dan diproses secara elektrik.
“Anda belum menjelaskan ke mana saya mau dibawa? Saya berhak tahu!”
“Kita menuju kantor penelitian kejiwaan untuk perilaku agresif.”
“Kantor apa itu?”
“Kami ingin tahu, apakah Anda layak disebut teroris atau bukan?”
Tak berapa lama, mobil itu melintasi rumah nomor 14 di Jalan Ahmad Yani, satu-satunya rumah yang tiba-tiba lampunya menyala terang, hingga membuat tuan rumahnya terheran-heran. Dari kejauhan, nampak beberapa polisi tengah melakukan penggeledahan.
“Itu rumah saya, apa yang mereka lakukan di sana?” kata Asep Kurniawan.
Tidak ada tanggapan. Mobil itu terus meluncur ke arah barat, menyusuri jalanan lengang tanpa ada suara, bahkan tanpa ada gerakan apapun di sepanjang malam dingin di bulan Desember 2045, seratus tahun setelah bangsa Indonesia merebut kemerdekaannya. (*)
Oleh: Chudori Sukra







