Reuni dan Halal Bihalal

oleh -582 Dilihat
banner 468x60

Saya menurunkan Ibu pelan-pelan setelah mobil saya parkir di garasi. Ia membawa seplastik kripik singkong, cumi asin, jengkol, dan yang paling merepotkan tiga buah durian. Saya mendudukkan Ibu di kursi dapur, karena ia merasa letih dan kelelahan. Sementara, Ayah sedang asyik menonton acara teve yang menyiarkan pertempuran antara Iran dan Israel. “Hidup Iran… hidup Persia…!” teriak Ayah seakan tak menghiraukan kedatangan kami.

“Bukannya menuntun Ibu, malah teriak-teriak di depan teve?” kata saya menyindir Ayah.

“Ngapain pake dituntun segala? Wong sudah besar kok?” canda Ayah sambil tertawa.

Tiba-tiba suara Ibu terdengar dari dapur: “Untung banget, teman saya dapat mantu dari luar negeri.”

“Bule, ya?” tanya Ayah singkat.

“Pokoknya dari luar negeri.”

“Oya? Dari negara mana? Sudan, Congo, atau Somalia?”

Ibu mengambil gelas dan menenggak air putih di depan dispenser. Jengkol dan cumi asin ditaruhnya di atas meja, sementara durian digelontorkan di bawah rak dapur.

Ayah mematikan teve dan duduk di meja dapur. Ia membuat kopi sendiri, karena khawatir jika dibuatkan Ibu atau saya, biasanya kemanisan.

“Dari Irak,” sambung Ibu kemudian.

Perhatian saya terpecah antara bikin kopi, menonton teve, membelah durian, ataukah menguji kejujuran Ibu: Emangnya tadi ada orang Irak di acara reuni? Sepertinya saya tak menjumpai adanya orang Arab di sana? Lalu, mantu yang mana, laki-laki atau perempuan?

Tapi ayah memilih percaya pada Ibu, terlepas apakah dia bicara apa adanya ataukah bermain drama seperti biasa.

Memang di acara reuni itu, setelah empatpuluh tahun, Ibu baru berjumpa lagi dengan teman-teman sekolahnya. Tepatnya sewaktu tinggal di Pesantren Literasi di daerah Gintung, Tangerang. Ibu menyebut satu persatu temannya yang hadir saat itu. Ada yang datang dengan memakai tongkat, giginya ompong, matanya rabun, jalannya sempoyongan. Ada yang namanya Rauf, Aisyah, Hafiz, Jamilah, Khairunnisa, Nurlaila, Nuraeni, Arofah, Makawiyah, Hasanudin, Hikmawati, Nurhayati, Saabudin, Alawiyah, Fauziah, Muhajirin, Khairul Iman, Rosyid, Ghazali, Munawaroh dan banyak lagi yang tergabung dalam komunitas Darqo 89. Seumumnya mereka menyandang nama-nama dari kosakata Arab, padahal tak ada yang bersorban maupun berjubah Arab Saudi.

Ada juga teman yang menetap di luar negeri, ada yang sedang dirawat di RS, dan beberapa sudah meninggal.

Meski sudah banyak berubah, mereka tetap masih saling mengenal satu sama lain. Mereka saling berpelukan mesra, penuh ceria dengan riang gembira. Ibu juga bercerita pada Ayah tentang masa lalunya bersama mereka, tentang mendaki gunung, ngerjain teman di asrama, disetrap Bu Guru, melanggar bahasa, hingga kabur dari pesantren.

Ibu terdiam sejenak, matanya berkaca-kaca saat menceritakan pengalamannya di depan Ayah. Entah, apakah dia mengenang masa lalu yang dirindukannya, ataukah mengenang saat ini yang sudah beranjak tua. “Barangkali Ibu kamu membayangkan reuni tahun-tahun mendatang di negeri akhirat,” canda Ayah seakan membaca pikiran Ibu. Dan saya pun tertawa terpingkal-pingkal.

Lalu, Ibu pun memperkenalkan pada Ayah, tentang nama-nama anak-cucu mereka yang hadir. Di antaranya Rendy, Rosa, Historia, Vera, Imonk, Ita, Ucu, Huty, Elun, Mila, Mecca, Qoya, Rony, Valentino, Ronaldo. Aduh, kenapa sih orang-orang tua mereka memberi nama yang aneh-aneh seperti itu? Bukankah leluhur mereka adalah orang-orang Nusantara? (*)

Oleh: Indah Noviariesta

Penulis adalah Penggiat organisasi Gema Nusa, juga aktif menulis sastra dan esai di Radar NTT, Republika, Suara Merdeka, Tribunnews, NU Online, Radar Madura, Kaltim Post, Solopos, Tangselpos dan lain-lain

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.