Rencana Pernikahan

oleh -1029 Dilihat
banner 468x60

Tentara muda itu memandang dengan tatapan tajam dan muram. Seragam yang dikenakannya tampak lusuh dan pudar. Ia menenteng senapan Pindad SS1, sejenis senapan serbu standar TNI yang talinya sudah kumal dan berjamur. Wajah tentara itu kelihatan lesu dan tak bergairah. Ia kelahiran Solo, Jawa Tengah, sedangkan wanita cantik yang akan disuntingnya berdarah Persia. Dulu, ayahnya bekerja di Kedutaan Iran yang berkantor di Jakarta, lalu menikahi seorang perempuan Sunda kelahiran Bandung.

Wanita cantik itu pernah kuliah di Universitas Indonesia (UI) pada fakultas kedokteran. Sekarang, tentara muda yang sudah lima tahun mengabdi di TNI itu takluk pada mata dan senyum seoraııg wanita berdarah Persia. Di tangannya ada ponsel yang menyimpan WA terakhir beberapa hari lalu, berisikan kata-kata sebagai berikut:

Maafkan saya karena harus mengirim surat ini melalui WA. Alasan saya menolak menjadi istri kamu, karena kita memiliki perbedaan yang prinsipil dalam hal-hal tertentu. Saya menghormati pengabdian kamu pada negara, di samping juga ayahmu sebagai veteran yang mengabdi sejak masa Orde Baru. Tetapi, dalam tahun-tahun terakhir ini, ketika Presiden menyatakan keberpihakannya kepada Amerika dan Israel, saya telah kehilangan respek kepada tentara Indonesia, dan orang tua saya menyarankan agar saya segera pulang ke Teheran.

Sejak dikirimkannya WA terakhir, tentara itu tak punya tenaga untuk membalasnya. Sepanjang hari ia merasa lesu dan sedih. Berkali-kali ia membaca ulang surat yang menghancurkan harapannya dengan tatapan menerawang, kemudian menyandarkan kepalanya pada kedua tangan.

Perbedaan usia mereka hanya satu tahun, dan tampaknya selama beberapa tahun menjalin hubungan keduanya saling mencintai, tetapi kini perhatian tulusnya serta kebaikan kebaikan yang diberikannya seakan sirna dan pupus sudah. Padahal, sejak aktif di kemiliteran, pemuda itu tampak sigap, bahkan di lapangan ia termasuk tentara muda yang penuh semangat.

Kini, ia harus berangkat ke Libanon dengan perlengkapannya. Ia sudah bersiap untuk sebuah aksi pertempuran. Setelah menaiki kendaraan militer, ia membayangkan mantan kekasihnya yang akan menikmati cahaya musim panas di Kota Qom, Teheran. Setahun yang lalu, keduanya pernah berjalan-jalan di kota itu, ketika ia mengawal petugas Palang Merah Indonesia (PMI) yang mengobati korban-korban rakyat sipil yang dikirim dari Gaza.

“Berkali-kali saya membaca WA terakhirmu,” kata sang Tentara Muda, “Dan saya mohon agar kamu mempertimbangkannya.”

Wanita cantik itu benar-benar mengagumi kekuatannya, penampilan dan keberaııiannya. Tetapi, demi kebaikan masa depannya, ia bersikukuh pada pendiriannya, “Saya sudah mempertimbangkannya, sungguh saya suka dan sayang sama kamu, tetapi bagaimana pun kita tak mungkin bersatu.”

Tentara muda itu memerah mukanya. Ia terdiam sejenak, menatap sedih ke arah matahari terbenam. Di balik deretan pepohonan, dan sejauh mata memandang, ada sebuah jalan panjang tempat pasukan berbaju loreng sedang mengntri memasuki kendaraan militer. Kini, sang waktu seakan memperdayainya dengan kejam. Hanya karena keputusan presiden yang disampaikan secara sepihak, hal itu telah menghalaııgi dirinya dari kebahagiaan. Tangan wanita itu meluncur dari genggaman kokoh sang tentara muda, kemudian ia menyatakan salam perpisahan.

“Tolong, jangan terlalu dipikirkan,” katanya dengan lembut. “Mungkin ini jalan yang terbaik buat kita, dan barangkali juga yang terbaik buat bangsa ini.”

Ia telah memikirkannya dengan sangat bıjaksana. Suatu hari naııti, seseorang akan bersyukur karena keputusan masa lalu yang barangkali itulah keputusan terbaik baginya. Awal pernikahan memang terasa indah dan menyenangkan. Tetapi, dalam beberapa tahun saja, apa-apa yang dirasakan tentu akan berbeda.

Tentara muda itu telah kalah dalam pertarungannya. Namun, ia adalah seorang pejuang yang gagah berani, dan ketika ia bangkit untuk mengucapkan selamat tinggal, mulutnya tertutup rapat dan ia terdiam kaku. Sore itu, ia mulai berangkat menuju Libanon, dan keesokan paginya ia sudah sampai di barak militer, di mana senapannya tergantung bersama senjata-senjata lainnya. Di sela-sela tugas kemiliterannya, sesekali ia bergumam pada dirinya sendiri.

“Tak ada yang bisa menyaııgkal, memang dia wanita berdarah Persia yang luar biasa, ia tipikal wanita yang setia tetapi memiliki prinsip yang teguh pada leluhurnya, juga pada ajaran agamanya.”

Dua bulan kemudian, Tentara Muda itu dipulangkan ke tanah air bersama ratusan tentara lainnya dalam keadaan selamat. Sedangkan, tiga orang temannya telah gugur karena ledakan keras di pinggir jalan. Diduga ledakan yang menghancurkan kendaraan militer itu, bersumber dari rudal yang dilancarkan pasukan Israel yang diarahkan secara sporadis ke wilayah Libanon Selatan.

Kini, Tentara Muda yang gagah berani itu telah berkumpul ke tengah keluarganya. Tetapi, pikirannya dan jari-jemarinya seakan lumpuh saat ingin menelepon kekasihnya di Teheran. Ia hanya terdiam kaku dalam keadaan menerawang, sambil menunggu keputusan politik, apakah Sang Presiden memiliki kebaranian moril untuk mengakui, bahwa Amerika dan Israel adalah negara-negara penjajah yang telah bertindak sewenang wenang kepada bangsa-bangsa yang dijajah dan dikuasainya selama ini? (*)

Oleh: Chudori Sukra

Penulis adalah Anggota Mufakat Budaya Indonesia (MBI), juga penulis prosa dan esai di berbagai media nasional luring dan daring, seperti Kompas, Koran Tempo, Republika, ruangsastra.com, nusantaranews.co Jurnal Toddoppuli, NU Online dan lain-lain

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.