Proyek Mangkrak

oleh -891 Dilihat
banner 468x60

“Saya tidak ikut proyek!”
Lunglai seperti ayam kehujanan, Pak No bersandar di pintu rumah. Bahunya turun. Sehelai sarung lusuh tergantung di lehernya. Ada sedikit nyeri dalam hati Bun karena menghardik orang tua. Bagaimana pun, Pak No hanya suruhan Bugi, bukan bagian komplotan itu.

Sudah beberapa minggu, di kampung terdapat onggokan kerikil, pasir, semen, batu bata, serta beberapa lonjoran besi, kayu, dan bambu. Jalan kampung semakin berantakan. Hampir tidak ada ruang untuk manusia. Berpapasan dua orang pun sulit.

Kabarnya, itu bantuan dari walikota untuk warga miskin. Jika rumah-rumah reyot diperbaiki, pemandangan kota semakin rapi dan asri. Jika tata kota sesuai standar nasional, walikota berpeluang besar menjabat Menteri Tata Kota.

Salah satu penerima bantuan adalah Pak No. Awalnya, Pak No menolak, karena tahu diri—membangun rumah perlu biaya lain-lain selain bahan material. Ia tidak sanggup mencari tambahan dana. Tetapi Bugi, perantara warga kampung dengan Walikota, memberi semangat mengandung muslihat.

“Terima saja. Urusan lain-lain, serahkan pada Bun.”

Kalimat itu terus terulang di telinganya membentuk harapan manis bahwa Bun adalah dewa penolong. Demi memandang rumah yang seperti onggokan puing, demi mendengar keluh anak-istrinya merengek perbaikan rumah, tumbuh sedikit mimpi untuk menyulap rumahnya menjadi rumah layak huni. Tidak perlu mewah, yang penting tidak seperti kandang dan tidak kemasukan air hujan, udara dingin, hewan, dan serangga. Tawaran Bugi seolah angin surga menumbuhkan bunga mimpi di setiap tidurnya.

Untuk pertama kali dalam hidup, Pak No menandatangani surat persetujuan penerima bansos bedah rumah. Bukannya anti dan apatis terhadap bantuan dari instansi, organisasi, ataupun kelompok massa, ajaib, nama Pak No tidak pernah terdaftar sebagai penerima bansos. Padahal, ia jelas-jelas lebih miskin daripada rumah tetangga yang mendapat bansos.

Di kampung sebelah, Bun, calon jagoan kita, calon Dewa Penolong, sedang mengerjakan konstruksi dasar pembangunan pondok pesantren merangkap panti asuhan.

Pakaiannya belepotan semen. Tangannya penuh debu. Tampilan Bun lebih mirip tukang bangunan senior daripada akademisi dengan gelar gagah. Ia mengawasi proyek, sekaligus memberi contoh kerja efektif: mengaduk semen, membuat cakar ayam, atau merakit steger.

”Kelihatannya bantuan, padahal proyek tai kucing,” kata Bun pada seorang rekan.

“Proyek mana?”

“Bedah rumah. Harga bahan dinaikkan dua, tiga, empat kali lipat, ditawarkan pada walikota dengan embel-embel barang duluan-dana belakangan. Semua material harus dibeli di toko Bugi.”
“Untung besar, dong!”
“Persis kacang goreng.”
Mereka menyeringai sinis. Getir atas ketidakberdayaan menghadapi kecurangan yang berakar dalam.

*

Sambil menunggu Bun menyelesaikan pekerjaannya, Pak No duduk di tumpukan semen sambil melinting tembakau. Matanya menjelajah bangunan separuh jadi bakal pondok pesantren. Ia kagum. Bun memang terampil dan cerdas. Dari rangkanya saja, konstruksi itu tampak kuat meskipun sederhana. Sudut ruangan terlihat siku-siku dan rapi. Lantai keramik rata dan indah. Dicobanya meninju tembok: keras, tidak kopong. Beda dengan dinding kontrakan yang rontok bila dipaku.

Kuncup mimpinya sedikit merekah. Pak No berharap Bun mau membantunya memperbaiki rumah. Bahan-bahan material dari Walikota sudah dikirim. Tinggal mencari beberapa orang untuk mengerjakan. Juga menyediakan suguhan makanan, minuman, dan rokok selama waktu pengerjaan yang diperkirakan sekitar tiga bulan.

Hari ini kepala Bun mau pecah. Tidak ada yang mengerti kesulitan menyelesaikan proyek nonprofit dengan dana minimalis, namun hasil maksimal. Anggaran pas-pasan. Target kerja belum tercapai. Cuaca panas menguras energi. Ditambah lagi, beberapa kuli tidak becus memahami instruksi. Membongkar pekerjaan sama saja membuang tenaga, waktu, dan bahan material. Maka marahlah ia ketika Pak No datang membawa beban baru.

“Tolong bantu, Bun! Belandar dapur sudah miring. Genteng banyak merosot. Cagak keropos parah. Kalau hujan besar, pasti langsung ambruk.”

Bun meledak. Mengapa semua menjadi tanggung jawabnya?

“Bapak tahu, membangun butuh biaya besar? Apa tidak dihitung-hitung dulu sebelumnya? Biaya tukang itu sama dengan biaya bahan. Tidak ada tukang mau nggarap gratisan. Mereka butuh uang untuk anak-istri. Kalau pun kerja bakti, minimal ada makanan, minuman, dan rokok, supaya lebih semangat bekerja.”

“Kata Bugi, urusan lain-lain diserahkan kamu.” Hampir saja meluncur umpatan dari mulut Bun. Tanpa sadar Bun meremas-remas rontokan semen yang menempel di pakaiannya menjadi serpihan halus.

“Saya tidak bisa dinego. Sekali tidak, berarti tidak.”

Pak No pulang dengan gontai. Penolakan Bun sedikit melukai hatinya, tapi tidak menyurutkan tekad minta tolong. Mental Pak No setegar gunung akibat pengalamannya sebagai pendagang asongan di pasar krempyeng, pengamen di perempatan, sales donat harga seribu (yang rasanya seperti tepung mentah) dari warung ke warung, dan penagih kredit alat dapur dari rumah ke rumah. Sudah biasa ditolak, dimaki, bahkan diusir. Prinsipnya, hari ini dipelototi, bisa jadi besok dibeli.

Esok hari Pak No kembali menemui di tempat sama, kira-kira pada waktu yang sama: setelah azan lohor dan salat selesai, sebelum suapan pertama makan siang masuk ke mulut Bun.

Bun geregetan menghadapinya. Jika terus didesak seperti itu, pasti keputusannya akan berubah. Hatinya luluh. Tidak tega. Hanya saja, Bun tidak mau menjadi bagian dari komplotan koruptor proyek.

Bahan material di pinggir jalan mulai berkurang. Ada saja orang yang diam-diam, bahkan terang-terangan, mengambil batu, pasir, kerikil, sedikit demi sedikit. Alasannya, supaya jalan bisa buat lewat. Awalnya tidak kentara. Barulah sekitar sepuluh hari, terlihat ada perbedaan jumlah. Kalau lebih lama lagi, bisa-bisa bahan itu tidak cukup untuk bedah rumah.

Masih bersikukuh, esoknya lagi, sekonyong-konyong Pak No muncul di hadapan Bun seperti hantu. Wajahnya hitam terpanggang matahari. Keringat menumpuk di alisnya. Seperti yang sudah-sudah, Bun mengeraskan hati menolak membantu.

Bagi Bun, merenovasi rumah kecil tidak memakan waktu lama. Paling hanya sekitar 6 sampai 8 minggu. Dua malaikat putih berkelahi di kepalanya. Malaikat pertama menyuruh membantu Pak No atas nama ketuhanan dan kemanusiaan. Mereka bisa tewas tertimpa rumah jika tidak segera diperbaiki. Malaikat kedua berteriak-teriak supaya Bun jangan mengambil bagian apa pun dari hal kotor dan menjijikkan. Namanya ikut busuk jika terdaftar satu kelompok dengan koruptor.

Dari kejauhan terdengar suara gludug. Awan hitam pekat perlahan-lahan berarak ke tempat mereka. Hanya menunggu beberapa menit saja hingga hujan ambrol.

“Tidak bisa, Pak!” kata Bun menyerukan kalimat yang sama sebelum Pak No membuka percakapan memelas.

Tetes besar hujan jatuh di wajah Pak No. Kemudian, disusul tetesan lain dengan terburu-buru. Hujan pertama di musim panas membawa harum tanah dan batang kering. Baju Pak No basah dan lekat pada tubuh penuh tulang. Tubuhnya yang renta semakin terlihat ringkih dan mengibakan.

Bun tahu, Pak No rela kehujanan, meratap berlarat-larat, bergeming sampai terlontar kesepakatan. Repot jika Pak No kena pneumonia.

“Baik. Baiklah. Setelah pondok ini rampung, saya akan memperbaiki rumah Bapak.” Bun hilang akal. Lidahnya kaku seolah pernyataan tadi keluar di luar kendali. Tidak tahu bagaimana cara menghindar dari permintaan Pak No. Bun merasakan lehernya terikat tali yang perlahan-lahan menyeretnya menuju pisau jagal. Bisa jadi, dialah sapi yang siap disembelih sekelompok tikus.

“Berteduh sebentar, Pak,” tawar Bun sambil menarik lengan Pak No ke teras yang sudah dipasangi kanopi.

“Rumah harus dijaga supaya jangan ambruk!”

Bun tercekat menatap punggung Pak No yang agak bungkuk. Masih sama dengan punggung yang dilihatnya beberapa tahun lalu ketika bapaknya tergesa meminjam jas pada Pak Lurah supaya terlihat gagah menghadiri wisuda sarjananya. Hari itu pun gerimis.

Pak No tergesa-gesa pulang membawa matahari di dadanya. Seulas senyum tersembul di wajah. Sebuah rumah beratap rapat, sebuah kamar mungil untuk anak bungsunya, sebuah kamar pengantin untuk bermesraan dengan istrinya, sebuah dapur tanpa tikus, dan sebuah kamar mandi tanpa kecoak. Sejuta impian menjadi nyata beberapa bulan ke depan. Ia yakin anaknya tidak berbohong. Pasti dikerjakan sepenuh hati. Anggaplah untuk menguji seberapa dalam ilmu yang diterimanya di kampus. Ah, Bun selalu sibuk dengan proyek bangunan nonprofit hingga lupa kalau rumah bapaknya sendiri perlu diperbaiki.

Bun memecah batu sisa pondasi sebagai pelampiasan kekesalan yang bertumpuk-tumpuk selama beberapa hari. Kulitnya terkelupas karena palu dihantamkan serampangan. Dadanya sesak. Ini bukan bedah rumah biasa. Ini perangkap setan. Wajah Bugi tersenyum di antara pori-pori batu. Tidak hancur meski dipalu berkali-kali.

Semarang, 25 Januari 2025

Oleh: Christya Dewi Eka, Penulis lulusan Fakultas Sastra Jurusan Sastra Indonesia Universitas Diponegoro Semarang tahun 2003. Beberapa puisi dan cerpennya dimuat dalam puluhan antologi puisi, media cetak, dan media online, seperti Republika, Klasika Kompas, Suara Merdeka, Radar Pekalongan, Ayo Bandung, Kurung Buka, Lingkar, Clifizine, Balairung Press, Gola Gong Kreatif, Ngewiyak, SIP Publishing, dll. Karyanya pernah terpilih sebagai 10 cerita humor favorit Writerpreuner Academy (2021), juara 5 Lomba Cipta Puisi Poiesis Publisher (2021), 6 puisi terbaik Lomba Cipta Puisi Negeri Kertas (2022), 15 puisi favorit Lomba Cipta Puisi Perpustakaan Jakarta PDS HB. Jassin (2022), juara 1 Lomba Cipta Flash Fiction SIP Publishing (2022), juara 1 Lomba Cipta Cerpen Kesehatan Mental Sekacil (2022), nominasi 10 puisi terbaik Lomba Cipta Puisi 1 Abad Chairil Anwar Teroka Indonesiana (2022), juara favorit 4 Lomba Cipta Puisi Grup FB Yayasan Hari Puisi Indonesia (2023), 11 cerpen terbaik Jagat Sastra Milenia Sastra Media.com (2023), 3 puisi Palestina terbaik Lomba Cipta Puisi Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang (2023), 3 puisi terbaik Lomba Cipta Puisi Ambo Dalle Darud Da’wah wal Irsyad (2024), 5 puisi terbaik Payakumbuh Poetry Festival (2024), juara 3 Lomba Cipta Cerpen Sekacil (2025), dll.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.