Prajurit Senewen

oleh -808 Dilihat
banner 468x60

Ketika Indonesia masih di bawah bayang-bayang kekuasaan Orde Baru, seorang tentara muda dari Banten mendaftar sebagai tentara sukarela untuk ikut-serta memerangi para gerilyawan di Timor Timur. Ia dicatat dengan nama lengkap Imam Mahdini, dan para tentara senior sangat memuji keberaniannya.

Ia diberangkatkan bersama para tentara lainnya, menuju tempat di mana senjata-senjata dibagikan secara massal. Sambil menimang-nimang senapan buatan Pindad, ia pun berkata dengan rasa jengkel, “Sekarang saya mau berangkat dan harus berhasil menembak si kafir Abilio!”

Tentara lainnya mengerutkan kening sambil bertanya-tanya, siapakah Abilio yang dia maksud.

“Tentu saja dia musuh,” katanya ketus, “musuh saya.”

Seorang tentara berpangkat letkol menjelaskan bahwa yang akan kita tembak adalah para pemberontak yang menjadi musuh bersama. Bukan musuh dia pribadi.

“Emangnya saya orang tolol?” balasnya lagi, “tentu saja si Abilio itu musuh kita bersama. Nama aslinya Ahmad Abilio, dan dia adalah salah satu di antara para pemberontak yang akan kita habisi. Waktu saya dengar kabar bahwa kalian akan menumpaskan pasukan Fretilin, saya berpikir bahwa saya juga harus terjun ke lapangan untuk menghabisi si kafir Abilio. Nah, itulah sebabnya saya berada di tengah kalian, dan cepat-cepat mendaftar sebagai tentara sukarelawan.”

Ia menghela nafasnya, tatapannya menerawang, dan lanjutnya, “Orang itu telah mempermalukan saya di depan perempuan, dan dia juga pernah menipu saya. Tapi ya, sudahlah, itu masa lalu. Nanti akan saya ceritakan setelah saya menembak dia.”

Tentara-tentara lainnya manggut-manggut seakan mempercayai omongannya itu.

“Oke, kalau begitu, Pak Kapten,” Mahdini menghadap kepala pasukan yang

memimpinnya. “Tunjukkan saja di mana posisi Abilio berada, dan saya akan habisi dia.”

Kapten itu menjawab bahwa ia tidak tahu posisinya.

“Ya sudah kalau begitu, nanti akan saya cari di mana si kafir Abilio itu. Cepat atau lambat saya toh akan menemukan juga.”

Kapten itu menegaskan bahwa Mahdini tidak boleh berangkat semaunya. Ia harus konsisten menuruti garis komando yang sudah ditetapkan. Ia juga hanya boleh menembak pihak yang ditentukan sebagai musuh, dan para tentara lainnya tak berurusan dengan orang yang bernama Abilio.

“Nah, kalau begitu,” ujar Mahdini, “saya akan ceritakan siapa sebenarnya si kafir Abilio itu. Dia itu penjahat kelas kakap, dan dia juga pernah mengaku sebagai komunis. Karena kalian berada dalam posisi memusuhi dia, maka kalian sudah berada di jalur yang tepat. Karena itu, saya pun turut mengangkat senjata untuk memerangi dia. Allahu akbar!”

Semuanya diam, tak ada yang menyahut. Apapun yang diceritakan Mahdini tetap tak ada hubungannya dengan upaya mereka untuk menumpas para pemberontak.

Mahdini berusaha meyakinkan mereka sambil mengangkat senapannya, “Maaf kawan-kawan, bagi kalian mungkin tak ada hubungannya dengan orang yang nanti akan saya tembak. Tapi saya akan sangat menyesal bila membunuh orang yang tidak ada sangkut-pautnya dengan Abilio.”

Sang kapten segera menghardiknya. Ia memberi teguran keras pada niat dan maksud kedatangannya di Timor Timur. Ia juga menjelaskan tentang kepentingan nasional dan tugas kemiliteran, serta tak diperbolehkan membunuh orang tertentu sekehendak hatinya.

“Ya sudah kalau begitu, saya mau keluar saja,” ia bangkit dari duduknya seraya melemparkan senapannya.

“Hey, apa-apaan kamu!” teriak kawan-kawannya. “Kenapa tiba-tiba memutuskan keluar? Sementara kamu sudah menandatangani surat pendaftaran dan mengisi dokumen lainnya. Bagaimanapun kamu sudah menjadi bagian dari pasukan kami, Mahdini!”

***

Dengan amarah dan penuh kedengkian, Mahdini tampil di medan perang, menembaki orang-orang yang dianggapnya musuh, sambil berharap di antara mayat-mayat itu ada yang bernama Abilio atau salah satu dari keluarganya.

Hanya selang beberapa minggu, Jenderal Orde Baru menganugerahinya medali karena keberaniannya tampil di medan perang. Tetapi, Mahdini tetap saja belum puas, karena di antara korban-korban itu belum ada kepastian salah satu dari mereka yang bernama Abilio.

Di tengah rasa gundahnya Mahdini berujar, “Kalau saya gagal dan tidak menemukan si kafir Abilio, berarti korban-korban yang saya tembaki itu telah mati sia-sia.”

Lama kelamaan, ia merasa sedih, kecewa dan amat menyesal. Di sisi lain, ia terus saja menerima medali dari Presiden Orde Baru, yang juga seorang jenderal militer itu.

Mahdini tetap terjun ke medan pertempuran, menembaki para pemberontak sehari, dua hari, tiga hari dan seterusnya. Dan ia merasa yakin bahwa pada waktunya nanti, cepat atau lambat, akan sampai juga pada giliran Abilio dan keluarganya.

***

Pada akhirnya, negara-negara yang yang tergabung dalam PBB menyimpulkan bahwa aneksasi terhadap wilayah Timor Timur tak lain merupakan bentuk penjajahan terselubung. Sastrawan dalam negeri, Pramoedya Ananta Toer secara tendensius menegaskan bahwa perilaku tentara-tentara Orde Baru tak ubahnya para tantara Zionis Israel yang mengorbankan warga pribumi Palestina. Mereka hanya berambisi ingin memperluas wilayah jajahannya. Demikian halnya dengan penulis muda Banten yang berani menjuluki Soeharto sebagai penjajah kesiangan.

Sebab, sejak tahun 1945-an, bapak bangsa Soekarno pernah memperingatkan bahwa wilayah teritorial Indonesia tidak akan memasukkan suatu pulau atau wilayah yang secara administratif bukan bekas Hindia Belanda.

Tak lama kemudian, terjadilah referendum di masa kepemimpinan Presiden Habibie, lalu Timor Timur memproklamasikan kemerdekaannya setelah 24 tahun dalam pendudukan militerisme Orde Baru. Seketika Mahdini merasa terpukul. Ia merasa stres, bahkan menuduh Presiden Habibie sebagai kepala negara yang telah sewenang-wenang menjual wilayah Timor Timur kepada negeri-negeri asing.

Karena ia tidak berhasil menemukan Abilio hingga terjadinya masa referendum, Mahdini merasa bersalah karena telah menghabisi nyawa banyak orang dengan sia-sia belaka.

Dan setelah memasuki masa damai sejak awal tahun 2000-an, Mahdini menyedekahkan medali-medali yang pernah ia terima ke seluruh pelosok Timor Leste (nama negara baru yang mereka sepakati setelah menjadi provinsi Timor Timur). Ia menemui para janda dan anak-anak yatim yang telah ditinggal mati bapaknya atau suaminya selama masa perang gerilya.

Dalam perjalanannya mengarungi daerah-daerah yang kini telah berada dalam kekuasaan musuh, Mahdini tak sengaja bertemu dengan Abilio, orang yang dituduhnya sebagai kafir selama ini.

“Nah, ini dia orangnya,” katanya. “Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.”

Ia pun membunuh Abilio dengan sebilah pisau tajam dalam beberapa kali tusukan.

Seketika itu, Imam Mahdini ditangkap dan diseret ke pengadilan. Di tengah persidangan, ia membela diri dengan membikin pernyataan bahwa selama ini mencari-cari “Ahmad Abilio” untuk meluruskan jalan hidupnya agar ia mendapat petunjuk dan hidayah Allah.

Di muka pengadilan, Imam Mahdini mengaku dirinya penganut Wahabisme yang menganggap Ahmad Abilio sebagai penganut Syiah yang menurutnya sesat dan kafir yang harus dihabisi. Ia menuduh Ahmad Abilio sebagai PKI yang harus ditumpaskan sampai ke akar-akarnya.

Tetapi, tampaknya tak seorang pun yang bisa mempercayai apa yang diomongkannya, termasuk Dewan Hakim yang memutuskan ia harus dikurung di dalam penjara seumur hidup. (*)

Oleh: Muakhor Zakaria

Penulis adalah Pengamat sosial kemasyarakatan, juga penulis prosa dan esai di berbagai media lokal dan nasional

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.