Hari-Hari Menjelang Krakatau Meletus

oleh -1094 Dilihat
banner 468x60

Udin mendapati seekor semut basar sedang menunggu di depan rumahnya. Semut itu besar sekali, sepanjang dua meter dengan kaki-kakinya yang melengkung, kurang lebih satu setengah meter. Sedangkan antena yang berdiri tegak di atas kepalanya, sekitar dua meter lebih, hingga menyentuh atap plafon. Udin melihat semut itu gemuk sekali. Kakinya kekar, dan kalau berdiri dia kalah telak dengan kebesaran tubuh semut itu.

Ia gemetar ketakutan, tak berani membuka mulutnya. Tiba-tiba, semut besar itu berkata dengan suaranya yang menggelegar, “Panggil saja saya Semut.”

Udin terperanjat dan mundur selangkah, masih tetap membisu. Pandangannya terperangah, berdiri terbengong-bengong di ambang pintu.

“Jangan takut, saya ke sini mau menolong orang-orang Banten, Jakarta dan Lampung Selatan, bukan mau menyakiti kalian. Ayo, kita masuk ke dalam.”

Udin menggendong ransel di pundaknya, sementara tangan kanannya menenteng tas belanjaan dari minimarket, berisi roti tawar, susu, mie instan dan dua botol besar air mineral.

“Ayo cepat masuk, Pak Udin. Kita bincang-bincang sebentar di dalam rumah.”

Mendengar namanya disebut, Udin seketika mengubah sikap. Dia menutup pintu seperti yang diperintahkan, menaruh ransel dan tas belanjanya di atas kursi lalu melepas sepatunya. Semut mengisyaratkannya agar duduk di ruang tengah, dan Udin pun menurutinya.

“Saya minta maaf, Pak Udin, kalau-kalau saya terlihat buru-buru,” kata Semut kemudian. “Saya tahu ini akan mengejutkan Bapak, tapi saya tidak punya pilihan lain.”

Udin masih terbengong-bengong. Sempat kepikiran bahwa ini adalah ulah seorang teman kantornya yang mengenakan kostum semut untuk membuat lelucon dengannya. Tapi ia mengamati gerakan semut itu ketika melangkah ke dalam tadi, bahwa ini memang betul-betul semut besar yang bisa bicara. Lalu, kata Semut lagi, “Saya tahu, mestinya saya membuat janji dulu untuk mengunjungi Pak Udin. Bukan berarti saya tidak mengerti akhlak dan sopan santun. Siapapun pasti akan terkaget-kaget menemukan semut besar di depan rumahnya. Tapi ada satu hal penting yang sangat mendesak, yang harus saya kemukakan pada Bapak.”

“Hal mendesak apa?” akhirnya Udin berhasil membuka mulutnya.  “Apa hubungannya dengan saya?”

“Tentu saja ada hubungannya dengan Bapak.”

Udin terpaku di tempat, berusaha agar tidak menggeser posisi duduk, dan katanya lagi, “Baik, kalau begitu silakan sampaikan… tapi sebelumnya, apakah saya boleh merokok?”

“Silakan, silakan,” kata Semut sambil tersenyum. “Ini rumah Bapak, kan? Masak Bapak harus minta izin pada saya. Silakan saja Bapak merokok atau minum apapun sesuka Bapak. Boleh saya bikinkan kopi?”

“Tak usah.”

“Oh maaf, seharusnya bukan saya yang menawarkan….”

Udin menarik sebungkus rokok dari saku kemejanya, kemudian menyulutnya dan menghisapnya dalam-dalam. Dia melihat tangannya sendiri yang gemetar saat menghisap rokok. Di depannya, si Semut tampak sedang mengamati setiap gerak-geriknya.

“Anda… bukan bagian dari komplotan jawara, kan?” Udin mendapat sedikit keberanian untuk bertanya.

“Hahaha… rupanya Pak Udin ini punya selera humor juga,” tawa Semut keras, “Emangnya nggak ada kerjaan apa? Ngapain juga komplotan jawara harus menyewa semut untuk mengejar tujuannya? Bisa-bisa mereka diketawain sama anak-anak generasi milenial….”

“Begini, kalau Anda di sini mau melobi pembayaran, Anda akan buang-buang waktu saja. Sebab, saya tidak punya otoritas sama sekali untuk membuat keputusan. Hanya atasan saya yang bisa melakukan itu. Saya hanya menjalankan perintah. Maaf, saya tidak bisa melakukan apapun untuk Anda.”

“Tenang, Pak Udin, sabar dulu,” kata Semut sambil mengangkat kaki kanan bagian depannya. “Saya datang ke sini bukan untuk mengatasi urusan kecil seperti itu. Saya tahu, Bapak ini adalah asisten kepala Bagian Peminjaman di Bank Djakarta Mandiri atau BDM. Tapi kunjungan saya tidak ada sangkut-pautnya dengan urusan pembayaran pinjaman. Saya ke sini untuk menyelamatkan orang-orang Banten, Jakarta dan Lampung Selatan dari kehancuran, terutama mereka yang tinggal di wilayah selatan.”

Udin mengamati ruangan untuk mencari semacam CCTV, kalau-kalau pembicaraan mereka sedang direkam untuk suatu maksud terselubung. Tapi, sepertinya di sekitar ruangan tidak ada tanda-tanda adanya kamera tersembunyi.

“Terus terang,” ucap Udin, “saya tidak mengerti apa yang terjadi di sini. Ini bukan berarti bahwa saya tidak percaya, tapi saya sepertinya tidak bisa memahami keanehan semacam ini. Apakah keberatan kalau saya mengajukan beberapa pertanyaan?”

“Silakan, silakan,” kata Semut, “kira-kira apa yang ingin Bapak pertanyakan?”

“Benarkah Bapak ini semut betulan?”

 “Ya, tentu saja, seperti yang Bapak lihat sendiri. Saya seekor semut, dan bukan kiasan atau metafora atau dekonstruksi melalui pengambilan sampel maupun proses kompleks lainnya. Maukah saya berteriak-teriak supaya Bapak dengar?”

Semut meluruskan moncong mulutnnya, kemudian kedua antenanya bergetar, dan keluarlah suara: “Nnngggeeettt…”

“Cukup, cukup, saya percaya, saya percaya!” tegas Udin, khawatir suaranya yang keras bisa terdengar oleh orang-orang di luar. “Baik, itu hebat. Sekarang saya tak perlu ragu lagi kalau Anda semut betulan.”

“Ada yang mengatakan bahwa saya adalah gabungan keseluruhan semut-semut. Meskipun anggapan itu tak berpengaruh apa-apa buat saya kalau saya ini memang benar-benar semut.”

Udin mengangguk. Berharap untuk menenangkan diri, “Tadi Anda bilang bahwa kedatangan Anda ke sini untuk menyelamatkan wilayah Banten dan Jakarta dari kehancuran?”

“Tepat sekali, itulah yang saya katakan… termasuk Lampung Selatan juga.”

“Ok, lalu kehancuran macam apa yang Bapak maksud?”

“Tak usah panggil saya ‘bapak’, cukup panggil saja Semut.”

“Ya, kehancuran macam apa?”

“Gunung Anak Krakatau meletus dan tsunami besar,” kata Semut dengan sangat berat.

Dengan mulut menganga, Udin menatap Semut. Kemudian, mereka saling menatap satu sama lain, lalu Semut pun membuka mulutnya, “Tsunami kali ini sangat dahsyat… dahsyat sekali! Sudah diatur untuk menghantam Banten Selatan hingga mencapai Jakarta pada jam 02.21 pagi, waktu setempat, pada tanggal 21 Februari 2023. Gempa dan tsunami kali ini jauh lebih hebat ketimbang yang melanda Selat Sunda beberapa tahun lalu. Diperkirakan jumlah korban yang tewas mencapai seratus ribu lebih di sepanjang pantai Selat Sunda hingga mencapai Jakarta. Bangunan-bangunan akan hancur, berubah menjadi tumpukan puing-puing, penghuninya mati tertimpa reruntuhan. Transportasi macet total, baik darat maupun laut. Ambulans dan mobil pemadam kebakaran tidak berguna, ribuan orang hanya bisa berbaring dan sekarat di mana-mana.”

Keduanya saling diam membisu. Suasana terasa hening dan lengang. “Lalu Anda,” kata Udin, “punya rencana untuk menghentikan gunung meletus dan tsunami ini?”

“Tepat sekali, Pak Udin,” kata Semut mengangguk. “Ini adalah poin utama yang ingin saya bicarakan dengan Bapak. Jadi, nanti Bapak dan saya akan naik perahu dan berlayar menuju gunung Anak Krakatau. Setelah bersandar di pantai, kita langsung naik ke atas mencapai puncak, kemudian kita melompat di bawah lubang besar di sekitar kawah, lalu bertempur habis-habisan melawan Induk Semang Corona.”

“Induk Semang Corona?”

 “Ya, di sana ada Induk Semang dari virus yang menggerogoti umat manusia saat ini. Dia sedang tidur dalam posisi melingkar, tetapi nanti pada tanggal 21 Februari 2023, dia akan bangkit dan mengamuk di bawah gunung Anak Krakatau, lalu terjadilah muntahan lahar dan lava pijar di tengah laut hingga terjadi tsunami besar.”

***

Jika dilihat dari biodatanya, Udin hanya seorang karyawan biasa yang bekerja selaku anggota Divisi Kredit Bank Djakarta Mandiri (BDM), Udin telah mengalami banyak sengketa dan perselisihan di lapangan. Dia sudah limabelas tahun terbiasa bergelut setiap hari sejak lulus dari perguruan tinggi, lalu bergabung menjadi staf bank. Sebagai petugas pengumpul, posisinya memang terbilang tak populer. Sementara orang-orang konglomerat seenaknya meminjam uang pada momen-monem yang menentukan, dengan jaminan tanah maupun saham, hingga cukup meyakinkan petugas pinjaman untuk memberikan berapapun yang mereka butuhkan.

Semakin besar pinjaman yang diberikan, semakin baik reputasi mereka di perusahaan. Banyak pinjaman yang akhirnya tak mampu mereka kembalikan, hingga membuat mereka berkelit sana-sini, atau bersembunyi di lubang-lubang dapur. Pada saat itu, Udin-lah yang harus bersusah-payah turun ke lapangan. Ketika kondisi ekonomi memburuk, pekerjaan Udin kian menumpuk. Di antaranya harga saham anjlok, kemudian nilai jual tanah, hingga jaminan tak berarti lagi.

“Pak Udin, ayo datangi mereka,” kata bosnya memerintahkan. “Sekarang tidak ada waktu lagi, ambil saja apa-apa yang mereka miliki.”

Wilayah utara Jakarta hingga Banten adalah markas para jawara, pusat pertikaian politik dan kekuasaan. Seakan uang mengalir di bawah permukaan laut, dari satu lubang ke lubang lainnya. Sengketa tanah, pinjaman bank, penipuan dan penyelundupan obat-obatan terlarang, menyusup masuk dari berbagai penjuru pulau dan mancanegara. Terjun ke wilayah utara, Udin telah dikepung lebih dari sekali oleh oknum jawara yang mengancam untuk membunuhnya. Tetapi, ia tidak pernah gentar. Apa gunanya mereka membunuh satu orang pegawai bank? Mereka bisa saja menikamnya dari belakang kalau mereka mau. Mereka bisa mengerahkan komplotan untuk memukuli atau mengeroyoknya habis-habisan.

Dalam hal ini, mental Udin cukup tangguh menghadapinya. Dia hidup sendirian, tidak ada istri, tak punya anak, kedua orang tuanya sudah meninggal. Kedua adiknya sudah menikah dan tinggal bersama suaminya di daerah Bandung dan Bogor. Kalaupun mereka membunuhnya, itu tak akan berpengaruh apa-apa dengan kehilangan satu orang petugas bank, dan bumi akan terus berputar pada porosnya.

Bukan Udin tapi justru oknum jawara dan preman di sekitarnya yang gugup ketika melihat dia begitu tenang dan dingin. Dia segera mendapatkan reputasi di dunianya sebagai seorang pria tangguh. Sekarang bagaimanapun, Udin yang tangguh dihadapkan pada kebingungan yang pelik. Apa yang dibicarakan si Semut itu? Induk Semang Corona?

“Siapa itu Induk Semang Corona?” tanya Udin ragu-ragu.

“Dia bukan sembarang virus yang sebesar atom atau partikel, tetapi dia adalah biang dari segala virus. Dia adalah virus raksasa yang kalau marah akan memuntahkan lahar gunung Anak Krakatau, hingga terjadi tsunami dahsyat sekaligus.”

“Lalu, apa yang membuat virus raksasa itu bisa marah?” tanya Udin.

“Saya tidak tahu,” kata Semut dengan pandangan menerawang. “Tidak ada yang tahu pasti apa yang dipikirkan si virus raksasa dalam otak kepalanya. Beberapa pernah melihatnya. Dia biasanya tidur dalam posisi melingkar. Itulah yang benar-benar dia sukai, butuh waktu lama, tidur siang yang panjang. Kadang dia terus-menerus tidur selama bertahun-tahun, atau berpuluh-puluh tahun, dalam kehangatan dan kegelapan bawah tanah. Matanya, seakan telah berhenti berkembang, otaknya telah berubah lemas saat dia tidur. Kalau Pak Udin bertanya pada saya, saya akan menebak dia mungkin tidak berpikir apa-apa, hanya terbaring di sana seperti orang yang meringkuk di dalam penjara. Setiap ada gemuruh kecil dan dengung yang mendekatinya, menyerap ke dalam tubuhnya, dan menyimpannya. Kemudian, melalui beberapa jenis proses kimia, dia bisa meledak dan memuntahkan amarahnya tak terkendali. Mengapa hal ini terjadi? Saya tidak tahu, dan saya tidak pernah bisa menjelaskannya.”

Semut terdiam, memperhatikan Udin dan menunggu sampai kata-katanya telah tenggelam. Kemudian ia melanjutkan, “Tolong jangan salah paham. Saya merasa tidak ada permusuhan pribadi terhadap virus raksasa itu. Saya tidak melihat dia sebagai perwujudan kejahatan. Bukan berarti juga saya ingin menjadi temannya. Ketahuilah, dunia ini seperti baju yang sangat besar, dan membutuhkan kantong dari berbagai bentuk dan ukuran. Tapi tepat saat ini, virus itu telah mencapai titik di mana ia terlalu berbahaya untuk diabaikan. Dengan semua jenis kebencian yang ia serap dan simpan selama bertahun-tahun, jantung dan tubuhnya telah membengkak menjadi raksasa. Dan yang lebih parah lagi, terjadinya erupsi Anak Krakatau di Selat Sunda beberapa waktu lalu, telah mengguncang dirinya dari tidur nyenyak yang dia nikmati. Dia mengalami semacam dorongan oleh kemarahan yang mendalam, yang menyebabkan muntahan batu dan lava pijar, dan dia akan melakukannya lagi secara lebih dahsyat.  Jadi, saya telah menerima informasi dari sumber yang dapat dipercaya tentang ketepatan waktu, terutama dari binatang-binatang kecil teman baik saya.”

Semut mengatupkan mulutnya dan memejamkan matanya seperti kelelahan yang jelas terlihat.

“Jadi apa yang ingin Anda katakan adalah,” kata Udin, “bahwa Anda dan saya harus pergi ke bawah tanah bersama-sama dan mengalahkan Induk Semang Virus Corona, untuk mencegah meletusnya gunung Anak Krakatau, begitu?”

“Nah, tepat sekali,” ujar Semut sambil menjulurkan antenanya.

Udin mematikan rokoknya setelah menghisapnya dalam-dalam, “Tapi, saya masih belum mengerti, kenapa Anda memilih saya untuk pergi bersama Anda?”

Semut menatap langsung ke mata Udin sambil tertawa, “Selama ini saya sangat menaruh hormat pada Bapak. Bayangkan, Pak Udin telah mengabdi selama limabelas tahun untuk mengamankan bank BDM. Seakan Bapak tidak menyadari tugas yang sangat berbahaya ini, suatu pekerjaan tak populer yang tidak ada daya tariknya, dan selalu dihindari banyak orang. Saya tahu benar, betapa sulitnya pekerjaan langka ini buat Bapak. Saya percaya, baik atasan maupun rekan kerja Bapak, mereka belum bisa menghargai pencapaian dan kerja keras Bapak. Barangkali mereka buta semuanya. Tetapi Bapak, yang tidak dihargai dan tidak mendapat dukungan ini, tidak pernah merasa capek atau mengeluh pada pekerjaan Bapak. Selain itu, setelah orang tua Bapak meninggal, Bapak juga sibuk mengurus kedua adik Bapak yang waktu itu masih remaja, membiayai mereka sekolah, kuliah hingga menikah, yang semuanya itu butuh pengorbanan basar,” ia terdiam sejenak, lalu sambungnya, “dan Bapak tak pernah menuntut adik-adik agar membalas jasa-jasa yang telah Bapak berikan.”

Semut mengamati reaksi Udin, tapi ia masih terdiam dan kurang begitu yakin. Lalu, Semut pun menambahkan, “Sebenarnya, Pak Udin, tidak ada yang menarik untuk dilihat dari kepribadian Bapak, selain itu Bapak juga pendiam dan tak pandai bicara, sehingga Bapak sendiri cenderung dipandang rendah oleh orang-orang di sekitar Bapak. Tapi saya berpikir dengan akal sehat, bahwa Bapak adalah seorang pemberani, dan tidak ada satu orang pun di Banten dan Jakarta ini yang layak mendampingi perjuangan saya selain Bapak.”

Udin menghela napasnya, “Oke kalau begitu… tapi, bagaimana Anda banyak tahu tentang saya?”

“Nah, Pak Udin, buat apa saya jadi semut sekian lama, kalau saya tidak menjaga penglihatan saya pada kenyataan hidup ini?”

“Tapi tetap saja, saya masih sangsi. Saya tidak tahu apa-apa tentang dunia bawah tanah. Saya tidak memiliki jenis otot yang diperlukan untuk melawan Virus Raksasa dalam kegelapan. Saya yakin Anda dapat menemukan seseorang yang lebih kuat dari saya, seorang pria yang bisa pencak silat atau kung fu, yang memang pantas disebut petarung. Atau bisa juga Anda memanggil kucing belang seperti dalam novel Jenderal Tua dan Kucing Belang itu…”

“Ah, tokoh kucing dalam novel itu hanya fiktif belaka. Itu hanya bikin-bikinan pengarangnya. Yang saya inginkan adalah sesuatu yang riil dan nyata yang bisa membantu perjuangan saya untuk mengatasi masalah ini.”

Semut memutar mata dan memancangkan antenanya, “Sejujurnya, Pak Udin, sayalah orang yang akan melakukan pertempuran ini. Tapi saya tidak bisa melakukannya sendirian. Saya membutuhkan keberanian, dukungan dan semangat Bapak untuk menegakkan kebenaran dan keadilan ini.”

Semut mengangkat kaki depan kanannya, dan matanya menyorot tajam, “Sebenarnya, pikiran pertempuran dengan Virus Corona dalam gelap cukup menakutkan saya. Selama bertahun-tahun saya hidup sebagai makhluk introvert, dan berdampingan dengan alam. Pertempuran bukanlah sesuatu yang menjadi kebiasaan saya. Tetapi kali ini, saya melakukannya karena memang harus. Yang pasti, pertarungan khusus ini akan menjadi sesuatu yang sengit. Saya mungkin tidak kembali hidup-hidup. Saya mungkin juga kehilangan salah satu anggota badan saya. Tetapi saya tidak bakal lari. Karena itu, Pak Udin, apa yang saya inginkan dari Bapak semata-mata agar Bapak bisa berbagi keberanian sederhana dengan saya, untuk mendukung saya dengan sepenuh hati sebagai teman sejati. Apakah Bapak mengerti apa yang saya maksudkan?”

Tetap persoalan ini masih belum masuk di akal. Meskipun, ia bisa percaya pada apa yang Semut katakan. Cara Semut bicara, raut wajahnya, memiliki kejujuran sederhana yang menarik langsung ke hati. Setelah bertahun-tahun bekerja di divisi terberat di bank BDM, Udin memiliki kemampuan untuk merasakan hal-hal seperti ini.

“Saya tahu ini pasti sulit bagi Bapak sendiri. Seekor semut besar datang menerobos masuk ke rumah, dan meminta Bapak percaya pada hal-hal aneh semacam ini. Tapi yang saya lihat, reaksi Bapak wajar-wajar saja sepertinya. Karena itu, saya bertekad memberikan bukti pada Bapak bahwa saya benar-benar ada, benar-benar maujud. Sekarang katakan pada saya, Pak Udin, bahwa selama ini Bapak banyak mengalami kendala untuk memulihkan pinjaman bank yang dibuat oknum jawara Toni Sumarto, untuk kepentingan politik saudara-kerabatnya, bukankah begitu?”

“Ya, benar sekali,” jawab Udin.

“Jadi, mereka memiliki banyak pemeras yang bekerja di belakang layar, dan orang-orangnya bekerja sama dengan oknum jawara. Mereka berbuat licik dan curang untuk membuat perusahaan bangkrut dengan mengajukan pinjaman. Petugas pinjaman bank Bapak menyodorkan tumpukan uang untuk mereka tanpa pemeriksaan latar belakang yang layak. Dan seperti biasa, orang yang tersisa untuk membersihkan setelahnya adalah Bapak sendiri. Tetapi dalam hal ini, Bapak kewalahan untuk menjangkau orang-orang ini. Ya, mereka memang bukan lawan enteng. Para wartawan daerah dan seniman yang dangkal wawasan, juga sulit memahami fenomena ini. Mereka hanya akan jadi bulan-bulanan dari permainan politik Toni Sumarto, sebagaimana politik Orde Baru yang senang melakukan intimidasi dan teror terhadap imajinasi bangsa ini. Di belakang mereka ada politisi-politisi kuat yang mendompleng. Mereka punya hutang kepada bank sebanyak tiga trilyun, dan itu adalah situasi yang sedang Bapak hadapi. Benarkah apa yang saya katakan, Pak Udin?”

“Ya, seperti itu.”

Semut mengulurkan kaki depannya lebar-lebar, menepuk pundak Udin sambil berujar, “Jangan khawatir, Pak Udin. Serahkan semua urusan itu pada saya. Besok pagi, saya akan berusaha memecahkan masalah yang sedang Bapak hadapi. Santai saja, dan nikmati tidur nyenyak malam ini.”

Dengan senyum lebar Semut berbalik, kemudian keluar melalui pintu samping, meninggalkan Udin sendirian.

***

Saat Udin tiba di tempat kerja keesokan harinya pukul 08.30, telepon di mejanya tiba-tiba berdering.

“Pak Udin,” kata suara seorang pria dengan lugas dan dingin, “Nama saya Sokib Kusen, biasa dipanggil Bang Sokib. Saya adalah pengacara dalam kasus Pak Toni Sumarto. Saya menerima telepon dari klien saya pagi ini berkaitan dengan masalah pinjaman tunda. Dia ingin Bapak tahu bahwa dia akan mengambil tanggung jawab penuh untuk mengembalikan seluruh jumlah yang diminta pada tanggal jatuh tempo. Dia juga akan memberikan nota yang harus Bapak tandatangani. Ada satu permintaannya bahwa Bapak jangan sampai mengirim semut besar lagi ke rumahnya. Saya ulangi sekali lagi, bahwa dia tidak ingin Bapak mengutus Semut lagi ke rumahnya. Saya sendiri tidak sepenuhnya paham apa yang dia katakan, tapi saya kira ini semua sudah jelas bagi Bapak Udin. Kira-kira paham apa yang saya maksudkan?”

“Anu… ya, ya, saya paham sekali.”

“Bapak akan berbaik hati untuk menyampaikan pesan saya pada Semut, saya percaya itu.”

“Ya, akan saya sampaikan. Klien Anda tidak akan pernah melihat Semut lagi, saya jamin itu.”

“Terima kasih banyak. Saya akan mempersiapkan nota untuk Bapak besok pagi.”

Sambungan telepon terputus. Semut mengunjungi Udin di kantornya setelah makan siang, “Untuk kasus Toni Sumarto, kelihatannya berjalan lancar nih?” katanya dengan tangan bersedekap.

Udin menatap Semut, dan melirik kiri-kanan dengan gelisah.

“Jangan khawatir, Bapak adalah satu-satunya orang yang bisa melihat saya di sini. Tapi sekarang saya yakin Pak Udin menyadari kalau saya benar-benar ada. Saya bukan produk dari imajinasi siapapun. Saya juga tidak ada sangkut-pautnya dengan pemerintah Orde Baru yang melakukan teror imajinasi kepada ratusan juta bangsa ini sejak tahun 1965. Saya hanya ingin membantu rakyat, dapat melakukan aksi dan memberi hasil. Saya makhluk hidup biasa yang bisa diraba secara kasatmata.”

Udin mengangguk dan menyalakan rokok.

“Sekarang bagaimana? Apakah saya berhasil mendapat kepercayaan Bapak berkaitan dengan masalah yang saya singgung tadi malam? Bapak akan bergabung dengan saya untuk melawan Induk Semang Virus Corona?”

Udin menghisap rokoknya, dan menjawab singkat, “Ya, saya kira saya siap.”

“Terimakasih sebelumnya, Pak Udin,” katanya santun. “Saya paham akan rasa tanggungjawab Bapak yang tinggi. Bagaimanapun, kita tidak punya pilihan lain. Bapak dan saya harus pergi ke bawah tanah dan menghadapi Virus Raksasa. Kalaupun kita harus kehilangan nyawa karenanya, kita tidak akan memperoleh simpati dari siapapun. Dan kalaupun kita berhasil mengalahkannya, kita pun tidak mendapat pujian dari manapun. Tidak seorang pun akan tahu bahwa pertempuran hebat sedang terjadi jauh di bawah permukaan laut, dan di bawah kaki gunung Anak Krakatau. Jadi, hanya Bapak dan saya yang akan tahu, dan pada akhirnya ini akan menjadi pertempuran sunyi.”

Udin menatap tangannya sendiri untuk sementara waktu, kemudian memperhatikan asap mengepul dari rokoknya. Lalu, ia pun bicara, “Anda tahu, Semut, saya ini hanya manusia biasa. Saya ini hanya laki-laki biasa. Kepala saya sudah mulai botak, perut saya agak buncit. Umur saya sudah lebih dari empatpuluh tahun. Kaki saya lemah. Dokter juga bilang bahwa saya memiliki gejala radang paru-paru dan tenggorokan, karena itu kadang-kadang mengalami sesak napas. Saya, boleh dibilang tidak pernah menjumpai satu orang pun yang terang-terangan menyukai saya, baik di tempat kerja maupun dalam kehidupan pribadi. Saya tidak tahu bagaimana bicara dengan orang lain, dan saya tak pandai berperilaku dengan orang yang belum dikenal. Saya juga tidak punya kemampuan atletik, badan pendek, mata rabun jauh, juga tuli nada. Apa yang bisa dibanggakan dari saya? Seolah dalam hidup ini apa-apa yang saya lakukan cuma makan, tidur dan berak doang. Saya bahkan tidak mengerti mengapa orang semacam saya ini masih hidup? Apalagi sampai harus menyelamatkan ratusan ribu nyawa penduduk Banten, Jakarta dan Lampung segala?”

“Karena, Pak Udin, mereka itu hanya bisa diselamatkan oleh orang seperti Bapak. Dan untuk orang-orang seperti Bapak-lah alasan saya mencoba untuk menyelamatkan penduduk di republik kepulauan yang luas ini.”

Udin mendesah lagi, lebih dalam saat ini, “Baiklah kalau begitu, lalu apa yang akan saya lakukan pada waktunya nanti….”

Semut menjelaskan rencananya. Mereka akan pergi bersama-sama ke bawah tanah pada tanggal 20 Februari 2023 malam, satu hari sebelum gunung Anak Krakatau meletus dan memuntahkan lahar-laharnya di tengah laut Selat Sunda. Udin diperintahkan untuk melobi seorang nelayan agar menyewa perahu menuju gunung Anak Krakatau, dengan bayaran dua kali lipat dari sewa biasanya. Setelah perahu bersandar, mereka akan menuju puncak gunung hingga melihat kawah yang dikelilingi semacam ngarai yang sangat curam. Di sekitar dinding kawah itu, ada lubang besar berbentuk vertikal, dan mereka akan turun sepanjang 200 meter hingga menemukan Induk Semang Virus Corona di sekitar itu.

“Lalu, kalau kita merencanakan pertempuran, kira-kira seperti apa bentuk pertempuran itu?”

Setelah jeda untuk berpikir, Semut menjawab, “Hmm, seperti kata pepatah bahwa diam adalah emas.”

“Maksudnya saya tidak boleh bertanya?”

“Ya, seperti itu.”

“Seperti kisah Musa dan Khidir, begitu.”

“Kurang lebih seperti itu.”

***

Bagaimanapun, hal-hal yang tak terduga selalu saja terjadi. Ada orang yang tiba-tiba menembak Udin, tepat pada tanggal 20 Februari sore, setelah ia berkeliling sepanjang hari dan berjalan menyusuri jalan di sekitar Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Ketika ia melangkah menuju salah satu kantor cabang BDM, seorang pria muda dengan jaket kulit melompat di depannya. Wajah pria itu kosong, dan dia mencengkeram pistol kecil di tangan kanannya. Pistolnya yang kecil hitam itu hampir tidak tampak nyata. Udin menatap objek di tangan pria misterius itu, tidak menyangka bahwa pistol itu terarah kepadanya. Orang itu tiba-tiba menarik pelatuknya. Itu semua terjadi terlalu cepat, dan tidak masuk akal baginya. Tapi pistol sudah telanjur meletus.

Udin tidak merasakan sakit, tapi tembakan itu membuatnya terkapar di trotoar. Tas ransel di pundaknya terlempar ke arah lain. Pria itu mengarahkan pistol ke arahnya sekali lagi. Tembakan kedua mendentum. Dia mendengar orang-orang berteriak. Segala sesuatunya menjadi kabur dan samar. Ah, saya akan mati di sini, pikirnya. Ia mengingat ketika Semut menyatakan bahwa teror sesungguhnya adalah teror melumpuhkan imajinasi manusia. Dan itu yang dilakukan penguasa Orde Baru selama 32 tahun memerintah negeri ini.

Ketika matanya terbuka dan kesadarannya pulih, ia mendapati dirinya sedang berbaring di rumah sakit. Ia mengamati sekitarnya, dan kemudian membuka lebar-lebar kelopak matanya. Hal pertama yang memasuki pandangannya adalah sangkutan logam di kepala tempat tidur dan tabung infus yang membentang dari sangkutan ke tempat ia berbaring. Berikutnya ia melihat seorang perawat berpakaian putih-putih. Kini, dia menyadari dirinya sedang berbaring telentang di ranjang rumah sakit.

Oh ya, pikirnya, saat itu saya sedang berjalan di sepanjang trotoar ketika seorang pria tiba-tiba menembaknya. Mungkin di sekitar bahu atau dada? Dia menghidupkan kembali adegan dalam pikirannya. Ketika ia mengingat pistol hitam kecil di tangan pemuda itu, jantungnya berdebar-debar. Laki-laki brengsek itu mencoba membunuhnya. Tapi tampaknya, dia masih baik-baik saja. Ingatannya tak bermasalah. Dia bahkan tidak merasa sakit. Dan dia tidak punya perasaan apapun, hanya saja tak mampu mengangkat lengan kirinya.

Kamar rumah sakit tidak memiliki jendela. Dia tidak tahu apakah itu siang atau malam. Dia ditembak sebelum jam lima sore hari. Berapa banyak waktu telah berlalu sejak saat itu? Apakah jam pertemuan malam hari dengan Semut telah berlalu? Udin mencari-cari jam di kamar itu, tapi penglihatannya masih kabur, dan ia tak bisa melihat apa-apa di kejauhan.

“Dok!” dia memanggil seorang perawat.

“Oh ya, syukurlah Bapak sudah siuman rupanya,” kata sang perawat.

“Jam berapa sekarang?”

Perawat itu melihat jam tangan digitalnya, “Sepuluh kurang seperempat.”

“Malam?”

“Pagi, Pak, sekarang masih pagi,” kata perawat sambil tertawa.

Udin mengerang, susah payah berusaha untuk mengangkat kepalanya dari bantal. Bunyi kasar yang muncul dari tenggorokannya terdengar seperti suara orang lain. “Sepuluh kurang seperempat pagi, tanggal 21 Februari?”

“Ya, Bapak benar,” kata perawat, mengangkat lengannya sekali lagi untuk memeriksa tanggal pada jam tangannya.

“Hari ini tanggal 21 Februari 2023,” gumam Udin, “apakah ada tsunami di sekitar Selat Sunda?”

“Tsunami di Selat Sunda?”

“Ya, tadi malam?”

Perawat terbengong-bengong, sambil menggeleng. “Tidak ada kabar apa-apa tentang tsunami di Selat Sunda, Pak.”

Dia menarik napas lega. Apapun yang terjadi, meletusnya gunung Anak Krakatau setidaknya telah dihindari.

“Bagaimana dengan luka saya?”

“Luka Bapak?” tanyanya kemudian. “Apanya yang luka?”

“Saya ditembak, kan?”

“Ditembak? Saya kira tidak ada luka tembak di tubuh Bapak?”

“Di sekitar trotoar di dekat pintu masuk Bank Djakarta Mandiri, ada orang menembak saya di sekitar bahu?”

Perawat melontarkan senyum gugup ke arahnya. “Maaf, Pak Udin, saya kira Bapak dibawa ke rumah sakit bukan karena luka tembakan.”

Udin tertegun. “Lalu, kenapa saya bisa dibawa ke rumah sakit?”

“Seseorang menemukan Bapak tergeletak di jalan, tak sadarkan diri. Di daerah Lebak Bulus, dekat kantor BDM. Bapak sendiri tidak memiliki luka eksternal, hanya kedinginan saja. Dan kami masih belum menemukan apa penyakitnya. Sebentar lagi dokter akan datang, dan sebaiknya Bapak bicara langsung dengan dokter.”

Tergeletak di jalan tak sadarkan diri? Udin sangat yakin ia melihat pistol terarah kepadanya. Dia mengambil napas dalam-dalam dan mencoba untuk meluruskan pikirannya. Dia akan mulai dengan menyusun semua fakta dalam urutan.

“Maksud Dokter tadi, saya sudah berbaring di kasur rumah sakit ini, tak sadarkan diri, sejak kemarin sore, benar?”

“Ya, benar,” kata perawat, “dan tidur Bapak sepertinya kurang tenang, banyak mengigau seperti sering mengalami mimpi buruk. Saya mendengar Bapak berteriak-teriak, ‘Semut! Semut! Awas di belakang kamu… itu Virus Raksasa… awas di belakang kamu!’ Apakah Bapak punya teman yang namanya Semut?”

Udin menutup matanya dan mendengarkan irama jantungnya yang lambat. Berapa banyak dari apa yang dia ingat benar-benar terjadi, dan berapa banyak yang hanya halusinasi belaka? Apakah Semut benar-benar ada? Lalu, Semut itu bertempur melawan Induk Semang Virus Corona untuk menghentikan gunung meletus? Ataukah ini semua hanya mimpi panjang belaka?

***

Semut datang ke kamar rumah sakit keesokannya. Udin terbangun untuk menemukan dirinya dalam cahaya redup.

“Semut!” Udin memanggilnya.

Semut perlahan membuka matanya. Perut hitam besar menggembung dan menyusut dengan napasnya.

“Saya bermaksud untuk bertemu dengan Anda di Pantai Carita seperti yang Anda janjikan,” kata Udin, “tapi saya mengalami kecelakaan sore kemarin… sesuatu yang sama sekali tak terduga… dan mereka membawa saya ke sini.”

Semut menggoyangkan kepalanya sedikit. “Saya tahu. Tidak apa-apa, jangan khawatir. Bapak sangat membantu saya dalam pertempuran kali ini, Pak Udin.”

“Ah, yang benar?” ia terperanjat.

“Ya, benar. Benar sekali. Bapak melakukan pekerjaan besar dalam mimpi Bapak. Itulah yang membuatnya mungkin bagi saya untuk melawan Induk Semang Virus Corona dan menyelesaikan semuanya. Saya harus berterima kasih atas kemenangan saya ini.”

“Saya tidak mengerti,” kata Udin. “Saya tidak sadarkan diri sepanjang waktu. Mereka menginfus saya. Saya tidak ingat melakukan apapun dalam mimpi saya.”

“Itu bagus, Pak Udin. Lebih baik Bapak tidak ingat. Seluruh pertempuran mengerikan terjadi di dalam imajinasi. Itu adalah lokasi yang tepat dari medan perang kita. Di sanalah tempat kita mengalami kemenangan dan kekalahan kita. Setiap orang dari kita adalah makhluk dengan durasi terbatas. Kita semua dibatasi oleh kemampuan, tenaga dan waktu yang terbatas. Dan pada akhirnya kita semua kalah. Tapi justru dalam kekalahan itu kita akan memetik hikmah kemenangan yang luab biasa…. Itulah yang membuat kita berhasil menyelamatkan lebih dari seratus ribu penduduk Banten, Jakarta dan Lampung yang akan mati oleh gampa dan tsunami, akibat meletusnya gunung Anak Krakatau. Ketahuilah Pak Udin, tidak ada yang menyadari hal ini, tapi inilah yang memang telah kita capai bersama-sama.”

“Jadi, bagaimana Anda bisa mengalahkan Virus Raksasa itu? Dan apa yang saya lakukan?”

“Kita telah mengeluarkan semua kekuatan yang kita miliki dalam pertarungan sampai titik darah penghabisan. Kita telah menggunakan setiap senjata yang bisa kita raih. Kita telah mengerahkan semua keberanian kita. Kegelapan adalah sekutu musuh-musuh kita. Bapak membawa generator bertenaga kaki dan menggunakan tenaga Bapak untuk mengisi tempat dengan cahaya. Virus-virus Corona mencoba untuk menakut-nakuti kita dengan hantu-hantu dari kegelapan, tapi Bapak tetap bertahan dengan sekuat tenaga. Kegelapan telah bersaing dengan cahaya dalam pertempuran mengerikan, dan dalam terang saya bergulat dengan Induk Semang Virus yang menjijikan itu. Dia bergelung di sekitar saya, dan membelit saya dengan kaki-kakinya yang tajam menggelikan. Seketika itu, saya mencabik-cabiknya, hingga berhasil memotong-motong tubuhnya dengan kampak yang telah saya persiapkan.”

“Apakah dapat dikatakan bahwa kita telah menang dalam pertempuran ini?”

“Menang dan kalah, itu soal lain… tapi yang jelas, kita telah mencapai apa yang menjadi tujuan kita?”

“Menyelamatkan ratusan ribu penduduk Indonesia?”

“Ya, benar.”

“Termasuk menyelamatkan oknum jawara, bajingan mafia dan perampok BLBI yang menimbun utang trilyunan itu?”

“Bagi setiap kejahatan, dan siapapun yang bersalah, pasti akan dihakimi oleh imajinasinya sendiri,” ia terdiam sejenak, dan lanjutnya, “begitupun dengan orang-orang baik yang pasti akan memetik buah dari kebaikan moralnya. Tapi bagaimanapun, perjuangan yang telah kita capai adalah menyelamatkan kemanusiaan, dan itu tugas yang sebaiknya kita pikul dalam perjalanan hidup ini.”

Keduanya saling diam membisu. Tak lama kemudian, Semut bergumam, “Pak Udin, kalau Bapak ingin tahu, saya ini memang seekor Semut murni, tapi pada saat yang sama saya juga punya dunia yang bukan Semut.”

“Hmm, lagi-lagi saya tidak mengerti.”

“Begitu juga saya,” kata Semut, matanya masih tertutup. “Ini hanya perasaan yang saya miliki. Sebenarnya, apa yang Bapak lihat dengan mata Bapak, belum tentu nyata. Musuh saya yang sebenarnya, adalah apa yang ada dalam diri saya. Dalam diri saya, ada sesuatu yang bukan diri saya. Otak saya seakan dipenuhi lumpur. Dan saya benar-benar ingin Bapak memahami apa yang saya katakan.”

“Anda sepertinya lelah, Semut. Lebih baik Anda istirahat dulu dan tidur.”

Kata-kata Semut mulai kehilangan arah. Tubuhnya lunglai dan jatuh ke lantai. Moncongnya mengeluarkan cairan berbusa. Antenanya layu dan melengkung. Berusaha untuk memfokuskan matanya, Udin melihat luka robek di sekitar punggung Semut. Goresan berwarna putih dan pucat muncul di bagian kepalanya. Udin menatap lama hingga merasa iba kepadanya. Tak lama kemudian, Semut mulai bergerak-gerak. Udin pada awalnya mengira bahwa ini hanyalah gerakan normal saat tidur, tapi ia segera sadar. Ada sesuatu yang tidak wajar tentang cara tubuh Semut yang terus menyentak, seperti boneka besar yang terguncang oleh seseorang dari belakang. Udin menahan napas dan mengamati. Dia memaksakan diri bangun dan berteriak-teriak sekeras-kerasnya.

“Pak Udin! Pak Udin!” panggil sang perawat. Udin membuka matanya. Tubuhnya bermandikan keringat. Wajahnya menatap kosong ke langit-langit kamar.

“Mimpi buruk lagi, ya?” Dengan gerakan cepat dan efisien perawat cantik itu menyiapkan suntikan dan menusukkan jarum ke lengannya.

Udin mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Jantungnya mengembang dan berdetak keras.

“Mimpi apa lagi, Pak Udin?” tanya perawat itu lembut.

Udin merasa kesulitan membedakan antara fakta dan fiksi, antara mimpi dan kenyataan. “Apa yang Anda lihat dengan mata Anda, sebenarnya  tidak selalu nyata,” gumamnya pada dirinya sendiri.

“Itu memang benar,” kata perawat dengan senyum. “Terutama kalau Bapak dalam keadaan mimpi.”

“Kalau Semut?” gumamnya.

“Apakah yang terjadi dengan Semut?” tanya perawat cantik itu. “Apakah sejenis rayap-rayap yang disinggung dalam puisi Taufik Ismail itu?”

“Bukan, puisi-puisi seperti itu lebih cenderung mengutuk kegelapan. Saya tidak suka karya-karya sastra yang sibuk mengutuk kegelapan. Lebih baik saya menghindari kegelapan daripada mengutuknya…”

“Atau meneranginya?”

“Kalau saya bisa.”

“Kalau begitu, Anda lebih menyukai novel Pikiran Orang Indonesia?”

“Saya belum pernah membaca buku itu, tapi kalau ada yang meminjamkan untuk saya, tentu saya akan membacanya.” Udin terdiam sejenak, berdehem beberapa kali, dan lanjutnya, “Tapi kembali ke soal Semut tadi. Dia telah menyelamatkan penduduk Banten, Jakarta dan Lampung Selatan dari kehancuran akibat gempa dan tsunami. Semua itu dilakukan oleh perjuangannya sendiri.”

Sambil tersenyum, perawat itu mengeringkan keringat dengan handuk pada dahi Udin. “Anda sangat menyukai semut, rupanya, tapi kalau rayap?”

“Saya lebih menyukai lebah daripada rayap.”

“Kenapa?”

“Karena lebah dapat memberi manfaat buat banyak orang.”

“Ya, saya juga suka binatang itu,” balas si perawat cantik.

Kini, Udin telah menutup matanya, dan ia pun tertidur pulas tanpa mengalami mimpi buruk lagi. ***

*Catatan: Nama-nama tokoh maupun institusi perusahaan, dibuat secara kias dan fiktif.

Oleh: Alim Witjaksono

Penulis adalah Prosaik milenial, juga peneliti dan pengamat sastra kontemporer Indonesia.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.