Oleh: Sirilus Aristo Mbombo
Di tengah berbagai tantangan dan hiruk-pikiuk yang dihadapi oleh bangsa Indonesia hari ini, penting untuk mengarahkan harapan kita pada sektor pendidikan sebagai landasan utama bagi masa depan Indonesia yang lebih baik. Pendidikan yang berkualitas diharapkan mampu melahirkan generasi penerus yang menjadi pemimpin yang kompeten dan bertanggung jawab.
Tanpa landasan pendidikan yang kuat, upaya memperbaiki berbagai aspek kehidupan bersama akan sia-sia. Kualitas pendidikan bukan hanya tentang pengetahuan akademis semata, tetapi juga tentang membentuk karakter yang mampu mendorong kemajuan budaya dan peradaban suatu bangsa.
Perdebatan kuno antara Plato dan Aristoteles menyoroti esensi dari pendidikan yang tepat. Plato menekankan bahwa pendidikan harus mengedepankan intelektualitas. Bagi Plato, untuk menjadi baik berarti memahami dengan benar esensi dari kebaikan itu sendiri. Namun, Aristoteles memperluas pandangannya dengan menekankan bahwa intelektualitas saja tidak cukup. Baginya, penting untuk membentuk kebiasaan-kebiasaan yang baik agar akhirnya menjadikan karakter yang utuh. Ini menggambarkan bahwa pendidikan tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga membentuk sikap dan perilaku yang mengakar dalam diri setiap individu.
Kembali ke zaman sekarang, tantangan dalam menentukan metode pendidikan yang efektif untuk anak-anak kita tetap relevan. Perdebatan antara Plato dan Aristoteles memicu pertanyaan tentang bagaimana pendidikan dapat mencapai tujuan moral dan intelektual secara bersamaan. Apakah lebih penting untuk mengembangkan pemahaman yang mendalam tentang nilai-nilai moral atau membangun kebiasaan-kebiasaan yang mendukung karakter yang baik?
Pendidikan yang bermutu tidak hanya mencakup aspek akademis, tetapi juga memasukkan pembentukan karakter sebagai bagian integral dari kurikulumnya. Hal ini menggambarkan perlunya pendidikan yang menyeluruh, yang tidak hanya menyiapkan siswa untuk menghadapi ujian akademis, tetapi juga untuk menghadapi tantangan moral dan etika dalam kehidupan sehari-hari.
Saat ini, reformasi pendidikan menjadi sebuah kebutuhan mendesak dalam upaya membangun bangsa yang berdaya saing global. Pendidikan yang berfokus pada pengembangan karakter, seperti yang dianut oleh Aristoteles, mungkin menjadi kunci untuk menjamin bahwa nilai-nilai seperti kejujuran, kerja keras, dan tanggung jawab tidak hanya dipahami secara intelektual, tetapi juga diterapkan dalam praktek sehari-hari oleh generasi mendatang di Indonesia.
Menurut saya, perdebatan mengenai dua pandangan utama dalam dunia pendidikan di Indonesia menjadi sentral dalam konteks saat ini. Pandangan pertama menganggap pendidikan sebagai proses penting untuk mencari, memperoleh, dan menyebarkan pengetahuan serta informasi. Dalam pandangan ini, penelitian memiliki peran yang sangat krusial karena hasil-hasil penelitian digunakan untuk memberikan pengetahuan kepada siswa dan masyarakat secara luas.
Dalam perspektif ini, analisis mendalam menjadi bagian esensial dari pendidikan. Artinya, pendidikan dipahami sebagai upaya untuk memecah pengetahuan tentang dunia menjadi bagian-bagian kecil (analisis) agar dapat dipahami lebih dalam. Kunci keberhasilan pendidikan dalam pandangan ini adalah pemahaman yang akurat, yang dibangun di atas dasar informasi, penelitian, dan pengetahuan yang valid. Namun, pandangan ini juga memiliki kelemahan.
Kelemahan utama dari pandangan ini adalah bahwa pengetahuan ilmiah sering kali hanya berhenti pada tingkat intelektual semata, tanpa mampu mengubah pandangan hidup individu atau mempengaruhi perilaku mereka secara substansial. Banyak contoh menunjukkan bahwa meskipun seseorang memiliki pengetahuan yang luas, itu tidak menjamin bahwa mereka akan mengubah cara berpikir atau bertindak sesuai dengan nilai-nilai yang mereka ketahui. Terkadang, orang-orang dengan kecerdasan tinggi malah terlibat dalam tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai moral.
Pandangan kedua tentang pendidikan menekankan bahwa pengetahuan dan informasi tidaklah cukup, tetapi harus disertai dengan pengkondisian nilai-nilai hidup yang positif. Tujuannya adalah agar pengetahuan dan informasi tersebut tidak hanya menjadi pengetahuan intelektual belaka, tetapi juga menjadi nilai-nilai yang mendorong perubahan dalam cara berpikir dan perilaku individu dalam keseharian hidupnya. Pendekatan ini menekankan pentingnya pendidikan karakter sebagai inti dari proses pendidikan.
Namun demikian, terdapat kelemahan mendasar dalam pandangan ini yang perlu dipertimbangkan. Dasar dari pendidikan seharusnya adalah kebebasan individu untuk menggunakan pengetahuan dan informasi guna memperluas pemahaman mereka tentang dunia. Kebebasan ini memungkinkan individu untuk berpikir kritis dan berpartisipasi dalam menciptakan masyarakat yang lebih baik.
Di sisi lain, risiko dari konsep pengkondisian nilai-nilai sosial adalah potensi mengorbankan kebebasan individu dan mengurangi martabat mereka sebagai individu yang mandiri.
Perdebatan ini mencerminkan kompleksitas dalam merancang pendidikan yang efektif di Indonesia, di mana pendidikan harus mampu memberikan dasar pengetahuan yang solid sekaligus membentuk karakter yang kuat dan nilai-nilai yang positif pada individu. Hal ini menuntut pendekatan yang menyeluruh dan seimbang, yang tidak hanya menghasilkan individu yang cerdas secara intelektual tetapi juga moral dan bertanggung jawab.
Di tengah tantangan globalisasi dan perubahan sosial yang cepat, Indonesia harus terus melakukan reformasi pendidikan yang mendalam dan berkelanjutan. Reformasi ini harus mampu menggabungkan esensi dari kedua pandangan tersebut, yaitu mengintegrasikan pengetahuan ilmiah yang valid dengan nilai-nilai moral yang kuat, sambil tetap memperhatikan pentingnya kebebasan individu dan kreativitas dalam proses belajar.
Dalam diskusi antara paradigma pendidikan Aristoteles yang menekankan pembiasaan dan pengkondisian, serta paradigma Plato yang menitikberatkan pada pengetahuan, saya ingin mengajukan pandangan baru mengenai pendidikan sebagai proses penyadaran. Konsep ini menuntut individu untuk mengalami proses “to be aware” di mana mereka harus belajar untuk melupakan semua pengetahuan yang telah mereka dapatkan dan menghentikan kebiasaan menganalisis setiap peristiwa.
Setelah melepaskan semua informasi dan pengetahuan serta menghentikan pola berpikir analitis, pendidikan yang berorientasi pada penyadaran mengajak individu untuk lebih merasakan eksistensi mereka secara keseluruhan. Misalnya, kejujuran tidak lagi hanya menjadi konsep atau informasi, tetapi menjadi pengalaman langsung yang melekat dalam diri individu. Begitu pula dengan kemurahan hati, yang tidak lagi hanya merupakan hasil dari pembiasaan, tetapi menjadi bagian yang organik dari eksistensi mereka, muncul dari pemahaman mendalam tentang realitas sekitar.
Pendekatan ini menandakan pergeseran paradigma dari pendidikan yang hanya mengutamakan menghafal fakta dan membangun kebiasaan, menuju pada upaya untuk membangkitkan kesadaran diri terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitar. Untuk mencapai tingkat kesadaran ini, individu harus belajar untuk “unlearn” dan melepaskan diri dari pola kebiasaan yang telah mereka internalisasi. Kesadaran ini mengubah cara individu melihat dunia dan akhirnya mengubah seluruh diri mereka, memungkinkan mereka untuk berinteraksi dengan dunia secara lebih bebas dan bermartabat.
Individu yang mencapai tingkat kesadaran ini tidak lagi hanya menjadi penyerap dan pustaka informasi belaka. Mereka juga tidak lagi terikat pada pola-pola pembiasaan yang membentuk mereka menjadi entitas yang kurang mampu berpikir kritis atau mengambil peran aktif dalam memajukan perubahan positif dalam masyarakat. Membangun kesadaran berarti menolak untuk terperangkap dalam paradigma pendidikan yang mengarah pada keterbatasan dan pengekangan jiwa, dan sebaliknya, melihat dunia dengan jernih dan bertindak berdasarkan nilai-nilai kebebasan dan kemanusiaan.
Pentingnya pendidikan yang berfokus pada penyadaran bukan hanya terletak pada pencapaian tingkat ekonomi suatu bangsa, tetapi juga pada kualitas moral dan intelektual individu yang menjadi komponen-komponen utama peradaban. Individu yang hanya diarahkan untuk menjadi bank informasi atau robot yang patuh tidak mampu membawa peradaban menuju kejayaan yang sejati; sebaliknya, mereka mungkin justru merusaknya.
Oleh karena itu saya berpikir, pendidikan di Indonesia harus mengadopsi pendekatan penyadaran sebagai inti dari paradigma dan kebijakannya agar mampu menciptakan masa depan yang lebih baik dan bermartabat bagi bangsa kita di masa kini dan di masa yang akan datang.
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang







