Pikiran yang Dikendalikan

oleh -1300 Dilihat
banner 468x60

Sejak masa SMA saya sudah akrab dengan Rahmat. Dia pemain bulutangkis yang handal, dan tak ada yang mampu mengalahkan dia, setidaknya di lingkungan sekolah kami. Saya pernah menantangnya, namun hasilnya dapat diduga, hanya dua set saja saya dikalahkan olehnya, hanya dengan selisih angka yang tidak mencapai setengahnya. Suatu kali, ketika kami sedang duduk-duduk di bangku serambi kelas, tahu-tahu Rahmat mengambil posisi di samping saya dengan raut muka yang agak muram.

“Ada apa, Mat, kok tampangmu serius?” tanyaku nanti.

Dia menoleh ke kiri dan kanan, khawatir ada salah satu teman sekelas yang menguping, lalu dia berbisik, “Lim, kamu kenal aku sudah lama, kan?”

“Ya,” jawabku seketika, “ada apa, sih?”

Dia menggeser duduknya, dan selanjutnya,” Saya ingin bicara serius dengan kamu soal masa depan…”

“Masa depan apaan?” tanyaku heran.

“Tapi, kamu berjanji kan, enggak akan ngomong sama siapa pun?”

“Ada apa, sih?” saya pun menatap mata erat-erat.

“Pokoknya, kita sudah saling kenal lama kan?”

“Iya, tentu saja, Fren, mungkin sejak hari-hari pertama kita masuk SMA,” jawab saya berjanji.

“Berarti sudah hampir tiga tahun kan?”

“Ya, kira-kira segitu.”

“Saya ingin bicara terus-terang, hanya pada kamu, tapi mencobakan kamu jangan berpikir macam-macam, kalau saya menyampaikan rahasia penting ini.”

“Ya oke, nggak bakalan aku ngomong sama siapa pun, tapi ada apa sih?”

“Begini,” Rahmat mendehem sambil membetulkan duduknya, “di kepala saya ini ada chip atau implan posisi yang dipasang untuk merekam.”

“Ha? Apa-apaan kamu?” saya menatap erat, lalu bertanya lagi, “Kamu serius, Mat?”

“Iya, serius.”

Kami terdiam saling bersitatap. Tak lama kemudian, Rahmat melanjutkan, “Ada alat perekam di kepala saya, yang ditanam oleh makhluk halus yang menyusup ke kamar saya melalui jendela, lalu tiba-tiba dia memasukkan semacam implan melalui ubun-ubun saya hingga menembus ke bagian otak.”

“Ah, ada-ada saja… kamu mimpi kali, Mat?” tepis saya nanti.

“Bukan, Lim, ini sama sekali bukan mimpi. Kejadiannya pada malam Jumat sekitar dua tahun yang lalu. Waktu itu, aku benar-benar terjaga, benar-benar sadar, dan aku melihat sendiri sosok putih bermata besar itu, memegang kepalaku, lalu memasukkan sesuatu ke dalam otakku…”

“Makhluk putih bagaimana? Maksud kamu sebangsa jin? Ataumakhluk luar angkasa seperti di film-film itu?”

“Saya kurang tahu pasti,” katanya menggeleng, “seandainya diamakhluk jin, lalu apa kepentingannya dengan memasukkan alat perekam ke otak saya? Seandainya dia makhluk luar angkasa, mungkin saja melalui pikiran dan penglihatan saya, dia akan terus memata-matai apa yang dikerjakan manusia di permukaan bumi ini, lalu…”

“Lalu, spesies mereka akan merebut permukaan bumi ini untuk tempat tinggal mereka?”

Rahmat terbengong menatap saya, seolah mengiyakan apa-apa yang menjadi pernyataan tadi. Tak lama kemudian, dia melanjutkan, “Alat perekaman ini berfungsi seperti kamera video. Yang bertujuan agar para penjaga luar angkasa dapat mengamati kegiatan manusia tanpa menarik perhatian banyak orang.”

“Menjaga luar angkasa?” kata saya sambil menerawang.

“Boleh jadi mereka bisa melihat apapun yang saya lihat, bahkan apapun yang saya anggap sebagai manusia.”

Rahmat menatap saya lama sekali. Rasanya agak menyeramkan, seperti melihat sosok manusia cermin dengan sorotan mata yang terpancang ke arah saya.

***

Sepulang sekolah, Rahmat mengajak saya ke rumahnya, dan saya pun menyalami kedua orang tua yang menatap aneh ke arah kami berdua.

“Bagaimana, Lim, sedang ada kegiatan apa di sekolah?” tanya Pak Bambang, ayah Rahmat.

“Kami sedang mengadakan kegiatan penelitian di laboratorium,” jawab saya, “tentang struktur anatomi tubuh manusia, terutama bagian jantung.”

Wajah Pak Bambang serta-merta bersinar mendengar jawaban saya, “Oya, penelitian? Kamu sendiri senang mengadakan penelitian ilmiah? Wah, hebat juga masih muda suka bioteknologi.”

“Doakan Pak, mudah-mudahan diberi kelancaran untuk ke depan.”

“Oo tentu, orang seperti kamu jarang gagal, dan kalaupun gagal akan segera bangkit. Mudah-mudahan cepat berhasil.”

“Amin, terima kasih, Pak,” balas saya singkat.

“Lalu bagaimana dengan ayahmu? Baik-baik kan?”

“Baik, alhamdulillah.”

Agak penasaran juga mendengar pertanyaan itu. Bukankah Pak Bambang belum pernah berjumpa dengan orang tua saya? Seketika itu, Rahmat mendempetkan tubuhnya di samping ayahnya dan tiba-tiba suaranya berubah layaknya seorang yang sedang dirundung banyak masalah, “Saya sudah sampaikan pada Alim, Pak, mengenai alat perekaman di kepala saya.”

Pak Bambang menatap puteranya lama-lama, dan untuk sesaat saya teringat akan lukisan misterius di masa lalu, ketika Dewa Saturnus membakar anak-anaknya seakan-akan mereka tak mengubahnya potongan ayam goreng yang dicacah-cacah menjadi kecil.

“Hmm, baiklah kalau Alim sudah tahu,” gumam Pak Bambang, “lalu, bagaimana lokasinya, Lim?”

“Cu… cukup menarik,” kataku agak ragu.

“Cuku menarik? Cuma itu? Coba optimalkan pendapatmu, Lim, kita sedang membicarakan alat perekaman di kepala manusia. Ini kasus implan yang sudah lama dikenal manusia, khususnya di kalangan militer.”

“Militer Indonesia juga?” tanyaku.

“Ya, tentu saja. Saya kira, kesatuan militer di dunia ini mempunyai struktur organisasi yang sudah mengglobal, bagaikan induk semang yang memelihara abdi-abdi lokalnya.”

Pada saat itu, saya juga teringat ketika mengikuti sebuah seminar oleh seorang pakar neurosains, bahwa persoalan agama dan ketuhanan tak lepas dari panggilan biologi yang berhubungan dengan kelenjar-kelenjar manusia. Bahwa konsep “Allah” dan spiritualitas manusia terkait erat dengan bagian otak, yang jika dihilangkan secara medis, maka hilanglah konsep agama dalam pikiran manusia.

Pak Bambang mengambil posisi duduk di hadapan saya. Ternyata dia adalah seorang purnawirawan ABRI yang kaya raya. Wajahnya agak bulat merah, dan dia selalu mengenakan pakaian necis dan rapi. Bicaranya selalu mencerminkan kekuasaan dan nominal uang yang sangat melimpah.

“Lim, kamu pernah mendengar tentang nama-nama hantu yang menakutkan di negeri ini, seperti manusia kuntilanak, genderuwo, dedemit, bebongkong, maupun arwah-arwah gentayangan lainnya. Mereka itu adalah penjaga-penjaga luar angkasa yang berambisi untuk menangkap permukaan bumi, dengan jalan menghancurkan spesies manusia sehancur-hancurnya. Penampilan mereka seperti bara api yang sepintas terlihat terang. Mereka naik-turun ke permukaan bumi ini, dan berharap akan lengah dan khilaf, hingga mereka menjadi tuan-tuan atas manusia seluruhnya…”

“Sejenis Ya’juj dan Ma’juj, begitu?”

“Ya, itu adalah istilah tersendiri di dalam kitab suci. Bahwa mereka akan merebut kekuasaan atas manusia, dan oleh karena itu, kami meluncurkan Proyek Buku Putih untuk menelaah segala macam penampakan hantu-hantu, UFO atau piring terbang, serta segala hal yang berhubungan dengan makhluk-makhluk tak kasatmata lainnya. Untuk itu, kami meminta pemerintah agar merespons fenomena ini dengan cepat. Sebab, jika tidak, makhluk-makhluk itu akan terus bergentayangan di sekitar kita, lalu kembali muncul kasus-kasus perceraianan yang semakin marak di negeri ini.”

***

Pak Bambang menjelaskan secara lebih rinci, bahwa dirinya dan istrinya juga telah memasang implan di kepalanya. Saya pernah menggalang dana untuk kepentingan partai yang didukung oleh penguasa militer, dan saya bisa membayangkan betapa besarnya keinginan untuk melakukan hal-hal semacam itu.

“Ini bukan rahasia lagi. Paramakhluk luar angkasa itu memang biasanya memasang implan di kepala seluruh anggota keluarga. Apakah Rahmat juga sempat menjelaskan tentang hal ini?”

“Saya enggak menjelaskan soal itu, Yah, karena saya belum mendapat perintah dari Ayah untuk menyatakan hal itu,” seloroh Rahmat.

“Oke, baiklah kalau begitu. Kamu benar, karena pembicaraan ke arah itu belum menjadi kewenangan kamu.”

Kami saling diam-diam membisu. Pak Bambang menghadap tembok dengan wajah menerawang ke atas. “Kamu masih ingat Pak Anwar, Lim?” tanyanya kemudian.

“Pak Anwar yang dari Medan, yang anggota DPR itu?”

“Ya, benar. Dia dan keluarganya juga memiliki implan di kepalanya. Baik, akan saya jelaskan mengenai keluarga Pak Anwar ini secara rinci.”

Kembali ia mengambil posisi duduk di hadapan saya. Kemudian, ia bicara panjang lebar, bahwa kasus keluarga Pak Anwar juga tak lepas dari siasat dan strategimakhluk luar angkasa yang berkepentingan untuk memilih orang-orang yang bakal menjadi kaki-tangan mereka, namun kemudian Pak Bambang tiba-tiba berteriak keras: “Tidak mungkin! Tidak mungkin mereka mampu menculik keluarga saya! Tidak mungkin mereka mampu memperalat dan menahan pikiran kami! Kamu harus tahu, Lim, kalau kita terus memelihara teman-teman mereka untuk menguasai bumi ini, sampai kapanpun kita bisa membangun kekuatan untuk mereka semua…!”

Saya tidak dapat menangkap logika macam apa yang ada di benak Pak Bambang. Semakin lama ia berbicara, justru semakin dihantui oleh pikirannya sendiri, lalu pikiran itu semakin dikembangkan oleh imajinasinya yang pembohong, seolah-olah makhluk luar angkasa itu sudah berada di ambang-ambang pintu rumah kita selama ini.

Mendadak Rahmat dan ayahnya menatap saya dengan tajam. Pandangan mereka seperti kaum fanatik yang berjenggot panjang, lalu berteriak-teriak di depan mimbar bahwa mereka adalah makhluk-makhluk terpilih, bahkan para keturunan Nabi yang sudah diutus untuk memerangi orang-orang kafir di akhir zaman nanti.

Saya teringat saat mengikuti seminar neurosains itu, ketika seorang pembicara menjelaskan, bahwa suatu zat kimia yang dilepaskan oleh kelenjar pineal dapat dikatakan sebagai molekul jiwa, karena zat ini memicu segala macam pemikiran mistis dan spiritual. Dosis paling rendah dari zat ini mampu membuat otak manusia berpikir tentang para malaikat di alam yang berbeda, lalu berbincang-bincang dengan para makhluk bercahaya tersebut. Zat ini konon bisa dibiarkan menjelang kematian, saat roh dalam tubuh manusia tengah bersiap-siap untuk bangkit dan menguap dari jasadnya.

Pak Bambang terus berbicara mengenai peran malaikat Israfil yang akan meniup terompet menjelang hari kiamat. Saya memahami apa-apa yang dibicarakannya tak jauh dari literatur yang pernah dibacanya, karena terkait erat dengan prosa “Menanam Pohon Sebelum Kiamat” karya seorang pujangga dari Banten.

“Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan, Yah?” tanya Rahmat sambil mengangkat kepalanya. “Apakah kita perlu menanam pohon-pohon di pekarangan rumah kita?”

“Tidak mungkin Mat, itu tidak mungkin kita lakukan… karena makhluk-makhluk luar angkasa itu begitu ganas. Dan sebelum malaikat Israfil meniup terompetnya, makhluk-makhluk itu akan segera mencabut dan mengobrak-abrik apa-apa yang telah kita tanam selama ini….”

Kembali saya teringat saat menghadiri seminar neurosains itu, ketika salah seorang pembicara harus menjawab pertanyaan hadir dalam fenomena perihal akhir zaman. Tiba-tiba perkataannya terhenti seketika, dan ia hanya terduduk kaku, seolah tiba-tiba pikiran kosong melompong. Dalam keadaan setengah sadar, tahu-tahu keluar suara dari mulut seolah menggumam, “Bagaimanapun kita membutuhkan orang yang memandu kita… kita membutuhkan orang yang menjadi pemimpin kita di kemudian hari….”

Sebelum pamit meninggalkan Rahmat dan keluarganya, terbersit satu pertanyaan saya yang membuat Pak Bambang merasa ragu, “Jadi, sebenarnya siapakah yang telah memasang implan di kepala kalian selama ini?”

Pak Bambang tiba-tiba limbung seakan pikirannya goyah. Ia menyangsikan apakah benar tentang keberadaan makhluk luar angkasa yang menanam sesuatu di kepalanya, ataukah ia telah terperangkap dan terpedaya oleh pihak tertentu yang berambisi untuk mengendalikan jalan pikiran selama ini? ***

Oleh: Alim Witjaksono

Penulis adalah Prosaik generasi milenial, menulis prosa dan kritik sastra mutakhir Indonesia, di berbagai media nasional memikat dan berani.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.