“Sudah lama saya enggak pernah jalan-jalan lagi di sekitar alun-alun ini. Apalagi duduk-duduk di tamannya. Setelah pulang dari kantor, biasanya cepat-cepat saya pulang ke rumah. Hampir tak punya waktu senggang untuk sekadar jalan-jalan dan istirahat bersama keluarga di alun-alun kota ini.”
“Setelah pulang dari tempat kerjanya, kebanyakan orang buru-buru pulang ke rumah. Hidup di era modern ini, tampaknya harus selalu terburu-buru.”
“Sewaktu masih SD, Ayah sering mengajak saya ke tempat ini, bahkan sering saya berguling-guling di atas rerumputan di tengah lapangan bola itu.”
“Ya, lapangan bola itu masih terus dirawat dan dipelihara setelah berkali-kali ganti gubernur, biasanya saya juga diajak bermain-main oleh Ayah dan Ibu setiap Minggu sore.”
“Ya, saya tahu itu. Dulu, anak-anak sepantaran kita senang sekali berkumpul dan bersenda-gurau, apalagi ketika Minggu pagi dan sore hari.”
“Saya juga sering melihat kamu bersama orang tuamu.”
“Saya juga masih ingat. Dulu rambutmu panjang dan agak keriting, kan?”
“Kamu juga dulu agak poni, tetapi kenapa setelah dewasa tampaknya kita berubah?”
“Kelihatannya dulu kamu agak sombong, dan selalu melengos jika saya sapa.”
“Mungkin karena saya sedang berlarian bersama burung-burung gereja di tengah lapangan itu. Tapi sekarang, burung-burung itu sudah tidak ada lagi.”
“Hanya tinggal beberapa ekor saja sepertinya.”
“Saya suka ketika melihat kamu membawa bola dari rumah, lalu bermain bola bersama ayahmu di tengah lapangan itu.”
“Dulu kelihatannya kamu manja sekali, dan saya masih ingat ketika kamu sering memakai sandal putih dengan haknya yang tinggi itu.”
“Ya, saya minta dibelikan sandal itu di pasar, bahkan sambil menangis dan memaksa Ibu agar membelikannya.”
“Nah, tepat kan dugaan saya, bahwa kamu memang manja?”
“Merengek dan menangis, biasanya dijadikan senjata anak-anak gadis, biar keinginannya cepat terpenuhi.”
“Ngomong-ngomong, sejak tahun berapa keluargamu pindah dari kota ini ke daerah Bandung?”
“Mungkin hanya beberapa tahun setelah Presiden Soeharto wafat.”
“Setelah kerusuhan Mei 1998?”
“Bukan, tapi setelah Orde Baru tumbang.”
“Kenapa kamu pakai istilah ‘tumbang’ dan bukan ‘lengser’?”
“Karena memang Soeharto dijatuhkan oleh maraknya demonstrasi rakyat dan para mahasiswa…”
“Di Jakarta?”
“Saya kira bukan hanya di Jakarta, tetapi di hampir seluruh kota-kota besar di Indonesia. Bahkan di alun-alun ini terjadi juga demo mahasiswa dan para pemuda hingga berhari-hari. Masih ingat, kan?”
“Saya sering melihat kamu dan orang tuamu pada waktu Minggu sore, tapi suatu hari tiba-tiba saya tak melihat lagi. Beberapa teman sekolahmu saya tanyakan, rupanya kamu sudah pindah bersama keluargamu.”
“Sepertinya kamu punya perhatian sekali sejak dulu?”
“Ya, saya sempat merasa kehilangan selama beberapa hari.”
“Beberapa hari atau beberapa tahun?”
“Saya lupa mengenai itu.”
“Tapi, kita sama-sama seusia, kan? Kamu hanya lebih tua satu bulan dari saya, iya kan?”
“Ya, saya tampaknya lebih tua sedikit dari kamu, bahkan sedikit lebih tinggi hanya beberapa senti saja.”
“Biasanya, gadis-gadis lebih cepat tinggi dari laki-laki. Tapi, ya sudahlah, kita bicara yang lain saja.”
“Apa yang perlu kita bicarakan sekarang?”
“Tadi kamu bilang mengenai pengalaman masa kecil kita di taman alun-alun ini. Saya kira, memori dan daya ingatmu cukup tajam.”
“Maksudmu, seusia kita ini, laki-laki lebih cepat pikun, begitu?”
“Bukan begitu. Tapi, kamu merasa menikmati masa kecil di tempat ini, lalu bagaimana dengan penilaianmu sekarang? Ketika sudah dewasa ini?”
“Tentang alun-alun ini?”
“Ya.”
“Mungkin bukan soal alun-alunnya yang berubah, juga bukan soal taman-tamannya, tetapi soal pola pikir saya dalam membaca situasi dan zaman…”
“Apakah dengan bertambahnya pengetahuan, justru hidup orang semakin gelisah?”
“Mungkin saja, karena semakin lama kita semakin menyadari soal keindahan yang palsu ini.”
“Keindahan palsu? Katanya kamu senang jalan-jalan dan duduk-duduk di sekitar taman alun-alun kota?”
“Ya, tapi dulu tidak pernah ada pungutan parkir kendaraan, dan jajanan anak-anak juga masih murah. Kendaraan umum juga masih mudah dijangkau.”
“Memang, tampaknya orang-orang tua yang mengajak anaknya jalan-jalan, tidak seramai dulu.”
“Dulu di jaman Soeharto, maksudnya?”
“Bukan, maksud saya, dulu ketika utang negeri ini belum sebanyak sekarang.”
“Apakah segala pembangunan infrastruktur kota, termasuk alun-alun ini, dari utang luar negeri juga?”
“Tentu saja, dari mana lagi? Bahkan, bangunan-bangunan tinggi dan jalan-jalan aspal itu juga hasil dari utang negara.”
“Sejak Soeharto dan Orde Baru berkuasa, negeri ini disibukkan membangun dari utang-utang luar negeri… dan dia sebagai presiden, seenaknya mengkultuskan dirinya sebagai bapak pembangunan…”
“Itu yang kamu maksudkan dengan keindahan palsu, kan?”
“Ya, keindahan palsu, dan kemegahan palsu.”
“Semakin hari masyarakat semakin tak sanggup untuk membeli barang-barang berharga, termasuk kebutuhan pokok.”
“Beberapa dasawarsa lalu kelas menengah masih bisa membeli, tapi sekarang ini tampaknya hanya kelas elit saja yang sanggup membeli barang-barang di mal-mal dan supermarket besar itu.”
“Tapi kemeja batikmu kelihatannya bagus juga, berarti kamu sanggup membelinya?”
“Mungkin karena saya masih tergolong kelas menengah.”
“Dan sekarang naik kelas menjadi kelas elit?”
“Ah, enggak juga.”
“Coba, ceritakan tentang pengalaman hidupmu? Tentang keluargamu, misalnya?”
“Hanya dua tahun setelah anak saya hidup mandiri bersama istrinya, kami memutuskan bercerai secara resmi di pengadilan.”
“Jadi, berapa lama kamu membina kehidupan rumah-tangga bersama mantan istri?”
“Sekitar 23 tahun, dan setelah anak kami menikah, setahun kemudian kami berpisah.”
“Setelah dua dekade lebih membina rumah-tangga, lalu memutuskan cerai begitu saja?”
“Tentu sudah lama kami merencanakan berpisah, tetapi tahun 2023 itu kami memutuskan cerai secara resmi.”
“Kenapa?”
“Konon, perempuan itu bisa menyimpan rahasia hingga 40 tahun lebih.”
“Rahasia apa?”
“Ya sudahlah, kita bicara yang lain saja.”
”Seorang presiden juga bisa menyimpan kebohongan hingga 32 tahun, padahal dia laki-laki, iya kan?”
“Bahkan, kebohongan itu terus terbawa sampai mati.”
“Ada juga presiden yang mampu berkuasa hingga 10 tahun, meskipun hanya bermodalkan ijazah palsu.”
“Presiden yang mana?”
“Ya sudah, kita bicara yang lain saja. Lalu, bagaimana dengan mantan suamimu?”
“Kami sudah lama berpisah, sejak delapan tahun lalu. Sepertinya dia sudah punya dua anak dengan istrinya yang sekarang.”
“Berarti, kamu membesarkan anakmu sendirian?”
“Tidak, anak saya sudah semester terakhir di UI. Dia hidup bersama saya tetapi untuk keperluan pendidikan, ayahnya yang membiayai.”
“Apakah dia mirip dengan kamu… maksud saya, apakah dia secantik kamu?”
“Itu dulu.”
“Juga sekarang. Menurut saya, kamu tidak begitu banyak berubah.”
“Memang, banyak orang yang bilang kalau dia mirip dengan saya.”
“Apakah dia mirip dengan kamu saat kecil, begitu manja, merengek pada ibunya, lalu suka memakai sandal putih dengan haknya yang tinggi?”
“Oo iya? Saya lupa dengan itu… betul sekali, dia suka dengan sandal yang haknya agak tinggi?”
“Juga warna putih?”
“Ada beberapa sandalnya yang berwarna putih.”
“Dia beruntung sekali punya ibu seperti kamu.”
“Ah, siapa bilang? Setelah duduk di bangku SMA, dia tambah cerewet dan kami sering bertengkar… tapi ya sudahlah, barangkali karena saya juga termasuk perempuan bawel sejak dulu.”
“Lalu, apa pekerjaanmu sekarang? Maksud saya, setelah berpisah dengan suamimu?”
“Ya, kalau dibandingkan dengan banyak orang, pekerjaan saya lumayan santai. Saya tinggal duduk di kantor, menjawab telepon, dan membawa berkas-berkas untuk diajukan kepada atasan.”
“Berarti sekretaris?”
“Saya menjaga arsip.”
“Di kantor mana?”
“Kantor Museum Pancasila Sakti. Tetapi, banyak orang menyebutnya Museum Lubang Buaya. Padahal, saya tidak tahu persis siapakah orang yang pertama-tama menyebut lubang tempat pembuangan mayat jenderal itu, sebagai ‘lubang buaya’?”
“Bahkan kamu pun tidak tahu, siapa yang sengaja membikin-bikin lubang yang kemudian dimuseumkan itu?”
“Barangkali Amerika, Inggris, CIA, M16… dan cecunguk-cecunguknya dari angkatan darat.”
“Pekerjaan seperti itu sangat rahasia, karena menyangkut arsip-arsip sejarah. Artinya, mereka mempercayai kamu.”
“Itu pekerjaan yang agak ringan ketimbang pegawai pabrik atau karyawan buruh. Tetapi, kamu sendiri pernah lulus kuliah, berarti kamu sarjana, dan tentu punya pekerjaan profesional sekarang, kan?”
“Saya kira biasa saja. Bagaimana pun kita bekerja di negeri dunia ketiga yang menimbun banyak utang.”
“Tetap menjadi bangsa terjajah, dan miskin secara ekonomi…”
“Menurut saya, manusia modern merasa miskin bukan karena punya sedikit, tetapi karena menginginkan terlalu banyak.”
“Ngomong-ngomong, saya malah belum tahu kenapa kamu sampai bercerai dari suamimu. Apakah kamu tidak mencintai dia?”
“Kami dulu dijodohkan orang tua.”
“Tetapi kalian bertahan hidup bersama hingga 14 tahun, iya kan?”
“Ya, kurang lebih 15 tahun.”
“Kenapa? Apakah kalian tidak saling mencintai?”
“Saya hanya kasihan sama dia.”
“Merasa kasihan bukanlah cinta. Kalau kamu tidak mencintainya, lebih baik jangan membohongi dia.”
“Justru karena itu kami memutuskan bercerai.”
“Setelah 15 tahun?”
“Saya kira, saya lebih pada membohongi diri sendiri.”
“Itu juga membohongi orang lain.”
“Ah sudahlah, lebih baik kita ngomong yang lain saja.”
“Saya kira, kita ngomong apa adanya? Apakah ada yang salah?”
“Kamu agak memojokkan saya.”
“Barangkali, di zaman Orde Baru kita dianggap tidak pantas untuk membahas soal ini.”
“Karena segala hal serba dibatasi?”
“Ya, bukan saja berpikir, tetapi berimajinasi juga dibatasi.”
“Apalagi sampai bicara.”
“Apakah bicara soal cinta juga dibatasi di masa Orde Baru?”
“Saya kira bicara cinta identik dengan kebebasan berekspresi. Ketika kebebasan berekspresi dihalangi, tanpa disadari cinta juga sedang dibelenggu.”
“Tanpa disadari?”
“Ya, secara tidak langsung.”
“Tapi, apakah sekarang kamu merasa bahagia dalam kesendirian? Tanpa suami, dan tanpa cinta?”
“Barangkali suatu saat cinta akan menemukan frekuensinya yang tepat.”
“Semoga kita akan bahagia.”
“Kita?”
“Maksud saya, semoga kamu dan saya sama-sama menemukan kebahagiaan di masa depan.”
“Lalu, kebahagiaan macam apa yang bisa diandalkan? Mungkinkah manusia Indonesia hidup bahagia, tanpa melibatkan Tuhan?”
“Saya kira, ajaran agama tetap harus kita pertahankan.”
“Ya, apalagi dalam kehidupan rumah-tangga, bahkan bercinta pun termasuk bagian dari ibadah. Bukankah manusia diciptakan untuk beribadah?”
“Kita diciptakan agar menjadi khalifah di muka bumi. Apakah ada kaitannya antara menjadi khalifah dan hidup untuk ibadah?”
“Saya kira, mengeksplorasi alam, membangun rumah-tangga, melahirkan, merawat anak dan mendidiknya dengan baik, termasuk ibadah yang diperintahkan Tuhan juga.”
“Ya, semuanya itu diperintahkan Allah sebagai ibadah.”
“Kuncinya ada pada keikhlasan, karena hidup ikhlas itu akan membawa keberkahan… sedangkan tanpa keikhlasan, ibadah yang dilakukan hanya membuat manusia merasa capek dan lelah saja.”
“Memang, dalam keberkahan itu, sedikit yang berkualitas jauh lebih baik daripada banyak yang tidak membahagiakan.”
“Sepertinya kamu tertarik untuk membangun masa depan bersama Islam?”
“Ya, bersama Islam dan Iran… dan yang terpenting, bersama Allah dan teladan Nabi Muhammad…”
“Apakah tidak diharapkan lagi untuk membangun masa depan bersama Amerika dan Israel?”
“Sekarang umur kita sudah di atas 50-an tahun, artinya sudah setengah abad lebih kita hidup di muka bumi ini… dan saya sudah terlalu capek untuk bersaing mengejar popularitas.”
“Ya, mengejar target untuk hidup sukses, hanya menjadikan kita begitu sombong dan angkuh.”
“Selama ini kita terlampau sibuk untuk memenangkan persaingan yang tak jelas.”
“Kita sibuk berperang, tetapi pada akhirnya kita hanya bertempur melawan diri sendiri.”
“Setelah Covid bahkan kita berjuang mati-matian untuk bertahan hidup.”
“Semoga Allah meridhoi kesabaran kita… dan bukankah bersikap sabar untuk bertahan hidup adalah bagian dari ibadah juga?”
“Semoga.”
“Di pertengahan tahun 2000 lalu, saya juga berbaring selama dua bulan di Rumah Sakit, karena positif Covid, tetapi barangkali Tuhan masih sayang, sehingga saya kembali pulih dan sembuh…”
“Ataukah Tuhan masih memberikan kesempatan bagi kita untuk bertobat, sementara mereka yang sudah wafat justru berpulang ke rahmatullah, artinya sudah layak berada dalam pangkuan Tuhan?”
“Jadi, apakah kita belum layak untuk dipangku?”
“Atau barangkali, selama ini hidup kita sudah berada di jalan yang benar, sehingga Tuhan memerintahkan kita untuk melanjutkannya?”
“Jangan bersikap angkuh seperti itu. Karena kita semua tak diberitahu jawabannya.”
“Mungkin pendapatmu benar… sepertinya saya juga terlampau lelah untuk merasa angkuh.”
“Lalu, apa yang terbaik menurutmu tentang masa depan kita…”
“Kita?”
“Maksud saya, masa depan Indonesia?”
“Memang, hidup ini adalah perjuangan untuk memilih, lalu apakah masa depan bangsa ini bersama Amerika ataukah Iran?”
“Itu artinya, apakah kita menganut sekulerisme ataukah konsisten pada ajaran agama, begitu kan?”
“Bagaimana pun, manusia yang berakal sehat tak akan membiarkan anak-anak kita terperangkap ke dalam siklus brutalisme dan kekerasan. Apakah kita rela mereka kecanduan minuman keras dan pornografi yang didakwahkan Amerika dan Israel? Sepertinya para elit global itu tak punya tanggung jawab, apakah masa depan bangsa-bangsa dunia ini jadi teratur ataukah chaos dan hancur sama sekali. Tetapi, yang dipentingkan bagi mereka hanyalah konsumsi dan penumpukan kekayaan, yang dikira dapat melanggengkan kehidupan duniawi, yang dikira dapat memberi kesenangan hidup hingga umur tua. Mengapa mereka begitu angkuh dan sombongnya, padahal manusia ini hanya makhluk yang lemah?”
“Mungkin itulah yang disebut kufur nikmat. Mereka merasa bahwa semua kesuksesan dan kemegahan duniawi, seolah dari hasil jerih payah mereka sendiri.”
“Tetapi, untungnya, rakyat Iran telah memperkenalkan model Islam yang baik bagi masa depan anak-cucu kita…
“Anak-cucu kita?”
“Maksudnya, masa depan bangsa ini.”
“Saya juga merasa takut dengan masa depan bangsa ini, jika peradaban model Amerika dan Israel yang mereka tiru… dan terbukti beberapa keponakan saya saat ini telah terjerat narkoba, tak mau menikah dan hidup bersama pacarnya selama lima tahun lebih, bahkan pacarnya kecanduan judi dan merokok pula.”
“Saya senang dengan ajaran Islam yang melarang tegas seks bebas, pornografi, dan perselingkuhan.”
“Islam juga melarang riba dan penumpukan harta kekayaan, Islam mendorong agar sedapat mungkin mempertahankan hidup dalam monogami. Karena cinta sejati seharusnya berdasarkan rasa aman, saling percaya dan ikhlas memberi, bukan pada dusta dan cinta sesaat yang menipu.”
“Di tempat kerja saya ada dua orang muallaf yang baru dua bulan memeluk Islam. Setelah saya tanyakan apa alasan mereka memilih agama Islam? Mereka menjawab, betapa kacaunya masa depan dunia jika tanpa Islam. Mereka mendambakan masa depan dunia yang aman dan nyaman bagi anak-cucu mereka.”
“Saya kira, memang hidup manusia akan kacau tanpa menjaga keimanan pada Tuhan semesta alam. Dengan beriman pada Tuhan, setidaknya kita bisa bersikap sabar ketika menghadapi kesulitan, tidak angkuh dan sombong saat meraih kesuksesan, bahkan bersyukur di saat sempit maupun lapang.”
“Tentu kita juga tak menginginkan anak-cucu kita, seperti generasi para Zombi di lorong-lorong kota Philadelphia. Gadis-gadis di tempat prostitusi yang menjajakan diri, hanya untuk meraih gengsi dan kesenangan duniawi.”
“Mereka begitu mencintai dunia.”
“Islam memberitahu kita, bahwa manusia yang sangat mencintai dunia, tentu dia akan takut menghadapi kematian.”
“Bahkan Islam mengajarkan kita bagaimana menghadapi kematian yang baik dan husnul khatimah…”
“Termasuk kesiapan menghadapi hari akhir atau kiamat, semuanya diajarkan dalam tuntunan Islam.”
“Ya, saya percaya itu.”
“Tetapi, banyak anak-anak muda Amerika dan Israel, yang hidupnya hanya bergantung pada candu alkohol, narkoba, seks bebas, bahkan prostitusi dan perjudian yang dilegalkan.”
“Kehidupan model itu bagaimana pun harus kita hindari, juga harus dihindari oleh anak-cucu kita nanti…”
“Ya, saya setuju sekali… sepertinya kita sudah menemukan frekuensi yang sama… dan saya sepakat dengan kata-kata, demi masa depan kita… dan demi masa depan anak-cucu kita… apakah kamu bersedia mendampingi saya untuk menyongsong masa depan bersama… hingga akhir hayat kita…?”
“Insyaallah… tapi sebelumnya, mari kita memulai hidup baru kita dengan membaca surat Al-Fatihah bersama, di taman alun-alun kota ini… Al-Fatihah….” (*)
Oleh: Hafis Azhari
Penulis adalah Peneliti program historical memory, penulis novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten








