Pengunjung Museum Lubang Buaya

oleh -714 Dilihat
banner 468x60

Pada malam tanggal 30 setiap bulannya, Pak Bambang pemimpin Museum Lubang Buaya, memanggil kepala Security, Pak Sapto agar menyerahkan buku tamu yang mengunjungi museum selama satu bulan penuh. Setelah melepas pakaian luarnya dan menenggak teh botol, Pak Bambang duduk nyaman di sofa dan mulai membaca nama, alamat, status, hingga tujuan si tamu selama mereka berkunjung. Karena suasana museum yang gelap dan suram, yang dibangun sejak era militerisme Orde Baru, maka nyaris tak pernah ada tamu yang tujuannya akan mengadakan silaturahmi maupun penelitian akademis. Tetapi pada umumnya, mereka bertujuan hanya untuk melihat suasana, atau semata-mata ingin tahu bangunan gedung museum.

Ketika Pak Bambang memeriksa daftar nama-nama pengunjung satu persatu, ia tersentak kaget sambil menjentikkan telunjuknya ke sebuah nama yang tak dikenalnya sama sekali, padahal ia menuliskan status sebagai keluarga besar Cendana. Itu berarti, orang itu adalah bagian dari keluarga atau saudara-kerabat mantan presiden RI kedua, Jenderal Soeharto.

Tapi, siapakah orang yang jelas-jelas menulis nama dengan huruf kapital AHMAD itu? Bulan lalu, dia juga berkunjung pada tanggal 23, sedangkan bulan ini namanya tertera pada tanggal 27?

Sejak minggu-minggu lalu, ratusan keluarga besar Cendana, dari anak, cucu, cicit, hingga para sepupu sudah berkumpul, namun tak seorang pun yang mengaku kenal dengan sosok yang bernama Ahmad. Siapakah gerangan? Lagi-lagi, wajah Pak Bambang menunjukkan kebingungan yang luar biasa.

“Aneh bin ajaib, dia menulis namanya lagi di buku tamu, bahkan dengan tandatangan yang mirip dengan bulan-bulan lalu … benar-benar sosok yang misterius?” gumam Pak Bambang lirih.

Ia mengingat-ingat semua kenalan, sahabat lama, hingga para karyawannya, tetapi tidak satu pun yang memiliki nama dengan lima huruf itu. Kalau pun ada beberapa nama karyawan yang diawali dengan kata “Ahmad” biasanya disertai satu atau dua kata berikutnya, seperti Ahmad Mustofa, atau Ahmad Malik Ibrahim, dan sebagainya.

Yang lebih mengherankan lagi, lelaki misterius ini selalu saja berkunjung pada hari Jumat di minggu pertama setiap bulannya. Tetapi setelah diselidiki dari layar CCTV, tak satu pun tanda-tanda yang menunjukkan seseorang berkunjung pada hari, jam dan menit yang tergambar pada layar. Sampai kemudian, Pak Sapto dipanggil untuk ke sekian kalinya, lalu dipertegas bahwa pada hari Jumat pertama bulan depan, jangan sampai ada penjaga museum yang ngantuk atau tertidur.

Semuanya harus standby di tempat. Bahkan, Pak Bambang sendiri berusaha mati-matian untuk terus memantau setiap menit dan detik melalui layar CCTV, hingga nantinya dapat ditemukan siapakah gerangan sosok misterius bernama Ahmad yang menjengkelkan itu.

“Luar biasa!” pikir Pak Bambang, “aneh dan sama sekali tak masuk akal. Apa mungkin makhluk dari planet lain tertarik dengan museum sejarah yang pernah diprakarsai Pak Harto tersebut?”

***

“Ayo, semuanya kumpul, panggil Pak Sapto, kumpulkan semua penjaga museum, dan enam orang bagian penerima tamu, cepat laksanakan!” teriak Pak Bambang.

“Baik, Pak,” jawab seorang penjaga museum dengan sigap.

Setelah empat penjaga dan enam bagian penerima tamu dikumpulkan di aula, mereka pun mendapat omelan dan caci-maki habis-habisan. Sebab, tidak ada tanda-tanda sedikit pun dalam pemantauan layar CCTV, yang menunjukkan nama Ahmad. Bahkan, bagian penerima tamu juga tidak ada yang melihat orang asing masuk pada hari Jumat. Sedangkan, nama AHMAD tetap tertera dalam buku tamu, termasuk tujuan berkunjung dan statusnya sebagai keluarga Cendana.

“Coba perhatikan!” tegas Pak Bambang pada bulan berikutnya. “Bagaimana mungkin ada orang menulis nama dan status dalam buku tamu dengan jelas, sementara semua penjaga standby di tempat, layar CCTV tetap fokus, bahkan bagian penerima tamu dilarang meninggalkan tempat untuk sekadar ke toilet, lalu tiba-tiba pulpen terangkat sendiri, buku tamu terbuka sendiri, sementara tak seorang tertidur pada saat dia membubuhkan tandatangannya? Coba kalian pikirkan, apa mungkin dia menulis sesuatu pada buku tamu, tanpa seorang pun yang melihatnya? Ayo, Pak Sapto jawab!”

“Saya enggak ngerti, Pak,” jawab Pak Sapto sambil menggelengkan kepalanya.

“Saya juga sama sekali enggak ngerti,” kata yang lainnya dengan tatapan terkesima.

Semuanya terdiam mematung dalam beberapa menit, lalu seorang penerima tamu angkat bicara, “Pada Jumat bulan lalu, ada seorang habib berkunjung sambil mengenakan jubah putih dengan jenggotnya yang panjang, kepala agak botak…”

“Lalu? Apakah dia enggak kelihatan waktu menandatangani namanya?” tanya Pak Bambang jengkel.

“Nama dan status, bahkan tujuan kunjungannya tertulis dengan jelas,” balas si penerima tamu.

Seorang penerima tamu lainnya angkat bicara, “Pada Jumat terakhir ini juga berkunjung seorang seniman dari Banten yang rambutnya panjang sampai bahu, berkumis, pakai baju hitam-hitam…”

“Apa kamu pikir telapak kaki seniman itu tidak menapak di atas bumi, begitu?” cetusnya lagi.

“Kakinya menapak di lantai, Pak… maksud saya, dia juga menuliskan nama dan alamatnya dengan jelas, bahkan juga membubuhkan tandatangan.”

Untuk menunjukkan keberadaan dan kesigapannya sebagai kepala Security, Pak Sapto ikut berkomentar: “Pernah pada Jumat sore, satu rombongan dari Majelis Ulama Indonesia berkunjung ke museum, sebanyak limabelas orang, dan semuanya saya perintahkan agar menuliskan identitasnya dengan jelas.”

“Itu bagus, Pak,” tandas Pak Bambang. “Kalau yang datang itu suatu rombongan, tegaskan saja agar mereka menuliskan nama dan statusnya dengan jelas.”

“Siap, itu pasti saya laksanakan!” jawabnya dengan gaya seorang kapten di medan pertempuran.

Setelah barisan bubar, Pak Bambang melangkah pelan-pelan keluar aula. Ia memancangkan tatapannya pada daftar tamu terakhir, sambil bergumam: “Benar-benar aneh bin ajaib… sebuah nama yang tak seorang pun mengenalnya selalu hadir ke museum selama sembilan bulan berturut-turut? Apa yang dia maksudkan? Apakah dia makhluk aneh dari antah barantah? Apakah dia bermaksud menghina institusi museum ini? Apakah dia lawan politik partai Golkar yang didirikan Pak Harto dan Orde Baru? Apa mungkin ada petugas yang berani menuliskan nama itu secara diam-diam? Ataukah dia bermaksud membuat lelucon, atau memang serius ingin menakut-nakuti kami?”

***

“Si Ahmad, makhluk misterius yang menulis namanya di buku tamu, ternyata di Jumat pertama bulan ini masih juga melakukannya, Bu.” Pak Bambang berkata ketus kepada istrinya, setelah ia membuka pintu depan rumahnya.

Ibu Puspita Sari, istri Pak Bambang termasuk seorang wanita yang cukup religius. Karena itu, untuk semua fenomena di alam raya ini, yang tak dapat dipahami oleh pikiran rasional, ia memiliki penjelasan yang sangat sederhana. “Lalu, apanya yang aneh, Pak?” tanggap Ibu Puspita, “tentu saja Bapak enggak bakal percaya, sampai kapan pun. Saya sudah bilang berkali-kali, di dunia ini banyak hal-hal yang tak masuk akal dan sulit dipahami oleh pikiran kita. Sementara Bapak sendiri selalu menampik novel Pikiran Orang Indonesia yang berkali-kali saya menyuruh agar dibaca dengan baik dan teliti. Jika menilai dari kacamata novel itu, nama Ahmad yang selalu tertera di buku tamu itu, pastilah sosok roh yang mungkin menaruh simpati pada Bapak… atau pada museum itu. Kalau saya jadi Bapak, tentu saya akan memanggil roh itu, lalu menanyakan terus terang, apa maksud dan tujuannya… untuk apa dia berkali-kali menulis namanya dalam buku tamu itu?”

“Omong kosong! Sudah, cukup, enggak usah diteruskan! Saya bosan mendengar kata-kata seperti itu!” teriak Pak Bambang kesal, sambil ngeloyor masuk kamar.

Ia menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur sambil menerawang dengan tatapan terpana. Ia menyadari dirinya yang menolak segala hal yang berbau takhayul dan khurafat, tetapi fenemona yang dihadapi akhir-akhir ini memang sungguh tak masuk di akal sehatnya. Jika ia membenarkan, bahwa sosok misterius itu adalah roh, maka pikirannya bertumpu pada kelakuan roh-roh jahat yang bermaksud mengusik dan mengganggu dirinya, keluarganya, atau institusi Museum Lubang Buaya itu sendiri.

Sepanjang malam ia membayangkan bahwa Ahmad yang menyamar itu adalah roh seorang karyawan museum yang sudah lama meninggal, atau telah diberhentikan dari museum itu sejak masa Presiden Soeharto masih berkuasa. Ataukah mungkin dia roh seorang jenderal Orde Baru yang bermaksud menyampaikan sesuatu melalui wasilah dan perantaraannya, ataukah justru roh Jenderal Soeharto itu sendiri? Bagaimana mungkin si Ahmad itu berani-beraninya menuliskan statusnya sebagai keluarga besar Cendana, sementara tak seorang pun dari keluarga dan saudara kerabat di Cendana yang mengenali namanya.

Dalam tidurnya, Pak Bambang bermimpi tentang adanya seorang karyawan tua yang bekerja serabutan setelah bangunan museum itu didirikan. Ia mengepel lantai, mencuci piring, menyiram dan merawat tanaman, menyalakan dan mematikan lampu tiap pagi dan petang. Tapi, terlihat bibirnya seakan pucat dan kering, badannya kurus dengan mengenakan seragam museum yang sudah lusuh, menutupi tubuhnya yang cokelat seperti sawo gembur, bahkan rambutnya ikal dan kasar seperti sikat cucian.

Kakek tua itu mengangkat tangan kurusnya, serta menunjuk-nunjuk Pak Bambang seperti mengatakan sesuatu yang tak jelas maksudnya. Sampai kemudian, pemimpin museum itu terkesiap dan tersentak kaget, lalu terduduk kaku, dengan tubuh bersimbah keringat.

Selama dua minggu ia diam dan murung, terus berjalan mondar-mandir sambil berpikir keras. Ia pun berusaha menepis ego dan keangkuhannya, lalu pergi ke kamar istrinya, dan katanya dengan suara hampa: “Puspita, coba tolong panggilkan dia…”

“Panggil siapa, Pak,” tanya istrinya heran.

“Roh itu,” katanya lesu.

***

Dengan senang hati Puspita menelepon seseorang yang sudah lama dikenalnya. Dua jam kemudian, muncul dari balik pintu seorang emak-emak yang kemudian diperkenalkan pada suaminya. Namanya Mpok Madah. Badannya gendut, bibirnya merah dan pipinya bulat merona. Wanita gendut itu meminta kertas dan piring berwarna putih. Ia menyuruh Pak Bambang duduk di samping kanan, sementara sang istri duduk di sebelah kirinya.

Ia menaruh piring putih itu di atas kertas, dan meletakkannya di atas meja, persis di tengah-tengahnya. Ia mengambil slayer dari tas, mengikatkannya di kepala, lalu mulutnya komat-kamit membacakan mantra dengan mata terpejam.

“Apakah benar namamu Ahmad?” tanya Mpok Madah tiba-tiba. Ia pun mengulangi pertanyaan serupa berkali-kali.

“Ya, benar sekali,” seakan-akan muncul suara dari arah piring putih.

“Apa yang kamu inginkan dari kami?”

Hening. Senyap. Tiga menit kemudian, muncul lagi suara: “Bertobatlah… bertobatlah wahai orang Indonesia…”

“Apa yang kamu inginkan dari kami?”

“Para pendosa… orang-orang berdosa….”

“Nah, Bapak dengar sendiri kan?” bisik istrinya. “Selama ini Bapak enggak percaya sih…”

Mpok Madah terus berbincang-bincang dengan Ahmad, dan lebih banyak menggunakan bahasa isyarat. Kemudian, setelah lama ia menarik nafas panjang, tiba-tiba ia memanggil roh Presiden Soeharto, lalu roh Pol Pot, kemudian roh Musollini dan Hitler, sampai kemudian menjurus kepada roh Herodes, sang Raja Romawi yang memerintahkan eksekusi mati kepada sosok Yesus. Semua roh-roh itu seakan menyatu dan senyawa; menjadi satu mata rantai energi yang memiliki frekuensi dan vibrasi rendah. Padahal, di dunianya mereka dikenal sebagai sosok-sosok pembesar dan penguasa.

Piring putih yang diambil dari rak dapur, dalam bayangan Pak Bambang telah menjelma sebagai pesawat UFO yang melayang terbang menghampiri bumi, hingga ia tertidur pulas di atas sofa selama tiga jam lebih. Ketika terbangun, Mpok Madah sudah pamit pulang, tetapi sang istri justru tersenyum di sampingnya seakan-akan syiar dan dakwah spiritualnya telah mencapai titik keberhasilan. Kini, Pak Bambang merasa sudah mengenal dunia mistik dan spiritualitas. Keesokannya, ia membeli buku-buku spiritual, lalu selama berminggu-minggu sibuk membuka situs-situs tentang spiritualisme.

Ia meyakinkan para karyawan dan penjaga museum tentang pentingnya memahami ilmu hikmah dan mistisisme, yang mestinya sudah lama diperhatikan para ilmuwan di Indonesia. Setiap gagasan yang samar dan remang-remang, dilahapnya sebagai jamuan ilmu tanpa memerlukan bimbingan, dan ia merasa yakin telah sampai di ambang pintu kebenaran, seakan menjauh dari kesesatan dan kengawuran.

Setelah membaca ratusan artikel tentang mistisisme, terhimpunlah di kepalanya segala macam ilmu dan aliran kepercayaan, termasuk dalam hubungannya dengan pesawat UFO, sejarah, dunia para jin dan iblis, Yajuj dan Majuj, Dajjal, serta sosok legendaris yang menjadi satrio piningit, Ratu Adil dan Imam Mahdi. Seakan semua tokoh itu menyatu dalam dirinya, sampai kemudian ia mendalami kesatuan imanen dalam ilmu tasawuf, Wahdatul Wujud yang selanjutnya dicampur-baur dengan filosofi orang Jawa, Sangkan Paraning Dumadi.

Sejak itulah, ketika ia bangun tidur di Jumat pagi, tiba-tiba ia mengigau dan merasa dirinya sebagai Imam Mahdi sang utusan akhir zaman. Namun di sisi lain, keesokan harinya tiba-tiba ia mengigau dan menjelma sebagai Yajuj dan Majuj, bahkan Dajjal yang bergentayangan menjelang hari kiamat. Ketika ia mengaku dirinya sebagai Anti Kristus, tiba-tiba matanya nanar dan menyala seperti seekor buaya yang keluar dari lubangnya, lalu mencari-cari mangsa di daratan untuk mengisi perutnya yang kosong.

Berminggu dan berbulan-bulan tak ada perubahan. Sampai kemudian ketika istrinya merujuk ke psikiater, sang suami didiagnosa sebagai pengidap skizofrenia, yang terpaksa harus dirawat secara intensif di rumah sakit jiwa. (*)

Oleh: Muhamad Muckhlisin

Penulis adalah Pengajar sastra milenial Indonesia, menulis prosa dan esai di berbagai media nasional, juga peraih juara pertama lomba penulisan cerpen nasional yang diselenggarakan Harian Rakyat Sumbar, tinggal di Kota Bogor, Jawa Barat

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.