Setelah taksi yang saya tumpangi menabrak batang pohon beringin, kap mobil ringsek, dan tampaknya radiator agak bocor. “Baru kali ini selama duapuluh tahun saya menjadi sopir taksi,” gerutu sang sopir sambil memeriksa bagian mesin yang mengalami kerusakan.
Kata-kata itu membuat saya agak tersinggung, terlebih ketika sopir itu memerintahkan saya agar mencari mobil lain di belakang. “Saya mau ke bengkel dulu, sebab saya harus menambal radiator supaya enggak bocor,” katanya sambil mendelik ke arah saya dengan tatapan nanar. Mobil masih bisa dikemudikan seraya meninggalkan saya di sisi jalan. Terpaksa saya harus mencari tempat berteduh, karena hujan masih terus mngguyur permukaan bumi.
Saya dalam perjalanan menuju Kota Tangerang untuk menghadiri acara reuni teman-teman SMU yang diadakan di rumah salah seorang sahabat lama. Setelah mengamati cuaca yang gelap disertai hujan angin yang begitu kencang, rasanya tidak mungkin bagi saya untuk menghadiri acara tersebut tepat waktu.
Kini, di layar ponsel sudah menunjukkan Pk. 09.32, sedangkan puncak acara berlangsung pada Pk. 10.00 pagi. Tak mungkin saya ceritakan pada teman-teman nanti perihal kecelakaan yang kami alami, biar suasana reuni tetap meriah. Sepintas saya melirik batang pohon yang terkelupas bagian kulitnya, meskipun ia masih berdiri kokoh. Perasaan jengkel masih menyelimuti saya, mengingat ocehan berulang-ulang dari sang sopir, seolah-olah saya adalah penumpang dari makhluk asing yang mengundang malapetaka dan membawa kesialan.
Hujan semakin deras, terpaan angin membuat air terhempas oleh daun-daun pepohonan di sisi jalan. Saya memutuskan untuk mencari rumah terdekat. Saya menengok kiri-kanan, dan nampaknya saya masih berada di pertengahan jalan antara Cikande dan Balajara. Mungkin memerlukan waktu satu jam lagi untuk sampai ke tempat tujuan.
Di kejauhan tampak dua rumah berdiri di samping jalan raya, dan saya pun akhirnya dapat berteduh di depan rumah besar benomor 33, dengan cat berwarna biru muda.
Pintu pagar terbuka lebar, dan saya mengucap permisi dengan suara yang agak keras. Tak seorang pun menjawab. Di halaman rumah yang atapnya agak menjorok, saya mulai berteduh. Ada dua kursi kayu dengan meja pendek di tengahnya. Saya memeriksa jendela berkaca nako sambil melihat-lihat bagian dalam rumah yang nampaknya sepi tak ada seorang pun, atau barangkali penghuninya sedang berada di ruang belakang.
Setelah lebih dari seperempat jam, hujan deras masih tetap mengguyur permukaan bumi. Tiba-tiba, seorang kakek tua mengenakan kacamata hitam, dengan tongkat di tangan membuka pintu depan. Saya sudah menduga, kakek tua itu tak bisa melihat alias buta. Lalu, ia seperti membaca kehadiran saya sambil bertanya, “Siapa, ya?”
Sepintas mukanya begitu akrab dalam pandangan saya. Saya pun menyalami tangannya, hingga ia memindahkan posisi tongkat di sebelah kiri. Ketika saya jelaskan bahwa saya minta izin untuk berteduh di halaman rumahnya karena taksi yang menabrak pohon tadi, ia pun tersenyum. Tak berapa lama, muncul salah seorang cucunya sambil memperkenalkan diri pada saya.
Gadis itu bernama Fauziah, kuliah di semester kedua perguruan tinggi Untirta Banten. Sang kakek mempersilakan saya untuk duduk-duduk di kursi yang tersedia, seraya masuk kembali ke dalam. Ia hanya mengucapkan beberapa patah-kata agar saya bersikap santai dan rileks menunggu hingga hujan mulai reda.
Fauziah ikut duduk di samping saya, sambil berbaik hati menawarkan saya kopi, “Apakah Mas mau saya bikinkan kopi?” tanya sang gadis. Ia mengenakan hijab hitam dengan sweater hijau, dan celana jeans yang agak ketat.
“Ah, enggak usah repot-repot, saya udah ngopi sebelum berangkat tadi,” kata saya beralasan.
Kami terdiam sesaat, lalu tanya saya kemudian, “Neng Fauziah mengambil jurusan apa di Untirta?”
“Sastra Indonesia,” jawabnya singkat.
“Oya? Sastra Indonesia?”
“Ya,” tegasnya lagi.
“Emangnya apa yang menarik dari sastra Indonesia?” pancing saya kemudian.
“Sejak SMP saya mulai menyukai novel, cerpen, puisi, kemudian Kakek juga memerintahkan saya, sebaiknya masuk jurusan sastra.”
Saya mengamati paras wajahnya, dan sorotan matanya yang tajam. Sepintas tampaknya ia berbakat di bidang sastra. Lalu, saya mengalihkan pada persoalan lain, “Sepertinya Kakek sudah enggak bisa melihat tadi?”
“Ya, beberapa tahun terakhir setelah Covid-19 lalu, matanya buta dan tak bisa melihat lagi. Karena itu, saya diperintahkan Ibu untuk menemani Kakek di sini, dan tiap pulang kuliah saya mesti mampir ke sini.”
“Usianya sudah sepuh, mungkin sekitar…”
“78 tahun. Sedangkan Nenek sudah meninggal sejak tahun 2019 lalu.”
“Oya, jadi sekarang dia 78?” ulang saya.
“Ya, minggu lalu ia sempat mengadakan selamatan di rumah ini, pada acara ulang tahunnya yang ke 78, sambil mengundang beberapa rekannya sesama sastrawan.”
Tidak salah lagi dugaan saya. Kakek buta itu adalah Hardi Abdullah, seorang penyair terkenal yang telah menerbikan banyak buku kumpulan puisi, dan beberapa kali saya pernah menyaksikan penampilannya saat mendeklamasikan puisi di Taman Ismail Marzuki, ketika saya masih kuliah di Institut Kesenian Jakarta beberapa tahun lalu.
Kini, ia tinggal sendirian sambil dirawat seorang pembantu serta beberapa cucunya yang turut berpartisipasi menunggunya. Ia terlihat tenang dan kalem, murah senyum, meski kemudian saya menyempatkan diri untuk mengajaknya berbincang-bincang di kala hujan belum mereda.
Penyair tua duduk di sebelah saya, menggantikan posisi Fauziah yang kemudian masuk ke dalam rumah. “Di era milenial ini, seringkali terjadi kecelakaan karena sopir sibuk dengan ponselnya,” ia memulai percakapan. Setelah menghela nafasnya, ia melanjutkan, “Tapi Tuhan Maha Adil. Dia tetap menjaga setiap isi kepala dan hati setiap manusia, sehingga keteraturan dalam hidup ini tetap dalam kendali-Nya.”
Saya terdiam, dan menaruh hormat pada setiap kata yang diucapkannya. Saya mengenalnya sebagai penyair yang menyuarakan pesan-pesan religiositas dan kesufian, hingga nampak berbeda dengan kebanyakan seniman yang cenderung angkuh dengan kesenimanannya.
Namun Pak Hardi (demikian panggilannya) terlihat akrab dengan siapa pun juga, baik dengan para seniman tua maupun muda. Katanya, ia memerintahkan Fauziah cucunya, agar mengambil kuliah pada jurusan sastra, sambil mengikuti kursus mingguan tentang filsafat.
“Kenapa harus filsafat?” tanya saya.
“Karena dengan menguasai filsafat, dia akan menjadi cerdas dan pintar,” tegasnya lagi. “Kita semua tahu bahwa orang-orang bodoh itu merepotkan. Bukan saja merepotkan keluarga, tapi juga merepotkan bangsa dan negara.” Lalu, saya pun menyimak wejangan yang disampaikannya mengenai pentingnya generasi muda Indonesia agar menguasai ilmu filsafat dan sastra.
Ketika hujan mulai reda, penyair buta itu menutup kata-katanya dengan pesan-pesan religius, bahwa dalam hidup ini senantiasa kita harus bersyukur atas anugerah Tuhan yang diberikan bagi setiap hamba-Nya. “Saya merasa bersyukur, karena dalam perjalanan hidup saya, hampir semua keinginan dan cita-cita saya sudah terpenuhi.”
“Maksud Pak Hardi,” tanya saya.
“Sekarang saya enggak bisa menulis buku lagi. Di usia yang hampir mendekati 80-an tahun ini, boleh dibilang Tuhan telah mengabulkan dan memenuhi hampir semua keinginan saya.” Ia terdiam sesaat, dan sambungnya dengan tenang dan lembut, “Tapi, mungkin ada satu hal yang membuat saya harus banyak berdoa dan berusaha, jika Tuhan berkenan untuk mengabulkan permintaan saya yang satu ini…”
“Apa itu?” pancing saya kemudian.
“Sebelum saya pulang ke rahmatullah, saya ingin sekali bertemu dengan penulis muda milenial, yang telah menulis cerpen berjudul Optimisme Kang Kandar di media daring. Beberapa waktu lalu, cucu saya Fauziyah sempat juga membacakan puisi terbaru yang berjudul Sufi dan Penyair Tua. Tapi, semoga nanti Tuhan mengabulkan rencana dan keinginan saya untuk bersua dengan penulisnya.” (*)
Oleh: Supadilah Iskandar
Penulis adalah Pengamat dan peneliti sastra milenial, menulis puisi dan prosa di berbagai media nasional, luring dan daring







