Pendamping Umroh Ibu Walikota

oleh -50 Dilihat
banner 468x60

Bukan suatu kebetulan jika Ibu Lela, kepala sekolah SMP 2 Nameng mendatangi panggilan khusus di kediaman Ibu Walikota, lalu diantar langsung oleh sopir Bu Walikota. Pasalnya, dari minggu kemarin Bu Walikota ingin mengajaknya bincang-buncang, namun karena kesibukan ini-itu, juga harus menghadiri acara itu-ini, belum lagi urusan tetek-bengek undangan perkawinan segala-macam.

“Jadi seperti itu, Bu Lela,” kata Bu Walikota setelah mempersilakannya duduk berdampingan.

“Seperti itu apanya, Bu?” tanya sang kepala sekolah terheran-heran.

Ia menggeser duduknya sedikit, berdehem beberapa kali, kemudian katanya, “Bulan depan ini saya mau berangkat umroh bersama rombongan travel Darqo89 yang sudah dipersiapkan. Saya mohon salah satu Bu Guru dari SMP 2 Nameng sebagai almamater saya, turut menemani saya… lebih tepatnya menjaga dan mendampingi saya yang sudah sepuh ini…”

Keduanya diam membisu. Ibu Lela berpikir-pikir sejenak, kemudian seketika menjatuhkan pilihannya pada Ibu Khairunisa, guru pelajaran agama.

“Orangnya bagaimana… maksud saya perangainya bagaimana?”

“Sopan, kalem, lembut sama murid-murid…”

“Wah, jangan! Beberapa tahun lalu saya kewalahan menghadapi orang pendiam seperti itu, sementara askar-askar di sana galak-galak. Saya pernah kena damprat habis-habisan karena soal kesalahpahaman yang sepele saja….”

“Kalau begitu… Bu Nunung saja.’’

“Ngajar apa dia?”

“Fisika.”

“Nah, sepertinya itu cocok… kalau guru Matematika, bagaimana?”

“Bu Sembiring.”

Bu Lela agak memoncongkan bibirnya, karena merasa riskan, lalu kontan terlontar lagi pertanyaan dari Bu Walikota, “Ibu Sembiring, kenapa?”

“Gendut banget,” Bu Lela sepertinya tak mau berpanjang-panjang.

“Oh, kalau begitu jangan… nanti malah saya yang kerepotan menjaga dia…”

“Menjaga apanya, Bu?” tanya Ibu kepala sekolah tak mengerti.

“Yaa, menjaga kolesterolnya itu lho… mosok saya harus mendorong-dorong dia pake kursi roda?”

Dan keduanya pun tertawa terpingkal-pingkal.

***

Semudah membalikkan telapak tangan, ketika kabar itu disampaikan Bu Lela kepada Bu Nunung di kantor Kepala Sekolah, kepala Bu Nunung seperti tersengat setrum bertegangan tinggi. Seketika ia tersadar kembali lalu bangkit mengambil air wudlu. Ia mencari-cari mukenah di kantor kepala sekolah, kemudian ditegur oleh Bu Lela, “Ibu Nunung mau melaksanakan salat apa?”

Seperti terbengong-bengong, ia menjawab singkat, “Zuhur.”

“Oh, sekarang belum Zuhur, baru jam 10.00, Ibu Nunung duduk saja dulu, saya belum selesai bicara soal rencana umroh tadi…”

Bu Nunung duduk di sofa, sementara Bu Lela mendampinginya sambil mengelus-elus pundaknya, “Mungkin ini anugerah Allah yang diberikan kepada Bu Nunung… selayaknya Ibu bersyukur atas anugerah ini…”

“Tapi saya belum punya cita-cita sejauh itu, Bu…,” sambil menangis sesenggukan di pundak Bu Lela.

“Tidak harus pakai cita-cita untuk menjadi tamu Allah…”

“Kalau saya harus membayar, dari mana saya perlu membayar biaya sebesar itu…”

“Juga tidak perlu pakai biaya kalau Allah sudah berkehendak mengundang tamu-Nya.”

Bu Lela mengambilkan tisu dari meja kerjanya. Bu Nunung mengamit beberapa tisu untuk menyeka air mata dan cairan yang keluar dari hidungnya.

“Jadi, kita tahu bahwa Ibu Walikota sudah sepuh, barangkali usianya sekitar 60-an. Kita khawatir cuaca yang kurang menguntungkan, atau kesehatan Bu Walikota yang kurang fit di sana nanti. Ibu Nunung dimohon mendampinginya pada acara-acara yang menguras tenaga, seperti saat thawaf, sa’i, atau berziarah di Raudlah atau sembahyang di masjid Nabawi.”

Bu Nunung manggut-manggut, sambil mengucapkan terima kasih pada Bu Lela, kemudian sambung Bu Lela lagi, “Nanti pada waktunya tiba, anak-anak murid kita liburkan selama dua jam pelajaran, supaya Bu Nunung bisa berpamitan dengan para guru dan para murid, disertai Bu Walikota yang katanya akan turut bersalaman bersama anak-anak murid SMP 2 Nameng sebagai kenangan terhadap almamaternya….”

Ibu kepala sekolah tersenyum, disambut Bu Nunung yang mengangkat kepalanya pelan-pelan, ikut tersenyum juga.

***

Bu Walikota minta acara penyambutan keberangkatan dipersingkat, mengingat anak-anak murid masih dalam proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Sambutan kepala sekolah menyampaikan ucapan terima kasih kepada Ibu Walikota dan selamat jalan kepada Bu Nunung. Dimohon doanya atas kelancaran pendidikan agar anak-anak bangsa mempu bersaing dengan pesatnya kemajuan zaman sekarang ini.

Sambutan kedua dari Bu Nunung, mengucapkan banyak terima kasih kepada Bu Walikota dan Ibu kepala sekolah Lela Jumislah. Kemudian, ia menyampaikan selamat tinggal dan permintaan maaf kepada murid-murid yang pernah diajarnya, bahkan pernah diomeli dan didampratnya di dalam kelas. “Bu Guru mohon maaf, meskipun tak ada niatan bagi Ibu untuk marah atau dendam, tetapi Ibu tetap sebagai manusia biasa yang kadang tak luput dari emosi, kesalahan maupun kekhilafan.”

Sementara, Bu Walikota sepintas merasa senang sebagai almamater SMP 2 Nameng. Ia menyatakan bangga kepada murid-murid selaku penerus bangsa, “Dan jangan sampai putus asa, terus gapai cita-cita kalian setinggi langit.” Tepuk tangan riuh membahana, disertai beberapa musik instrumen dari lagu-lagu islami Maher Zein. Anak-anak pun bersalaman satu-persatu menyambut keberangkatan Ibu Guru dan Ibu Walikota, bersama jajaran pimpinan Travel Darqo89, Kiai Eeng, Kiai Rauf, Ibu Makawiyah, Ibu Eni, Ibu Iin, Ibu Ningsih dan lain-lain.

Di Bandara Soekarno-Hatta, Bu Nunung terus mendampingi Ibu Walikota. Rombongan umroh mulai mengenal satu-persatu pendamping Ibu Walikota, dikiranya petugas yang secara protokoler ditentukan khusus dari kantornya. Padahal, ia seorang guru yang tiap hari mengajar mata pelajaran Fisika di SMP 2 Nameng. Sesampai di hotel di sekitar masjid Nabawi, perjalanan lancar-lancar saja. Bu Nunung menawarkan Bu Walikota untuk membereskan tas koper berikut memasukkan semua isinya di dalam lemari, tetapi Bu Walikota justru menolak agar tidak merepotkan pendampingnya. Sebab, menurutnya, perjalanan berjam-jam di dalam pesawat sudah cukup melelahkan.

Baru separuh dari bawaannya yang sudah beres di dalam lemari, sementara Bu Walikota mengajak Bu Nunung untuk menunaikan salat asar di Masjid Nabawi.

“Masjid besar yang tadi kita lewati itu ya, Bu?”

“Iya, itu namanya masjid Nabawi.”

“Ayo, kita ambil wudlu dulu di hotel, lalu berangkat bersama-sama.”

Ketika keduanya keluar dari hotel, kemudian memasuki halaman akbar masjid Nabawi, terlihat ribuan orang berduyun-duryun melangkah menuju dalam masjid.

Tetapi, ketika Ibu Walikota dan Bu Nunung sudah sampai di tengah halaman akbar itu, tiba-tiba terdengar suara seperti burung elang di atas langit, ‘koeek… koeek!’ Ia melayang-layang di angkasa, berputar-putar, dan seketika itu juga… “crottt!” Kotoran itu persis mengenai muka Ibu Walikota, sehingga hampir seluruh wajahnya tertutup dengan tahi burung.

“Astaghfirullah al-adzim… bau banget!” Cairan kentalnya tepat mengenai tengah hidung dan melebar ke seluruh wajah, sementara cairan-cairan yang encer bereretan ke seluruh mukenah. Orang-orang terheran-heran melihatnya, mau apa gerangan perempuan itu berangkat ke masjid dengan mukenah yang kotor celemotan seperti itu?

“Jadi, bagaimana ini, Bu? Apakah Bu Walikota mau wudlu lagi?”

“Mana mungkin?” sambil wajahnya meringis-ringis menahan rasa bau,  “Ayo, kita kembali ke hotel, Ibu akan mandi dulu, lalu ganti mukenah. Baru kita melakukan salat asar, sekalian dengan menunggu waktu maghrib….”

***

Tidak ada masalah pada kesehatan Bu Walikota. Ia baik-baik saja, meski usianya sudah di atas 60-an. Ia segar bugar waktu melaksanakan thawaf dan sa’i, ketika perjalanan sudah sampai di Kota Makkah al-Mukarromah. Ia juga segar bugar ketika berjalan-jalan menaiki bukit Jabal Rahmah, bahkan menolak untuk dipapah Bu Nunung. “Tenang saja Bu Nunung, tenaga saya masih kuat, bahkan masih sanggup menaiki bukit yang tingginya dua kali lipat dari Jabal Rahmah ini!”

Namun, yang jadi masalah, justru peristiwa tragis itu terulang kembali pada saat Bu Walikota melaksanakan “thawaf wada” yakni thawaf terakhir menjelang perpulangan ke tanah air. Kali ini bukan seperti burung elang, tak bersuara. Mungkin sejenis burung merpati. Entah datang dari mana, burung itu seperti menikmati indahnya ribuan orang yang sedang berputar mengelilingi Ka’bah. Persis di sekitar Hijir Ismail tiba-tiba ia mengepakkan sayapnya. Tak lama kemudian, muncratlah dari duburnya, persis mengenai wajah Bu Walikota hingga belepotan ke seluruh pakaiannya.

Orang-orang yang sedang thawaf di sekitarnya pada menghindar, sebab bau menyengat dari wajah dan pakaian Bu Walikota sudah tidak kepalang lagi.

“Allahu akbar! Bau sekali, Bu Nunung! Ayo, cepet-cepat kita ke kamar hotel. Saya harus segera mandi… terus ganti pakaian, lalu cepat-cepat melakukan thawaf lagi. Kita tak perlu makan siang di sini, nanti saja di bandara, khawatir rombongan travel Darqo menunggu-nunggu kita nanti…”

Seusai mengulang thawaf wada, Bu Nunung terkaget-kaget ketika ia tiba-tiba kehilangan Ibu Walikota. Di manakah beliau? Bukankah tadi bersama-sama menyelesaikan putaran terakhir. Bu Nunung celingukan di depan Ka’bah seperti orang linglung. Ia kembali berlari-lari mengitari Rukun Yamani, Hajar Aswad, Multazam, Maqam Ibrahim hingga Hijr Ismail. Di sekitar Hijr Ismail ia seperti anak kecil sedang bermain petak umpet, hingga jamaah lainnya dibikin terheran-heran menyaksikannya.

Seorang kepala rombongan jamaah entah dari Malaysia atau dari Brunei mengamit lengan Bu Nunung lalu menanyakan, “Ibu sedang cari siapa?”

“Ibu Walikota. Sejak tadi berdua terus dengan saya, kok tiba-tiba menghilang?”

Kepala rombongan itu menoleh ke arah pintu Multazam, lalu berkata singkat, “Kalau Ibu itu, siapa?”

Setelah didekati dengan seksama, rupanya benar saja! Itu Ibu Walikota, sedang bersujud dan bersimpuh di depan pintu Multazam sambil menangis sesenggukan dalam waktu yang cukup lama. Akhirnya Bu Nunung membisiki Bu Walikota dan menyatakan pelan-pelan bahwa kita harus segera berangkat, khawatir rombongan travel menunggu-nunggu mereka berdua. Ia pun memapahnya, sementara Bu Walikota masih menangis sesenggukan di sepanjang jalan.

***

Di Bandar Udara King Abdul Aziz, Jedah, pesawat mengalami delay hingga mencapai dua jam labih. Untuk banyak orang tentu merasa dirugikan, tetapi untuk Bu Nunung dan Bu Walikota, inilah kesempatan emas untuk menjawab perut keroncongan. Sebab, mereka belum sempat makan siang sejak melaksanakan thawaf wada tadi.

Setelah memesan dua porsi nasi, chicken dan sup kuah ayam, ditambah minuman teh dingin, mereka pun mengambil posisi duduk di pojokan sana. Barangkali agar leluasa berbincang-bincang tentang apa saja yang selama ini telah mereka alami, sepanjang 8 hari penuh melakukan ibadah umroh, dari Kota Madinah hingga Kota Suci Makkah al-Mukarramah.

“Jadi, kenapa harus saya, Bu Nunung?” tanya Bu Walikota sambil meminum teh manis yang lebih dulu disediakan.

“Apanya, Bu?” Bu Nunung belum menyimak.

“Sebagai guru Fisika, bagaimana Bu Nunung menjelaskan di tengah halaman yang begitu luas, dalam kerumunan puluhan ribu orang, kenapa burung itu justru buang air pas di muka saya? Apakah itu soal kebetulan?”

“Ada faktor arah mata angin, tingkat kemiringan… ditambah lagi momentum yang tepat ketika si burung harus menuntaskan rasa mulesnya…”

Keduanya tertawa terpingkal-pingkal, kemudian menyantap masakan yang sudah terhidang di atas meja.

Seusai makan, ada satu hal yang mengganjal di hati Bu Nunung, bermaksud ingin mengutarakannya saat itu juga. Kemudian, tanpa ragu-ragu ia pun bertanya, “Bu Walikota, sebelum kita sampai di tanah air, boleh saya tanyakan satu hal kepada Ibu secara apa adanya?”

“Mau tanya apa? Silakan, saya kira Ibu cukup terbuka selama ini?”

“Soal sujud di depan Multazam itu, Bu? Waktu itu Ibu menangis lama sekali…”

Bu Walikota menarik nafas panjang, dan dengan pandangan menarawang ia berkata, “Sejak Ibu terkena kotoran burung yang pertama kalinya di sekitar masjid Nabawi, Ibu selalu berpikir bahwa hal itu bukan suatu kebetulan semata. Tetapi, pikiran Ibu masih juga diselimuti oleh gugatan-gugatan, kenapa harus saya, ya Allah? Di lapangan yang begitu luas, dipenuhi oleh puluhan ribu orang, kenapa harus saya? Nah, setelah Ibu tertimpa musibah yang sama kedua kalinya di sekitar Ka’bah, langsung Ibu beristighfar sebanyak-banyaknya, lalu bersimpuh minta ampun di depan Multazam, atas segala dosa dan kesalahan yang selama ini Ibu lakukan, baik disengaja maupun yang tidak disengaja.”

“Ya, alhamdulillah, Bu, setelah umroh ini saya juga semakin yakin bahwa segala sesuatu ini pasti sudah terukur, terencana, dan tidak ada yang kebetulan…”

“Termasuk yang Bu Nunung jelaskan tadi mengenai arah mata angin, tingkat kemiringan, lalu apa lagi, Bu?”

“Momentum yang tepat ketika si burung harus menuntaskan rasa mulesnya…”

Dan keduanya pun terpingkal-pingkal lagi hingga menaiki pesawat. Meski sepanjang perjalanan orang-orang tidak mengerti apa yang mereka berdua sedang tertawakan. ***

Oleh: Indah Noviariesta

Penulis adalah Alumnus UNTIRTA Banten, pegiat Gema Nusa, juga banyak menulis prosa dan esai sastra di berbagai media nasional luring dan daring

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.