Sekitar jam sebelas malam, seorang lelaki tua berusia 60-an, memakai kopiah, baju batik dan celana panjang, berhenti di depan pintu pagar rumah Ustad Bahar, yang kabarnya pintar mengobati orang sakit. Meski rumahnya reot dan temboknya bercendawan, namun lelaki tua itu menemukan bel rumah di samping pagar lalu memencetnya. Selama beberapa menit menunggu, ia pun memencet untuk kedua dan ketiga kalinya. Kemudian, muncullah seorang lelaki berjanggut, pendek, berwajah kearab-araban, mengenakan kopiah putih lalu menyapa dan menjawab salam sambil tersenyum. Lampu kecil yang menyala di samping pagar, membuat bayangan putih di tangannya, seraya menyinari wajah pucatnya yang masih terkantuk-kantuk. Rambut panjang kemerahan nampak di sekitar bahunya, seakan muncul dari balik kopiah putih yang selalu dikenakannya.
“Apakah saya bisa ketemu dengan Ustad Bahar?” tanya lelaki tua itu.
“Oo, silakan masuk. Saya sendiri Ustad Bahar,” balas si tuan rumah.
Sang tamu dipersilakan duduk di kursi ruang tamu. Keduanya duduk berhadapan. Istri tuan rumah menyediakan segelas air dengan nampan plastik. Ustad Bahar menatap sang tamu dengan penuh empati, seorang lelaki dengan dada bidang, setelan batik yang rapi, wajah tampan dan janggut yang agak tipis beruban.
“Nama saya Syihab, orang-orang memanggil saya Pak Syihab, saya seorang dosen dan guru besar di Universitas La Tansa Mashiro, Banten. Saya datang ke sini ingin meminta bantuan dan pertolongan, tapi apakah kedatangan saya mengganggu Pak Ustad?”
“Oo, sama sekali tidak, Pak. Saya sudah terbiasa menolong orang. Itu barangkali sudah panggilan saya, takdir saya, berkat izin Allah Subhanahu Wata’ala.”
Ustad Bahar berdehem sambil tersenyum bangga, lalu membetulkan posisi duduknya sambil memancangkan tatapannya pada sang tamu. “Silakan disampaikan, kira-kira apa yang bisa saya bantu?” sambungnya ramah.
Ustad Bahar melepas kopiah putih di kepalanya, rambut peraknya terurai hingga bahu. Cahaya kehijauan dari lampu membentang menyinari furnitur murah yang ditutupi kain putih, di antara bunga-bunga plastic, beberapa foto dan piagam yang dibingkai seperti lukisan indah Raden Saleh. Lalu, sang tuan rumah menawarkan untuk kedua kalinya, “Silakan Bapak sampaikan, apa yang bisa saya bantu?”
“Saya tidak bisa menjelaskan saat ini, karena saya kurang banyak tahu masalahnya, tetapi saya akan mengantarkan Pak Ustad kepada istri saya di rumah, nanti dialah yang akan menjelaskannya pada Pak Ustad.”
“Baik kalau begitu,” suaranya agak serak dengan tatapan berkaca-kaca. Ia menuju ruang tengah, mengganti sarung dengan celana panjang, kemudian muncul lagi sambil membawa tas ransel berisi obat dan ramu-ramuan, “Ayo, kita menuju rumah Bapak.”
“Tapi sebelumnya, saya ingin tahu, berapa bayaran yang harus saya berikan untuk Ustad Bahar?”
“Oo, saya kira istilahnya bukan bayaran, tapi infak saja secukupnya.”
“Iya, maksud saya, berapa infak yang harus saya bayarkan untuk Pak Ustad.”
“Waah, kalau soal itu, terserah Bapak saja, seikhlasnya saja.”
“Tapi Pak Ustad, tolong sebutkan saja, seikhlasnya itu berapa?” desak sang tamu.
“Berapa pun, seikhlasnya saja, saya tidak pernah mematok bayaran untuk pasien-pasien saya,” kata Ustad Bahar sambil tersenyum seraya mendelik pada stelen batiknya yang berwarna keemasan.
“Tolong sebutkan saja, Pak Ustad, supaya nanti saya merasa lega, juga istri saya merasa ridho, biasanya kalau orang berobat pada Pak Ustad, memberi amplop berapa?”
“Berapapun, terserah Bapak saja…”
“Lho? Kalau misalnya, ada yang tidak membayar, bagaimana?”
Dengan mulut agak tercekat, Ustad Bahar menjawab, “Enggak apa-apa… semampunya saja…”
“Maksud saya, semampunya itu berapa? Saya enggak mau Pak Ustad bekerja, menyembuhkan orang, lalu tidak ada yang bayar. Bagaimanapun saya juga kan bekerja, mendidik dan mengajar mahasiswa, tapi saya menerima bayaran yang pantas. Jadi, saya enggak mau, setelah Pak Ustad capek-capek menyembuhkan pasien, lalu pulang dengan tangan kosong…”
“Enggak apa-apa,” katanya dengan suara terbata.
Ustad Bahar menarik nafas panjang, seraya menunggu sang tamu dengan penuh kesabaran, lalu kata sang tamu lagi, “Begini saja Pak Ustad, supaya buat saya enak, juga istri saya merasa lega, sekarang sebutkan saja, berapa yang harus saya kasih buat Pak Ustad.”
“Yaa, terserah Bapak saja, mau kasih sejuta boleh… mau kasih dua juta juga boleh… terserah Bapak… seikhlasnya saja… ayo kita berangkat.”
“Nanti dulu Pak Ustad, kita pastikan saja sekarang, bagaimana kalau saya bayar untuk Pak Ustad sekitar tiga juta rupiah? Saya kira, istri saya juga tidak keberatan dengan bayaran tiga juta?”
“Oke, enggak apa-apa… terserah Bapak saja… ayo….”
“Tapi sebelumnya, saya minta maaf pada Pak Ustad, sebab saya tidak mau Pak Ustad datang jauh-jauh ke rumah saya, membawa segala peralatan dan obat-obatan, sementara saya membayar jerih-payah Pak Ustad, hanya dengan uang tiga juta perak… mohon maaf, Pak Ustad…”
“Yaa enggak apa-apa…”
Ustad Bahar mengerutkan keningnya. Ia merasa mendapatkan tamu yang agak aneh malam itu. Ia tidak boleh membawa sepeda motornya, karena sang tamu merasa perlu untuk mengantarnya dengan mobil putihnya yang mewah.
Di sepanjang perjalanan, lelaki tua itu mengemudikan kendaraannya sendiri. Karena menurutnya, orang bisa panjang umur dengan berolahraga mengemudikan kendaraannya sendiri. Ustad Bahar terus mendengar ocehannya yang ngalor-ngidul tak keruan: “Itulah yang saya maksudkan, dengan memberi bayaran tiga juta rupiah, perasaan saya jadi plong. Itu semua bersih, kan? Tanpa ada uang tips atau tambahan apapun, jadi semuanya bersih, tiga juta rupiah. Dengan begitu, saya kira kehidupan Ustad akan makmur, kalau setiap orang berobat sanggup memberi tiga juta rupiah. Saya kira, Ustad juga perlu memiliki kendaraan yang bagus, rumah yang mumpuni. Enggak seperti rumah Ustad yang sekarang… sementara istri dan anak-anak harus bernaung di bawah atap rumah yang nyaman, hidup layak dan lain-lain. Jadi, setelah selesai, nanti cukup kan dengan bayaran tiga juta itu, tanpa ada tambahan-tambahan lainnya kan, Pak Ustad? Iya kan?”
Ustad Bahar masih merasa aneh dengan lelaki tua itu. Ia tidak menjawab maupun menanggapi ocehannya di sepanjang perjalanan. Setelah hampir satu jam tiba di tempat tujuan, ia segera diperkenalkan kepada istri lelaki tua itu, menjelaskan duduk perkaranya. Bahwa, anaknya yang sudah janda sudah berusia 40 tahun. Ia tak mau hidup dengan siapapun, bahkan dengan keluarganya sekalipun. Maunya menyendiri di rumah paviliun yang dibangunkan oleh ayahnya sejak beberapa tahun lalu. Setelah cerai dari suaminya, ia memiliki anak laki-laki semata wayang yang kemudian memutuskan tinggal bersama mantan suaminya. “Saya minta Pak Ustad mengobati dia, karena selama beberapa minggu ini, dia sering ngelantur dan ngomong sendirian di depan tembok,” rengek sang istri.
Ustad Bahar diantar ke ruang pavilun di serambi rumah mewah itu. Ia memasuki sebuah kamar, menatap wajah sang janda yang kurus kering, dengan muka tirus dan pucat. Seorang pembantu menyodorkan nampan berisi nasi, lauk-pauk dan sepiring buah-buahan. Tetapi konon, perempuan paruh baya itu tak mau menyentuh makanan selama beberapa hari itu. Mulutnya masih terus mengoceh, komat-kamit, tanpa sedikit pun menanggapi pertanyaan Ustad Bahar. Sesekali matanya melotot tajam, sambil mengeluarkan suara geraman dari mulut dan hidungnya.
Ustad Bahar menatap lembut sang pasien yang sedang meringkuk di sudut tembok. Ia menanyakan namanya kepada sang ibu sambil berbisik, kemudian sapanya pelan, “Neng Maesa… Neng Maesa Nikita….”
Tanpa ada tanggapan. Sang Ustad membuka ranselnya, dikeluarkan sebotol air putih, kemudian mengucap beberapa doa dan salawat, berkumur-kumur dengan air putih, lalu menyemburkannya ke seluruh rambut pasien.
Seketika sang pasien bersejingkat kaget, seraya berdiri menantang sambil bertolak pinggang, “Apa-apaan ini? Bangsat! Rambut saya basah semua ini!” teriaknya, “Siapa kamu ini?”
Matanya melotot menatap wajah sang Ustad. Ucapan doa dan mantra masih dikumandangkan, kemudian Maesa Nikita melengos ke tembok sambil mengoceh keras, “Taik kucing semuanya ini! Rambut saya basah semua disembur sama orang aneh ini? Tamu tak diundang yang ujug-ujug datang membaca doa-doa dalam bahasa Arab. Apakah dia mengerti apa-apa yang dibacakan itu? Apakah dia sendiri orang Arab? Walah welah… emangnya kamu ini siapa? Kiai, ustad, pendeta, biksu, ulama, ataukah keturunan Nabi?”
Dia berbalik menantang Ustad Bahar sambil mengibaskan rambutnya yang basah, menciprat ke muka sang Ustad, “Oo ya? Saya tahu… saya pernah melihat muka Ustad di teve… muka orang-orang yang mengaku habib dan keturunan Nabi, padahal suka menyelewengkan sejarah… suka membikin-bikin kuburan palsu yang dianggap keramat. Padahal, isinya cuma batang kayu dan kedebok pisang, lalu didakwahkan seolah-olah makam Walisongo…. Apakah Bapak juga keturunan Walisongo, ha? Ayo jawab!”
Maesa menodongkan telunjuknya ke muka Ustad Bahar, hingga tubuhnya gemetaran. Tak lama kemudian, ia mengamit tangannnya minta bersalaman. Sang Ustad menjabat tangannya sambil komat-kamit mengucapkan doa dan mantra sakti. Tapi si pasien justru menanyakan detil-detil yang dibacakannya, bahkan menanyakan pula artinya. “Kalau Pak Ustad sendiri tidak mengerti apa yang dibacakan itu, lalu buat apa baca-baca doa? Jangan-jangan ibadah Anda bisa percuma kalau tidak mengerti apa yang dibacakan waktu solat… berarti sama saja dengan solatnya orang mabuk….”
Ustad Bahar merasa gusar sambil memercikkan air putih ke mukanya, seakan mengusir sesuatu yang bersemayam dari tubuhnya. “Apa-apaan ini?” teriak Maesa seakan dapat membaca pikiran sang Ustad, “Apakah semacam rukyah? Jadi, Anda mau merukyah saya? Mengusir setan dari tubuh saya, hey?”
Tiba-tiba ia menyerang dan memukuli dada sang Ustad, “Ayo, keluarkan setan dari badan saya! Saya juga pengen mengeluarkan iblis dari tubuh Anda… saya juga pengen tahu, apakah Anda ini betul-betul keturunan Walisongo, seperti yang sering diocehkan di layar teve itu? Malah Anda sendiri mengoceh ingin memiliki istri lebih dari satu… berapa yang kamu mau? Empat, sepuluh atau seratus? Ayo jawab?!”
Maesa tiba-tiba menjambak rambut Ustad, kemudian mengamit janggut dan menariknya.
“Kenapa kamu tega melakukan ini pada saya?” tanya sang Ustad sengit.
“Karena saya mau tahu, apakah Anda ini keturunan Rasul, ataukah hanya orang yang mengaku-ngaku keturunan Rasul?!”
“Lalu, Anda ini siapa?” kata Sang Ustad balik bertanya, sambil memegang kedua pundaknya, “Siapakah Anda yang bersemayam di dalam tubuh ini?”
“Saya adalah janda beranak satu yang ditinggal sama suaminya!” teriak Maesa. “Saya adalah orang cerewet yang tukang bacot… dan saya adalah keturunan orang yang tukang koar-koar sepanjang masa… hahaha….”
Kata-kata terakhir itu diucapkan sambil melotot ke muka kedua orang tuanya yang sedang duduk di depan pintu. Ekspresi bersalah datang di muka sang ayah, seakan ia telah mengeluarkan makhluk aneh ke muka bumi melalui perantaraan perut istrinya. Sang ayah bangun dengan helaan nafas dan berjalan pelan keluar kamar.
Ustad Bahar masih merasa gusar dan serba salah. Ia khawatir si pasien semakin membongkar rahasia hidupnya, bahkan mengungkap hal-hal sekecil apapun yang pernah diperbuatnya di masa lalu. Ia segera meracik obat dan ramu-ramuan, menyarankan pada sang ibu agar meminumkannya dua kali sehari, pada waktu pagi dan petang.
Sebelum keluar kamar, ia sempat menatap wajah pasien yang masih melotot marah, seraya mengemasi dan mengumpulkan peralatannya, lalu segera ngeloyor pergi.
Sang ayah mengantar Ustad Bahar hingga pintu pagar, seraya memanggil tukang ojek. Di sepanjang perjalanan ia teringat akan bayaran yang dijanjikan ayah pasien sebanyak tiga juta rupiah. Ia menyesal telah melupakannya ketika ia pamit dan bersalaman di depan pintu pagar tadi. (*)
Oleh: Hafis Azhari
(Penulis novel Pikiran Orang Indonesia, dan Jenderal Tua dan Kucing Belang)







