Oleh: Dr. Mu’min Roup, MA.
Sering saya kemukakan dalam berbagai forum diskusi dan perdebatan, baik di Banten maupun Jakarta, perihal polemik antara anak biologis (nasab) dengan anak ideologis (sanad). Dengan menampilkan tiga tokoh sentral antara sahabat Nabi, Salman Al-Farisi (imigran dari Persia), Hasan Al-Bashri (anak seorang budak), serta Ali Zainal Abidin yang merupakan cicit Rasulullah dari garis Husein bin Fatimah binti Muhammad.
Pertama, Salman Al-Farisi adalah seorang sahabat yang datang dari wilayah Persia. Ia menuju Madinah untuk meneliti dan menelusuri seluk-beluk kebenaran tentang munculnya sang nabi akhir zaman. Ia telah melanglang buana selama puluhan tahun ke berbagai pelosok negeri. Sebagai anak yang terlahir dari keluarga besar Majusi, Salman pernah menjadi penganut agama Nasrani. Pernah bekerja selaku budak dari tuan tanah Yahudi, sampai kemudian ia berhasil menelusuri jejak-langkah kenabian Muhammad setelah berjumpa di sekitar mesjid Quba, dekat kota Madinah.
Karena kegigihan dan semangat juangnya dalam mencari kebenaran, maka tak ayal Rasulullah kemudian menyebutnya “Sang Ahlul Bait”, padahal ia sama sekali tak terkait secara nasab, baik dari keturunan Bani Hasyim maupun Bani Umayah. Bahkan, tak sempat berjumpa dengan Rasulullah, baik di masa kanak-kanan maupun di masa remajanya di sekitar Qurays, Mekah. Sebagaimana perjalanan Nabi Ibrahim yang pernah “tersesat” menuhankan bintang, bulan dan matahari, namun kemudian Allah sangat menghargai napak tilas perjuangannya sebagai sang pencari kebenaran. Ungkapan senada disampaikan dalam Al-Quran, bahwa setiap hamba-hamba-Ku yang tekun menelusuri jalan kebenaran-Ku, suatu saat akan Kami tunjukkan jalan-jalan kebenaran itu.
Selanjutnya adalah Hasan Al-Bashri, yang juga sama sekali tak ada pertalian nasab dengan Rasulullah. Ia hanya seorang anak budak yang masa kecilnya hidup di era kepemimpinan Umar bin Khattab (tahun 21 Hijriyah). Keluarganya berasal dari daerah Misan, suatu kampung di sekitar perbatasan Kota Bashrah. Ayahnya adalah budak sahabat Nabi, Zaid bin Tsabit, yang berjodoh dengan seorang istri, yang juga bekas budak di rumah Ummu Salamah (istri Rasulullah). Ketika beranjak dewasa, Hasan al-Bashri justu lebih tertarik untuk berburu ilmu daripada pundi-pundi harta yang menurutnya telah banyak menggelincirkan hidup manusia dari zaman ke zaman.
Dari ketekunannya menelusuri ajaran Islam yang dibawa Rasulullah hingga generasi sahabat, Hasan Al-Bashri kemudian tumbuh menjadi ahli ilmu yang mumpuni. Meskipun tidak mewariskan karya tulis, namun ucapan dan kata-katanya yang berbobot, membuatnya dikenal sebagai sahabat yang memahami seluk-beluk kerasulan Muhammad. Dari keturunan Hasan Al-Bashri kemudian melahirkan generasi yang turun-temurun menjadi ahli ilmu (ulama) hingga saat ini. Bahkan, Imam Al-Ghazali suatu kali menegaskan, bahwa ucapan Hasan al-Bashri memiliki bobot kualitas yang mendekati ucapan Rasulullah. Fatwa yang disampaikannya berbanding lurus dengan keagungan fatwa yang diucapkan para sahabat Nabi.
Kemudian Ali Zainal Abidin bin Husein bin Fatimah (puteri Rasulullah). Pengalaman menarik Ali Zainal Abidin dalam kaitannya dengan polemik mengenai nasab di Indonesia, adalah perjumpaannya dengan sahabat Thawus bin Kaisan. Mengenai ini, telah banyak dikutip oleh para penulis karena keabsahan dan urgensinya peristiwa di sekitar Ka’bah itu. Diceritakan dalam buku Abdurrahman Ahmad As-Sirbuny perihal 198 Kisah Haji Wali-wali Allah, perihal perjalanan Ali Zainal Abidin yang dikenal sebagai figur dan sosok ahli zuhud.
Meski dikenal cerdas dan berilmu, tetapi ia memosisikan diri sebagai figur bersahaja, dan tidak menyombongkan diri lantaran garis keturunan nasab yang dimilikinya. Suatu ketika, Thawus menyaksikan Ali Zainal Abidin sedang berdiri di bawah bayang-bayang Ka’bah. Seperti orang yang tenggelam, Ali menangis seperti ratapan penyesalan seorang yang menderita sakit, lalu berdoa terus menerus seperti sedang terkena masalah yang sangat besar. Seusai berdoa, Thawus mendekat dan bertanya, “Wahai cicit Rasulullah, aku melihat engkau seperti menderita rasa sakit, padahal engkau memiliki tiga keutamaan yang akan bisa menyelamatkanmu dari rasa takut.”
“Adakah yang membuat aku merasa aman, wahai Thawus?” tanya Ali Zainal Abidin. Thawus menatapnya dengan seksama, dan tegasnya, “Pertama engkau adalah keturunan Rasulullah, kedua engkau akan mendapatkan syafaat dari kakekmu Muhammad, dan ketiga engkau dipastikan mendapat rahmat Allah…”
Ali mendekat dan berkata di hadapan Thawus dengan nada serius, “Sahabatku, garis keturunanku dengan Rasulullah bukanlah jaminan aku mendapat keamanan, karena Allah berfirman bahwa ketika ditiup sangkakala nanti, maka tak ada lagi pertalian nasab di hari itu (al-Kahfi: 99). Adapun tentang syafaat kakekku, Allah telah berfirman bahwa siapapun takkan sanggup memberi syafaat kecuali kepada orang yang diridhoi Allah semata (al-Anbiya: 28). Sedangkan, mengenai rahmat Allah yang engkau maksudkan tadi, Allah juga berfirman bahwa rahmat-Nya amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik (al-Araf: 56).”
Di situ menunjukkan, bahwa anak ideologis semestinya mewariskan akhlak dan karakteristik sesuai dengan misi dan ajaran Rasulullah, tanpa pandang bulu, apakah dia hanya sekadar teman, sahabat maupun murid yang menimba ajaran dari sang guru (mursyid). Sedangkan anak biologis, tidak jarang dihinggapi keangkuhan dan kesombongan, bahwa ia sudah menyandang identitas selaku keturunan dari seorang figur, yang seakan-akan dijamin kebaikan dan kesalehannya.
Oleh karena itu, dengan menampilkan ketiga tokoh tersebut, maka tuntaslah perdebatan perihal nasab maupun sanad yang seringkali kebanyakan orang tergelincir oleh kesempitan dan kedangkalan berpikir. Seringkali masyarakat terjebak oleh satu ekstrim untuk kemudian tergelincir memihak ekstrim lainnya. Inilah akibat kedangkalan wawasan yang mudah menggeneralisasi suatu persoalan, gebyah uyah, analisis pukul rata, yang bila menggunakan rumus matematika adalah anti x kali = pro.
Sebagian masyarakat sering dihinggapi mental “hangat-hangat tahi ayam” yang pola pikirnya bergantung pada musim yang sedang berlaku. Ketika harga telur sedang mahal, tiba-tiba satu kampung memelihara ayam, dan ketika harga tomat dan cabai sedang murah, tiba-tiba kebun-kebun di sekitar rumah dibiarkan kosong terbengkalai. Demikian halnya dengan pola berpikir, terutama di bidang politik, sebagaimana ungkapan dalam novel Perasaan Orang Banten, terutama pada tokoh Bang Jali sang pengusaha kampung yang kemudian hengkang dari dunia politik dengan alasan-alasan klise. Hubungannya dengan politik terputus kemudian ia menggeluti bidang pendidikan agama. Namun, ketika adanya daya tarik yang menggiurkan di bidang perdagangan tiba-tiba ia menjuluki dirinya sebagai “pebisnis”. Akhirnya, ia pun berprofesi selaku pengamat pasar yang tak beda jauh dengan pengamat politik, karena target utamanya adalah merekrut siapa saja yang mau bersikap loyal dan menguntungkan dirinya. Jiwa pemberontakannya semakin tua semakin terkikis, lalu ia memutuskan untuk tak mempedulikan urusan politik, dengan alasan untuk mencari hidup bahagia.
Tipologi manusia semacam itulah yang sulit untuk menemukan garis pembatas antara yang sepele, penting ataukah sangat penting (prinsipil). Mereka sering terjebak untuk memihak satu ekstrim, lalu kemudian berhijrah kepada ekstrim lainnya. Itulah tipikal pemikiran yang terimbas dari teror imajinasi para penguasa dan politisi, sebagaimana ungkapan sastrawan Pramoedya Ananta Toer, yang disampaikan kepada penulis Hafis Azhari bahwa, “Teror yang dilakukan pemerintah Orde Baru kepada rakyat Indonesia adalah teror imajinasi, dan itulah seburuk-buruknya teror.” ***
Penulis adalah Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, menulis esai dan cerpen di berbagai media nasional luring dan daring.







