Hari indah, di pinggiran kota Kupang, tidak jauh dari hiruk pikuk jalan raya namun cukup jauh untuk mendengar suara angin, berdirilah sebuah rumah yang kami sebut MSSCC : Missionaries Of The sacred Heart of Jesus And The Immaculated Heart Of Mary. Ia bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang pertumbuhan: tempat kami belajar mengenali diri, merawat panggilan, dan memahami arti pulang.
Halaman seminari selalu hijau. Pohon-pohon pinang besar berdiri teduh, ditanam sejak awal berdirinya komunitas ini. Akar-akar mereka mencengkeram tanah dengan setia, seolah mengajarkan keteguhan. Di sela-selanya, bunga-bunga tumbuh dalam warna yang beragam: merah, kuning, putih, ungu, dan selalu dirawat dengan kesabaran. Anehnya, bunga-bunga itu jarang layu, meski panas Kupang kerap menyengat dan hujan turun deras tanpa aba-aba. Namun, tidak setiap hari hatiku seteduh halaman itu.
Suatu sore, setelah kuliah dan tugas komunitas yang terasa menumpuk, aku duduk sendiri di bangku taman. Tanganku memegang selang air, menyiram bunga tanpa benar-benar memperhatikan arah. Di kepalaku, pertanyaan yang sama berputar: Saat ini, apakah aku sungguh berada di tempat yang tepat? Rindu rumah datang tiba-tiba, rindu akan kebebasan, rindu akan hidup yang tidak diatur lonceng dan jadwal.
“Airnya terlalu kebanyakan, bunganya bisa mati,” suara itu datang dari belakang. Aku menoleh. Seorang teman seminaris tersenyum sambil mengambil selang dari tanganku. Kami tidak melanjutkan percakapan, tetapi momen singkat itu menyadarkanku: aku tidak sendiri.
Di MSSCC, hari-hari berjalan dalam ritme yang teratur. Lonceng pagi membangunkan kami, doa menyatukan langkah, dan studi menuntut kesungguhan. Kami belajar bukan hanya dari buku, tetapi dari hidup bersama. Dari perjamuan makan yang sederhana, dari tugas kebersihan yang kadang melelahkan, dari perbedaan karakter yang tak selalu mudah dipahami.
Pernah ada hari ketika kami silentium. Kesalahpahaman kecil membuat suasana komunitas terasa kaku. Pekerjaan halaman sore itu dilakukan tanpa canda. Namun justru di situ aku melihat bagaimana rumah ini bekerja: tidak dengan kata-kata besar, tetapi dengan kesediaan untuk tetap hadir. Menyapu halaman bersama, memungut daun kering, menyiram tanaman—pelan-pelan ketegangan mencair.
Aku merawat seminari ini setiap kali aku ada. Bukan karena kewajiban semata, melainkan karena dari merawat, aku belajar bertahan. Ketika aku membersihkan halaman kapel, aku seperti sedang membersihkan isi pikiranku sendiri. Ketika aku menyiram tanaman, aku sedang belajar bersabar pada proses—bahwa tidak semua harus segera mekar.
Sore hari di MSSCC selalu istimewa. Cahaya matahari merendah, menyentuh dinding kapel dan dedaunan dengan warna keemasan. Dari kejauhan, suara doa menggema pelan. Di sanalah Hati Terkudus Yesus dan Hati Tak Bernoda Maria menjadi pusat hidup kami—bukan sebagai simbol yang jauh, tetapi sebagai arah yang menenangkan.
Aku sering duduk diam di sana, membiarkan keheningan bekerja. Di tengah keraguan dan pertanyaan, aku menemukan jawaban yang tidak selalu berupa kepastian, tetapi ketenangan. Aku mulai mengerti: panggilan tidak selalu datang dengan suara keras. Ia tumbuh seperti pohon-pohon di halaman seminari—perlahan, dalam diam, namun pasti.
MSSCC mengajarkanku bahwa rumah yang nyaman tidak berarti tanpa konflik atau keraguan. Justru rumah adalah tempat di mana seseorang boleh rapuh, lalu bertumbuh. Di sini, aku belajar menerima diri, belajar hidup bersama, dan belajar setia pada proses.
Kini aku tahu, mengapa kami menjaga seminari ini dengan penuh perhatian. Karena rumah bukan hanya untuk ditinggali, tetapi untuk dirawat. Dan dalam merawat MSSCC, aku sedang merawat panggilanku sendiri.
Di pinggiran kota Kupang, di rumah hijau yang sederhana ini, aku belajar satu hal penting: pulang bukan selalu soal kembali ke tempat asal, tetapi menemukan tempat di mana hati mau tinggal dan bertumbuh.
Oleh: Clemens Bona








