Minimarket di Sebelah Rumahku

oleh -1285 Dilihat
banner 468x60

Kantong lagi kempes begini, tahu-tahu muncul lagi minimarket baru dibangun hanya beberapa puluh meter dari rumah saya. Padahal, minimarket di sebelah kiri rumah, Indomidi baru saja berdiri empat bulan lalu. Kadang-kadang saya menuju Indomidi ingin membeli dua atau tiga jenis barang, tetapi keluar tahu-tahu lebih dari lima barang yang terpaksa saya beli.

Sore itu, saya mengantri di depan konter pada saat pembayaran. Di depan saya ada tiga orang muda-mudi siap membayar barang-barang yang mereka butuhkan. Tetapi siapakah mereka? Mana saya tahu. Mungkin mereka pekerja pabrik sepatu di sebelah selatan sana, mungkin juga mahasiswi yang sedang berpacaran, atau mungkin juga guru penari balet karena pakaiannya yang kurang senonoh. Sama sekali saya tidak tahu, kalau salah satu dari mereka habis merengek meminta uang kepada orang tua, atau meminjam dari temannya untuk sekadar membeli keperluan kencan dengan pacarnya yang sedang menunggu di halte sana.

Sesekali saya berjumpa dengan orang-orang yang pernah saya temui dua atau tiga kali, mampir di Indomidi. Jenggotnya panjang mengenakan jubah, tetapi saya tidak tahu apakah dia teroris atau bukan. Kadang-kadang juga berjumpa muda-mudi berpakaian seronok, dengan rambut yang agak basah (mungkin habis keramas). Mungkin juga sarjana sarjana yang membeli sebungkus rokok karena habis berdebat dengan bapaknya, atau mungkin seorang seniman dan penulis yang selalu menyembunyikan nama aslinya. Atau, siapa yang tahu di antara mereka ada Nabi Khidir yang menyamar menjadi gelandangan, atau bahkan Imam Mahdi yang sedang mengendalikan barang-barang yang dokonsumsi manusia akhir zaman.

Tetapi, konsentrasi pegawai dan pelayan Indomidi tak ada yang mengusik dan bertanya kepada pembeli satu persatu. Kalau sampai mereka menanyakan identitasnya, tentu merupakan penyambutan yang kurang terbuka.

Sebenarnya desa saya kurang begitu padat penduduknya, tetapi karena ada dua pabrik sepatu dan tisu yang jumlah karyawannya ribuan, jadi satu minimarket masih belum cukup. Akhirnya nongol satu lagi, Alfaindo, belum lagi satu minimarket yang sudah bercokol duluan di sekitar konektoran sana.

Saya sendiri lupa kapan minimarket yang pertama itu berdiri, tetapi setelah berdiri Indomidi di samping rumah saya, tempat itu menjadi langganan saya yang utama, kecuali jika barang yang akan saya beli tidak tersedia di sana. Selama beberapa tahun terakhir memang banyak hal-hal baru di sekitar desa kami. Selain tiga minimarket, ada juga perluasan pabrik hingga puluhan hektar ke arah barat, toko-toko kelontong, kios-kios hape berikut pulsa dan kuotanya, warung masakan padang, bengkel motor berikut rehabilitasi masjid hingga bersebelahan dengan kantor kelurahan yang dilengkapi lapangan bulutangkis di serambinya.

Saya mengunjungi Indomidi dua atau tiga kali dalam seminggu. Tidak ada alasan khusus kecuali karena kedekatannya dengan rumah. Biasanya saya sekitar berkunjung Pk. 17.30 sepulang dari kantor. Dari kejauhan plang Indomidi terlihat bersinar terang. Ketika saya mendorong pintu masuk, tampak minimarket itu memajang isi selimut dari lantai ke langit-langit lewat dinding kaca, seolah-olah tidak ada yang disembunyikan. Bahkan, benda sekecil peniti, jepit rambut, gunting kuku, hingga jepitan jenggot sekalipun, dengan mudah ditemukan di sana.

Segala pertanyaan di benak kita mengenai barang-barang yang dibutuhkan, semuanya terjawab ketika kita memasuki minimarket. Teringat di kepala saya mengenai mie rebus yang masih ada, tisu yang tinggal setengah, minyak wangi yang harus diganti, kopi saset, sarden dan roti sobek yang harus diambil. Sebelum mengantri di depan konter, jangan lupa memesan sosis dan roti bakar, serta sukro dan kacang-kacangan untuk persiapan ngemil saat nonton bola di layar teve nanti malam.

Suatu hari, petugas Indomidi yang bertubuh jangkung, pura-pura menyibukkan diri di belakang konter, sambil menyapa saya, “Mas orang sini, ya?”

“Ya benar, rumah saya di sebelah situ.”

Saat mata kami bertemu, alat pembaca barcode mengkondisikan roti sobek dan kopi saset dengan cekatan. Kulit tangan agak cokelat muda, dada bidang semampai. Ketika saya menyodorkan uang 200 ribu, dan dia memberikan uang kembalian, segeralah saya mendorong pintu keluar, khawatir dia bertanya macam-macam.

Tiga hari kemudian, orang yang sama benar saja bertanya macam-macam lagi, “Mas kerja di pabrik situ, ya?”

“Enggak, saya kerja di Serang.”

“Di pemda, ya?”

“Bukan, di swasta, di kantor dealer motor.”

“Emang dulu kuliah di otomotif?”

Wah, kan, pertanyaannya macam-macam? Sialnya, dia mendesak terus dengan pertanyaan kuliah di universitas mana.

“Di Untirta, Banten,” jawab saya singkat.

Semoga saja dia bersedia dan tidak melanjutkan pertanyaannya, tetapi sambil menahan uang kembalian di telapak tangannya, tiba-tiba muncul pertanyaan baru lagi, “Jurusan apa?”

Apa yang bisa dibuat, saya pun menjawab dengan terus-terang, “Jurusan sastra Indonesia.”

“Apa secara keseluruhan sastra dengan dealer motor?”

Pertanyaan terakhir ini muncul sambil tersenyum oleh teman wanita di sebelahnya. Uang kembalian segera saya bantah dari tangan si jangkung sambil mendorong pintu keluar dan ngeloyor pergi.

***

Sejak saat itu, saya malas masuk ke Indomidi, kemudian berpindah ke Alfaindo yang letaknya hanya beberapa puluh meter di sebelah kanan rumah saya. Minimarket ini menjual rupa-rupa buah-buahan, meskipun aneka minumannya yang terpajang tidak lengkap di Indomidi. Pegawai dan pelayannya juga tidak sebawel di Indomidi, suara musiknya mengalun merdu, dan kebetulan pas pertama kali saya masuk, lagu yang diputar adalah lagu kesukaan saya.

Kelebihan Alfaindo lainnya adalah halaman parkirnya yang luas, serta banyak pedagang berjejer di sisi kiri dan kanan. Ketika perut keroncongan di malam hari, terkadang saya mampir untuk menikmati seblak atau es teler. Sering juga saya menyantap pangsit atau somay di tempat itu, dengan harga hanya 10 ribu per porsi. Ibu penjual pangsit di sekelilingnya gendut dan senang bukan orang yang terpelajar, hingga tak mungkin dia bertanya macam-macam mengenai hubungan kesusastraan dengan dealer motor. Dia menemani anak gadisnya yang masih kelas 3 SMU, dan dengan setia membantu si Ibu untuk menyodorkan saos dan kecap di meja kecil yang tersedia.

Beberapa malam kemudian, perut saya keroncongan lagi, ditambah perasaan dongkol karena habis nonton klub sepakbola Indonesia yang kalah oleh klub Australia. Barangkali saja setelah menyantap pangsit nanti akan hilang rasa dongkol dan lapar itu sekaligus. Tapi sayang sekali, kali ini yang melayani bukan si ibu gendut melainkan anak gadisnya sendirian.

Saat dia sedang mengiris seledri dan merebus mie pangsit di kuali besar seperti yang dilakukan ibu, seketika dia melirik ke arah saya dan bertanya kepada bapak kerja di mana. Kontan saya menjawab, di dealer motor. Tapi kemudian, muncul pertanyaan lebih lanjut yang kalian sudah menduga, dulu kuliah di perguruan tinggi mana, dan jurusan apa?

Pertanyaan berikut ini agak sulit dijawab, meskipun akhirnya terpaksa saya jawab juga, kemudian lanjutnya: “Kalau sastra Indonesia itu, apakah ada oke dengan kuliner?”

Sambil garuk-garuk kepala saya berkata, “Hmm… ada juga ringkasan, karena kuliner itu pekerjaan seni, keterampilan memasak, juga bagian dari kesenian atau kesusastraan. Kita bisa menjadi wartawan, jurnalis, atau penulis tentang dunia masak-memasak… dan itu pun bagian dari sastra juga.”

Di balik asap yang mengepul dari kuali besar, ekspresi si gadis tampak muram. Dia berdiri di hadapan saya sambil mengaduk kaldu ayam dengan sendok panjang. Tak berapa lama, dahi agak berkerut, lalu bicara dengan nada ditekan. “Kalau saya menulis sastra tentang masakan dan kuliner, apakah ada jaminan penerbit yang mau menerbitkan? Kalaupun ada, apakah ada jaminan orang Indonesia mau membeli dan membaca karya sastra seperti itu? Sementara, novel Pikiran Orang Indonesia saja yang jelas-jelas bicara soal delusi paranoia dan skizofrenia yang melanda bangsa ini, masih sulit dijumpai pembacanya. Lalu, Mas sendiri sebagai sarjana sastra, buku sastra apa yang pernah ada di dalam diri Mas sendiri?”

Saya garuk-garuk kepala lagi. Keheningan yang mencekam seakan-akan membuat perasaan saya. Bagi saya, itu pertanyaan yang berat untuk dijawab. Sebab, untuk memahami buku Pramoedya berjudul “Bumi Manusia” saja saya harus sibuk nyari literatur pendukung sana-sini, sampai-sampai tugas akhir penyusunan skripsi memerlukan waktu hampir tiga tahun bolak-balik ke kampus enggak karuan. Untung saja pihak kampus masih memberi kebijakan satu semester lagi sebelum mereka mengeluarkan ultimatum drop out buat saya.

Sejak saat itu, saya malas pergi ke Alfaindo, kemudian berpindah ke minimarket di perempatan yang agak jauh, Midimart.

***

Sekarang semuanya serba salah. Apakah saya harus menyapa orang-orang satu persatu tiap kali pergi ke Midimart. Di lapangan parkirnya ada tukang martabak, pisang molen, es campur, bahkan tukang gorengan. Si tukang martabak kelihatannya supel dan murah senyum, tapi kalau saya menyapanya tiap kali lewat, berarti berapa kali saya harus menyapa dalam seminggu atau sebulan. Kalaupun saya menyapa salah satu, ingat yang lain juga manusia, bahkan juga pedagang yang butuh keadilan. Kalaupun saya mengajak ngobrol mereka, mungkin saja salah satu memahami dunia kesusastraan, seperti halnya si gadis anak penjual pangsit itu.

Akhirnya, melewati mereka tanpa menyapa seorang pun adalah pilihan yang bijak, setidaknya itu kebijakan saya sendiri yang belum tentu orang lain punya kebijakan yang sama. Tapi setidaknya, dengan niat terhadap mereka semua, itu lebih menyenangkan dan nyaman. Kalaupun saya dan mereka saling menghindari terjadi, kami pura-pura tidak tahu, seolah-olah ketidaktahuan itu sudah menjadi kesepakatan bersama.

Sore itu, penjaga konter Midimart ada dua orang, yang satu ternyata cewek keren dan cantik, meski dandanannya asal-asalan dan rambutnya agak berantakan. Dikelilingi barang dagangan di semua sisi, cewek itu terlihat banyak mengeluh dan ogah-ogahan. Kadang-kadang saya memesan sosis bakar dan langsung disantap di sana, didorong dengan kopi rasa cokelat. Ketika saya menyantap sosis, gadis cantik itu berdiri membelakangi saya. Meskipun dia belum sarapan sejak pagi, tak pernah dia berani meminta terus-terang pada saya.

Midimart menjalankan bisnisnya lebih awal, mendahului Indomidi dan Alfaindo. Ketika toserba “Jawara” tutup, rencana toserba itu diturunkan, diganti dengan iklan hape merk terbaru, kemudian barang-barang di dalamnya dikosongkan. Midimart akhirnya menjadi andalan satu-satunya sebelum munculnya dua minimarket di dekat rumah saya. Tapi ada satu hal yang paling mengganggu para pelayan Midimart, ketika malam minggu terjadi tawuran warga kampung, lalu memutuskan manajer kursi dan meja di depan minimarket ditiadakan.

Yang bikin jengkel si cewek cantik bukan perkara tawurannya, tapi kesempatannya untuk duduk-duduk nyantai sudah tak mungkin lagi karena tak boleh diadakan satu kursi pun di luar minimarket. Lalu, ketika berdirinya Alfaindo dan banyak pelanggan menyerbu minimarket baru, sang manajer mengeluarkan kebijakan yang menyeramkan bagi si cewek cantik, yakni semua karyawan harus bekerja ekstra, agar telaten menyapa dan melayani pembeli, dan tak boleh seorang pun duduk-duduk di dalam minimarket. Maka, satu kursi pun tak boleh tampak di dalamnya.

Namun, itu bukan urusan saya yang bukan karyawan Midimart, juga bukan pacar dari si cewek cantik itu. Yang jadi persoalan saya adalah kebijakan memberi pelayanan ekstra kepada pelanggan, yang membuat si cewek cantik itu mendekati saya suatu hari, dan kontan menyapa, “Sedang cari apa, Mas?”

“Ee, anu… bagian jaringan di sebelah mana ya?”

“Tisu wajah atau tisu toilet?”

“Tisu wajah.”

Cewek cantik itu menunjukkan tempat tisu wajah. Sementara saya memilih tisu, cewek itu ikut memilihkan kemasan yang bagus buat saya. “Mohon maaf, ini ada beberapa kotak yang kemasannya kurang bagus. Saya kira, pegawai pabriknya malas-malasan kerja.”

“Oo begitu ya?” balas saya tak acun, “saya kira, Mbak juga cukup berpengalaman dalam soal itu.”

“Dalam soal apa, Mas?” tanyanya kaget.

“Malas-malasan kerja.”

Dia pun melengos dan segera pergi menuju meja konter. Ketika saya membawa beberapa barang belanjaan dan ingin membayar, kontan cewek cantik itu bertanya, “Mas juga kerja di pabrik jaringan di konektoran itu, ya?”

“Enggak, saya kerja di dealer di kota Serang,” kata saya.

“Emang dulunya pernah sekolah di SMK atau kuliah di jurusan otomotif?”

Sejak saat itu, saya malas dan tidak lagi berbelanja di Midimart.

***

Pilihan terakhir saya adalah kembali ke asal, yakni Indomidi lagi. Sebenarnya, pasangan yang menjalankan bisnis Indomidi sudah berusia 60-an, kemudian dilanjutkan oleh putranya yang baru berusia 35-an tahun. Mereka mungkin membuka Indomidi dengan kelebihan dana talangan dari krisis moneter yang berlarut-larut di negeri ini. Saya kurang tahu pasti. Tetapi, karena pasangan itu punya wajah lembut dan bicaranya sopan, pihak perbankan jarang mengirim pengusaha dengan muka-muka lugu dan polos seperti itu.

Mungkin saja mereka adalah orang-orang yang mendapat keuntungan setara dengan kerja keras mereka, atau berkat kerja keras leluhurnya. Orang-orang semacam itu biasanya tinggal di perumahan elit dengan pengamanan ekstra ketat, seolah-olah mereka tak tersentuh oleh maraknya penipuan, pembegalan, ketimpangan sosial, bahkan eksploitasi manusia oleh bos-bos komprador, sebagaimana tokoh-tokoh dalam film Split yang disekap dan dikucilkan di ruang bawah tanah kebun binatang. Sementara itu, di atasnya sedang disemarkakkan hiburan oleh gadis-gadis plastik dengan tubuh sintal dan lemah gemulai.

Ada semacam kemiripan terselubung di balik kelembutan dan kesopanan mereka. Jika itu bukan kebenaran, lalu mengapa saya merasa senasib sepenanggungan dengan cewek cantik pegawai Midimart yang terpaksa menyapa pelanggan hanya karena kebijakan baru, serta merasa dirampas hak-haknya untuk sekadar duduk-duduk istirahat di dalam minimarket.

Dalam soal ini, walaupun saya tergolong pegawai kantoran, tetapi saya merasa menjadi bagian dari para gelandangan yang menjarah pertokoan di seluruh Jakarta pada sekitar tahun 1997, mendekati kegagalan presiden jenderal yang mendukung kebijakan kapitalisme demi kepentingan negeri-negeri industri maju.

Dugaan saya nampaknya sulit untuk dibantah, bahkan semakin memberikan kepada suatu tuduhan, terutama jika memerhatikan seluruh karyawan yang bekerja paruh waktu di tiga minimarket tersebut, dan tentu saja mewakili setiap minimarket di seluruh negeri ini. Seumumnya, mereka adalah muda-mudi di usia pertengahan dua puluhan yang tampak apatis dan tidak banyak bicara. Wajah-wajah mereka sebenarnya familiar di sekitar kita, tak ubahnya dengan muda-mudi gaul yang berdiri di halte-halte angkutan umum, atau mereka yang menuju stasiun kereta hendak berangkat ke kampus untuk mengais-ngais masa depan.

Mereka layaknya robot-robot pelayan yang sudah didesain mengatakan satu-dua patah kata, seperti “Selamat belanja di Indomidi”, atau “Totalnya limapuluh ribu rupiah” atau “Apakah kembalinya bisa didonasikan?”

Mereka berseragam warna-warni yang cukup mencolok, seperti biru, merah, kuning, oranye dan seterusnya. Begitu pun wanita yang mengenakan jilbab, nampaknya cukup sesuai dengan warna kemeja yang dikenakannya. Namun semeriah apapun pakaian mereka, sikap pendiam dan apatis sudah menunjukkan status sosial yang sebenarnya.

Minimarket ketiga itu, pada dasarnya memiliki barang-barang dagangan yang jauh berbeda. Kecuali beberapa produk impor yang semakin dikurangi, ketika saya memasuki Indomidi untuk membeli satu kotak teh celup, roti sobek dan beberapa cemilan untuk menyaksikan pertandingan final bulutangkis nanti malam.

“Lama nggak kelihatan? Ke mana saja, Mas?” tanya pegawai Indomidi bertubuh jangkung di belakang konternya. “Sekarang masih kerja di kantor dealer motor?”

“Ya,” kata saya singkat, sambil menyodorkan uang seratus ribu.

Lalu, pegawai perempuan di sebelahnya menengok, dan menatap saya berkaca-kaca, “Oo, ini Mas yang dulu sarjana sastra Indonesia itu, ya?”

“Ya, benar sekali.”

“Totalnya, sembilanpuluh sembilan ribu, tujuhratus rupiah. Apa yang tigaratus rupiahnya mau didonasikan, Mas?”

“Ya, boleh.”

Pegawai perempuan memasukkan barang-barang belanjaan ke kantong kresek, dan saya pun mendorong pintu keluar sambil mengucap terima kasih. (*)

Oleh: Muhamad Pauji adalah Cerpenis generasi milenial dan pegiat organisasi Orang Indonesia (OI), menulis cerpen dan prosa yang pernah ditampilkan oleh kompas.id, litera.co.id, NU Online, ruangsastra.com, espos.id, nusantaranews.co dan berbagai media lokal dan nasional lainnya.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.