“Tidak semua jalan harus sama untuk sampai kepada-Nya. Kadang, kesetiaan justru tumbuh di persimpangan yang tampak asing bagi dunia.” Ada yang tak pernah benar-benar pergi dari hatiku, sebuah ruang kecil di mana suara lonceng panggilan masih menggema perlahan. Dulu aku berdiri di barisan itu, bersama mereka. Kami tertawa dalam sunyi kapel, menghafal bacaan brevir dengan mata setengah terpejam, dan memandang langit-langit malam dari balik jendela asrama sambil bertanya, “Akankah kita sampai di altar itu?”. Semua ini masih segar diingatanku.
Hari ini, aku berdiri di luar barisan itu. Bukan karena aku berhenti percaya, tetapi karena aku akhirnya jujur pada diriku sendiri. Jalan yang kupilih bukan lagi lorong panjang seminari, melainkan lorong dunia yang tak lagi dibatasi tembok biara. Namun, dalam setiap langkah mereka, aku tetap melihat pantulan cita yang pernah kami bangun bersama. Aku melihat wajah-wajah mereka dalam foto itu, berdiri rapi di depan altar, diapit lukisan para malaikat dan Kristus yang tergantung dalam senyap. Ada damai di sana. Ada panggilan yang terus hidup, dan aku mengenal setiap garis di wajah mereka. Ada yang dulu suka mengutip Santo Agustinus dalam percakapan pagi, ada yang gemar bersiul di kamar mandi dan dimarahi prefek, ada pula yang sering tidur di kapel saat adorasi malam.
Dan aku? Aku yang kini hanya menyimpan mereka dalam doa, mengingat mereka dalam diam, dan mendukung mereka tanpa tepuk tangan. Aku berjalan di jalur yang berbeda, tapi langkah mereka tetap menjadi bagian dari kisahku. Aku tidak lagi menghafal brevir, tapi aku masih mengucapkan nama mereka dalam doa pribadiku. Karena cinta yang pernah dibagikan di kapel kecil itu, tak pernah benar-benar hilang, ia hanya berganti bentuk.
Aku masih ingat malam itu. Saat kepala kami sama-sama bersandar di bangku kapel yang dingin. Kami tidak bicara, hanya saling memahami melalui napas yang dalam. Seorang frater berbisik padaku, “Kita tidak semua akan tiba di tujuan yang sama. Tapi selama hati kita murni, semua jalan akan menuju Dia.” Saat itu aku belum sepenuhnya paham. Tapi malam demi malam, perasaan itu tumbuh seperti cahaya kecil di lorong gelap, bahwa panggilan bukan soal siapa yang tiba, tapi siapa yang setia.
Aku teringat, suatu malam sebelum aku pergi, seorang di antara mereka memelukku dengan mata basah. “Kalau nanti kau tidak kembali, jangan pernah berpikir kau gagal. Kau hanya menemukan jalan yang berbeda.” Kata-kata itu tertanam dalam hatiku, seperti benih yang kini tumbuh jadi kekuatan baru.
Kini, aku bekerja. Bekerja di salah satu tempat usaha. Aku menyapa dunia dengan cara yang berbeda. Tapi ketika matahari mulai turun dan hari menepi dalam sunyi, aku selalu ingat mereka. Di sudut hatiku, aku bayangkan mereka masih melantunkan Mazmur malam, membagi senyum pada umat, dan mencium altar dengan ketulusan iman. Dan aku tahu, doaku bukan angin lalu. Sebab Tuhan membaca semua cinta, bahkan yang disampaikan dari kejauhan.
Aku tidak pernah merasa meninggalkan mereka. Karena dalam setiap langkah mereka ke altar, aku menitipkan sepotong diriku. Dalam setiap litani yang mereka doakan, mungkin ada satu bait yang menggumamkan namaku. Dan itu cukup. Lebih dari cukup. Karena aku tahu, tidak semua cinta harus tinggal di tempat yang sama untuk tetap setia. Kadang, cukup dengan tetap mendoakan dari kejauhan, aku merasa masih berjalan bersama mereka.
Beberapa orang mengira aku kecewa. Tapi aku tidak. Aku memilih berjalan dengan jujur. Dan karena itulah, aku bisa mendukung mereka tanpa rasa iri, tanpa luka. Aku tahu, hidup ini bukan tentang siapa yang paling suci, tapi siapa yang paling setia menghidupi panggilannya. Di altar atau di pasar, di biara atau di tempat kerja, dalam jubah atau dalam kaos sederhana. Aku percaya, setiap orang punya jalan pulang yang berbeda. Dan selama jalan itu dilalui dengan kasih, maka setiap langkahnya tetap kudus di mata Tuhan.
Ada satu foto yang kusimpan di dompetku. Foto itu, yang kita ambil di aula seminari. Waktu itu kita berdiri berderet, tangan bersilang di dada, seakan siap menghadapi dunia. Aku sering menatap foto itu saat hari terasa berat. Bukan untuk menyesal, tapi untuk bersyukur: bahwa aku pernah menjadi bagian dari sesuatu yang suci, dan bahwa cinta itu tetap hidup, meski aku tidak lagi mengenakan jubah.
Malam ini, aku menulis ini sebagai doa. Untuk mereka yang tetap melangkah dalam jalan panggilan. Untuk mereka yang masih menggenggam Rosario di jari, dan komuni di hati. Untuk mereka yang pernah menyebutku “rekan seperjalanan,” dan tak pernah mencabut gelar itu dari diriku meski langkah kami kini berbeda. Mereka tetap hidup dalam ingatanku, bukan sebagai kenangan yang usang, tapi sebagai saudara yang doanya tetap kurasakan dari jauh. Kadang aku membayangkan satu kursi kosong di kapel, dan aku tahu, itu bukan milikku lagi, tapi cintaku masih tinggal di sana. Sebab persaudaraan sejati tak diukur dari siapa yang bertahan, melainkan dari siapa yang tetap mendoakan.
Mereka melangkah. Dan aku mengingat.
Oleh: Patrison Benefaciendo Bulu Manu, Mahasiswa Fakulas Filsafat Unwira Kupang







