Nalar Politik 30 Agustus

oleh -1133 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Armando Manek

Peristiwa demonstrasi mahasiswa pada 30 Agustus 2025 tidak hanya mencatat kerumunan di jalanan, tetapi juga membuka ruang refleksi tentang bagaimana nalar politik rakyat bekerja dalam menghadapi kebijakan yang dirasa tidak adil. Aksi ini menjadi cermin bahwa politik tidak berhenti pada kursi parlemen, melainkan hidup di tengah keberanian warga yang memilih bersuara.

Selepas kita menyaksikan berita aksi demonstrasi oleh mahasiswa yang berlangsung sejak tanggal 25 Agustus sampai pada puncaknya tanggal 30 Agustus 2025, banyak pihak yang memberi tanggapan terhadap aksi demo mahasiswa.

Disatu sisi ada anggota masyarakat yang memberikan tanggapan negatif karena merasa meresahkan atas kehilangan fasilitas milik umum dan fasilitas milik pribadi, tetapi di lain pihak ada juga anggota masyarakat yang bukan mahasiswa merasa senang karena mendapatkan harta benda secara cuma-cuma dari hasil jarahan rumah milik anggota DPR misalnya rumah dari Ahmad Sahroni, Uya Kuya, dan Eko Patrio.

Selain ada perasaan merasakan dari banyak pihak, peristiwa aksi demonstrasi oleh mahasiswa dimanfaatkan juga untuk mendapatkan uang dan menjatuhkan anggota DPR melalui media sosial seperti tik-tok, IG, twitter, facebook dll. Dinamika dibalik aksi demonstrasi oleh mahasiswa terkait kebijakan DPR ternyata menunjukkan banyak event yang tidak terduga.

Misalnya dalam aksi demonstrasi ini, ada korban 9 orang meninggal dunia, salah satu diantaranya adalah Affan Kurniawan seorang pengemudi ojek oline yang meninggal dunia akibat dilindas oleh mobil taktis Brimob dan 8 orang lainnya meninggal karena efek gas air mata dan terjebak di gedung saat aksi demonstrasi sedang berlangsung. Banyak orang lainnya mengalami luka berat akibat saling serang antara massa dan anggota kepolisian.

Dalam kaitanya dengan aksi demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa dan sebagian besar masyarakat Indonesia terkait kebijakan anggota DPR, muncul satu pertanyaan apakah aksi demonstrasi ini benar-benar murni bentuk demo oleh mahasiswa terkait kebijakan anggota DPR yang merugikan masyarakat ataukah ada dominasi kekuasaan oleh lawan politik yang bersembunyi dibalik aksi demo mahasiswa?.

Pertanyaaan ini kemudian dijawab oleh salah satu aktivis sosial politik yakni Feri Irwandi lewat media rakyat bersuara. Bung Ferry menekankan bahwa aksi demonstrasi ini tidak benar-benar murni oleh mahasiswa, tetapi ada massa lain yang bergerak di balik kerumunan mahasiswa untuk melakukan perlawanan kekuasaan terhadap pemerintahan saat ini. Sekiranya ada dua bentuk aksi dalam peristiwa demonstrasi yang berlangsung sejak tanggal 25–30 Agustus 2025 yakni aksi dari mahasiswa dan aksi dari kelompok masyarakat yang tidak jelas intensinya yang diduga melakukan tindakan kerusuhan dan penjarahan.

Dalam tulisan ini penulis lebih fokus pada aksi demo mahasiswa terkait kebijakan para anggota DPR yang merugikan masyarakat, kemudian mendeskripsikan kasus ini sebagai dinamika politik baru yang dipentaskan dalam ruang demokrasi. Aksi demo oleh mahasiswa di Indonesia merepresentasikan ketajaman nalar dalam melawan kebijakan-kebijakan yang tidak rasional.

Habermas, filsuf asal Jerman yang dikenal dengan gagasan tentang ruang publik dan tindakan komunikatif. Menurutnya, demokrasi yang sehat hanya bisa terwujud jika masyarakat dapat berdiskusi secara bebas, rasional, dan tanpa dominasi untuk mencapai pemahaman bersama.

Dalam konteks aksi demonstrasi oleh mahasiswa merupakan tindakan nyata dari peran mahasiswa dalam ruang publik. Mahasiswa berusaha mengoreksi kebijakan negara dengan menghadirkan suara kritis, menyampaikan argumen, dan membuka ruang dialog antara masyarakat dan pemerintah.

Demo oleh mahasiswa bisa dipahami sebagai praktik komunikasi politik untuk menuntut agar kebijakan negara tidak hanya ditentukan oleh elite, tetapi juga oleh aspirasi warga. Selain Habermas, Hanna Arendt juga berbicara tentang tindakan politik (action), ruang publik, dan pentingnya partisipasi warga dalam kehidupan bersama. Baginya, politik bukan sekadar urusan kekuasaan negara, melainkan aktivitas bersama warga untuk membangun dunia bersama melalui kebebasan dan tindakan kolektif.

Dalam konteks aksi demonstrasi oleh mahasiswa dapat dibaca sebagai tindakan politik sejati dalam arti Arendt. Dengan aksi turun ke jalan, mahasiswa hadir sebagai warga yang aktif, menunjukkan kebebasan politiknya, dan menciptakan ruang publik baru di mana suara rakyat bisa didengar. Demo bukan hanya protes, melainkan tindakan bersama yang memperlihatkan solidaritas, keberanian, dan kebebasan.

Selain itu, aksi demo mahasiswa di ruang publik dapat dibaca sebagai manifestasi dari politik ala Francis Bacon. Francis Bacon filsuf asal inggris yang dikenal dengan ungkapan bahwa knowledge is power atau pengetahuan adalah kekuatan kekuasaan. Bacon percaya bahwa dengan kekuatan pengetahuan kita dapat memanfaatkan segala sesuatu demi kepentingan kekuasaan.

Bacon juga sangat meyakini bahwa dengan pengetahuan kita dapat mengontrol dan menggulingkan kekuasaan jika kebijakan yang diputuskan tidak membawakan keadilan, dalam konteks ini aksi demo oleh mahasiswa terkait kebijakan anggota DPR relevan dengan politik ala Francis Bacon dengan pendasaranya adalah pengetahuan yang dimiliki oleh mahasiswa melawan kebijakan anggota DPR yang tidak memberikan kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat.

Pengetahuan bagi Francis Bacon adalah alat kontrol bagi masyarakat untuk memahami dan mengendalikan kekuasaan. Selain Francis Bacon, Michel Foucault filsuf asal Prancis mendasarkan gagasan politiknya pada pengetahuan sebagai sumber kekuatan. Foucault menolak gagasan klasik bahwa kekuasaan hanya ada pada negara dan hukum, baginya kekuasaan ada dalam masyarakat luas.

Bagi foucault pengetahuan itu bersifat netral jadi siapa yang memiliki pengetahuan dia yang berhak berkuasa. Aksi demo oleh mahasiswa merupakan perlawanan terhadap pemerintah karena kekuatan pengetahuan ada di tangan mahasiswa.

Dalam konteks negara berdemokrasi mahasiswa dan masyarakat tidak saja memegang kedaulatan tertinggi tapi bisa juga menggulingkan rezim kekuasaan pemerintahan, karena knowledge is power ada pada mahasiswa dan rakyat.

Dalam perspektif filsafat politik Jurgen Habermas, Hannah Arendt, Francis Bacon, dan Michel Foucault aksi demonstrasi mahasiswa di Indonesia adalah bagian dari dinamika kekuasaan dan pengetahuan yang kompleks. Aksi ini bagian dari bentuk perlawanan terhadap relasi kekuasaan yang dominan, menciptakan wacana alternatif memperjuangkan kepentingan rakyat dan membawa perubahan sosial yang diinginkan.

Aksi demonstrasi mahasiswa bukan sekadar kerumunan di jalanan, melainkan ruang tempat nalar diuji, kebebasan dipertaruhkan, dan pengetahuan dijadikan senjata untuk menantang kekuasaan. Dari Habermas hingga Arendt, dari Bacon hingga Foucault, kita diajak menyadari bahwa politik sejati lahir ketika warga berani melawan kebijakan yang tidak adil, sekaligus menciptakan ruang publik baru di mana suara rakyat tidak bisa lagi dibungkam.

Penulis adalah Alumnus Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.