Mengenang Kematian Ibu

oleh -1047 Dilihat
banner 468x60

Lagu religi yang sedang saya dengar ini selalu saja membuat saya terkenang akan mendiang Ibu. Ingin sekali saya melihat wajahnya yang biasanya menyembul dari balik pintu untuk membangunkan saya dan Mila adik saya, agar kami segera melaksanakan solat subuh sekitar jam lima dini hari.

Entah kenapa, Mila hampir saja tidak menyukai lagu-lagu religi yang dianggapnya lamban dan cengeng. Ia lebih cenderung pada musik-musik pop rock yang agak keras, terutama dari grup band papan atas yang selalu nangkring di tangga-tangga lagu, baik dalam dan luar negeri.

Sesekali saya memergokinya mendengarkan lagu religi, tetapi itu pun yang bernada tinggi dan cenderung barock. Tetapi pagi ini, saya sedang sendirian mendengarkan musik, membayangkan Ibu yang berdiri di ambang pintu, sambil berujar sendu dalam hati: “Ooh, indah sekali lirik lagu ini… ingin sekali saya memandang wajah Ibu di ambang pintu ini….”

Saya mengerti, adik saya Mila juga kadang mengakui sangat merindukan Ibu, tetapi tidak sesering yang saya impikan. Entah, sudah berapa ratus dan ribu kali ia menyembul di ambang pintu, menyaksikan kami berdua yang sedang bercengkerama atau membaca buku di sekitar tempat tidur.

Memang kamar kami cukup luas. Pada saat saya duduk di kelas tiga SMP, Mila sudah lulus SD, kemudian duduk di kelas satu SMP, dan Ditempatkan dalam satu kamar dengan saya.

Ketika pandemi Covid-19 merebak di pertengahan tahun 2020 lalu, keluarga kami sempat dikarantina di dalam rumah selama dua bulan. Sebenarnya, yang pertama kali dinyatakan positif adalah Ayah, namun tampaknya dia memiliki imunitas yang baik, sampai kemudian saya dan Mila pun tertular. Tetapi, perjalanan takdir memang sulit ditebak, karena Ibu yang dinyatakan paling akhir terkena Covid, justru hanya dalam waktu dua minggu, ia membawa ambulans dan wafat di Rumah Sakit.

Apalagi ketika tubuhnya semakin melemah, sambil memakai masker, wajah Ibu tetap terlihat di ambang pintu, seolah mengontrol keberadaan kami. Kadang-kadang di dalam kamar dilatari oleh suasana remang dengan hanya lampu belajar yang dibiarkan menyala. Lalu, setelah Ibu masuk, tangannya meraba saklar di dinding untuk menyalakan lampu tengah.

Setelah terkena Covid-19, juga tak terhitung oleh saya, entah berapa kali Ibu berdiri sambil memandang lurus ke arah kami. “Lagu apa yang sedang kamu dengar, Nak?” Sore itu, ia bertanya pada Mila yang sedang mengenakan earphone sambil membaca buku. Saya mengamit memegang bahu Mila agar segera melepas earphone di telinga, lalu memerhatikan apa-apa yang Ibu katakan, “Kalau masih SMP saja sudah menyukai musik-musik seperti itu, bisa-bisa setelah SMA kamu jadi orang komunis?”

Saya tahu, Ibu tidak sedang bercanda. Ia memang lebih serius dibandingkan Ayah, meskipun Ibu merasa takut sendirian di dalam rumah, dan selalu minta ditemani oleh saya. Sore itu, sepertinya dia sudah mulai mempersiapkan diri untuk menyambut kematian. Biasanya, bila menyebut kata “komunis” disertai dengan kemarahan, namun kali ini seolah-olah ia sudah tak punya kekuatan lagi untuk marah.

Dia merasa yakin bahwa ketika saya dan Mila sudah pindah ke bangku SMA nanti, dia takkan lagi ada bersama kami. Setidaknya, seperti itulah yang ada di pikiran.

Beberapa minggu setelah kami menyuntikkan vaksin, Ayah semakin pulih, lalu kembali bertugas di Rumah Sakit. Tak berapa lama, saya dan Mila pun dinyatakan negatif. Tetapi, Ibu menolak dengan alasan sudah lanjut usia, padahal umurnya baru di kisaran 57 tahun.

Ketika tubuhnya melemah karena flu dan demam berat, Ibu menelpon seorang kerabatnya untuk membawakan obat-obatan herbal. Kerabatnya itu mengirimkan daun-daun ciplukan, kemudian ia merebus daun-daun itu sebanyak-banyaknya, lalu meminum airnya tanpa menghiraukan berapa takaran yang sepantasnya. Itulah yang membuat Mila kadang menyindirnya dengan julukan, “penyembah pohon ciplukan.”

“Sudah tidur saja, Mila. Ibu tidak suka dengan lagu-lagu yang akan membuatmu percaya pada paham komunis.”

“Ibu, ini bukan perkara komunis atau bukan. Tapi, ini soal selera dalam menimati seni,” sesekali Mila menyanggah.

“Ah, sudah cukup! Ibu enggak suka kamu berpikir sesukamu,” teriak Ibu.

Mila tak pernah berhasrat untuk mendebat pendapat Ibunya. Sering kali ia menanggapinya dengan senyuman sambil meletakkan ponsel dan earphone di atas meja.

Di ambang pintu dapur, ibu juga pernah merasa kesal pada Mila, agar ia menghabiskan makan siangnya, dan jangan membiasakan piring sisa makanan. Namun, tak lama setelah itu, Ibu berbaring di tempat tidur, lalu pagi harinya tak dapat menengok kami lagi di ambang pintu, karena ia telah meninggal dunia.

Tentu saja Mila menyesal karena sering berselisih paham dengan Ibu. Saya tahu, kadang ia merindukan kehadiran ibu di ambang pintu, meski rasa rindu itu tidak sedalam apa yang saya alami.

Pagi itu, saya sedang mendengarkan musik religi sambil membayangkan wajah Ibu seakan menyembul di sekitar pintu. Kadang juga saya merasakan ia sedang memerhatikan saya di dapur, di ruang teve, di meja makan, dan seringkali di ruang tamu seakan sedang duduk berdua bersama Ayah.

Mereka duduk-duduk di atas sofa yang terbalut bahan kulit sambil mendengarkan lagu-lagu kasidahan yang dinyanyikan seorang penyanyi wanita. Saya kadang kurang merasa yakin, apakah Ayah juga menyukai lagu yang sama atau tidak. Tetapi, Ibu selalu saja membawakan lagu yang dia sukai.

Saya masih ingat ketika hari-hari terakhir mereka saling bertatapan di sekitar sofa. Seakan mereka baru saja turun dari negeri Yaman seraya menginjakkan kaki di negeri ini. Saat itu, mereka terus saja saling bersitatap, meski dari sorotan mata mereka seakan mengeluarkan ribuan kata-kata yang ingin dilontarkan.

Seandainya saya masih bisa melihatnya berdiri di ambang pintu ruang tamu, ingin sekali saya memeluknya, juga memeluk Ayah. Meski saya tidak tahu apakah Mila memiliki perasaan yang sama dengan saya.

Beberapa hari menjelang kematiannya, terkadang Ibu duduk-duduk di samping Ayah. Mereka memiliki tape recorder yang dibeli dengan harga mahal. Ibu menambahkan musik kasidah kesukaannya, sambil berkata pada Ayah, “Kamu kenapa diam saja? Belakangan ini sepertinya kita jarang ngobrol?”

“Saya capek, lelah,” balas Ayah tanpa ekspresi, “hari ini saya harus menangani ratusan pasien di Rumah Sakit. Semuanya bawel dan cerewet, semuanya banyak omong. Juga banyak yang mengkafir-kafirkan sesama pasien di sebelahnya. Ya sudah, dengarkan lagu kasidah saja….”

Itulah terakhir kali saya menemani Ibu, setelah Ayah berangkat kerja, lalu ia mengajak ngobrol dengan saya. Anehnya, obrolan itu kadang beralih ke soal sejarah, juga sejarah leluhurnya yang tak masuk akal, yakni sejarah versinya sendiri, yang tak ada sangkut-pautnya dengan materi-materi pelajaran di sekolah saya. ***

Oleh: Pujiah Lestari

Penulis adalah Pegiat organisasi Gerakan Membangun Nurani Bangsa, juga prosaik generasi milenial yang menulis karya sastra di kompas.id, litera.co.id, nusantaranews.co, radarntt.netruangsastra.com dan lain-lain.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.