Lomba Kuliner di Kota Solo

oleh -132 Dilihat
banner 468x60

Ketika mendengar kabar adanya seminar tentang kue bakpia di Hotel Royal Surakarta, kontan saya bergegas untuk turut serta menghadiri acara tersebut. Acara diselenggarakan di ballroom hotel, dan tersedia berbagai jenis teh, kopi, dan tentu saja beragam jenis kue bakpia.

Saya mencicip dua jenis bakpia, yang manis dan yang asin. Ia memiliki tekstur yang agak keras dan lembut, dan lapisan bawahnya agak kering. Saya tidak menyangka, banyak mahasiswa dan mahasiswi dari Solo dan Yogyakarta ikut memeriahkan acara tersebut, di antaranya UGM, UNS, ISI dan macem-macem. Mereka turut menghadiri seminar yang diselenggarakan oleh panitia yang menamakan dirinya Jokopro tersebut.

Meja-meja dalam bentuk prasmanan memanjang di setiap sudut ruangan. Para muda-mudi gaul mengenakan pakaian tradisional Jawa, sibuk melayani kami dengan memberikan piring-piring antik dari rotan yang dilapisi kertas dan tisu di atasnya. Ketika saya masuk, ratusan orang sudah mengantri untuk mencicip dan menikmati kue-kue bakpia, dan boleh dipilih yang mana saja rasanya atau bentuknya.

Ada yang bulat dan mengembung ke atas. Ada yang tipis dan pipih seperti kue martabak. Ada  yang berisi gula merah di dalamnya, seperti kue klepon. Ada yang agak unik seperti kue pukis atau pancong. Dan ada juga yang bentuknya seperti pesawat UFO, hingga sebagian orang menyangka itu adalah kue cucur.

Duduk di sebelah saya seorang gadis Solo dengan rambut disanggul, rada cantik sedikit. Dia mengenakan kacamata agak tebal, dan kalau bicara, nampak sekali logat Jawanya yang medok. “Kamu datang ke sini mau ikut acara seminar, atau cuma ngarepin makan bakpia doang?” celetuk saya dengan suara agak keras.

Mahasiswi itu melotot dan tersinggung, tidak menjawab. Kue bakpia di tangannya yang tinggal sepotong, tidak lanjut dia makan. Kemudian tanya saya lagi, “Emang kamu kuliah di jurusan apa, sampai sempat-sempatnya menghadiri seminar tentang kue bakpia?”

Melototnya tambah parah, sepertinya tersinggung banget dia.

Sambil mendengus kesal dia menjawab, “Emang apa urusannya dengan kamu pake nanya ini-itu? Emangnya kamu sendiri bekerja di kantor pencatatan sipil?”

Sekarang giliran saya yang tersinggung. “Bukan juga sih,” balas saya, “saya cuma pengen tahu doang, apa betul Mbak ini bisa menikmati kue-kue bakpia itu. Menurut saya rasanya kok biasa-biasa aja.”

Seketika mahasiswi itu menendang ke samping hingga mengenai betis saya. Orang-orang sekitar melirik kami dengan tatapan garang. Suasana menjadi canggung dan senyap, tetapi saya berusaha mengendalikan diri dengan menampilkan wajah lugu dan polos.

“Kamu itu apa-apaan sih?” katanya dengan suara berbisik, “Seenaknya datang ke sini cuma mau menjelek-jelekkan kue bakpia. Nanti mereka marah dan menangkap kamu, tahu?”

“Siapa yang marah, dan siapa yang menangkap saya?”

“Ah, kamu ndak tahu, apa akibatnya kalau kodok-kodok raksasa itu marah…”

“Kodok raksasa apaan?” tanya saya sambil mengernyitkan dahi.

“Kodok-kodok Bakpia itu loh? Masa sih kamu ndak tau? Ah, sudahlah, pokoknya kamu ndak bakal ngerti.”

“Kodok Bakpia apaan?” ulang saya lagi.

“He, kamu itu tolol atau pura-pura enggak ngerti?”

“Siapa yang tolol?”

“Ssst!”

Mahasiswi asal Solo itu menyuruh saya diam. Acara seminar segera dimulai. Sebuah film dokumenter tentang sejarah kue bakpia diputar melalui infocus yang menyorot salah satu sudut dinding ruangan. Limabelas menit kemudian, tampil di panggung seorang yang menyatakan dirinya Presiden Direktur Kue Bakpia (disingkat PDKB).

Si PDKB menerangkan lebih lanjut perihal sejarah panjang kue bakpia, bahwa konon ada penemuan mutakhir dari para arkeolog telah berhasil menemukan cetakan-cetakan peninggalan zaman Majapahit yang diduga adalah cetakan kue bakpia.

Hampir saya terbahak-bahak mendengar pernyataan itu, tetapi orang-orang sepertinya tenang saja menyimak uraian sang PDKB dengan tekun dan aman sentosa.

Saya melirik ke arah mahasiswi di sebelah saya yang sedang duduk tenang, menyimak pembacaan sajak dan puisi, hasil gubahan seniman Yogyakarta yang berjudul: “Bakpia dan Semangat Nusantara”.

Di sela-sela pembacaan sajak itu, masih teringat di kepala saya, omongan tentang apa yang dinyatakan mahasiswi tadi mengenai “Kodok-kodok Bakpia”. Apa sih, yang dia maksud?

***

Ceramah si PDKB berlangsung hampir satu jam. Benar-benar menyebalkan. Apa yang ingin dia omongkan sebenarnya simpel saja. Bagaimana kita perlu mengangkat kue bakpia yang memiliki tradisi panjang, sebagai cemilan tradisional Solo dan Yogya yang merakyat, dan digandrungi oleh khalayak di zaman milenial ini.

Hanya itu saja sebenarnya. Yang lain-lainnya cuma bualan basa-basi yang menghambur kata-kata belaka.

Setelah itu, tampil Direktur Utama Kue Bakpia (disingkat DUKB), menjelaskan tentang perkembangan kue bakpia akhir-akhir ini. Bagaimana generasi muda, khususnya Solo dan Yogyakarta, ditekankan agar mampu menciptakan inovasi terbaru mengenai kue bakpia, dengan beragam campuran sana-sini dan tetek-bengek.

Mantan Presiden dua periode juga ikut nimbrung memberikan sambutan, katanya, produk lokal yang memiliki sejarah panjang ini, membutuhkan darah segar untuk terus eksis dan berkembang pesat, serta sanggup bersaing dengan produk-produk impor yang membanjir di tengah pasaran kita.

Kemudian, dia mengakhiri ceramahnya dengan menyinggung soal kemenangan atelit bulutangkis nasional dalam ajang piala Asia, lalu dikait-kaitkan seenak udelnya dengan kemajuan kuliner yang juga harus bersaing sengit di kancah internasional. “Tidak menutup kemungkinan lomba bakpia tingkat internasional, akan kita selenggarakan di gedung utama IKN tahun depan, Insya Allah,” tegas sang mantan Presiden.

Sebelum acara selesai, saya buru-buru keluar karena suasana begitu gerah. Seorang gadis mengenakan pakaian tradisional Jawa menyodorkan beberapa berkas dan brosur, yang langsung saya terima tanpa basa-basi. Di tengah perjalanan, saya sempat membuka-buka lembaran tersebut, dan satunya-satunya yang menarik perhatian saya adalah sayembara tentang membuat kue bakpia.

Para peserta diharap mengirimkannya ke perusahaan kue bakpia (disingkat PKB – bukan partai lho!) dalam tempo waktu sekitar tiga minggu ke depan. Adapun hadiah bagi pemenang sayembara itu senilai Rp20 juta.

Wah, lumayan juga nih (pikir saya). Uang segitu bisa dipakai untuk membeli motor baru, atau jalan-jalan ke Bali bersama Irawaty, sang kekasih pujaan hati.

Selama beberapa hari, perhatian saya fokuskan untuk meracik kue bakpia. Saya mendatangi kediaman Bi Siti Iryana, tukang martabak dan bakpia di jalan Banjarsari, Solo. Seharian saya mempelajari satu-dua jenis bakpia yang dia buat. Dalam waktu singkat, sepertinya saya cukup mahir membuat berbagai macam gaya dan selera, yang berisi cokelat, kacang hijau, irisan keju, isian krim, gula aren dan lain-lain. Saya akan coba meracik dan menciptakan versi kontemporer dari kue bakpia paling mutakhir sejagat raya.

Hingga tibalah hari H itu. Sudah saya buat selusin kue bakpia dengan berbagai macam rasa dan model. Saya membawanya ke meja resepsionis di kantor PKB, dan salah seorang resepsionis berujar dengan sorot matanya yang berbinar, “Kelihatannya enak, nih?”

“Enak banget, dong!” jawab saya apa adanya.

“Belajar dari mana, nih?”

“Otodidak dong!” kata saya bohong.

***

Dua minggu kemudian, saya menerima telepon dari kantor perusahaan bakpia, dan diminta untuk datang ke kantor esok lusa. Keyakinan saya cukup beralasan, dan saya mempersiapkan diri dengan menyeterika kemeja dan menyemir sepatu, untuk menampilkan diri di hadapan mereka dengan serapi mungkin.

Saya disambut langsung oleh DUKB (masih ingat, kan?). Setelah menyambut kehadiran saya, si DUKB yang sekaligus anggota Jokopro itu membuka pembicaraan, “PKB telah menerima kue bakpia baru yang Anda buat secara kreatif dan inovatif. Para staf telah mengakui keunggulan kue-kue bakpia itu… terutama karyawan-karyawan muda.”

Saya tersenyum sumringah dengan perasaan berbunga-bunga. Lalu, si DUKB melanjutkan, “Tetapi di perusahaan kami ada sejumlah pegawai yang sudah tua, dan… aduh, ehm, saya bingung menjelaskannya. Maksud saya, penilaian dari para pegawai tua masih menentukan juga…”

“Maksudnya?” tanya saya lebih lanjut.

“Yang tua-tua di perusahaan kami, sebenarnya pernah berjasa sejak masa pemerintah Orde Baru… dan mereka juga, ehm, penggemar sajak-sajak kuno tentang kue bakpia…”

“Sajak buatan penyair di zaman Majapahit itu?” tanya saya lagi.

“Kurang lebih seperti itu. Jadi, mohon maaf, perdebatan untuk menentukan siapa pemenang utama, masih berlangsung sampai saat ini.”

“Oo, begitu?”

“Ya, begitulah. Jadi, aduh, ehm, dewan direktur memutuskan untuk membiarkan masalah ini ditetapkan oleh Tuan Kodok Bakpia…”

“Ha!” seru saya. “Kodok Bakpia lagi, apa itu?!”

Si DUKB menatap heran ke muka saya, “Maksudnya, Anda ingin bilang bahwa selama ini mengikuti sayembara, tanpa sedikit pun tahu tentang Kodok Raksasa Bakpia, begitu?”

“Bukan begitu maksud saya,“ saya berkelit membela diri. “Memang saya pernah bincang-bincang akrab dengan seorang mahasiswi dari Solo, entah dari perguruan tinggi mana, dan kami membahas soal kodok itu sebagai piaraan seorang mantan pejabat tinggi…”

“Ah, Anda memang enggak paham tentang Kodok Bakpia…”

“Maksudnya, apakah orang-orang tua yang pernah berjasa di masa Presiden Soeharto dulu… dan mereka yang menyukai sajak-sajak bakpia di zaman Majapahit itu?”

“Ooh, berarti Anda betul-betul belum tahu… kalau begitu, ayo ikuti saya.”

“Sompret doang,” kata saya membatin.

***

Saya pun mengikuti si DUKB (masih ingat, kan?) keluar ruangan. Melintasi aula, memasuki elevator yang naik ke lantai empat, lalu melintasi aula lain, yang pada ujungnya terdapat pintu besi raksasa. Si DUKB memencet tombol, dan segerombol penjaga menyeruak.

Setelah dia mengonfirmasi sebagai direktur utama, dia membuka pintu besar tersebut. Keamanannya dijaga ketat. Sangat protokoler. Persis seperti di zaman militerisme Orde Baru.

Si DUKB memperkenalkan saya dengan beberapa juri yang berdiri di belakang gerombolan penjaga. Saya mengenal muka beberapa ahli kuliner, tokoh akademisi dan seorang penyair dari Yogyakarta yang kemudian berkarir sebagai pendukung dan pembela Jokopro mati-matian. Sampai akhirnya, dia mengaku “kelelahan” bolak-balik ke studio teve dan acara podcast.

Pelan-pelan saya mendekati sang penyair sambil berbisik bertanya, ”Bapak sekarang tampil sebagai salah satu juri, yang menilai tentang kualitas kue bakpia. Apakah Bapak paham tentang dunia kuliner?”

“Sedikit,” jawabnya singkat.

“Apakah Bapak pernah makan kue bakpia?”

“Enggak juga, kalau kue cucur sama martabak pernah,” katanya cengengesan.

Lalu, saya mendekati seorang pria yang sering tampil di media sosial, yang tampaknya mudah dikenali wajahnya. “Anda pakar telematika, ya?”

“Ya, tepat sekali!”

“Lalu, apa hubungannya dengan kuliner?”

“Ya… sekadar usaha sampingan,” katanya sambil tertawa.

Saya pun mendekatkan mulut ke telinganya, “Ngomong-ngomong, telematika itu apa, sih?”

“Ndak usah nanya kalau ndak tau!” celetuknya ketus.

            Kini, giliran saya mendekati seorang rektor UGM, Ibu Prof. Dr. Amilia Oval Contesa, SPONG. “Ibu paham enggak, tentang kue bakpia?” tanya saya.

“Paham sedikit.”

“Lalu, kenapa Ibu mau ditunjuk sebagai juri lomba?”

“Saya hanya disuruh.”

“Oleh?”

“Mantan presiden…”

“Alamaaak!”

***

“Tuan Kodok Bakpia tinggal di sini,” kata si DUKB menjelaskan. “Mereka keluarga istimewa dari para katak dan kodok. Selama berabad-abad mereka tidak memakan apa-apa kecuali kue-kue bakpia.”

Tak membutuhkan penjelasan lebih panjang. Di ruangan besar itu terdapat balong-balong ikan yang isinya hanya ribuan kodok yang saling berbunyi dan bersahutan, “koong… kooong!”

Ruangan itu ditata seperti gudang raksasa dengan atap setinggi tujuh meter dari berbagai tiang yang saling melintang. Ada empat balong berukuran  5 x 7 meter yang berisi kodok-kodok raksasa sebesar kardus-kardus mie instan. Tubuh mereka jauh lebih besar ketimbang seekor musang maupun kucing.

Ketika mereka mendengar kehadiran kami, mereka mulai mengepak-ngepakkan kedua kaki dan tangannya. Kali pertama, itu terdengar seperti suara tak berbentuk, namun seiring saya mulai mendengar dengan seksama, telinga saya baru menangkap bahwa mereka seolah kompak meneriakkan, “koong… bakpia, bakpia… kooong!”

Dari sebuah kotak yang disodorkan pegawainya, si DUKB melempar puluhan bahkan ratusan kue bakpia, yang segera disambut dengan ratusan kodok yang saling berebutan.

Di tengah-tengah hasrat mereka meraih kue bakpia, mereka juga saling mematuki kaki, tubuh dan kepala kodok-kodok lainnya. Lalu, si DUKB mengambil puluhan lagi kue bakpia dari kotak lain, dan melemparkannya ke lantai.

“Perhatikan ini!” ujarnya pada saya. “Ini adalah kue-kue bakpia yang tereliminasi dari kompetisi ini.”

Kodok-kodok itu berlompatan ke atas lantai, sambil berebut menyantap kue-kue bakpia yang berserakan. Tetapi, ketika mereka menyadari bahwa kue-kue itu bukan bakpia sejati, mereka melepehkannya dan berkuak-kuak seperti penyair yang tersihir dan terhipnotis oleh mantra-mantra, berdeklamasi di atas panggung gembira, “Bakpia… bakpiaa… bakpiaaa…!”

Pekikan mereka menggema ke langit-langit, hingga telinga saya terasa pekak.

“Anda lihat?” kata si DUKB sambil memicingkan mata, “ Mereka hanya mau makan bakpia yang asli dan sejati… mereka tidak mau menyentuh produk-produk palsu dan tiruan, iya, kan?”

Si DUKB mundur selangkah. Seorang pegawai berkemeja batik kuning menyodorkan sebuah kotak kardus, “Dan sekarang, mari kita coba dengan kue bakpia buatan Anda. Jika mereka memakannya, Anda akan menang, tetapi jika mereka melepehkannya, berarti Anda kalah…”

Brengsek (pikir saya), ini tak bisa dibenarkan. Sesuatu mengatakan pada saya bahwa ini tak mungkin berhasil. Mereka tidak seharusnya membiarkan sekelompok kodok dungu menentukan hasil kompetisi. Tanpa menyadari kekhawatiran saya, si DUKB terus saja melemparkan bakpia-bakpia buatan saya, hingga kodok-kodok itu saling mencakar dan menerkam satu sama lain.

Beberapa kodok tampak menikmati bakpia saya dengan nafsu, tapi sebagian besar saling cakar dan saling terkam satu sama lain. Ada lagi yang tiba-tiba menjadi liar dan mengamuk ke sana kemari. Sementara yang lainnya melepehkannya dengan jijik sambil berkuak-kuak, “Bakpia… bakpiaaa…!!!”

Beberapa kodok yang tak kebagian kue, tiba-tiba menggila dan mematuki leher kodok-kodok lain yang sedang mengunyah. Darah mengalir di mana-mana. Seekor kodok menyambar dan merobek-robek perut kodok lainnya. Sejak itu, prahara dan pertikaian semakin merajalela. Sekali patukan dibalas dengan sepuluh kali patukan. Satu sambaran dibalas dengan amukan membabi-buta. Bahkan, setetes darah dibalas dengan darah-darah bersimbah dan muncrat ke mana-mana.

Kali ini, seorang jenderal bintang tiga, entah dari mana, tiba-tiba muncul dengan membawa kue-kue martabak, dan si DUKB mempersilakannya menaruh kue itu di tengah kerumunan kodok-kodok raksasa. Seketika itu, si jenderal lari tunggang-langgang, terbirit-birit karena kodok-kodok itu segera menyerbu tidak pandang bulu.

Berarti, ini semua terjadi hanya karena kue-kue yang asin dan manis (pikir saya). Tetapi, bagi kodok-kodok itu rasa manis dan asin adalah segala-galanya. Bahkan, apakah kue-kue itu berjenis bakpia, martabak, martabak, apem, klepon atau kue-kue lainnya, hal itu adalah perkara hidup dan mati bagi mereka.

“Lihat, apa yang Bapak lakukan,” kata saya pada si DUKB, “Bapak melempar-lemparkan kue bakpia buatan saya kepada mereka. Tapi Bapak tidak menyadari bahwa kue-kue saya itu antik dan unik, memiliki daya pikat yang kuat dan menakjubkan.”

“Tapi barangkali, sebagiannya adalah tiruan,” kata salah seorang dari tim panitia.

“Emangnya ada sesuatu yang asli dan murni dalam karya cipta manusia di muka bumi ini? Bukankah semua yang diciptakan oleh kita hanyalah hasil modifikasi dan pembaruan dari yang sudah-sudah? Bahkan, apa yang dikatakan oleh Nabi, bukankah hasil modifikasi dari nabi-nabi sebelumnya?”

“Apa kamu pikir, nabi-nabi itu melakukan penjiplakan, begitu?” seloroh yang lainnya.

Melihat gelagat mereka yang tak memiliki selera humor, saya merasa jengkel, dan akhirnya keluar dari ruangan diikuti oleh sorot mata mereka yang menusuk tajam.

Saya turun menggunakan elevator, bergegas meninggalkan gedung perusahaan kue bakpia. Sejenak saya merasa kesal karena harus kehilangan uang duapuluh juta rupiah, tapi saya toh masih bisa menikmati perjalanan hidup yang panjang ke depan, serta tak mau terikat dan diperbudak oleh kodok-kodok dungu dan tolol itu.

Bagi saya, rejeki bisa dicari dari mana saja. Biarpun gedung itu habis dimakan rayap sekalipun, kue bakpia akan tetap eksis dengan inovasi-inovasi terbaru, atau dengan sistem pemasakan model terbaru.

Keberkahan hidup bisa diperoleh dari manapun sumbernya. Tak perlu terikat dan terbelenggu oleh aturan-aturan baku yang dibuat kodok-kodok brengsek itu. Biarkan saja mereka sibuk menebar prahara, saling mematuk dan mencakar satu sama lain. Lebih baik saya menempuh jalan hidup sendiri yang lebih bermanfaat dan bermaslahat bagi peradaban manusia Indonesia ke depan. (*)

Oleh: Muhamad Pauji

Penulis adalah Pegiat organisasi Orang Indonesia (OI), menulis artikel dan prosa di Kompas, Jurnal Toddoppuli, nusantaranews.co, Kabar Madura, Kabar Banten, Tangsel Pos, alif.id dan lain-lain

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.