Kehilangan Akal Sehat

oleh -714 Dilihat
Silhouette abstract of two hands try to reach Diamond Crown as Miss Beauty Queen Pageant Contest as final competition, finale winner moment. Backlit smoke low exposure dark background copy space
banner 468x60

Ada seorang lelaki yang merasa dirinya sudah berada di jalan yang benar. Ia menganggap hidupnya sudah lurus, tepat, dan keberuntungan selalu menghampirinya pula. Apa saja yang diinginkannya selalu tercapai. Ketika mulut komat-kamit sambil menggosok-gosokkan telapak tangan ke ujung ponsel, tak lama kemudian ponselnya berbunyi. Lalu, seseorang di kejauhan saja menawarkan bantuan khusus kepadanya.

Merasa segala keinginannya terpenuhi, ia pun berikeras untuk mendapatkan lebih banyak dan lebih banyak lagi, hingga tergiur pada perjudian. Lalu, segera ia menghubungi bandar judi, dan selama berbulan-bulan ia memanfaatkan penghasilan yang dimilikinya untuk bermain judi.

Sebenarnya, ia punya penghasilan dari pekerjaan yang disukainya, dan ia cukup terampil dan cakap dalam mengerjakannya. Tetapi, karena penghasilan dari perjudian begitu melimpah, akhirnya ia mengabaikan pekerjaan yang dicintainya untuk fokus memanfaatkan waktu berjudi, dan ia pun selalu meraih kemenangan.

Konon, ia memiliki sebuah batu jimat dari pamannya Walikota Gibran, yang diberikannya setelah tentara itu bertugas di daerah Banten Selatan, untuk menjaga dan mengawasi badak-badak bercula satu. Menurut sumber yang dapat dipercaya, batu jimat itu berbentuk keris Jawa yang diperoleh dari seorang sesepuh kampung, dan jika seseorang berniat pada suatu keinginan yang segera terpenuhi, maka batu jimat itu harus selalu berada di kantong celananya.

Sejak ia bekerja di kantor dan mengabdi di negara, dengan batu jimat di kantongnya, pekerjaan-pekerjaan kantor dapat terselesaikan dengan cepat dan taktis. Tampaknya, tak ada hal-hal lain di dunia ini yang terasa sulit baginya. Jika ia ingin menelepon seorang konsumen, dan mengatakan sesuatu yang meyakinkan, si konsumen segera tertarik dan segera meminta terpenuhi kebutuhannya.

Lama kelamaan, jabatannya terus naik, dan ia selalu dipromosikan untuk menduduki posisi yang tepat hingga meraup keuntungan berlipat ganda. Tapi sungguh naas, sejak ia berhenti dari kantor untuk memilih pekerjaan barunya sebagai penjudi yang berhasil meraih segala kemegahan, suatu ketika sang takdir membuatnya lupa mengantongi jimat tersebut. Suatu hari, saat ia sedang melintasi jalan, tiba-tiba sebuah bus melaju cepat dan menabraknya, hingga ia terhempas ke trotoar jalan.

Kepalanya pecah, dan ia mengalami geger otak. Berhari-hari ia tak sadar dan berbaring di ruang gawat darurat. Para dokter bedah otak menanganinya secara profesional, sampai kemudian lelaki itu siuman dan sadar kembali. “Ini benar-benar tidak masuk akal,” ia menggerutu sambil geleng-geleng kepala.

Kini, lelaki itu serba tak mengerti, harus bagaimana. Kenapa seseorang bisa mengingat sesuatu, dan bagaimana sejarahnya hingga ia lupa pada sesuatu. Bagaimana seseorang bisa lengah, alpa, dan siapa yang mengatur sekenario hingga seseorang bisa tertabrak bus dan jatuh sakit. Bagaimana pula seseorang bisa lelah, mengantuk, dan siapa yang membangunkannya kembali dari tidurnya.

Sejak saat itulah, lelaki itu tidak lagi menemukan jalur yang selama ini ia perjalanan. Tiba-tiba jalan hidup yang pernah dilaluinya seakan hilang dan hilang, bagai debu yang beterbangan.

Batu jimatnya dapat ia temukan di salah satu kantong celana di kamarnya, namun seolah ia hanya seonggok batu yang tak ada artinya. Tak beda jauh dengan batu-batu yang berserakan di tepian jalan, di sungai-sungai, pegunungan, bahkan tak ubahnya batu-batu karang yang terhampar luas di kedalaman samudera lepas.

“Ini bukan persoalan menang dan kalah. Jika seseorang sudah menemukan pekerjaan yang dicintainya untuk suatu pengabdian, seharusnya dia harus menekuni pekerjaan tersebut,” demikian seorang penasihat spiritual memberi wejangan. Tetapi, apa-apa yang diucapkannya tak terekam dalam ingatannya, dan ia pun melupakannya begitu saja.

Kini, tanpa jalur hidup yang pernah dilaluinya, si lelaki telah kehilangan pegangan. Dia tidak tahu harus bagaimana. Ia bahkan tak tahu cara melakukan sesuatu. Mau kerja di kantor, sudah tidak tertarik. Mencoba main judi, kalah terus-menerus. Sampai akhirnya, ia jatuh bangkrut dan tak memiliki uang sepeser pun. Istri dan anaknya pun akhirnya memutuskan untuk meninggalkannya.

Ia hanya bengong dan melamun sepanjang hari, hingga otak dan pikirannya semakin terganggu. Teman-taman sekantornya dulu, masih sempat menjenguknya satu persatu. Tetapi, ia sudah lupa nama-nama mereka, dan sulit mengenalinya.

Apakah ada yang salah dengan otaknya? Ataukah pikiran yang terganggu? Lalu, di manakah batasan antara jiwa dan raga seseorang? Kalaupun manusia itu memiliki nyawa, lalu di dekatnya nyawa itu pergi pada saat tidur. Ingin sekali ia tidur sepanjang waktu, tetapi akhirnya ia terbangun lagi dan lagi.

Menurut dokter yang mengobatinya, lelaki itu hanya syok berat, akibat kecelakaan yang pernah dialaminya. “Nanti juga dia sembuh dan pulih kembali,” ujar sang dokter. Tetapi masalahnya, apa yang disampaikan dokter itu sama sekali tidak terbukti.

Beberapa bulan sepulang dari rumah sakit, lelaki itu pernah berkeinginan untuk masuk kerja, tetapi ia tidak punya kemampuan untuk mengingat apa-apa yang harus dikerjakannya. Sebagian besar waktunya justru dihabiskan untuk celingak-celinguk tak keruan, bahkan mondar-mandir dari lantai satu ke lantai lima, lalu kembali lagi ke lantai satu, dan seterusnya.

Ketika ia berhasil menemukan ruang kerjanya, ia akan mengangkat kursi dan mengambil duduk di depan jendela kaca yang menghadap ke jalan raya. Saat itu juga, ia berteriak-teriak mengumpat dan mencaci-maki setiap bus yang melintas di depan jalanan yang ditatapnya.

Sekali waktu ia memandang ke atas dan menegadah, seraya memperhatikan pergeseran awan. Tetapi, yang keluar dari mulutnya justru mengutuk awan dan mencaci-maki Tuhan yang menciptakannya.

Lama kelamaan sang istri terpaksa menengoknya. Lelaki itu bercerita tentang jalan yang selama ini ditempuhnya. Menurutnya, selama ini jalan itu selalu ada di jalurnya, dan selalu menuruti kemauannya. Tetapi sekarang tiba-tiba menghilang, lalu siapa yang menghilangkannya?

Sekali waktu sang istri menyuruhnya untuk mandi, tetapi di dalam kamar mandi ia hanya mendekam selama berjam-jam, dan tak sanggup lagi memutar keran untuk mengeluarkan udara.

Sang istri tidak tahu harus berkata apa. Sesekali ia mencoba merengkuh tubuh suaminya, lalu menggiringnya ke kamar tidur.

Namun, seperti hal-hal lain yang dulu sangat mudah dilalui, sekarang dalam soal bercinta pun ia hanya bengong tak punya hasrat dan gairah yang sama sekali.

Di pagi hari, lelaki itu tiba-tiba keluar rumah, lalu melangkah semakin jauh. Ia membentangkan jalan raya, menuju terminal, sampai kemudian duduk-duduk di bangku depan stasiun kereta.

Sekarang lelaki itu tak lagi mengindahkan ke mana kakinya hendak melangkah. Ia juga tak punya hasrat yang sama sekali untuk kembali ke kehidupan lamanya. Lalu, bagaimana dengan anak dan istrinya? Rumah dan pekerjaan kantornya dulu? Ia seakan menarik garis lurus, lalu mencorat-coret garis itu dari otak dan pikiran.

Suatu hari, ketika lelaki itu melangkah di sepanjang jalan, kemudian hendak melintasi rel kereta, tiba-tiba dari arah samping meluncurlah kereta KRL dari arah Jakarta, dan seketika menabrak tubuhnya hingga terpental jauh. Pihak dokter akhirnya menyatakan ia telah terbunuh dan tak bisa diselamatkan lagi.

Konon menurut penasihat spiritual, Gus Bahi, di alam akhirat para malaikat tak punya wewenang untuk mengadili lelaki itu tentang amal perbuatannya sepanjang hidup di dunia. Sebab, setiap orang gila sudah kehilangan akal sehatnya, pegangan hidupnya, bahkan lupa akan nama Tuhannya. ***

Oleh: Hafis Azhari

Penulis adalah Penulis novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.