Melangkah Menuju Cakrawala Demi Menggapai Surya

oleh -405 Dilihat
banner 468x60

Seekor kupu-kupu cantik hinggap di telingaku, mengepakkan sayap indahnya beberapa kali. Seolah berbisik untuk membangunkan jiwa yang lelah dari peristirahatannya, silaunya sinar mentari menunjukkan pada mata yang sayu ini hamparan rumput luas nan hijau sejauh mata memandang. Udaranya yang segar terasa begitu akrab di ingatan, angin sepoi-sepoi meniup rerumputan tinggi hingga tampak sebuah pohon rindang di hadapan mata.

Lantunan lembut sebuah melodi menuntun jalanku ke bawah naungan pohon rindang itu. Di sana ada sosok yang sangat kurindukan duduk sembari menyandungkan lagu yang begitu melekat di kepala. Langkah demi langkah hingga akhirnya tersisa selangkah lagi agar ku bisa menemuinya.

Namun, aku ditarik seketika ke ruangan gelap yang sunyi. Menunjukkan padaku kenangan pahit di masa lalu, sirine ambulans mengiringi riuhnya suasana rumah sakit di kala itu. Isak tangis ayah dan mas bayu terukir jelas dalam benakku. Betapa pedihnya dibayang-bayangi masa lalu yang seakan-akan mencoba menenggelamkan diriku ke dalam gelap gulita tak berujung.

Dalam hening terdengar samar-samar suara memanggil namaku, suara itu tak henti-hentinya berseru di dalam kepala ini. Lambat laun panggilan yang tadinya terdengar sayup berubah menjadi raungan keras bagaikan guntur dikala badai, “ Ibu!!!”. Teriakan lantangku disambut tatapan teman-teman sekelas yang keheranan. Terbangun dengan keringat dingin yang menetes dari wajah pucat, jantung yang berdebar dag-dig-dug bagai suara kendang.

Tersadar bahwa sedari tadi aku tengah tertidur di kelas pada saat pelajaran Pak Edo. Beliau memasang muka masam, matanya melotot padaku yang masih setengah sadar. Tanpa memberiku waktu untuk mencerna apa yang baru saja terjadi beliau menggebrak meja dengan kerasnya, “Adit!!, kamu ini bukannya memperhatikan penjelasan Bapak malah enak-enakan molor!!. maju kamu!!, Jawab contoh soal yang ada di papan tulis sekarang!!.” Aku dengan gugup maju ke depan, berdiri mematung diam tak berkutik, “Ya Tuhan, matilah aku”. Pikir ku yang sudah pasrah pada keadaan.

“Hahaha, soal gampang begitu masa kamu gak bisa jawab Dit!?.” ejek Rangga padaku yang diiringi tawa kecil teman-teman sekelas yang lain. Suasana kembali hening ketika sebuah penghapus papan tulis melayang ke arah Rangga, “Rangga!, kamu maju ke depan bantu Adit menjawab soal yang gampang ini!!.” Rangga maju ke depan berdiri di sebelahku,

Oleh: Senandika

Penulis adalah Siswa SMAN 2 Jorong Kabupaten Tanah Laut Provinsi Kalimantan Selatan

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.