Menjadi hiburan tersendiri bagi Nyai Dasimah untuk pergi berdiskusi dengan Alit dan bayinya. Ia tersenyum bangga mengingat dan membayangkan Alit di pangkuannya sewaktu kecil. Rasanya baru kemarin ia menggendong Alit, saat bayi itu ditemukan di semak-semak di serambi kantor kelurahan oleh seorang pemulung. Sang bayi seakan memanggil “mama” ketika Nyai Dasimah mulai mendekap dalam gendongannya.
Orang-orang sekitar mengira bahwa bayi itu dilepaskan dari pasangan dua sejoli, atau bisa jadi pasangan suami-istri yang merasa tak sanggup menanggung masa depannya. Sebagian berpendapat, bahwa bayi itu sengaja ditinggal naik kereta oleh seorang ibu yang berasal dari daerah Rangkasbitung, Lebak. Seiring berjalannya waktu, Nyai Dasimah melupakan semua dugaan dan perkiraan itu, kecuali hanya menganggap bayi Alit adalah kiriman dari Yang Maha Kuasa agar berada dalam pengasuhnya, sehubungan dengan dirinya memang tidak dikarunia anak.
Bertahun-tahun kemudian, Alit tumbuh remaja dan menjadi seorang gadis belia yang cantik, ramah, dengan senyumnya yang dekorasi lesung pipit yang menawan. Suatu hari ketika usianya menginjak usia 20-an, seorang pemuda bangsawan, Tubagus Nandar jatuh hati kepadanya. Ia merasa terpikat oleh tubuhnya yang ramping dan gemulai, disertai sorot matanya yang tajam dan menawan.
Nyai Dasimah sempat mengingatkan keluarga Tubagus mengingat asal usul usul Alit yang kurang jelas. Tetapi, lelaki bangsawan itu tidak peduli dengan latar belakang gadis pujaannya itu, meskipun dia tidak memiliki nama apapun. Sampai akhirnya, ia pun dengan cepat memutuskan untuk menikahi Alit.
Sejak kemarin lusa Nyai Dasimah mendengar kabar bahwa Alit anak asuhnya telah melahirkan. Tapi, baru hari ini ia menyempatkan diri untuk menengok si jabang bayi. Ketika ia memasuki rumah kediaman keluarga Tubagus Nandar, biasanya ia merasa riskan jika menyaksikan orok yang masih merah dan bau kencur. Tapi kali ini, ia merasa senang melihat si bayi dalam dekapan Alit, yang juga pernah berada dalam dekapannya dulu.
Tubagus Nandar memiliki seorang ibu yang juga dari keluarga bangsawan, bernama Ratu Chosimah. Ia juga merasa senang menyaksikan seorang bayi dalam dekapan cucunya, mengingat sudah bertahun-tahun rumahnya tak pernah disentuh oleh kehangatan dan keceriaan akan hadirnya seorang bayi mungil. Rumah keluarga bangsawan itu berdiri kokoh. Atapnya curam dan melengkung hitam seperti kerudung, dihiasi dengan rumbai-rumbai bagaikan galeri yang luas di sekitar alun-alun kota.
Pohon-pohon palem dan akasia yang besar dan kokoh tumbuh di sekelilingnya. Cabang-cabangnya lebat dan indah menghiasi halaman rumah yang sangat luas. Aturan di rumah itu juga cukup ketat, dengan norma sosial yang diberlakukan sejak Tubagus Nandar masih kecil, dan disekolahkan di sekolah unggulan di tengah kota, dengan sopir khusus yang selalu siap melayani antar-jemput.
Kini, si ibu muda Alit mulai bangkit dari pembaringannya. Ia dalam posisi duduk, mengenakan kain bersalin dengan motif batik lembut. Si jabang bayi tetap dalam gendongannya. Seorang perawat muda berpakaian kuning duduk di samping jendela sambil mengipasi Alit dan bayinya. Nyai Dasimah membaringkan tubuhnya di atas Alit dan menciumi si jabang bayi, juga memeluknya dengan lembut.
Setelah ia mengamati dengan seksama, tiba-tiba Nyai Dasimah berteriak sambil tertawa: “Haha… lucu banget bayi ini… dia bukan seperti kamu, Alit, juga bukan seperti Nandar suamimu. Lihat warna kulitnya yang cokelat… ya, lihat matanya yang agak kebiruan… hahaha, lucu sekali, bayi siapa ini?”
“Juga lihat alis mata yang agak melengkung,” kata Alit sambil tertawa, “seperti rambutnya juga agak merah keriting, sangat berbeda dengan rambut ayahnya.”
Bayi itu langsung menangis dengan suara yang aneh dan agak serak, “Lihat cara dia menangis,” ujar Nyai Dasimah lagi, “itu berbeda sekali dengan bayi-bayi yang biasanya menangis?”
Nyai Dasimah tidak pernah mengalihkan perhatian dari bayi mungil itu. Dia mengangkatnya dan berjalan dengan bayi ke jendela yang paling terang.
“Kira-kira, bagaimana pendapat ayahnya mengenai bayi itu,” akhirnya keluar juga pertanyaan itu yang ditujukan kepada ibu asuhnya. Wajah Alit diliputi oleh senyum dengan lesung pipitnya yang menunjukkan keceriaan.
“Ooh, Nandar pasti senang dan bangga melihat bayi mungil ini. Lihat saja nanti, apalagi setelah dia mendengar anaknya yang lahir adalah laki-laki, yang tentu di kemudian hari akan menyandang nama Tubagus juga.”
Alit menceritakan perubahan watak suami sejak ia melahirkan si jabang bayi. Katanya kepada Nyai Dasimah, biasanya ia mudah marah di kebun kopi ketika memandori para petukang kebun peninggalan Hindia Belanda tersebut. Sejak ia mengalami hamil tua dan melahirkan anak, sifat yang angkuh dan keras kepala tampak berubah. Inilah yang membuat Alit merasa senang dan bangga. Konon, wajah suami yang tampan dan marah itu, tidak lagi rusak karena disuruh sejak ia jatuh cinta dan menikah dengannya.
Tetapi kemudian, ketika si bayi berusia sekitar empat bulan, Alit semakin merasakan adanya kejanggalan di rumah-tanganya. Kejanggalan itu terasa halus dan sulit dipahami, namun selalu mengusik kedamaian batinnya. Seperti suasana misterius di kalangan bangsawan, terutama bagi keluarga Ratu maupun Tubagus di daerah Banten Utara. Lama kelamaan, perubahan itu semakin terasa aneh dan mengerikan perihal sikap dingin dan ketidakpedulian pada suami, hingga menjadikannya tak berani untuk meminta kejelasan darinya.
Ketika dia berbicara dengannya, selalu saja sang suami membuang muka. Semakin lama, ia semakin jarang ada di rumah, seolah menghindari dirinya dan anaknya tanpa alasan yang jelas. Dia hanya ingin bergaul dengan sesama keluarga bangsawan, orang-orang kaya dan terpandang, bahkan semakin kejam terhadap para tukang kebun yang kebanyakan dari daerah Labuan dan Rangkasbitung.
Alit duduk-duduk di dalam ruangan, pada suatu siang yang panas, menyisiri rambut yang panjang menggantung halus di bahunya. Bayinya, setengah telanjang, tertidur di atas tempat tidur antik yang terbuat dari besi yang kokoh. Ia mengipasi anaknya secara perlahan-lehan dengan kipas bulu merak. Ia menengahi dirinya dengan memandangi si bayi, sambil berusaha keras untuk menembus kabut kesunyian, menghibur dirinya yang selalu kesepian.
Seketika itu juga, suami Tubagus Nandar membuka pintu dan masuk ke dalam rumah, menuju meja dan membuka laci untuk mencari beberapa lembar berkas. Si istri menuju ke hadapannya, seraya bertanya lirih, “Kenapa Nandar? Ada apa selama ini? Kenapa kamu diam saja?”
Lelaki bangsawan itu tetap diam tak bergeming, sementara istrinya terengah-engah memanggil namanya, “Nandar, ayo bicara terus terang, ada apa?”
Dengan sikap dingin dan wajah tanpa ekspresi, dia melepaskan jari-jari wanita itu dari lengannya dan mendorong tangan itu menjauh darinya.
“Ayo ngomong, Nandar, ada apa? Kenapa kamu berpikir seperti itu?”
Tiba-tiba keluar dari mulut dengan suara lembut namun bernada ancaman, “Kamu ingin tahu apa alasannya?”
“Iya,” kata istrinya terisak-isak.
Sambil menodongkan indeksnya pada bayi itu, Tubagus Nandar berkata kasar, “Sebabnya adalah, karena bayi itu berkulit cokelat dan rambut pirang, berarti dia keturunan Baduy! Artinya, kamu sendiri adalah anak keturunan Baduy, paham nggak kamu?!”
Dengan cepat Alit menyadari apa arti tuduhan itu, dan dengan keberanian yang tak terbendung ia menyangkalnya, “Itu bohong, tidak benar, saya berkulit kuning! Lihat, rambut saya hitam dan mata saya tidak biru, lihatlah tangan saya bahkan lebih kuning langsat dari tangan kamu, Nandar?”
“Iya, kuning langsat seperti taik!” dengan kejam, lalu ngeloyor pergi meninggalkan Alit dan bayinya. Dalam keheningan, ia menatap dengan mata dingin kata-kata yang diucapkan oleh mulut suami tadi.
Dia berbalik dan berjalan perlahan menuju pintu, berharap lelaki bangsawan itu menemukan, tetapi dia tidak menemukan.
“Baik, saya mau pulang ke rumah Nyai Dasimah,” erangnya kemudian.
“Ya, pulanglah sana,” jawab suami ketus.
Alit pergi sambil menggendong anaknya. Ia menuruni tangga, berjalan menjauh, di bawah pohon-pohon palem di sepanjang halaman rumah. Saat itu adalah hari yang menyakitkan di bulan Agustus. Matahari baru saja tenggelam. Di ladang kopi yang tenang, para pekebun selesai memetiki kopi di sekitar hektar lahan peninggalan Hindia Belanda. Lahan kebun itu kini telah diambil alih oleh keluarga pribumi bangsawan, sejak Indonesia merebut kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.
Tetapi bagi Alit, kemerdekaan itu baru bersifat fisik belaka, belum mencakup batin dan spiritual manusia Indonesia. (*)
Oleh: Muhamad Muckhlisin
Penulis adalah Prosaik generasi milenial, penulis esai sastra di berbagai harian nasional, juga pemenang pertama lomba cerpen nasional yang diselenggarakan Harian Rakyat Sumbar pada 2017 lalu







